ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label kakak kandung yang sexy. Show all posts
Showing posts with label kakak kandung yang sexy. Show all posts

Friday, February 17, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XI

"Astagaaaaaaaa" batinku
Ditanganku sekarang ada sepucuk senjata api jenis pistol. Aku tidak tahu jenis dan merk apa. Ada tulisan NH50CC dan angka-angka yang ku rasa adalah no seri. Aku taruh pistol itu di sofa. Aku takut setengah mati. Aku takut senjata ini meledak dan mengenaiku. Aku angkat perlahan-lahan dak aku pindahkan ke dalam laci di meja kerjanya.
Di dalam laci tersebut ada beberapa berkas yang semuanya berbahasa inggris. Ada foto-foto orang. Ada yang bersih ada yang di beri tanda silang. Ada juga beberapa pasport dan sim. Aku buka satu persatu, semua adalah pasport miliknya. Lebih tepatnya adalah pasport dengan fotonya. Nama yang tertera dalam pasport tersebut berbeda-beda. Aku makin aneh. Siapa orang yang sekarang dekat denganku ini. Apakah prima memang namanya yang asli?
Laci ini terkesan sangat dangkal. Sedangkan dari luar kelihatan tebal. Dari luar kedalaman laci ini selitar 20cm. Kalau di lihat dari dalam hanya 10cm. Aku tarik keluar laci itu. Berat. Padahal isinya sudah aku kosongkan. Aku tekan ujungnya. Dan benar saja, alas laci itu terangkat. Di bawahnya ada ruangan lain. Lagi-lagi isinya mengagetkanku. Satu pucuk pistol beserta beberapa magazine dan peluru ada di sana.
"Kenapa ada begitu banyak senjata di rumah ini?" batiku

Laci itu aku kembalikan ketempat semula. Isinya juga aku kembalikan. Seolah2 aku tak pernah menyentuhnya. Pistol yang tadi aku dapat di sofa aku kembalikan lagi ke selipan sofa bagian ujung. Dengan moncongnya mengarah ke bawah.

Aku melanjutkan beres-beres. Sambil memperhatikan dengan teliti setiap sudut rumah ini. Aku kembali menemukan senjata lain. Di bawah meja komputernya ada 1. Di belakang kulkas ada 1. Di selipan kursi di ruang tamu 1. Di kamarnya 1 tergantung di bawah ranjang. Dan di bawah pot bunga besar di depan pintu samping. Total ada 7 buah pistol yang dia sebar di segenap penjuru rumah.

Memory ku berputar kembali waktu aku datang kerumahnya pertama kali. Aku melihat bekas luka membayang di punggungnya. Dan mungkin masih ada lagi yang lain. Yang aku tidak tahu.

Hari sudah gelap. Aku sudah selesai beres-beres. Aku rebahan di sofa sambil menyalakan tv untuk mengusir sepi. Entah apa yang di siarkan di tv aku tidak tahu. Pikiranku menerawang jauh. Memikirkan siapakah sosok pak prima sebenarnya. Kenapa ada begitu banyak senjata dan beberapa pasport dengan nama yang berbeda-beda. Aku harus tahu semuanya. Aku harus dengar dari dia langsung. Tapi aku ini siapa. Aku bukan istrinya. Bahkan pacarpun juga bukan. Kami hanya dekat. Aku bahkan belum tahu bagaimana perasaan pak prima kepadaku. Bagaimana jika aku bertanya hal ini dia jadi marah, akhirnya dia menjauhiku. Atau ternyata dia orang jahat. Aku sudah tahu rahasianya dan dia akan membunuhku. Bayangan-bayangan mengerikan itu berseliweran di kepalaku. Mataku jadi berat.

Ada rasa hangat yang menyelimuti tubuhku, dan benar saja, ada selimut yang menyelimuti tubuhku. Dan pak prima sudah duduk di lantai dan mengetik entah apa di laptopnya yang terletak di atas meja. Sudah berapa lama aku tertidur.

"Udah bangun neng?"  dia menyapaku. Senyumnya masih tetap manis. Mata menyipit dengan sepasang lesung pipi. Tidak ada tampang manusia jahat terpancar dari wajahnya. Aku bangkit mendadak. Dan mengintip kebalik selimut.

"Hahaha... Kaget amat. Saya gak macam-macam kok. Cuma masangin selimut aja sama pegang dahi kamu. Ngecek temperatur. Saya kira kamu demam". Sahutnya sambil tertawa.  seolah-olah bisa membaca pikiranku.

Aku beringsut menjaug darinya. Memeluk lutut sendiri. Entah kenapa badanku serasa menggigil.

"Kamu kenapa siska?" dia mendekatiku, dan memegang dahiku. Aku tidak merasa demam. Aku hanya ketakutan.

"Kamu demam? Saya antar ke dokter ya?" kejarnya lagi.

Aku masih diam seribu bahasa.

"Kamu mungkin masuk angin, pakai baju tipis dan celana pendek gitu. Kita ke dokter saya antar. Pakai celana saya dulu. Di gulung ujungnya biar gak kepanjangan." dia masuk ke dalam kamar dan keluar membawa jaket serta celana panjang berbahan kaos.
Aku masih terdiam di sofa, tidak menoleh kearahnya atau menjawab. Pak prima jongkok di depanku sekarang. Dan berusaha mengambil tanganku untuk memasang jaket. Aku tatap matanya.
"Bapak bukan orang jahat kan?" kata-kata itu yang mengalir pertama kali dari mulutku.
Pak prima agak bingung dengan pertanyaanku. Kemudia menoleh ke seantero ruangan seolah mencari atau menyadari sesuatu. Dia menatao laci agak lama. Kemudia kembali menatapku sambil tersenyum.

"Kita kedokter dulu yuk. Pulang dari sana saya cerita". Suaranya masih tetap terdengar lembut dan penyayang. Tidak ada satu nadapun yang berubah. Dia tetap orang baik.

"Siska tidak apa-apa pak. Kita tidak perlu kedokter. Siska menggigil bukan karena demam. Tapi mungkin karena siska cemas saja". Jawabku

Dia hanya tersenyum
"Beneran nih gak papa?" tanya nya lagi
"Iya pak. Siska gak papa".
" yaudah, makan dulu yuk. Kamu pasti laper". Dia bangkit dari duduk di hadapanku dan beranjak kedapur. Bunyi kelentingan di sana. Dan kembali membawa 2 piring dan sendok. Dia beli nasi bungkus buat kami makan.
"Saya sengaja beli dua, saya yakin kamu belum makan."

Aku masih malas-malasan menggapai bukusan jatah untukku. Berat sekali tangan ini rasanya. Dan posisi meringkuk di dalam selimut ini juga begitu nyaman. Tanpa sadar sekarang ada sesendok nasi + lauk di depan wajahku. Pak prima mau menyuapiku. Aku tersenyum dan menerima suapannya.

Sambil makan dia bercerita dan memintaku untuk tidak menceritakannya kepada siapapun. Dia sebenarnya adalah personil BIN. Yang bertugas sebagai agent senior untuk wilayah bandung. Dalam masa tugasnya dia berprofesi sebagai dosen dan arsitek.karena profesi itu menunjang misinya kali ini. Pistol yang ada dimana-mana memang sengaja di posisikan disana jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Tak terasa nasi bungkus yang untukku sudah habis aku santap. Dan semuanya dia suapin. Dan kurang ajarnya aku, dia bahkan belum makan sesuappun. Akupun sudah keluar dari selimut dan duduk bersila didepannya.

"Udah kenyang bayi gede? Makan sambil di dongengin". Canda nya sambil menoyor kepalaku pelan. Aku hanya cengengesan tanpa suara karena mulutku masih penuh nasi.
"Bapak makan aku yang suapi deh, gantian sebagai balasannya".
"Gak deh makasih. Saya masih bisa makan sendiri gak lemah kaya orang itu tu!" jawabnya sambil memajukan bibir.

Tidak sampai 10 menit. Mungkin hanya sepuluh menit dia sudah selesai makan. Habis. Rekor makan yang cepat banget bagiku. Aku menghabiskan sebungkus nasi bisa sampai 1 jam. Kemudia dia bangkin dan mencuci piring di wastafel. Aku mengikutinya dari belakang.

Aku berdiri persisi di belakanyanya. Dia mengenakan celana jeans biru panjang dan hanya mengenakan singlet putih tipis tanpa lengan. Guratan bekas luka di punggunya makin jelas. Jariku otomati mengikuti alur luka tersebut.
"Sekeras apa hidup yang pernah bapak lalui?" aku bertanya dalam suara pelan. Aku tidak butuh di jawab. Hanya menggumam sendiri. Tanpa sadar aku memeluknya dari belakang. Karena dia tinggi. Kepalaku nempel persis di punggungnya.
"Bapak bukan orang jahat kan? Siska sayang bapak". Kata-kata ini meluncur dengan sendirinya dari lidahku.
Pak prima mematikan keran air. Mengelap tangannya dan berbalik. Sekarang aku berhadapan dengannya. Dia tersenyum manis sekali.
"Kok gak di jawab, bapak gak suka ya?" kejarku manja.
"Iya saya juga sayang kamu!" balas pak prima.
"Jadi kita pacaran dong!" kejarku lagi
Dia hanya tersenyum.

"Jawab dong pak?" rengekku
"Iya... Iyaaa.... Pacaran. Saya sayang kamu juga. Dan sekarang kita pacaran!" balasnya
"Masa sama pacar pake saya kamu. Formal amat."
"Trus harus gimana" tanya pak prima.
" siska panggil abang aja ya. Abang panggil dedek. Kan lebih romantis." jawabku sambil senyum.
" ok deh. Apapun deh demi bidadari abang".

Cuuup.. Spontan aku menginjitkan kakiku dan mencium bibirnya. Dia agak kaget. Aku juga kaget kenapa aku begitu agresif. Ciuman itu singkat. Aku tertunduk. Kemudian pak prima merangkul pinggangku dan mencium bibirku lagi. Ciumannya lembut. Aku membalas ciumannya dan melingkarkan tanganku ke lehernya. Ciuman kami makin lama makin dalam dan aku merasakan kalau ciumanya makin menguat. Dia melepaskan bibirku dan turun ke leher. Aku menggelinjang kegelian. Dia cium makin turun. Aku cium kepala nya. Dan berbisik.
"Sayang, mandi dulu gih. Accemmm"....

BERSAMBUNG

Thursday, November 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA X

"Enak ya pak, rasanya kaya kenyal-kenyal gitu. Baru kali ini siska makan ini." Lanjutku.
"Syukurlah kalo enak. Ayo tambah lagi." Sahut pak prima.
" bapak menghina deh, baru aja suapan pertama pak. Masa udah nambah aja." Aku melirik ke pak prima. Aku berusaha mengeluarkan semua aura kecantikan yang kupunya. " bapak kok pinter masak sih. Belajar dari mana?" Lanjutku lagi.
"Sebelum kerja di sini saya merantau kemana-mana dan pernah kerja jadi koki." Jawab Pak prima kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya. "Siska bisa masak?"

Jeggeerrrrr,,, pertanyaan ini yang aku hindari dari tadi. Aku gak tahu mau jawab apa. Kalau jawab bisa nanti di test aku gak bisa apa-apa. Kalau di jawab gak bisa nanti dia jadi illfeel. Masa seorang perempuan gak bisa masak. Bilang aja deh bisa. Nanti kalau di test cari aja alasan. Batinku.

"Hmm.. Siska sih bisa pak masak." Tapi lidahku berat mau melanjutkanya. Di tambah lagi mata elang pak prima menatapku. Aku jadi makin salah tingkah.
"Masak apa? Masak air?" Timpal pak prima.

Aku cuma cengir aja. Ya mau gimana lagi, emang gitu kenyataanya.
"Gimana mau jadi ibu dari anak-anak ku, kalau gak bisa masak. Nanti anak kita mau di kasih makan apa?"

"Siska bakal belajar masak pak. Siska janji bakal belajar, ya meskipun awalnya nanti belum seenak masakan bapak. Siska janji bakal terus belajar." Jawaban spontan langsung meluncur dari lidah saya tanpa terkontrol.

"Hahahaha... Lucu kamu ya. Ya udah lanjutin makannya biar rada gede. Saya gak mau punya istri kerempeng."
Saya yakin dia mengucapkan kata-kata tadi itu bercanda saja. Tapi entah kenapa saya jadi baper. Bawa perasaan seolah-olah kami memang pasangan kekasih. Hatiku berbunga-bunga. Aku lanjutkan makan dan berimajinasi bahwa yang sedang makan di depanku sekarang memang suamiku.

" makan kok sambil senyum-senyum sendiri. Kamu menghayal yang jorok-jorok ya?"
Aku kaget dan langsung menundukkan kepala ke piring. Pak prima masih tertawa saja dari tadi. Tawa yang khas. Yang tidak akan pernah terlupakan.
.....

Semenjak hari itu kedekatankan dengan pak Prima makin intens. Aku semakin sering main kerumahnya. Kadang bantu2 dia menyelesaikan tugas kampus. Terkadang juga bantu dia beresin rumah ketika dia sibuk dengan pekerjaannya. Pak prima selain bertugas sebagai dosen di kampusku juga berprofesi sebagai arsitek dan ketika itu sedang menangani proyek besar. Pembuatan apartemen. Rumahnya terkadang tak terurus. Jadi aku lah memposisikan diri sebagai istrinya. Hehe

Di kampus sudah beredar gosip tentang kedekatan kami. Aku bukannya risih dengan gosip itu malah makin senang. Pak prima juga sepertinya tidak keberatan dengan gosip itu. Dia juga santai setiap ke kampus dan berkomunikasi dengan ku. Tidak ada yang berubah. Tidak lebih tidak kurang.

Sore itu, selesai kuliah pak prima menghampiriku minta bantuan lagi. Aku senang aja. Bahkan hari itu aku cepat pulang ke kost, mandi, dan langsunh mengenakan baju yang menurutku bisa membuat aku tampil cantik di matanya.
Aku mengenakan celana pendek setengah paha, baju kaos oblong yang lehernya udah melar. Plus rambut aku kucir tinggi. Leher jenjang dan bulu bulu halus leherku terpampang jelas. Aku berniat mau menggoda pak prima. Jam 4 sore aku udah sampai di kost beliau.

'Bapak mau kemana?' ketika aku sampai ke kostnya, mungkin lebih tepat disebut kapal pecah. Kertas berserakan di mana-mana. Baju dan piring kotor di lantai. Handuk basah di atas sofa. Tapi sekarang dia sudah rapi. Menjinjing tas. Sudah mau pergi.

'Saya ada presentasi sore ini. Bantu beresin rumah ini ya?' jawabnya sambil cengir kuda. 'Jam 7 saya pulang. Nanti kamu saya beliin hadiah?'

Sambil melangkah dia mengucek-ngucek rambutku. Entah kenapa yang di kucek rambut yang kacau malah hati. ^_^
Tidak perlu kau belikan aku hadiahpun akan kubereskan rumah ini pak. Asal kau selalu mengizinkan aku di dekatmu. Batinku.

Aku memulai pekerjaan beres-beres dengan hati sumringah. Pekerjaan berqt sekalipun kalau di kerjakan dengan cinta bakal terasa indah.

Aku membersihkan sofa, dan sebuah kaos dalam terselip di celah sofa. Aku coba tarik. Berat sekali. Aku mencoba memasukkan tangan kedalam celah sofa tersebut. Ada benda logam, keras dan dingin. Aku coba tarik keluar, susah sekali. Benda ini lumayan berat. Butuh perjuangan mengeluarkannya. Ketika benda itu keluar. Aku terhenyak mundur.

'Astagaaaaaa, kenapa dia memiliki ini?"

BERSAMBUNG

Sunday, April 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IX



Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa, kami sama-sama tidak ada yang membahas tentang ‘pergesekan’ yang terjadi selama di pondok. Meski aku sering memergoki reno yang semakin sering curi-curi pandang kearah dada atau pahaku. Hanya sebatas itu, meskipun terkadang kalau berpapasan denganya, dia pasti menyenggol pantatku, seolah-olah tidak sengaja.
Part II. Kesalahan fatal
Aku masih guling-guling di sofa ruang tamu. Membaca status-status teman-teman Fb ku. Ada yang galau, ada yang lucu ada yang pamer, Macam-macam. Aku kemudian melihat akun Reno, dia mengupdate status dan fotonya 2 hari yang lalu. Dia duduk jongkok diantara segerombolan anak-anak SD di acara Pocil. Polisi kecil. Mereka tertawa girang, reno juga tersenyum sambil memeluk 2 orang anak cowok di kiri dan kanannya. Reno memang penyayang. Hmm... aku jadi kembali teringat kisah lalu.
Tidak terasa aku sudah tamat SMA dan merantau kepulau jawa untuk kuliah. Aku memilih Masuk ke ITB. Kami punya saudara dari pihak Mama di bogor. Semester 1-2 aku tinggal dengan mereka.  Ketika semester 3 aku lebih memilih kost. Asalanku dengan mama dan papa adalah capet bolak-balik bandung bogor untuk kuliah. Lebih baik mencari kost di sekitar kampung. Lebih efisien waktu dan tenaga. Padalah aku lebih memilih kost karena aku bisa lebih bebas. Bisa pergi dengan teman-teman hingga malam atau mengundang orang-orang yang ku kenal untuk berkunjung ke kost ku dengan leluasa. Tanpa harus merasa tidak enak dengan bibi.
Dua tahun tinggal dibandung sudah menjadikanku seperti gadis bandung kebanyakan, modis dan fashionable. Wajahku memang sudah cantik, di usia 21 tahun kegadisannku sempurna. Aku digandrungi banyak cowok, dan menjadi idola di kampus. Bukan hanya di fakultasku, tapi di seluruh kampus. Dari adik tingkat hingga senior, bahkan dosen-dosen muda juga banyak yang menyukaiku. Tawaran untuk jalan atau pacaran terlalu sering kuterima. Kawan-kawan ku banyak yang jadi tukang pos. Mengantarkan pesan dan salam dari para penggemar. Lucu-lucu, ada yang pake surat kaya zaman dulu, ada yang nekat berdiri di tengah lapangan kampus dan membuat tulisan ‘ I Love U sisca’. Tapi dari sekian banyak orang yang mendekatiku, aku menaruh harapan kepada salah seorang asisten dosen baru. Pak Prima, Kebetulan dia mengajar ilmu topografi. Pelajaran yang paling aku gak mengerti. Dia masih muda, mungkin sekitar 26 atau 27 tahun, tinggi, keren, terkesan dingin dan cuek. Ketika sudah dekat denganya ternyata orangnya ramah dan santun. Badannya gak kurus, gak juga gemuk. Tapi full otot. Kulitnya putih, tapi mungkin karena sering berjemur jadi sedikit kecoklatan. Meskipun cuek, dia supel dalam pergaulan dengan mahasiswa, gak jaim. Sering nongkrong bareng mereka di kantin. Pak Prima juga Smart, cara dia mengajar sangat mudah dipahami, bahasanya juga membumi. Dengan kata lain dia hampir sempurna.
Dalam waktu singkat Pak Prima sudah menjadi idola di antara mahasiswi. Kalau pak prima lewat, mahasiswi rata-rata jadi kecentilan mendadak. Akupun juga ikut mengidolakannya.
Hari itu kami belajar dengan beliau, aku pandangi dia dan memang wajahnya manis dan mempesona. Satu jam lebih dia mengajar, aku tidak memperhatikan ucapannya sedikitpun, dan ku rasa setiap mahasiswi di lokalku juga begitu. Entah sial atau malah beruntung, diakhir pelajaran pak prima memberikan pertanyaan evaluasi dan aku yang disuruh menjawab. Aku jadi gelagapan, menoleh kiri dan kanan mengharapkan bantuan dari teman-teman. Tapi mereka juga langsung menunduk dan terkesan menjauh. Berharap tidak mendapatkan beban yang sama yang aku hadapi. Aku jadi ikut menunduk. Idak tahu harus menjawab apa.
“ gimana siska?” tegur pak Prima mengingatkan. Aku mendongak, dan pak prima sudah berdiri setengah meter dari kursi ku. Aku Cuma bisa cengir kuda. Dan berusaha mengeluarkan seluruh pesona yang aku punya. Dia juga tersenyum dan melangkah mendekat. Diambilnya binder yang ada di tanganku, aku mau menahannya tapi tenaga beliau lebih kuat. Aku berusaha merebutnya kembali tapi terlambat. Dia membolak-balikan binderku, kemudia membaca sebentar.
Oh tuhannnn, di binderitu ada kutulis Prima I love U, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu.
Dan di bawah tulisan itu ada gambar orang, dua besar, dua kecil seolah-olah itu keluarga kami. Aku berharap dia tidak membacakannya keras-keras di kelas.
“ siska, sudah hampir 2 bulan kita belajar tapi isi bindermu Cuma ada judul mata kuliah doang, di ajar oleh saya. Gimana kamu mau bisa?” tanyanya.
Aku diam saja.
“ sebagai hukumannya, kamu harus resum buku ini.” Dia menyerahkan buku. Dan isinya sudah banyak yang digaris menggunakan stabilo. “ resum yang sudah saya garis-garis saja. Dan harus menggunakan tulisan tangan. Dari halaman 7 sampai halaman 32. Dikerjakan hari ini. Jam 5 serahkan dengan saya.” Perintah beliau.
Ketika pelajaran berakhir, teman-teman sudah pada bubar hanya menyisakan segelintir di dalam kelas. Pak prima mendekatiku lagi dan menyerahkan buku tadi.
“nih bukunya, ingat serahkan ke saya jam lima di kantor. Kamu masih ada mata kuliah?” tanya beliau.
“ Cuma nyampe jam 2 pak.” Jawabku.
“ Nah kalau begitu kamu punya waktu untuk membuatnya.” Pak prima mendekat, dan mengucek pelan kepalaku. “mau jadi apa kamu kalau malas dan ngammbar doang”. Ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan aku yang melongok. Aku terdiam. Jantungku bergemuruh, dan dadaku terasa sesak.
Pak prima memengan kepalaku, ohhh tuhannnn. Bahagianya...
Aku senyum-senyum sendiri, dan tatapan iri sebagian teman mahasiswi yang melihat kejadian tadi memicu semangatku untuk menulis resumenya.
.....
Hari sudah sore, jam 3. Aku masih menulis resum nya sendirian di kelas. Teman-teman yang lain sudah pulang. Aku awalnya mau pulang dan menulis di kost. Tap aku urungkan kalau sudah di kostan pasti bawaanya mau tidur dan akhirnya tidak di kerjakan. Jadi aku bertekat untuk menyelesaikannya di kampus. Menyelesaikannya tepat waktu dan membuatnya terkesan.
Kringgg....kringgg....kringg....
Hp ku berdering, panggilan dari nomor baru.
“haloo” jawabku
“ halo, ini siska?” tanya suara di ujung telepon.
“ iya saya siska, ini siapa ya?” jawabku mulai ketus, ini kayaknya para penggemar deh. Dari mana juga dapat nomor ku. Padahal nomorku tidak aku publikasikan.
“ saya Prima, kamu dimana sekarang, bisa anterin buku tadi gak, saya butuh buku itu sekarang?”
Oh tuhannnn, laki-laki idaman yang sejak tadi di hayalkan menelponku, aku jadi sumringah sendiri.
“ oh iya pak, nanti siska antar, sekarang siska lagi ngerjain tugas dari bapak tadi.” Aku ubah nada suaraku semerdu yang aku bisa.
“ pending aja dulu, saya butuh sekarang. Kamu lagi sama siapa?” tanya nya.
“ sendiri pak.”
“ tolong kamu anterin kerumah saya ya, nanti saya kasih alamatnya. Gak jauh dari kampus. Kamu ada motor?”  tanya beliau lagi.
“ ada pak. Iya siska antar bukunya sekarang. Smsin aja alamatnya.” Sambungku. Ini salah satu kesempatan bisa kerumah pak Prima. Aku jadi kegirangan. Dalam waktu lima menit aku sudah keluar kampus dan mengarah kerumahnya.
Alamatnya mengarah kedaerah belakang kampus. Tidak begitu jauh dari kostku, mungkin sekitar 500 meter paling jauh. Ia tinggal di sebuah rumah bergaya kuno, pagar besi warna hijau. Ada halaman yang lumayan luas di sebelah kanan rumah. Sebuah pohon alpukat yang rindang tumbuh disana, dengan ayunan terbuat dari ban mobil tergantung di salah satu dahannya. Aku dorong pagarnya, tidak terkunci. Aku melangkah kedalam, dan meninggalkan motor terparkir diluar pagar. Dari depan pintu aku mencium aroma masakan yang sangat harum. Aku jadi lapar. Dan memang aku belum makan sudah sarapan. Aku ketuk pintunya.
Tok..tok..tok... Assalamualaikum....
Waalaikum salam...
 Ada sahutan dari dalam, suara pak Prima.
Berselang sepuluh detik gagang pintu bergerak, kepala pak Prima nongol. tidak ada suara langkah kaki yang terdengar ketika dia melangkah untuk membuka pintu tadi.
“ eh siska, ayo masuk”
Dia kembali kebelakang, meninggalkan ku sendiri diruang tamu. Dia mengenakan jeans biru gelap dengan atasan hanya singlet berwarna putih. Lekukuan otot-otot lengannya terlihat jelas. Ada garis jelas melingkar di lengan atasnya, garis yang membagi kulitnya menjadi putih dan coklat. Garis yang timbul karena sengatan matahari yang dibatasi oleh baju lengan pendek. Samar-samar ditutupi oleh singletnya ada bekas luka yang membentang dari pundak kiri bawah leher sampai ke lengan kiri atas tidak jauh dari lengan atas. Luka seperti bekas sayatan benda tajam.
Aku duduk di ruang tamu, aroma harum masakan itu semakin jelas, aroma itu berasal dari dapur pak prima. Kalau seandaikan suatu masakan hanya dinilai dari aromanya, mungkin masakan ini nilainya sembilan puluh sembilan. Atau aku hanya terlalu lapar, jadi masakan ini tercium sangat enak. Aku baru tahu kalau pak prima sudah punya istri. Istri yang pandai memasak.
“ maaf ya saya meminta kamu antar bukunya. Saya baru ingat kalau saya ada pekerjaan yang belum selesai.” Seru pak Prima dari belakang. Antar aku dan dia terhalang oleh lemari tua yang tinggi.
“ kamu pasti belum makan kan? Kebetulan saya lagi masak. Kita makan bersama aja.” Kepala pak Prima muncul dari balik dinding.
“ Bapak sedang masak?” aku bertanya, antara bertanya antara penegasan. Aku juga bingung.
“ iya saya sedang masak. Ini sudah hampir selesai, sini aja. Duduk di ruang tengah”
Aku bangkit, dan langsung masuk kedalam, enath apa yang ada dibenakku yang jelas aku masuk saj, tidak ada perasaan takut atau cemas. Tidak ada perasaan aneh bagi seorang gadis yang masuk kedalam rumah seorang laki-laki. Aku juga mau melihat istrinya.
Ruang tengahnya lumayan besar, ada sofa butut berwarna abu-bau kecoklatan dengan meja ditangahnya, menghadap sebuah TV cembung model lama berukuran lebih kurang 32 inci. Dari ruangan ini juga ada sebuah pintu keluar, mengarah kehalaman samping rumah. Aku melihat sekeliling, tidak ada foto atau pajangan, hanya ada sebuah jam dinding yang tidak lagi berfungsi. Jarum detik nya tidak lagi bergerak. Di samping sofa ada rak buku yang tidak terlalu besar. Penuh dengan buku-buku, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang seperti majalah. Di atas meja koran berbahasa Inggris, BBC News.
Aku duduk di sofa itu, memandang kearah pak prima. Dia sendirian, tidak ada istrinya disana. Antara ruang tengan dan dapur hanya dibatasi oleh dinding pembatas setinggi dada orang dewasa. Jadi aku bisa melihat dengan jelas dia yang bolak balik di dapur.
“ istri Bapak mana?” tanya ku sambil mencoba meraih koran yang tergeletak diatas meja.
Pak prima menoleh sebentar, kemudian tertawa.
“ ha.ha.ha, mana ada saya istri, saya belum laku.”
“jadi bapak sendiri yang masak?” lanjutku lagi
“ iya lah, emang sisca bisa liat dari tadi ada orang yang membantu saya masak?” pak prima mengambil beberapa piring kemudian kembali kearah kompor. Kemudian menghidangkannya diatas dinding pembatas, dinding itu ternyata juga berfungsi sebagi meja makan.
“ ayo kita makan dulu, kamu pasti belum makan.” Sambung pak Prima.
Aku belum beranjak dari sofa, aku bingung harus bagaimana, satu sis aku memang udah lapar, satu sisi aku juga malu kalau harus makan berdua dengannya, baru kenal, dia juga dosenku.
“ ayolah, masakan saya enak loh. Nyesal loh kalau kamu tidak makan.” Sambungnya lagi. Dia melangkah ke kamarnya, tidak lama dia keluar lagi. Sekarang sudah pakai baju kaos oblong.
Aku bangkit dari sofa dan bergerak kearah meja makan. Ada tiga buah kursi tinggi tanpa sandaran. Aku duduk di tengah, kursi yang berwarna biru muda. Dinding pembatas ini lumayan lebar, mungkin satu meter lebarnya. Sangat pas menjadi meja makan. Lokasinya juga tepat. Di atas meja ini ada Ayam yang dibaluri sambal berwarna merah, sup dengan sayuran dan sesuatu berwarna putih. Aku tidak tahu apa.
“ ayo makan, gak usah malu-malu.” Ujar pak prima yang sekarang sudah duduk di seberang meja. Menghadap kearahku.
Suapan pertama membuat ku kaget, ini masakan enak sekali, lebih enak dari masakan ibuku atau rumah makan manapun yang pernah ku coba. Pedasnya pas, aroma nya juga luar biasa. Aku coba supnya, enak dan yang putih-putih ini bikinku penasaran.
“ ini apa pak?” tanya ku sambil mengangkat benda itu di atas sendok.
“ itu namanya kulit tahu, kamu belum pernah makan itu ya?” jawab pak Prima sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. senyuman nya juga membuat kewanitaanku jadi basah. ada yang mengalir dari dalam tanpa di perintah...
BERSAMBUNG.....

Friday, August 21, 2015

BERCINTA DENGAN KAKAK KANDUNG PART V

sebelum membaca cerita di bawah. kami mengharapkan bantuan agan-agan sekalian untuk emmbantu meng-klik iklan yang ada di  blog ini. hal ini dapat membantu keberlangsungan hidup blog dan donasi para penulis. salam dari kami. selamat membaca
aku rebahkan kepalaku di bantal berwarna pink dengan motif hello kitty. wangi lembut. beda sekali dengan bantalku yang apek, bau asap campur iler. aku tidur di tepi ranjang, kak widya di tengah, sebelah kiri mepet ke dinding. dia tidur sambil membenampak kepalanya ke dadakiriku. aku peluk dan ku elus-elus rambutnya. nafasnya terasa hangat di dadaku. kakinya dari tadi sibuk menggesek-gesek ke kakiku. kebiasannya dari kecil.
"udah gesek-geseknya, kapan bisa tidur kalo kaki kakak goyang-goyang gitu?" timpalku
" kalo begini rasanya nya nyaman dek, udah kebiasaan. kalo tidur sendiri kakak gesek-gesek ke kaki kakak sendiri, kalao ada kamu ke kaki kamu lah. sensasinya beda, hihihi". sahut kak widya setengah berbisik
" ya deh. terserah kakak. jangan aja gesek-gesek yang lain. tar jadi begadang sampe pagi"
kak widya bangkit, sekarang posisinya sudah setengah menindihku.
"beneran kamu gak mau kakak gesek-gesek pake yang lain?" sambil menaikkan sebelah alisnya, kak widya menantang.
"kalau begini gimana?" kak widya menggerak-gerakkkan dadanya, sehingga payudaranya bergoyang-goyang menggesek dadaku.
"aku sih gak masalah, paling tar kalau aku jadi nafsu kakak juga yang repot" tantangku
"ihhhhhh, gak boleh dong. masa kamu nafsu ma kakak. kakak kan kakak kandung kamu, masa kamu lupa ndi. ck..ck..ck.. adek kakak udah amnesia kayaknya." nada sok lugunya bikin si junior kembali ingin beraksi.
"aku gak nafsu kok ma kakak, aku nafsunya ma cewek cantik yang gak pake BH dan sekarang lagi goyang-goyangin dadanya ke dada aku".
"emang tu cewek secantik mana?" sahut kak widya sambil terus goyang-goyangin dadanya
"cantik banget kak, seumur hidup aku belum pernah ketemu sama cewek yang lebih cantik dari dia, dia itu cantik, putih, mulus, bodynya perfek. mantap pokoknya..."
"ah, kamu bisa aja gombalin kakak"wajah kak widya bersemu merah
"yee... aku kan gak gombalin kakak, aku bilang tentang cewek tadi loh.. heheh. tapi sayang ada satu kurangnya" aku pasang tampang pura-pura serius
kak widaya langsung berhenti menggoyang-goyangkan dadanya. "kurang gimana?"
"orangnya rada oon. hehehe"
"aaaaaaaa" sahut kak widya dengan nada seperti orang yang di iklan traveloka. cewek yang bilang aaaa di pinggir jendela.
"lah emang rada oon kan. inget gak siapa yang ngisiin PR kakak waktu kakak nangis-nagis di SMA gara2 lupa bikin PR." canda ku
"iya..iya.. kakak akui kamu emang yang paling pinter. tapi ada sayangnya juga" hardik kak widya
"apa?"
"mupeng, muka pengen. hahahaha"
aku peluk kak widya. dan aku gulingkan dia kebawah. sekarang posisinya dia aku tindih.
"trus kalau emang aku pengen kenapa?" tanya ku dengan suara yang sangat pelan
"emang kamu pengen apa?" balas kak widya
"aku pengen ngajakin kakak terbang ke surga dunia?"
"emang di mana surga dunia?"
ada pokoknya, kakak mau ikut apa nggak?" ujarku sambil mulai menggesek-gesekkan penisku ke vaginanya.
"hmmm. boleh deh. kakak pengen tau juga gimana surga dunia?" bisik kakwidya di teligaku, aku sudah tidak lagi menghadap wajahnya, aku cium lembut leher kirinya
KEMBALI               
                                                                                                                                       BERSAMBUNG
Daftar cerita lain

BERCINTA DENGAN KAKAK KANDUNG PART V

sebelum membaca cerita di bawah. kami mengharapkan bantuan agan-agan sekalian untuk emmbantu meng-klik iklan yang ada di  blog ini. hal ini dapat membantu keberlangsungan hidup blog dan donasi para penulis. salam dari kami. selamat membaca
aku rebahkan kepalaku di bantal berwarna pink dengan motif hello kitty. wangi lembut. beda sekali dengan bantalku yang apek, bau asap campur iler. aku tidur di tepi ranjang, kak widya di tengah, sebelah kiri mepet ke dinding. dia tidur sambil membenampak kepalanya ke dadakiriku. aku peluk dan ku elus-elus rambutnya. nafasnya terasa hangat di dadaku. kakinya dari tadi sibuk menggesek-gesek ke kakiku. kebiasannya dari kecil.
"udah gesek-geseknya, kapan bisa tidur kalo kaki kakak goyang-goyang gitu?" timpalku
" kalo begini rasanya nya nyaman dek, udah kebiasaan. kalo tidur sendiri kakak gesek-gesek ke kaki kakak sendiri, kalao ada kamu ke kaki kamu lah. sensasinya beda, hihihi". sahut kak widya setengah berbisik
" ya deh. terserah kakak. jangan aja gesek-gesek yang lain. tar jadi begadang sampe pagi"
kak widya bangkit, sekarang posisinya sudah setengah menindihku.
"beneran kamu gak mau kakak gesek-gesek pake yang lain?" sambil menaikkan sebelah alisnya, kak widya menantang.
"kalau begini gimana?" kak widya menggerak-gerakkkan dadanya, sehingga payudaranya bergoyang-goyang menggesek dadaku.
"aku sih gak masalah, paling tar kalau aku jadi nafsu kakak juga yang repot" tantangku
"ihhhhhh, gak boleh dong. masa kamu nafsu ma kakak. kakak kan kakak kandung kamu, masa kamu lupa ndi. ck..ck..ck.. adek kakak udah amnesia kayaknya." nada sok lugunya bikin si junior kembali ingin beraksi.
"aku gak nafsu kok ma kakak, aku nafsunya ma cewek cantik yang gak pake BH dan sekarang lagi goyang-goyangin dadanya ke dada aku".
"emang tu cewek secantik mana?" sahut kak widya sambil terus goyang-goyangin dadanya
"cantik banget kak, seumur hidup aku belum pernah ketemu sama cewek yang lebih cantik dari dia, dia itu cantik, putih, mulus, bodynya perfek. mantap pokoknya..."
"ah, kamu bisa aja gombalin kakak"wajah kak widya bersemu merah
"yee... aku kan gak gombalin kakak, aku bilang tentang cewek tadi loh.. heheh. tapi sayang ada satu kurangnya" aku pasang tampang pura-pura serius
kak widaya langsung berhenti menggoyang-goyangkan dadanya. "kurang gimana?"
"orangnya rada oon. hehehe"
"aaaaaaaa" sahut kak widya dengan nada seperti orang yang di iklan traveloka. cewek yang bilang aaaa di pinggir jendela.
"lah emang rada oon kan. inget gak siapa yang ngisiin PR kakak waktu kakak nangis-nagis di SMA gara2 lupa bikin PR." canda ku
"iya..iya.. kakak akui kamu emang yang paling pinter. tapi ada sayangnya juga" hardik kak widya
"apa?"
"mupeng, muka pengen. hahahaha"
aku peluk kak widya. dan aku gulingkan dia kebawah. sekarang posisinya dia aku tindih.
"trus kalau emang aku pengen kenapa?" tanya ku dengan suara yang sangat pelan
"emang kamu pengen apa?" balas kak widya
"aku pengen ngajakin kakak terbang ke surga dunia?"
"emang di mana surga dunia?"
ada pokoknya, kakak mau ikut apa nggak?" ujarku sambil mulai menggesek-gesekkan penisku ke vaginanya.
"hmmm. boleh deh. kakak pengen tau juga gimana surga dunia?" bisik kakwidya di teligaku, aku sudah tidak lagi menghadap wajahnya, aku cium lembut leher kirinya
KEMBALI               
                                                                                                                                       BERSAMBUNG

Daftar cerita lain

Tuesday, May 12, 2015

BERCINTA DENGAN KAKAK KANDUNG PART IV

sebelum membaca cerita di bawah. kami mengharapkan bantuan agan-agan sekalian untuk emmbantu meng-klik iklan yang ada di  blog ini. hal ini dapat membantu keberlangsungan hidup blog dan donasi para penulis. agan-agan sekalian yang memiliki cerita sesuai konten dapat kita publikasikan di blog ini. kirimkan cerita saudara ke email azadie007@gmail.com syarat konten harus original. salam dari kami. selamat membaca
“ahhh…ahhh…ah…” desahan kak widya semakin cepat. Makin lama goyangan pantatnya makin cepat… “ dekkkk,,,, enak banget…..” nafsunya udah naik sangat tinggi, hingga mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dia keluarkan di depan adik kandungnya. Kak widya mencondongkan badannya kedepan. Dia tarik tanganku dan meletakkan di dadanya.
“aku remas ya kakakku yang cantikkkk”.
“iya adek sayang, remas aja sesuka adek” jawab kak widya dengan ekspresi yang sangat nakal.
“kakk… memek kakak hangat banget…”
“nikmati aja, mumpung kakak sedang gila” balas kak widya.
“Aaahh…ahhh…ahhh… dekkkkk… ka….kakkk…  gak tahan lagi….” Akhirnya aku merasakan kakak menekan vaginanya sekuat mungkin, kemudian tubuhnya bergetar getar. Dia sudah orgasme pikirku. Terfikir olehku satu hal jangan sampai dia sadar sebelum aku puas. Pengalamanku wanita kalau sudah puas akan kembali kea lam sadarnya. Hati nuraninya akan kembali menguasai otak. Bukan lagi nafsunya.
“adek, udah ya?” apa aku bilang, udah ngajak udahan ni orang. Cari enak sendiri aja.
“sedikit lagi kak. Goyang aja terus” balas ku.
“kakak capek dek” sembari kak widya melabuhkan badanya ke dadaku. Aku peluk dia sambil berusaha memasukan penisku ke vaginanya.
Kak widya mendongak. “ dek jangan!”
“biar cepet keluar kak” jawabku
“ jangan, kalau mau gesek-gesekin aja ke vagina kakak, kalau gak mau udah.”
“ya deh, kakak d bawah apa di atas?” tanyaku
“terserah kamu maunya gimana?” tutur kak widya pasrah.
Tanpa bicara, aku angkat tubuh kak widya dan aku rebahkan di sofa. aku letakkan penisku di atas vaginanya dan mulai aku gesek-gesek. Aku maju mundurkan. Kak widya memejamkan matanya. Tanpa respon. Aku remas payudara kanannya, awalnya kak widya melepaskan tanganku, tapi aku tidak mau kalah. Aku remas kemabali. Kuturunkan kepalaku, ku jilati lehernya. Uuggghhh kak widya mulai mendesah kembali. Terus aku gesek-gesek penisku ke vaginanya. Aku mau cium bibirnya, tapi dia menolak. Di rangkulnya leherku hingga kepalaku berada di sebelah kepalanya. Ku dengar kak widya mulai mendesah lagi. Dia mulai terangsang kembali. Aku mulai hilang kendali. Aku tarik penisku kebelakang dan langsung menghujam vaginanya, masuk. Aaahhhhh… ddeeeeekkkk….Nikmat sekali rasanya. Hanya dua hentakan kak widya melepaskan vaginanya. Secepat kilat dia berdiri.
Aku tercengang dengan responnya, kak widya mendelik tajam kearahku.
“jangan masuk, ini peringatan terakhir. Kalau masih juga, kakak gak mau puasin kamu.”
Aku diam saja, ku rentangkan tanganku mau memeluknya.
“ok..kakak sayang. Gak lagi deh”
Aku rebahkan lagi tubuhnya, sekarang aku main lembut, aku gesek-gesekkan kembali. Tapi perlahan-lahan.
“masa ya, cewek secantik kakak di selingkuhin ma bang rendi,”
Kak widya diam saja. Menoleh ke arah lain.
“kalau aku punya cewek secantik kakak, gak bakal aku lepasih deh. Cantik, mulus, baik, sempurna.”
Kak widya menatapku. “kakak gak mempan gombalan basi kamu”
“aku gak gombal kok, terserah kakak percaya apa enggak”
Kucium keningnya, sekitar 5 detik. Ke tatap mata kak widya. Tatapannya berrubah menjadi tatapan manja. Ku elus2 rambutnya.
“kamu emang ahli naklukin wanita ya”
Aku Cuma tersenyum, aku naikin badanku, kuremas payudaranya.
Aaahhhh…. Ku semprotkan maniku ke perut kakakku yang cantik ini. puas sekali rasanya.
“puaassss? Adekku yang nakal, nyemprotin mani ke kakak kandungnya sendiri.” Goda kakak ku kemudia dia ambil tisyu di atas meja dan membersihkan spermaku yang berceceran di atas perutnya.
Aku kenakan lagi CD dan celanaku. Kemudian tanpa bicara aku gendong kak widya.
“hey..hey.. kakak mau di bawa ke mana?”
“kakak kan hari ini lagi bersedih, jadi aku gendongin sampe kamar deh. Kakak gak usah capek-capek berjalan lagi.”
“ihhh,, kamu sok romantis” di rangkulnya leherku dan dia nempel di dadaku. Aku letakkan daster, CD dan BH di atas tubuhnya. Aku mulai berjalan mau menuruni tangga. Ku buka pintu kamarnya dan amku baringkan dia di sana. aku masuk ke kamar mandi yg ada di kamarnya, ku basahi handuk kecil. Kemudian aku lap tubuh kak widya. Leher, dada, perut dan vaginanya. Kamudian aku lap menggunakan handuk kering. Kak widya pasrah saja sambil tersenyum manis. Manis sekali. aku ambilkan CDnya yang bersih, aku kenakan.
“biar gak masuk serangga” candaku. Aku selimuti tubuhnya. Sebelum keluar kamar aku sempatkan mencium keningnya. Pokoknya aku perlakukan dia seperti aku sering memperlakukan pacarku. Aku mulai melangkah pergi ketika tangannya memegang tanganku.
“dek, tidur sini aja ya sama kakak. Tapi jangan macam-macam. Peluk kakak sampe pagi.”

“aku matiin lampu dulu.” Jawabku sambil tersenyum.
kembali 
                                                                                                             BERSAMBUNG.............. 

Daftar cerita lain


Saturday, May 9, 2015

BERCINTA DENGAN KAKAK KANDUNG PART III

sebelum membaca cerita di bawah. kami mengharapkan bantuan agan-agan sekalian untuk emmbantu meng-klik iklan yang ada di  blog ini. hal ini dapat membantu keberlangsungan hidup blog dan donasi para penulis. salam dari kami. selamat membaca
“ya bik” sahutku. Aku cepat keluar kamar. Takut bi narsih keburu naik.
“bibi mau pulang, kunci pintu dulu.”
Sial, ni bibik gangguin aja. Aku buru-buru turun, menutup pintu pagar, dan pintu rumah. Lampu ruang tamu langsung aku padamkan, biar gak ada tamu yang datang jadi tidak ada yang gangguin lagi. Kemudian aku buru-buru naik lagi keatas. Kak widya sudah mengenakan kembali dasternya.
“udah ya, kan kamu udah liat tubuh kakak. Sekarang kakak mau dengar hasilnya”.
Gagal deh, mungkin kak widya sudah mulai sadar, dan kembali waras. Jadi gak mau lagi aku kerjain. Tapi aku gak mau nyerah, aku coba strategi lain.
“gini, cowok tu kan lebih tertarik pada fisik wanita. Fisik kakak masih ada yang kurang sedikit. Payudara kakak gede sebelah. Pantat kurang montok. Kakak senam kegel deh. Biar bokongnya naik. Browsing aja gimana cara senam kegel. Trus payudara kakak harus di samain. Owh iya, bang rendi suka mainin yang sebelah mana?”
“hmmm… yang kiri deh rasanya.”
“trus apa yang terjadi.”
“ ya kakak langsung cepet naiknya, ujung-ujungnya ML.” jawab kakak mulai tanpa beban lagi dalam bercerita.
“siapa yang ngajakin duluan.”
“ kalau udah terangsang berat, kakak yang ngajakin main.” Jawab kak widya jujur.
“nah itu masalahnya, kakak udah bukan tantangan lagi sama dia. Dia udah tahu caranya naklukin kakak. Kakak kalo ML sama bang rendi klimaks gak?” kejarku
“hmmm. Kadang klimaks, kadang nggak. Tapi kakak senang kalau dia bisa klimaks walaupun kakak gak dapet”.
“bulshit itu, gak ada yang namanya bercinta gak nyari kepuasan. Kakak terlalu mengejar dia. Posisi nya kakak yang mengejar, bukan dikejar. Dalam cinta kita tidak bisa mengejar terus, bisa di tindas, tapi kalau di kejar terus bisa jadi yang ngejar bosan. Harus ada timbale baliknya.” Aku menjelaskan panjang lebar kepada kak widya tentang pengalamanku dulu, bisa berganti-ganti pasangan sesuka hati.
“trus kakak harus gimana?”
Aku mulai menyusun strategi kedua.
“gini, kakak harus berlatih tahan terhadap rangsangan. Jangan terlalu mudah terangsang. Atau meskipun terangsang bisa mengontrol dengan tepat kapan harus di lepaskan kapan harus di tahan. Dengan begitu kakak bisa membalikkan posisi sebagai yang di kejar. Kakak suka posisi apa, maksud aku kakak cepat klimaks kalau pake gaya apa?”
“kalo gak women on the top, doggie style. Tapi bang rendi sukanya dia di atas. Gaya konvensional.”
“hmmm.. sudah bisa di tebak. Sebenarnya Cowok paling suka doggie, tapi kalo pantat ceweknya montok. Kalau women on top juga gitu. Tapi itu bisa di perbaiki. Sekarang yang jelas kakak harus bisa mengontrol rangsangan.”
“caranya gimana dek” Tanya kak widya. Aku di rumah memang sering di panggil adek, karena paling bungsu. Mama, papa dan bi narsih juga memanggil aku adek.
Aku duduk semakin merapat ke kak widya. Aku elus lagi payudara kirinya. Kak widya mau menolak.
“masa latihannya sama kamu dek” tahan kak widya sambil tangannya memegang tanganku.
“trus kakak mau latihan sama siapa? Cuma sekedar teori. Lama… keburu kecantol sama meri bang rendinya. Kak widya melemahkan pegangan tanganya.
“tapi inget ya ini Cuma latihan, kamu jangan ambil ke untungan dari kondisi kakak ini. kakak gak mau terjadi hal yang tidak di inginkan.”
“iya..tenang aja deh. Gak mungkin aku nafsu sama kakak kandung sendiri.”
Aku mulai mengelus elus payudara nya lagi. Kadang aku remas perlahan. Aku focus pada payudara kirinya. Biar dia semakin cepat merangsang, uugghhh kak widya mulai mendesah, aku angkat dasternya hingga melewati kepala. Kak widya sudah mengenakan CD nya kembali. Aku mainkan putingnya yang mulai mengeras.. aaaahhhh desahan kak widya semakin keras. Aku semakin semangat. Kulihat kak widya memejamkan matanya. Ahh.. ahh… intensitas desahannya semakin sering. Ingin rasanya aku lumat bibir seksinya itu. Aku dekatkan wajahku ke dadanya.
“tahan ya…”
Aku mulai menjilati payudaranya. Aku mainkan putting payudaranya dengan lidahku. Kuputar-putar. Terkadang aku hisap-hisap. Penisku sudah berontak ingin keluar.
“aaaahhhhhh….. dekk…. Ahhh…” kak widya mulai mendesah. Kaki nya mulai merenggang.
Ini saatnya, aku yang duduk di sebelah kirinya , tangan kananku membelai-belai punggungnya, tangan kiri mulai merayap kebawah hingga ke daerah vaginanya.
“jangan kesana dek… aaahhhhhh…..” desahannya kakak makin kuat ketika tanganku masuk kedalam CDNya dan mengelus klitoris.
Aku mulai tidak sabar lagi. Kubuka CD abu-abu itu, aku elus-elus vaginanya dari atas kebawah. Desahan kak widya semakin jelas.
“ahh…ah…ah….” Kak widya memaju mundurkan pinggulnya, mengikuti gerakan tanganku.
“ahh…dek…ah… kakak gak tahan”. Aku tahu ini saatnya. Aku buka celana ku.
“ dek… ingat jangan ambil kesempatan dalam kesempitan.” Kak widya membuka matanya dan menatapku. Tapi tangannya masih menahan tanganku di vaginanya. Aku masukkan jari kedalam liang vaginanya.
“AAAHHHHHHHHHHH……. Adek nakal…” desahan kak widya makin kuat.
“nikmati aja kakak sayang….” Bisikku di telinganya.
Ahh..ahh…ahh…. desahan kak widya makin cepat dan kuat. Dia sudah hamper klimaks. Aku cabut tanganku.
“ahhh… adek jangan siksa kakak…” rengek kak widya manja. Aku jadi sangat geregetan.
“ aku pengen juga kak” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku.
“jangan ya adek sayang, tabu” sambil kak widya menarik tanganku lagi ke aeah vaginanya. Matanya tertuju pada penisku yang nongol keluar dari atas celana.
“nanti kakak puasin, tapi janji jangan masuk.” Kata kak widya.
“iya janji.”
Kak widya menurunkan celanaku, penisku menjulang gagah ke angkasa. Raut wajah kak widya tampak terpesona melihat penisku yang panjang, diameter 3 cm panjang 16cm. mungkin dia juga tergoda. Kak widya berdiri di hadapanku naik di atas sofa. Aku yang duduk otomatis wajahku berhadapan langsung denganvaginanya. Ku julurkan lidahku dan menjilati clitorisnya.
“AAHHHHHH….. jangan di jilat dek..ampun,,,,ahh..ahh..ahh…” desahnya semakin kuat.
Kemudian kak widya mendorong kepala ku menjauh. Aku rebahan di sofa. Kak widya kemudian menduduki daerah selangkanganku, penisku di lipatnya ke atas, kemudian dia duduki. Au mersakan vaginanya yang hangat dan licin berada tepat di batang penisku. Kak widya mulai memaju mundurkan vaginanya. Hangat, licin, lembab bergerak maju mundur. Dari pangkal penisku hingga hamper ke ujung terasa nikmat, seperti di pijit-pijit… tangan kak widya bertumpu kebelakang. Ke lututku.
“ahhh…ahhh…ah…” desahan kak widya semakin cepat. Makin lama goyangan pantatnya makin cepat… “ dekkkk,,,, enak banget…..” nafsunya udah naik sangat tinggi, hingga mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dia keluarkan di depan adik kandungnya. Kak widya mencondongkan badannya kedepan. Dia tarik tanganku dan meletakkan di dadanya.
kembali...
                                                                                                                                       BERSAMBUNG

DAFTAR CERITA