ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label elus vagina kakak kandung. Show all posts
Showing posts with label elus vagina kakak kandung. Show all posts

Thursday, July 27, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XV

DCSS

Ada suara bising, pandanganku silau sekali. Aku susah membuka mata. Tubuhku juga berat.
“ siska.. Siska... Dia sudah sadar. Dia sudah sadar.!” Ada yang setengah berteriak di sebelahku.
“ Ka.. Ka... Ini aku Lita. Kamu bisa liat aku?” sinar silau itu makin memudar. Meskipun belum jelas tapi aku tahu kalau itu adalah sahabatku Lita. Aku kenal suaranya.
“ aku di mana ta?” suaraku lirih sekali. Aku sendiri sulit mendengar suaraku.
“ kamu di rumah sakit Ka.”
Aku kaget.  jadi ingat semuanya mulai dari sakit perut, hingga pendarahan hebat di kamar mandi. Aku melihat kebawah. Aku sudah mengenakan pakaian Rumah sakit. Dan makin lama aku penglihatanku makin jelas. Orang ramai mengitariku.
“ ta, kenapa rame? Mereka semua tahu kondisiku?” tanyaku kepada Lita
“ iya ka, terpaksa mereka harus tahu. Pas aku sampai ke kostmu, aku ketok2 gak ada jawaban. Pas aku mengintip kedalam ada banyak darah di lantai aku jadi panik. Aku teriak minta tolong. Ada bapak kost mu sama tetangga yang ngedobrak pintu.” Jelas Lita. Suaranya serak. Seperti habis nangis
“ mereka melihat semuanya ta?” tanya ku lagi.
“ iya. Tapi kamu gak perlu memikirkan hal itu dulu sekarang. Yang terpenting kamu selamat. Kamu sempat kritis tadi. Kamu udah pingsan lebih dari 6 jam. Pemilik kost mu td nelpon tante kamunyang di bogor. Sekarang mereka udah disini. Lagi nyiapin kamar inap kamu. Orang tuamu juga besok kesini.”. Jelas lita lagi.

Oh tuhannnn... Aku mendadak jadi ingin melarikan diri. Aku tidak mau mama dan papa melihatku dalan kondisi seperti ini. Mereka pasti akan marah sekali. Aku mau lari. Aku mencoba bangkit.
“Siska, kamu ngapain? Jangan bangun dulu.” Lita panik dan berusaha memengangku. Beberapa orang juga menenangkanku. Tanteku masuk ke ruangan beserta perawat.
“Aku mau mati saja. Aku mau mati saja”. Ada beberapa orang memengang tanganku dan ada perawat yang menyuntikan obat ke infusku. Pandanganku gelap lagi.
.....

NERAKA
Aku beranjak dari ruang tamu. Pindah ketaman belakang, duduk di gazebo taman belakang sambil memandangi ikan yang berenang di kolam. Sudah sebulan aku kembali kerumah. DO dari kampus. Dan di batasi kemana-mana. Aku seharusnya bersyukur tidak di penjara. Salah satu yang membawaku ke rumah sakit adalah anak bapak kost. Dia seorang polisi bagian Kriminal. Aku tidak tahu bagaimana papa menyelesaikannya. Yang ku ingat ketika mereka tiba di RS dia tidak berbicara denganku sepatah katapun. Dari raut muka mama juga ada kekecewaan yang sangat besar. Sebagai seorang Hakim. Papaku tau betul hukuman yang harusnya menimpaku. Dosen-dosenku juga semua tahu. Karena papa sempat mendatangi Rektor untuk mencari Pak Prima.
Kalau ku temukan dia. Kupatahkan lehernya saat itu juga. Aku masih ingat jelas kata-kata papa saat itu. Akupun juga ingin sekali bertemu dengan pak Prima. Aku mau marah. Aku juga rindu dia. HP yang dia berikan tertinggal di kostku. Cuma beberapa barang penting di di bawa mama pulang. Selebihnya di tinggalkan saja. Aku sudah menghubungi Lita supaya dia mengirimkan Hp itu kepadaku. Tapi kostku sudah di isi oleh orang baru. Dan dia bilang tidak ada Hp ketika pindah kesana. Aku kehilangan kontak dengan orang yang aku cintai dan sekaligus aku benci.

Di rumah ini aku di anggap sampah. Tidak di perdulikan. Hanya ada makian, bentakan dan amarah yang ku terima. Bikin malu saja. Anak seorang hakim melakukan tindak kriminal. Kata-kata yang sangat mengiris hati. Mama juga tidak banyak bicara. Sekenanya saja. Meskipun dia tidak marah-marah seperti papa. Hanya Reno seorang yang masih menganggap aku sebagai manusia. Reno baru 2 minggu kembali kerumah. Dan keberadaannya sangat menyejukkan hati. Minimal mengurangi sakit hatiku. Dia sering mengajakku ngobrol. Bercerita tentang kerjaanya yang baru. Atau cerita-cerita lucu ketika dia masih dalam karantina. Kami memang sangat bertolak belakang. Bagai bumi dan langit. Reno selalu berprestasi. Aku tidak. Reno selalu di banggakan. Aku di cemooh. Aku bersyukur masih di beri fisik yang ideal. Sehingga rasa sakit itu tidak terlalu lengkap.

Reno juga bercerita bahwa tahun kemarin ketika aku masih di bandung, ekonomi keluarga kami anjlok. Salah satu minimarket kami harus tutup karena tidak lagi mendatangkan keuntungan. Serangan kapital pusat dengan masukkan Alfamar* dan ind*maret ke kota kami sangat berpengaruh ke toko kami. Dan yang mengejutkan adalah yang membantu membuatnya bangkit lagi adalah Reno. Seorang remaja baru lulus SMA yang mengembalikan kestabilan. Aku dapat cerita dari bi Sur. Asisten rumah tangga kami. Papa sibuk di pengadilan. Mama pun begitu. Reno berusaha keras menyusun ulang sistem dan akhirnya perlahan usaha keluarga bangkit lagi. Ketika teman-temannya sibuk kuliah. Dia sibuk berdagang. Sukses berdagang dia melamar di Akpol. Dan lulus dalam test pertama.
Ini anakku loh. Kata-kata papa setiap memperkenalkan Reno kepada teman-temannya. Aku jarang sekali di kenalkan. Tidak ada kebanggaan pada diriku. Dan papa benci kepada orang yang hanya bermodalkan paras rupawan tanpa perjuangan.
Aku buka akun facebookku, melihat-lihat timeline. Ada yang posting foto jalan sama pacarnya. Ada yang sama keluarganya. Aku iri sekali. Cewek itu tidak lebih cantik dari ku, tapi dia terlihat bahagia bersama pacarnya. Yang posting jalan-jalan dengan keluarga juga terlihat bahagia meskipun hanya jalan-jalan di wisata sederhana di kota tetangga. Sedangkan aku, cantik tapi di tinggal pacar. Keluarga kami tidak kurang dalam ekonomi. Tapi aku tidak bahagia. Bahkan menjadi sampah.
“seandainya aku memiliki kehidupan yang menyenangkan. Alangkah bahagianya” aku tulis status di Timeline kusendiri.hanya sebentar saja. Puluhan Orang like dan komentar. Rata-rata cowok.
Sini deh. Biar aku yang bahagiain hidup u. Kata salah satu komentar. Tidak aku balas. Aku jarang menyapa orang yang komen. Aku tidak mau terlihat murahan. Ada notif WA masuk.
"Nanti sore kita keluar yuk kk. Ada mall yang baru launching. Nanti aku yang izinin sama papa." WA dari reno. Dia tau aku lagi bersedih. Dia mau menghiburku.
Klo di izinin kakak mau aja. "Tp kk gak punya duit". Balasku
Kakak tenang aja. Duitku banyak. Susah mau di habisin. Wkwkwk.  Balas reno lagi. Aku tersenyum. Seandainya bukan adikku. Sudah kuajak pacaran anak ini. Dia baru beli Motor Sprot dari gaji yang di rafel selama masa pendidikan. Sebenarnya papaku juga memberikan 30% keuntungan minimarket kami untuk reno. Dari ke 3 cabangnya. Reno tidak bakalan susah secara keuangan.
Jam 3 sore reno sudah sampai di rumah. Lebih cepat dari biasanya. Aku lagi duduk di balkon atas ketika dia naik. Kamar kami ber2 di lantai 2. Kamar dia menghadap ke samping. Kamarku menghadap ruang keluaga. Kamar kami terpisah dengan lorong yang biasa kami pakai untuk karaoke.
“ kakak belum siap-siap?” tanya Reno. Dia duduk di sofa. Sambil membuka buntelan berkas yang dia bawa.
“belum lah. Tar kakak udah siap-siap gak taunya gak jadi. Adek udah izin ke papa?” aku masuk ke dalam dan duduk di sebelahnya.
“udah tadi aku telpon papa. Dia ngizinin. Aku juga mampir ke toko dulu. Ambil laporan penjualan sama data stok”. Lanjut reno tanpa menoleh. Dia sibuk membolak balik berkasnya.
“Iss, lain nih calon direktur. Sibuk terus.” Candaku.
“eits, jangan salah ya. Aku emang dari dulu direkturnya. Papa kan gak boleh jadi direktur. PNS mana boleh”. Lanjut reno lagi
“ iya deh pak dir. Kakak mau mandi dulu. Siap-siap.” Aku bangkit dan masuk ke dalam kamarku.
Setengah jam lebih aku di kamar. Mandi dan siap-siap. Awalnya aku pakai setelan gaun plus rok pendek warna hijau. Tapi aku baru ingat kalau mau pakai motor. Jadi aku tukar lagi dengan celana panjang warna krem dr bahan katun, dan baju sutera lengan panjang warna biru. Aku pakai tas juga warna biru.  Dan sepatu wedges krem. Aku lihat di cermin. Riasan ku tidak berlebihan. simpel. Aku merasa cantik. Aku sudah siap. Pukul sudah menunjukkan ke angka 4. Sudah 1 jam aku siap-siap.
Aku keluar kamar. Reno juga sudah siap. Dengan baju kaos oblong putih abu-abu dan celana blue jeans panjang. Reno menatapku.
“ widih.....cakep amat. Bidadari nyasar ya?” guraunya. Aku merasa malu dan senang. Meskipun yang memujiku adiku sendiri.
“yuk ah. Berangkat.” Ajakku.
....
BERSAMBUNG

Sunday, April 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IX



Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa, kami sama-sama tidak ada yang membahas tentang ‘pergesekan’ yang terjadi selama di pondok. Meski aku sering memergoki reno yang semakin sering curi-curi pandang kearah dada atau pahaku. Hanya sebatas itu, meskipun terkadang kalau berpapasan denganya, dia pasti menyenggol pantatku, seolah-olah tidak sengaja.
Part II. Kesalahan fatal
Aku masih guling-guling di sofa ruang tamu. Membaca status-status teman-teman Fb ku. Ada yang galau, ada yang lucu ada yang pamer, Macam-macam. Aku kemudian melihat akun Reno, dia mengupdate status dan fotonya 2 hari yang lalu. Dia duduk jongkok diantara segerombolan anak-anak SD di acara Pocil. Polisi kecil. Mereka tertawa girang, reno juga tersenyum sambil memeluk 2 orang anak cowok di kiri dan kanannya. Reno memang penyayang. Hmm... aku jadi kembali teringat kisah lalu.
Tidak terasa aku sudah tamat SMA dan merantau kepulau jawa untuk kuliah. Aku memilih Masuk ke ITB. Kami punya saudara dari pihak Mama di bogor. Semester 1-2 aku tinggal dengan mereka.  Ketika semester 3 aku lebih memilih kost. Asalanku dengan mama dan papa adalah capet bolak-balik bandung bogor untuk kuliah. Lebih baik mencari kost di sekitar kampung. Lebih efisien waktu dan tenaga. Padalah aku lebih memilih kost karena aku bisa lebih bebas. Bisa pergi dengan teman-teman hingga malam atau mengundang orang-orang yang ku kenal untuk berkunjung ke kost ku dengan leluasa. Tanpa harus merasa tidak enak dengan bibi.
Dua tahun tinggal dibandung sudah menjadikanku seperti gadis bandung kebanyakan, modis dan fashionable. Wajahku memang sudah cantik, di usia 21 tahun kegadisannku sempurna. Aku digandrungi banyak cowok, dan menjadi idola di kampus. Bukan hanya di fakultasku, tapi di seluruh kampus. Dari adik tingkat hingga senior, bahkan dosen-dosen muda juga banyak yang menyukaiku. Tawaran untuk jalan atau pacaran terlalu sering kuterima. Kawan-kawan ku banyak yang jadi tukang pos. Mengantarkan pesan dan salam dari para penggemar. Lucu-lucu, ada yang pake surat kaya zaman dulu, ada yang nekat berdiri di tengah lapangan kampus dan membuat tulisan ‘ I Love U sisca’. Tapi dari sekian banyak orang yang mendekatiku, aku menaruh harapan kepada salah seorang asisten dosen baru. Pak Prima, Kebetulan dia mengajar ilmu topografi. Pelajaran yang paling aku gak mengerti. Dia masih muda, mungkin sekitar 26 atau 27 tahun, tinggi, keren, terkesan dingin dan cuek. Ketika sudah dekat denganya ternyata orangnya ramah dan santun. Badannya gak kurus, gak juga gemuk. Tapi full otot. Kulitnya putih, tapi mungkin karena sering berjemur jadi sedikit kecoklatan. Meskipun cuek, dia supel dalam pergaulan dengan mahasiswa, gak jaim. Sering nongkrong bareng mereka di kantin. Pak Prima juga Smart, cara dia mengajar sangat mudah dipahami, bahasanya juga membumi. Dengan kata lain dia hampir sempurna.
Dalam waktu singkat Pak Prima sudah menjadi idola di antara mahasiswi. Kalau pak prima lewat, mahasiswi rata-rata jadi kecentilan mendadak. Akupun juga ikut mengidolakannya.
Hari itu kami belajar dengan beliau, aku pandangi dia dan memang wajahnya manis dan mempesona. Satu jam lebih dia mengajar, aku tidak memperhatikan ucapannya sedikitpun, dan ku rasa setiap mahasiswi di lokalku juga begitu. Entah sial atau malah beruntung, diakhir pelajaran pak prima memberikan pertanyaan evaluasi dan aku yang disuruh menjawab. Aku jadi gelagapan, menoleh kiri dan kanan mengharapkan bantuan dari teman-teman. Tapi mereka juga langsung menunduk dan terkesan menjauh. Berharap tidak mendapatkan beban yang sama yang aku hadapi. Aku jadi ikut menunduk. Idak tahu harus menjawab apa.
“ gimana siska?” tegur pak Prima mengingatkan. Aku mendongak, dan pak prima sudah berdiri setengah meter dari kursi ku. Aku Cuma bisa cengir kuda. Dan berusaha mengeluarkan seluruh pesona yang aku punya. Dia juga tersenyum dan melangkah mendekat. Diambilnya binder yang ada di tanganku, aku mau menahannya tapi tenaga beliau lebih kuat. Aku berusaha merebutnya kembali tapi terlambat. Dia membolak-balikan binderku, kemudia membaca sebentar.
Oh tuhannnn, di binderitu ada kutulis Prima I love U, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu.
Dan di bawah tulisan itu ada gambar orang, dua besar, dua kecil seolah-olah itu keluarga kami. Aku berharap dia tidak membacakannya keras-keras di kelas.
“ siska, sudah hampir 2 bulan kita belajar tapi isi bindermu Cuma ada judul mata kuliah doang, di ajar oleh saya. Gimana kamu mau bisa?” tanyanya.
Aku diam saja.
“ sebagai hukumannya, kamu harus resum buku ini.” Dia menyerahkan buku. Dan isinya sudah banyak yang digaris menggunakan stabilo. “ resum yang sudah saya garis-garis saja. Dan harus menggunakan tulisan tangan. Dari halaman 7 sampai halaman 32. Dikerjakan hari ini. Jam 5 serahkan dengan saya.” Perintah beliau.
Ketika pelajaran berakhir, teman-teman sudah pada bubar hanya menyisakan segelintir di dalam kelas. Pak prima mendekatiku lagi dan menyerahkan buku tadi.
“nih bukunya, ingat serahkan ke saya jam lima di kantor. Kamu masih ada mata kuliah?” tanya beliau.
“ Cuma nyampe jam 2 pak.” Jawabku.
“ Nah kalau begitu kamu punya waktu untuk membuatnya.” Pak prima mendekat, dan mengucek pelan kepalaku. “mau jadi apa kamu kalau malas dan ngammbar doang”. Ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan aku yang melongok. Aku terdiam. Jantungku bergemuruh, dan dadaku terasa sesak.
Pak prima memengan kepalaku, ohhh tuhannnn. Bahagianya...
Aku senyum-senyum sendiri, dan tatapan iri sebagian teman mahasiswi yang melihat kejadian tadi memicu semangatku untuk menulis resumenya.
.....
Hari sudah sore, jam 3. Aku masih menulis resum nya sendirian di kelas. Teman-teman yang lain sudah pulang. Aku awalnya mau pulang dan menulis di kost. Tap aku urungkan kalau sudah di kostan pasti bawaanya mau tidur dan akhirnya tidak di kerjakan. Jadi aku bertekat untuk menyelesaikannya di kampus. Menyelesaikannya tepat waktu dan membuatnya terkesan.
Kringgg....kringgg....kringg....
Hp ku berdering, panggilan dari nomor baru.
“haloo” jawabku
“ halo, ini siska?” tanya suara di ujung telepon.
“ iya saya siska, ini siapa ya?” jawabku mulai ketus, ini kayaknya para penggemar deh. Dari mana juga dapat nomor ku. Padahal nomorku tidak aku publikasikan.
“ saya Prima, kamu dimana sekarang, bisa anterin buku tadi gak, saya butuh buku itu sekarang?”
Oh tuhannnn, laki-laki idaman yang sejak tadi di hayalkan menelponku, aku jadi sumringah sendiri.
“ oh iya pak, nanti siska antar, sekarang siska lagi ngerjain tugas dari bapak tadi.” Aku ubah nada suaraku semerdu yang aku bisa.
“ pending aja dulu, saya butuh sekarang. Kamu lagi sama siapa?” tanya nya.
“ sendiri pak.”
“ tolong kamu anterin kerumah saya ya, nanti saya kasih alamatnya. Gak jauh dari kampus. Kamu ada motor?”  tanya beliau lagi.
“ ada pak. Iya siska antar bukunya sekarang. Smsin aja alamatnya.” Sambungku. Ini salah satu kesempatan bisa kerumah pak Prima. Aku jadi kegirangan. Dalam waktu lima menit aku sudah keluar kampus dan mengarah kerumahnya.
Alamatnya mengarah kedaerah belakang kampus. Tidak begitu jauh dari kostku, mungkin sekitar 500 meter paling jauh. Ia tinggal di sebuah rumah bergaya kuno, pagar besi warna hijau. Ada halaman yang lumayan luas di sebelah kanan rumah. Sebuah pohon alpukat yang rindang tumbuh disana, dengan ayunan terbuat dari ban mobil tergantung di salah satu dahannya. Aku dorong pagarnya, tidak terkunci. Aku melangkah kedalam, dan meninggalkan motor terparkir diluar pagar. Dari depan pintu aku mencium aroma masakan yang sangat harum. Aku jadi lapar. Dan memang aku belum makan sudah sarapan. Aku ketuk pintunya.
Tok..tok..tok... Assalamualaikum....
Waalaikum salam...
 Ada sahutan dari dalam, suara pak Prima.
Berselang sepuluh detik gagang pintu bergerak, kepala pak Prima nongol. tidak ada suara langkah kaki yang terdengar ketika dia melangkah untuk membuka pintu tadi.
“ eh siska, ayo masuk”
Dia kembali kebelakang, meninggalkan ku sendiri diruang tamu. Dia mengenakan jeans biru gelap dengan atasan hanya singlet berwarna putih. Lekukuan otot-otot lengannya terlihat jelas. Ada garis jelas melingkar di lengan atasnya, garis yang membagi kulitnya menjadi putih dan coklat. Garis yang timbul karena sengatan matahari yang dibatasi oleh baju lengan pendek. Samar-samar ditutupi oleh singletnya ada bekas luka yang membentang dari pundak kiri bawah leher sampai ke lengan kiri atas tidak jauh dari lengan atas. Luka seperti bekas sayatan benda tajam.
Aku duduk di ruang tamu, aroma harum masakan itu semakin jelas, aroma itu berasal dari dapur pak prima. Kalau seandaikan suatu masakan hanya dinilai dari aromanya, mungkin masakan ini nilainya sembilan puluh sembilan. Atau aku hanya terlalu lapar, jadi masakan ini tercium sangat enak. Aku baru tahu kalau pak prima sudah punya istri. Istri yang pandai memasak.
“ maaf ya saya meminta kamu antar bukunya. Saya baru ingat kalau saya ada pekerjaan yang belum selesai.” Seru pak Prima dari belakang. Antar aku dan dia terhalang oleh lemari tua yang tinggi.
“ kamu pasti belum makan kan? Kebetulan saya lagi masak. Kita makan bersama aja.” Kepala pak Prima muncul dari balik dinding.
“ Bapak sedang masak?” aku bertanya, antara bertanya antara penegasan. Aku juga bingung.
“ iya saya sedang masak. Ini sudah hampir selesai, sini aja. Duduk di ruang tengah”
Aku bangkit, dan langsung masuk kedalam, enath apa yang ada dibenakku yang jelas aku masuk saj, tidak ada perasaan takut atau cemas. Tidak ada perasaan aneh bagi seorang gadis yang masuk kedalam rumah seorang laki-laki. Aku juga mau melihat istrinya.
Ruang tengahnya lumayan besar, ada sofa butut berwarna abu-bau kecoklatan dengan meja ditangahnya, menghadap sebuah TV cembung model lama berukuran lebih kurang 32 inci. Dari ruangan ini juga ada sebuah pintu keluar, mengarah kehalaman samping rumah. Aku melihat sekeliling, tidak ada foto atau pajangan, hanya ada sebuah jam dinding yang tidak lagi berfungsi. Jarum detik nya tidak lagi bergerak. Di samping sofa ada rak buku yang tidak terlalu besar. Penuh dengan buku-buku, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang seperti majalah. Di atas meja koran berbahasa Inggris, BBC News.
Aku duduk di sofa itu, memandang kearah pak prima. Dia sendirian, tidak ada istrinya disana. Antara ruang tengan dan dapur hanya dibatasi oleh dinding pembatas setinggi dada orang dewasa. Jadi aku bisa melihat dengan jelas dia yang bolak balik di dapur.
“ istri Bapak mana?” tanya ku sambil mencoba meraih koran yang tergeletak diatas meja.
Pak prima menoleh sebentar, kemudian tertawa.
“ ha.ha.ha, mana ada saya istri, saya belum laku.”
“jadi bapak sendiri yang masak?” lanjutku lagi
“ iya lah, emang sisca bisa liat dari tadi ada orang yang membantu saya masak?” pak prima mengambil beberapa piring kemudian kembali kearah kompor. Kemudian menghidangkannya diatas dinding pembatas, dinding itu ternyata juga berfungsi sebagi meja makan.
“ ayo kita makan dulu, kamu pasti belum makan.” Sambung pak Prima.
Aku belum beranjak dari sofa, aku bingung harus bagaimana, satu sis aku memang udah lapar, satu sisi aku juga malu kalau harus makan berdua dengannya, baru kenal, dia juga dosenku.
“ ayolah, masakan saya enak loh. Nyesal loh kalau kamu tidak makan.” Sambungnya lagi. Dia melangkah ke kamarnya, tidak lama dia keluar lagi. Sekarang sudah pakai baju kaos oblong.
Aku bangkit dari sofa dan bergerak kearah meja makan. Ada tiga buah kursi tinggi tanpa sandaran. Aku duduk di tengah, kursi yang berwarna biru muda. Dinding pembatas ini lumayan lebar, mungkin satu meter lebarnya. Sangat pas menjadi meja makan. Lokasinya juga tepat. Di atas meja ini ada Ayam yang dibaluri sambal berwarna merah, sup dengan sayuran dan sesuatu berwarna putih. Aku tidak tahu apa.
“ ayo makan, gak usah malu-malu.” Ujar pak prima yang sekarang sudah duduk di seberang meja. Menghadap kearahku.
Suapan pertama membuat ku kaget, ini masakan enak sekali, lebih enak dari masakan ibuku atau rumah makan manapun yang pernah ku coba. Pedasnya pas, aroma nya juga luar biasa. Aku coba supnya, enak dan yang putih-putih ini bikinku penasaran.
“ ini apa pak?” tanya ku sambil mengangkat benda itu di atas sendok.
“ itu namanya kulit tahu, kamu belum pernah makan itu ya?” jawab pak Prima sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. senyuman nya juga membuat kewanitaanku jadi basah. ada yang mengalir dari dalam tanpa di perintah...
BERSAMBUNG.....

Friday, February 19, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VI



AWAL PERISTIWA TABU 

Ingatanku masih berpetualang di masa lalu. Masih seputar Reno. setelah aksi penyelamatan yang Reno lakukan di kelas ku, Reno menjadi Juara Olimpiade tingkat provinsi dan akan berangkat ke bali untuk mengikuti olimpiade tingkat nasional. Ketika upacara bendera hari senin,  nama reno di elu-elukan oleh kepsek dan di ikuti seluruh siswa. Reno di undang kedepan untuk menyampaikan pidatosingkat.
“ Terima kasih atas kesempatannya. Saya bisa menjadi juara Olimpiade sain ini bukan semata-mata karena saya hebat dan cerdas. Ada begitu banyak orang yang mendukung keberhasilan saya. Pak Lubis dan Bu Lira yang menjadi mentor saya dan mengajarkan trik-trik hebat yang sangat membantu, pak Kepala sekolah, guru kelas saya, teman-teman yang saling bahu membahu membantu saya untuk tetap bisa fokus pada perlombaan. Tak lupa saya sampaikan terima kasih kepada kedua orang tua saya, meskipun sekarang mereka gak bisa dengar. Hehe” canda gurau di antara pidatonya membuat suasana jadi pecah, tidak terlalu kaku. Meskipun demikian Semua mata masih tertuju kepada Reno. terik matahari yang mulai meninggi tanpaknya tidak tertlalu dipedulikan oleh segenap peserta Upacara hari itu.
“tak lupa saya sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk seseorang yang tanpa dia sadari dia sangat membantu saya hingga hari ini, membantu mempersiapkan fasilitas-fasilitas yang sering tidak saya sadari dan dukungan moril yang penuh sehingga saya bisa mengikuti perlombaan dengan santai dan tenang. Memang kesannya sepele, seperti, buatin susu, rautin pensil, beliin nasi goreng, menyetrikankan baju seragam, benerin dasi. Tapi,  Kalau baju saya kusut, saya jadi tidak PD ketika mengikuti perlombaan, toh mungkin hasil yang saya kerjakan tidak bakalan maksimal. Jadi terimakasih sekali lagi untuk kakak saya yang baik dan cantik jelita. Kakak yang sangat saya sayangi. Kak siska.” Reno menjulurkan tangannya dari atas podium dan menunjuk tepat ke arahku diiringi dengan suara tepuk tangan yang membahana. Sekarang semua mata berpindah menatapku. Aku jadi malu sendiri.
.....
Hari sudah menujukkan pukul 4 sore, hari ini aku pulang agak sore karena harus mengikuti Les persiapan Ujian nasional. Aku keluar kelas. Aku lihat Reno sedang duduk dengan beberapa temannya. 2 cowok dan 4 cewek. Seperti semut yang mengerumbungi Gula. Ada kesan kalau yang cewek terus mendesak reno dengan sesuatu yang aku tidak tahu. Bahasa tubuh reno yang sedikit mencondong kebelakang menjunjukkan dia ingin segera lari dari sana.
“ Reno !!!” Teriakku dari kelas
Reno melihat kearahku dan langsung bangkit, bercakap sebentar dengan temannya dan langsung berlari ke arahku. Reno sudah tidak mengenakan seragam sekolah lagi, dia mengenakan T-Shirt berwarna abu-abu dengan celana jeans biru pendek setengah tiang. Anak kelas satu memang sudah pulang dari jam 1 siang tadi.
“ kamu sengaja jemput kakak?” tanyaku ketika Reno sudah sampai di hadapanku.
“ kami hari ini ada pertemuan tapak suci, gak lama juga bubarnya. Jadi aku sekalian aja nungguin kakak.” Jawab reno
“ ih, adek kakak baik banget” ujarku sambil mencubit pipinya. Kemudian reno aku gandeng dan berjalan ke parkiran. Sorot mata kecemburuan terpancar dari mata beberapa siswi cewek yang melihat kami.
“ oh iya dek, bisa anterin kakak kerumah miska bentar gak? Kakak mau ambil buku panduan Matematika kakak. Kami ada PR besok dia sakit. Gak masuk.”
“ emang rumahnya dimana?”
“ Plaju.” Jawabku singkat sambil naik ke boncengan. Tak lama kami sudah meluncur kesana.
Sesampai disana aku hanya basa basi singkat dengan miska, menayakan kabarnya, sakit apa dan kapan bisa masuk sekolah lagi. Kemudian pamit karena hari mau hujan. Aku juga tidak nyaman melihat Miska yang sering curi pandang ke arah Reno. dan juga pakaian Miska yang agak terbuka, reno juga terlihat sedikit salah tingkah. Sesekali terlihat reno melihat ke arah dada miska ketika miska menyodorkan air minum. Buah dadanya terlihat dengan jelas. Aku pun menyegerakan pamit. Alasan takut kehujanan.
Perjalanan menuju rumah miska agak jauh dan melewati beberapa perkebunan. Rintik hujan mulai terasa menetes satu persatu. Awan hitam sudah berkumpul diatas kepala. Hanya dalam hitungan detik butir-butir hujan sudah terasa ebesar biji jagung, dan makin lama makin deras. Reno memacu sepeda motornya berharap bisa melewati hujan, tapi makin lama makin deras. Tidak ada rumah warga di sekitar kami, kami sedang berada di tengah perkebunan salak yang cukup luas.
“ kita berteduh dulu kak” Teriak reno dan langsung megarahkan motornya ke pinggir kiri jalan. Sedikit masuk dari jalan raya ada sebuah pondok kecil dengan atap seng yang sudah karatan. Seperti pondok tempat jualan yang sudah tidak digunakan lagi. Reno memarkirkan motornya persis didepan pondok, aku langsung masuk ke dalam. Pondok ini berdinding anyaman bambu di bagian belakang, ada pintu kecil dan jendela yang bisa di buka jika diangkat keatas. Ada sebuah dipan yang juga terbuat dari bambu di dalam pondok, bangku kayu di bagian luar. Sayangnya atap teras pondok ini sudah banyak bolong, jadi kami harus berteduh di dalam pondok. Kami hanya berdiri di pintu pondok, tidak benar-benar masuk kedalam. Reno membuka bajunya agar bisa di peras. Bajunya sudah lumayan basah. Sedangkan bajuku hanya basah sedikit karena tadi aku berlindung di belakang tubuh reno. reno menggantungkan bajunya di atas pintu pondok dan sekarang berdiri di depanku. Dada reno sudah mulai bidang dan berbentuk. Usianya yang masih 16 tahun memang sedang dalam pertumbuhan yang sangat pesat. Otot perutnya juga sudah mulai kelihatan. Sebentar lagi Reno bakal menjadi pria dewasa yang macho.
DUARRRRRRR

Saturday, December 19, 2015

kakak ku gadis penikmat seks

Perkenalkan namaku ahmad aku anak kedua dari dua bersaudara, aku sekarang berumur 17 tahun kelas satu sma sementara kakakku tutut lebih tua setahun dariku. Kami berdua bersekolah ditempatyang sama dan setiap harinya pulang pergi bebarengan.
Aku adalah anak lelaki yang normal untuk seumuranku ya suka bolos, main dan mesum. Namun dari sekian teman perempuanku yang aku kenal tak satupun yang mampu menarik perhatianku, malah aku lebih nafsu dengan kakak kandungku sendiri.
Kakakku sendiri kalau keluar rumah selalu mengenakan jilbab dari warna merah sampai ungu ada, namun ia juga menggemari pakaian ketat dan celana jeans ketat juga membuat lekuk tubuhnya yang sudah mulai matang tercetak sempurna. Seragam smanya saja ketat apalagi yang lainnya. Kakakku sendiri kalau di sekolah seorang yang baik, ramah dan supel. Namun kalau dirumah malah kebalikannya, seperti rumah menjadi tempat pelampiasan kekesalannya diluar rumah.
Dirumah hanya memakai tanktop dan celana dalam saja nggak pernah pakai kaos dan celana kecuali ada tamu. Apalagi kami berdua tinggal bersama sendiri tanpa orangtua kami yang tinggal diluar kota. Membuat dia bebas sesuka hati berperilaku di rumah ini.
Sering dia menggangguku dengan menggoda hawa nafsuku saat aku terdiam melototin tubuhnya dan wajahnya yang bundar. Membuatku ereksi setiap saat.
Sayangnya kakakku tak pernah tau kalau aku butuh aksinya untuk memuaskan kontolku. Andai saja ia tahu kapasitas kontolku mungkin udah diajak ngentot dari dulu. Pikirku setiap kali aku selesai coli dengan bacol foto kakakku.
Kalau disekolah kakakku memang menjadi bahan obrolan para lelaki dalam gengku. Ya geng kontol besar. Aku sudah 2bulan menjadi anggota geng ini, seleksinya cukup dengan memperlihatkan kemaluanku saat ngaceng di gudang sekolah sambil diukur dengan meteran kain. Yang panjangnya melebihi 17cm masuk, dan diameter l ebih dari 4,5cm masuk. Total hanya ada 30 orang, 15 dari kelas 3 11 dari kelas 2 sementara dari angkatanku ada 4 orang yang kebetulan sekelas. Yaitu aku, Toni, Wicak, dan Bima.
Ya yang dibicarakan geng ini hanya cewek cewek dan cewek, setidaknya yang masih perjaka hanya aku. Sisanya sudah pernah ngentot bahkan ngentot dikelas pernah. Namun ada satu target keseluruh 30 orang ini yang belum berhasil juga dientot yakni tutut, kakakku. Aku hanya tertawa melihat raut wajah mereka yang kesal kesal mupeng saat membicarakan kakakku atau melihat aku berjalan bersama kakakku.
coba itu kakku udah aku entot dari kecil ujar Bowo orang paling senior di geng ini dan raja kontol di sekolahku. Aku hanya tertawa.
Saing pukul setengah 3 aku dipanggil kakakku ke depan kelasnya.
dek kamu pulang duluan, aku pulang sama Tania nanti mau belajar kelompok.. oke langsung pulang cuci baju !! jangan nongkrong! uajar kakakku sambil memberikan kuncinya dari saku seragamnya. Pemandangan yang cukup membuatku menelan ludah, kakakku nampak kesusuahan mengeluarkan kunci dari balik badge osis. Dan akhirnya berhasil mengeluarkannya dari gunung kembar yang gedenya minta ampun. FYI ukurannya 34C dan bulat dengan pentil cokelat muda, hehe hasil ngintip nih.
Jadilah jam 4 aku sudah kecapekan habis nyuci baju. Aku langsung menuju ruang tengah melepas celana bola smaku lantas mengocok penisku. Membayangkan kakakku sedang duduk didepanku ikut menyepong kontolku. Saking serunya aku tak sadar kalau kakakku sudah masuk rumah dan kaget melihatku merem melek sambil mengocok kontolku yang cokelat gelap berkepala pink tua ini, berurat dengan jembut yang lebat ditambah aku menyebut nyebut nama kakakku.
ahhhkakkktutttutt..ahhh terusssmmhhh ujarku sambil merem melek.
teruss apanya dek? ujar kakakku sambil duduk dihadapan kontolku yang ngaceng. Membuatku kaget setengah mati. Aku menghentikan kocokanku, dan berusha menghindar namun kakakku menahanku, bukan dengan memegang tangan atau pahaku, melainkan kontolku. Yang langsung ia kulum sambil dikocok, terdengar suara kulumannya membuatku semakin horni mmhhmhhhsllpslsp
ahhhhh kakakku mengeluarkan kontolku yang setengah basah dari mulutnya. gede banget sih dek.. ucapnya sambil mengocok cepat kontolku bilang kek dari dulu punya pentungan baseball ahmmmmmsllpslpl ujar kakakku yang langsung melahap penuh kontolku. Aku hanya bisa pasrah menikmati nikmatnya disepong kakakku. Sesekali ia kocok juga menggunakan tangannya yang halusnya minta ampuun membuatku semakin merasa nyaman dengan kocokannya.
Sudah 10 menit berlalu hingga akhirnya aku merasakan kontolku yang mulai gatal dan membesar didalam mulut kakakku. Kakakku nampaknya menyadari aku akan keluar hingga akhirnya ia mengeluarkan kontolku dari mulutnya dan mengocoknya dengan sangat cepat sambil mendekatkan wajahnya kekontolku sambil tersenyum. Lewat 10 detik akhirnya aku membasahi wajah kakakku dengan 5 kali semproton pejuh yang memenuhi mukanya hingga mbleber mbleber ke jilbabnya.
wooaah. Banyak banget dek. Ujar kakakku sllllp.ahhhh suara kakakku yang menjilat pujuhku yang melumuri bibir bagian kirinya lantas menelannya.
udah ya dek.. kapan kapan lagi bersih bersih ujar kakakku sambil melap mukanya menggunakan jilbabnya tanpa dicopot.
Namun aku merasakan sesuatu yang dahsyat, biasanya kalau habis ngecrot penisku langsung kendor namun dengan adanya kakakku di depan kontolku ini membuatnya bangkit lagi dan aku merasa semakin horni saja.
kak tapi ini belum mau tidur ujarku sambil menunjuk penisku.
wah kontol gede gini harus dikasih pelajaran tambahan deh.. ujar kakakku kembali mendekatkan dirinya ke kontolku. lihat videonya di sini

Monday, November 23, 2015

merasakan lubang kenikmatan mama 05

”Santai saja Wan, pompa tongkolmu naik dan turun, jangan tergesa – gesa, nikmati, buat pengalaman pertamamu ini berkesan. Keluarkan di dalam memiaw mama ya sayang,” mama mengajari dan memberiku semangat dengan lembut. Akupun mulai bergerak seperti yang diajarkan mamaku. Pantatku naik dan turun, tongkolkupun mulai memompa dengan nikmatnya di dalam memiaw mamaku. Sungguh amat sangat niiikkkmaaattt, kulakukan dengan perlahan – lahan, tidak tergesa – gesa, sekali – kali bibirku mencium bibir mamaku dengan lembut dan pnuh gairah. Kulihat tetek mamaku yang besar itu bergoyang – goyang seiring pompaanku tongkolku dalam memiaw mama. Sungguh enak dilihat, satu tangankupun mulai ,eremas – remas dan memainkan putingnya, sekali – kali kuhisap dan kujilati. Cukup lama juga aku memompa tongkolku, mama mulai mendesah – desah, dan menggoyang – goyangkan pinggulnya…
”Aahhh,,,Ahhhh, terus Wan, pintar juga kamu.”
”Ooohhhh….enak…sudah lama memiaw mama tidak dimasuki tongkol, jadi rasanya nikmat..”
”Ugh…ughhh…”
”tongkol kamuuu…benar –benar enaaakk…aaaahhh.”
”memiaw mama juga nikmaaattt…sempiit dan enaak”
”Aahhh….mama sudah mau keluar yang”
Kurasakan memiaw mama menyemburkan cairan hangat ke tongkolku, mama nampak lemas dengan ekspresi penuh kepuasan di wajahnya. Mama meminta aku berhenti sebentar, tapi aku tdak mau dan terus memompa. Mama nampak lemas, matanya merem melek, mulutnya mendesah – desah, sementara pinggulnya makin bergoyang dengan liar dan cepat mengimbangi gerakkan tongkolku. Tentu saja aku merasakan semakin nikmat, apalagi mama makin melebarkan kakinya, sehingga tongkolku semakin leluasa menerobos memiaw mamaku yang terasa sempit karena lama tidak dihajar tongkol. Gerakanku makin kupercepat, bibir, leher dan tetek mamaku bergantian aku jilati dan ciumi. Ploook…plookk..plookkk…, bunyi pompaan tongkolku terdengar jelas saat memompa memiaw mamaku yang sudah basah itu.
”Aaahhh….ahhhh…nikmaaat nggakkk sayang…”
”Pastiii ma….oohhh…”
”Ughhhhh…Oohhhh….”
”Terus yang mama mau keluar lagiii…”
Kurasakan tongkolku juga berdenyut – denyut lebih keras, rasanya aku juga mau mencapai puncak, Aku segera menciumi bibir mamaku dengan ganasnya, lidahku dan lidah mama saling bertautan dengan penuh gairah, kutindih dan kupeluk tubuh mamaku dengan kuat…Kurasakan memiaw mama menyemburkan cairan, mama orgasme lagi, hampir bersamaan tongkolkupun menyemburkan cairan sperma dengan kuat dan cukup banyak. Kurasakan tubuh kami sama – sama bergetar dengan nikmat. Lalu akupun terkulai, masih menindih tubuh mamaku, lemas tapi puas dan dipenuhi rasa nikmat. tongkolku masih berdenyut – denyut. Akhirnya kurasakan juga kenikmatan bersetubuh, memang nikmat, tapi terasa makin dan lebih nikmat karena pertama kali aku melakukannya denga mamaku tersayang. Kami berbaring berdampingan sambil berpegangan tangan.
”Kamu hebat sayang…mama benar – benar puas.”
”Aku juga ma.”
”Sini mama bersihkan tongkol kamu,” kata mama, lalu mama mulai menjilati sisa – sisa sperma dari tongkolku.
”Benar – benar masih mudah dan bersemangat, tongkol kamu masih keras.”
”Irwan sayang, mama bahagia dan tidak menyesal melakukan hal ini. Kamu membuat mama merasakan kembali menjadi wanita. Kamu hebat, jauh lebih kuat dari papa kamu. Mulai sekarang kamu boleh melakukannya kapan saja, kalau kamu mau tinggal bilang ke mama. Pasti mama bersedia, kecuali saat mama datang bulan, cukup mama service kamu dengan oral. ”
”Tentu saja mulai sekarang kamu harus tidur di kamar bersama mama, kamu harus memuaskan mama dan diri kamu setiap hari, kecuali kalau ada kakak kamu ya, harus hati – hati, jangan sampai ketahuan.”
Aku senang sekali mendengar perkataan mamaku.
”Baiklah, tapi mama juga harus janji, mama mau mengajari aku yah, juga mau menuruti semua keinginanku dalam melakukan hubungan seks, kalau aku mau mama begini atau mama begitu seperti di film yang aku lihat, mama nggak boleh protes ya.”
”Mama benar – benar tipe wanita idamanku, tinggi, cantik, bertetek besar, memiliki rambut kemaluan yang lebat, tapi ada satu yang kurang, kuharap mama mau melakukannya, karena aku senang dan suka sekali.”
”Apa itu Irwan sayang ?”
”Irwan mau mama mulai menumbuhkan bulu ketek, jangan mama kerok atau cabuti, tidak perlu lebat ma, karena Irwan suka sekali dengan bulu ketek, bagi Irwan itu sangat merangsang dan menggairahkan. Kalau dirawat kan tidak bau, apalagi mama yang rajin merawat tubuh. Pokoknya mama harus menuruti permintaan ini ya.”
”Tentu sayang, pasti mama turuti, mulai sekarang mama akan membiarkan bulu ketek mama tumbuh demi kamu. Senang dan bahagia sekali mama, karena tubuh mama ternyata sesuai dengan keinginan kamu. Rasanya mama kembali muda.”
Lalu kami kembali berpelukan, malam itu aku kembali menggarap memiaw mamaku 2 kali lagi.
Mama berbaring di sampingku, telanjang, tertidur pulas. Aku masih belum tertidur. Masih berpikir atas apa yang baru kualami, sedikit tidak percaya akan semuanya. Tapi sudahlah, semua yang kuinginkan sudah terjadi, mamaku puas, aku puas. Bagiku apa yang kami lakukan adalah jalan kami bersama, kami yang merasakan, tidak ada penyesalan, tidak ada orang lain yang dirugikan. Rasanya bahagia sekali…..
Tanpa terasa sudah hampir 2 bulan, aku menjalani babak baru kehidupan dengan mamaku. Aku juga sudah semakin pandai saja dalam urusan Seks. Mama benar – benar membimbing aku untuk memahami tekhnik dan juga cara memuaskan seorang wanita dalam hal berhubungan badan. Semua yang selama ini hanya bisa kufantasikan dan kusaksikan lewat film saja, kini dapat kupraktekkan secara langsung. Mama selalu ada dan menjadi pembimbingku yang seksi dan menggairahkan, selain itu memang mama seperti mendapatkan diriku sebagai oase baginya guna menyegarkan semua dahaga seksnya yang lama terpendam.
Namun sedikit banyak aku berpikir betapa tololnya papaku meninggalkan wanita sehebat dan seseksi mama, tadinya aku berpikir mungkin karena mama adalah tipe yang kolot dan konvensional, tapi ternyata tidak. Aku sendiri juga kaget karena untuk urusan seks, mamaku ternyata hebat dan panas, selalu berusaha memenuhi dan memuaskan keinginan pasangannya. Buktinya semua keinginanku selalu diturutinya. Mama bercerita dulupun dia selalu berusaha memenuhi keinginan papaku, menonton film BF punya papa untuk mempelajari posisi dan hal yang bisa menyenangkan pasangannya. Ah…persetan dengan ketololan papaku, sekarang ada aku yang bisa membahagiakan mama.
Hidup yang sekarang kujalani sangatlah indah. Kecuali saat kak Erni pulang saja, aku harus menahan diri. Untuk tidur di kamar mama sih nggak masalah, karena kak Erni tahu, dari dulu aku suka kadang – kadang suka tidur di kamar mama, tapi sekarang dia tidak tahu, kami bukan hanya sekedar tidur. Kalau tidak ada kak Erni, aku dan mama benar – benar memuaskan hasrat seks kami sepuasnya. Kapanpun aku mau, aku tinggal lakukan. Saat mama di dapur, di kolam renang, di meja makan, saat aku mau, tinggal kusodok saja memiaw mamaku, dan mama juga tidak pernah menolak.
Bahkan kalau saat sedang mengantar mama pergi dan aku mau, mama akan membuka resleting celanaku dan meng-Oral aku, sementara aku tetap menyetir. Kadang kalau malam minggu atau hari libur, aku dan mama berjalan – jalan ke mall, makan di luar, nonton bioskop, kayak anak muda yang berpacaran saja.
Yang pasti aku tidak perlu takut mama akan hamil, walau usia mama saat aku mulai menyetubuhinya memasuki usia 35 tahun dan masih memungkinkan hamil, namun aku tak perlu khawatir. Mama bilang saat bercerai dulu mama sudah memasang spiral KB, sewaktu mama berhubungan denganku pertama kalinya, besoknya mama kembali memeriksakan spiralnya dan memasang ulang untuk memastikan keamanannya. Mama bilang dia sebenarnya tidak keberatan kalaupun nantinya bisa hamil, namun dia bilang daripada jadi omongan orang, pertanyaan Kak Erni, belum lagi karena mama bekerja, maka sebaiknya pasang alat pengaman saja. Selain itu kata mama dia mau aku menikmati saat berhubungan, kan nggak adi kalau mama bisa enak orgasme, sementara aku harus mencabut tongkolku saat aku mau klimaks Cuma untuk mengeluarkan spermaku karena takut mama hamil, mama mau aku juga nikmat dan mengeluarkan spermaku di dalam lubang memiawnya. Lagipula mama juga lebih enak kalau aku keluar di dalam, katanya rasanya nikmat saat spermaku menyemprot dinding memiawnya. Duh senang dan terharunya aku, mamaku begitu memperhatikan hal itu, mau aku mengalami kenikmatan seutuhnya.
Bagiku mama bukanlah wanita murahan atau gampangan, mama rela dan memberikan semuanya kepadaku karena mama merasa nyaman dan aman. Aku menyadari mama sangat peduli dan selalu berusaha memuaskan pasangannya, dalam hal ini aku, bila mama mengalami kenikmatan, maka mama juga mau hal yang sama untuk aku. Kita tidak bisa menilai wanita hanya dari luarnya saja, terkadang wanita contohnya mamaku yang kalau sehari – hari terlihat sopan dan santun, namun saat di atas ranjang, mempunyai sisi lain yang bisa membuat kita tercengang dan puas. Mamaku benar – benar berkelas. Tidak merasa sungkan atau canggung membicarakan atau memenuhi keinginanku, karena seks yang nikmat adalah bila pasangan yang melakukannya sama – sama mengerti dan tahu keinginan masing – masing dan mau terbuka mengatakan hal yang kurang atau membuat sakit pasangannya, atau pura – pura suka padahal tidak pada gaya ini atau gaya itu. Seks yang kami lakukan selalu terasa panas dan nikmat karena kami selalu berusaha memberi dan menerima dengan sepenuh hati.

Mama sendiri mengatakan bahwa untuk urusan seks, aku memiliki stamina dan daya tahan yang kuat, bahkan mama suka kewalahan, tapi mama senang karena selalu mengalami kepuasan berkali – kali setiap melakukan hubungan seks. Mama merasa gairahnya yang sempat padam kini menyala kembali dan bisa disalurkan. Apalagi kalau sedang berhubungan dan aku sudah keluar, tongkolku juga cepat lagi bangunnya, mungkin karena aku masih muda. Kalau hanya ada kami saja di rumah, mama selalu memakai baju tidurnya yang seksi, kadang hanya BH dan CD, tapi seringkali aku meminta mama untuk telanjang saja. Biasanya kalau ada teman yang mau datang aku bilang dulu ke mama atau menelepon dahulu, biar mama memakai busana yang sopan, kan nggak lucu kalau temanku datang mendapatkan mama yang memakai baju seksi. Mama selalu menuruti keinginan dan fantasi yang aku miliki, terkadang aku membawa laptopku dan menonton film BF yang aku download dari internet untuk memberitahu bahwa aku ingin gaya seperti inu atau begitu, juga tidak menolak saat aku mau merekam saat kami sedang berhubungan, alasanku karena aku mau menontonnya di lain waktu, mama tidak keberatan karena tahu aku nggak bakal memperlihatkan ke orang lain, hanya unuk konsumsi aku dan mama saja ( Lagipula memangnya aku gila apa, memamerkan film kayak gini ke orang lain, bisa heboh dong ). Singkat kata mama selalu berusaha menuruti semua hasrat dan fantasiku, karena mamapun menikmatinya. Mungkin ini yang disebut puber kedua pada diri mama. Suatu hari saat mama dan aku sedang libur, aku meminta mama untuk melakukan masturbasi dan juga main – main dengan vibrator…

Friday, October 23, 2015

BERCINTA DENGAN KAKAK KANDUNG VI

sebelum membaca cerita di bawah. kami mengharapkan bantuan agan-agan sekalian untuk emmbantu meng-klik iklan yang ada di  blog ini. hal ini dapat membantu keberlangsungan hidup blog dan donasi para penulis. salam dari kami. selamat membaca
"hmmm. boleh deh. kakak pengen tau juga gimana surga dunia?" bisik kakwidya di teligaku, aku sudah tidak lagi menghadap wajahnya, aku cium lembut leher kirinya, naik ke belakang telinganya, pindah ke pipi dan ke hidungnya. kutatap kak widya dari dekat
"apa ya rasanya bibir seksi ini?" aku usap lembut bibirnya menggunakan jari telunjuk
"rasa strawberry kali?" sahut kak widya
aku dekatkan bibirku ke bibirnya, kali ini dia tidak menoleh ketempat lain. dia menerima. ku tempel lembut bibirku ke bibirnya. lembut sekali. memang benar ada aroma strawberry, aroma lipstiknya kali. aku belum membuka bibir. hanya menempelkan ke bibirnya. ku angkat kepala dan menetap wajahnya. tatapan mata kek widya manja, dan cantik sekali. aku ulangi cium bibirnya dan kulumat perlahan. kak widya mulai membalas, di kalungkan tanganya ke leherkku. kakinya yang tadi sejajar sekarang terbuka dan pahanya di buka. sekarang posisiku sudah ada di antara selangkangannya. aku jadi bernapsu sekali. aku lumat habis bibirnya, kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya. terasa kak widya menghisap-hisap lidahku. batasan sebagai adik dan kakak sudah hilang entah kemana.
"dek, CD kakak d buka dulu, tar kotor lagi" kata kak widya
aku secepat kilat naik, dan membuka CDnya. vaginanya sudah berlendir lagi. ku tatap lekat-lekat sambil membuka pahanya lebar-lebar.
"dulu aku sering liat ini, tapi gak pernah tertarik liatnya. skarang ini celah bikin otak jadi gak waras" tuturku sambil elus-elus vaginanya. kak widya tidak menjawab. hanya desahan halus yang merdu yang menjawabnya. aku maikan clitorisnya dan desahannya makin kuat. ini saatnya menacapkan penisku.
aku naik kembali ku cium bibirnya pelan kemudian cium keningnya. kak widya tersenyum manis. ku arahkan penisku ke vaginanya.
"dalam dompet kakak ada kondom, pake dulu ya sayang, biar aman" kata kak widya pelan
aku berdiri langsung dan membuka lemarinya. ada dompet panjang di rak no 3. aku buka. ada kondom durex 2 biji. aku ambil semua, dan ku pakai satu kemudia secepat kilat naik ke tubuhnya lagi.
"gak sabaran amat sih, kayak belom pernah ML aja" canda kak widya
" sama manusia sering, tapi sama bidadari mau mlm ini" goda ku
"aaaaaaaaaa" jawab kak widya meniru gaya iklan traveloka
ke usap-usap kepala penisku ke vaginanya. kak widya mulai mendesah, aku masukkan pelan-pelan, agak susah.kuregangkan lagi pahanya. kudoronglagi. kepala penisku mulai masuk. ku dorong lagi dalam 1 hentakan
" aaagghhhhhhhhh" lenguh kak widya.
aku mulai goyangkan pinggulku maju mundur. desahan kak widya makin keras, vaginanya masih sempit dan hangat sekali. ku goyangkan terus sambil meremas payudaranya.
"cepet dek kakak udah mau keluar" kaki kak widya mengunci pinggangku san kukunya terasa menggores pinggangku salam cengkramannya. kupercepat sodokanku ke vaginanya. aku juga terasa mau keluar.
"ahhh...aahhh...aahhh.... ka..kak... ma..u... keluar, terus....teruss.."
"aku mau keluar juga kak"
"ayo sayang, barengan ...." desah kak widya
"aahhhhhhhh... kakak keluar.."
dan gumpalan sperma di ujung penisku muncrat juga. membentur ujung kondomku di dalam vaginanya. nikmat sekali. ini persetubuhan paling nikmat yang pernah aku rasakan.
sekian kisah saya gan, masih panjang kisah ini. ronde pertama nya udah dulu. pegel jari ngetiknya. klo agan mau liat video ilustrasinya klik  link lebih hot ini. yang mau komen dan sharing monggo di kolom komentar. saya balas kok. tunggu kelanjutan kisahnya.

KEMBALI  

Friday, August 21, 2015

BERCINTA DENGAN KAKAK KANDUNG PART V

sebelum membaca cerita di bawah. kami mengharapkan bantuan agan-agan sekalian untuk emmbantu meng-klik iklan yang ada di  blog ini. hal ini dapat membantu keberlangsungan hidup blog dan donasi para penulis. salam dari kami. selamat membaca
aku rebahkan kepalaku di bantal berwarna pink dengan motif hello kitty. wangi lembut. beda sekali dengan bantalku yang apek, bau asap campur iler. aku tidur di tepi ranjang, kak widya di tengah, sebelah kiri mepet ke dinding. dia tidur sambil membenampak kepalanya ke dadakiriku. aku peluk dan ku elus-elus rambutnya. nafasnya terasa hangat di dadaku. kakinya dari tadi sibuk menggesek-gesek ke kakiku. kebiasannya dari kecil.
"udah gesek-geseknya, kapan bisa tidur kalo kaki kakak goyang-goyang gitu?" timpalku
" kalo begini rasanya nya nyaman dek, udah kebiasaan. kalo tidur sendiri kakak gesek-gesek ke kaki kakak sendiri, kalao ada kamu ke kaki kamu lah. sensasinya beda, hihihi". sahut kak widya setengah berbisik
" ya deh. terserah kakak. jangan aja gesek-gesek yang lain. tar jadi begadang sampe pagi"
kak widya bangkit, sekarang posisinya sudah setengah menindihku.
"beneran kamu gak mau kakak gesek-gesek pake yang lain?" sambil menaikkan sebelah alisnya, kak widya menantang.
"kalau begini gimana?" kak widya menggerak-gerakkkan dadanya, sehingga payudaranya bergoyang-goyang menggesek dadaku.
"aku sih gak masalah, paling tar kalau aku jadi nafsu kakak juga yang repot" tantangku
"ihhhhhh, gak boleh dong. masa kamu nafsu ma kakak. kakak kan kakak kandung kamu, masa kamu lupa ndi. ck..ck..ck.. adek kakak udah amnesia kayaknya." nada sok lugunya bikin si junior kembali ingin beraksi.
"aku gak nafsu kok ma kakak, aku nafsunya ma cewek cantik yang gak pake BH dan sekarang lagi goyang-goyangin dadanya ke dada aku".
"emang tu cewek secantik mana?" sahut kak widya sambil terus goyang-goyangin dadanya
"cantik banget kak, seumur hidup aku belum pernah ketemu sama cewek yang lebih cantik dari dia, dia itu cantik, putih, mulus, bodynya perfek. mantap pokoknya..."
"ah, kamu bisa aja gombalin kakak"wajah kak widya bersemu merah
"yee... aku kan gak gombalin kakak, aku bilang tentang cewek tadi loh.. heheh. tapi sayang ada satu kurangnya" aku pasang tampang pura-pura serius
kak widaya langsung berhenti menggoyang-goyangkan dadanya. "kurang gimana?"
"orangnya rada oon. hehehe"
"aaaaaaaa" sahut kak widya dengan nada seperti orang yang di iklan traveloka. cewek yang bilang aaaa di pinggir jendela.
"lah emang rada oon kan. inget gak siapa yang ngisiin PR kakak waktu kakak nangis-nagis di SMA gara2 lupa bikin PR." canda ku
"iya..iya.. kakak akui kamu emang yang paling pinter. tapi ada sayangnya juga" hardik kak widya
"apa?"
"mupeng, muka pengen. hahahaha"
aku peluk kak widya. dan aku gulingkan dia kebawah. sekarang posisinya dia aku tindih.
"trus kalau emang aku pengen kenapa?" tanya ku dengan suara yang sangat pelan
"emang kamu pengen apa?" balas kak widya
"aku pengen ngajakin kakak terbang ke surga dunia?"
"emang di mana surga dunia?"
ada pokoknya, kakak mau ikut apa nggak?" ujarku sambil mulai menggesek-gesekkan penisku ke vaginanya.
"hmmm. boleh deh. kakak pengen tau juga gimana surga dunia?" bisik kakwidya di teligaku, aku sudah tidak lagi menghadap wajahnya, aku cium lembut leher kirinya
KEMBALI               
                                                                                                                                       BERSAMBUNG
Daftar cerita lain