ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label bercinta dengan adik kandung nyata. Show all posts
Showing posts with label bercinta dengan adik kandung nyata. Show all posts

Monday, January 15, 2018

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XVII

Sinaran lampu ruko memperjelas sosok lelaki yang sekarang berada di belakangku. Aku dengan cepat menaikkan celanaku kembali. Begitu juga reno. Penis nya yang sudah maksimal dia masukkan lagi kedalam sarangnya. Raut kekecewaan jelas tampak dari sorot matanya. Dia tak mau melihatku. Aku menoleh ke kiri. Kulihat sepasang sejoli tadi juga sudah bergegas mau meninggalkan tempat. Akupun begitu. Hujan sudah tidak deras lagi.
Di sepanjang jalan pulang kami diam membisu sejuta bahasa. Aku takut mau memulai percakapan dengan Reno. Wajahnya sangat serius terlihat dari kaca spion.
"HEI ANJING. BUKAN JALAN NENEK MU INI!!". Reno mengumpat keras ketika ada sepeda motor ngebut keluar dari gang.
Motor tadi berhenti.
"Mau mati kau!"  gumam reno sambil memberhentikan motornya.
"Adek, jangan." aku tarik tangannya. Aku tahan dia agar tidak menghampiri pengendara motor td.
"SINI KAU, BIAR KU HABISI KALIAN DI SINI".
Aku peluk reno dari belakang sambil berusaha keras menanhannya.
Aku bikin gerakan tangan seperti mengusir kearah bapak pengendara motor tadi. Aku harap dia mengerti. Tapi si bapak malah jadi makin emosi. Dan menghampiri kami.
"APA KAU BILANG. MASIH BOCAH SUDAH KURANG AJAR SEKALI KAU!" Teriaknya.
Reno menggerakkan badannya dan pelukanku terlepas. Aku baru mau mengejarnya ketika tinju reno sudah telak menghampiri dagu bapak tadi. Dia tersungkur.
"RENOOOOO!!!!!! UDAH... "
Aku berdiri di tengah tengah mereka membentangkan tanganku. Aku peluk reno dan aku dorong dia kebelakang.
"PAK LARI PAK. ADIKKU BAWA SENJATA API".
Bapak tadi terhuyung-huyung berdiri. Kemudian menghidupkan sepeda motornya. Dan pergi meninggalkan kami.
Aku dorong reno ke motor kami.
"Adek kenapa sih, kok marah-marah gak jelas gini".
Dia diam saja sampai kerumah.
"Kakak yang kasih makanannya sama papa. Tuh dia masih di ruang kerjanya." suara reno sudah lembut dan tenang. Kemudian dia langsung naik ke atas.
Tak banyak basi ketika aku memberikan makanan kepada papa. Dia juga menanggapi dingin. Aku langsung naik ke kamarku.

AMARAH
Pagi ini aku tak ada kegiatan. Aku ingat aku punya akun lama yang jarang di pakai. Aku buka. Aku tersenyum sendiri melihat namanya. Aku lupa kenapa aku menggunakan nama samaran ini. Ada ratusan notif. Dan puluhan chat dari orang-orang yang mau ngajak kenalan. Ada satu yang lumayan cakep. Aku balas.
Tak terasa hari sudah hampir jam 2. Aku masih chatingan dengan laki-laki tadi. Entah kenapa aku nyaman sekali chating dengannya. Tata bahasa nya bagus. Gombalan2 nya juga lucu dan membuat pipiku merah. Dia minta fotoku. Dan aku kirim.
"Kamu cantik ya. Walau belum mandi". Balasnya
Aku makin tersipu. Aku juga minta fotonya.
"Bentar abang foto dulu. Mau yang pose gimana?".
"Yang seksi. Wkwkwkw" balasku.
Satu foto masuk. Aku buka. Wow. Fotonya bertelanjang dada. Bodinya keren. Otot-otor perutnya terlihat jelas. Kotak-kotak dan basah oleh keringat.
"Kok abg keringetan gitu". Balasku
"Abg lagi olah raga. Biar tar kuat klo mau push up di atas adek". Balasnya.
"Push up kok di atas aku sih".
"Push up gini." dia kirimkan foto sepasang sejoli lagi bersetubuh dengan pose laki-laki di atas. Aku merasa kewanitannya berkedut dan basah melihat foto ini.
"Abg mesum ih". Balasku.
Chat kami berlanjut makin panas. Aku makin terbuai dengan kata-katanya.
"Pengen liat adek bugil dong." balasnya.
Entah setan mana yang merasukiku hingga aku mengirimkan foto bugilku. 4 pose berani meskipun aku tak memperlihatkan wajahku.
"Abg.. Aku udah basah. Masukin sayang". Balasku lewat pesan suara.
Chat kami berlanjut dengan pesan suara. Desahan-desahan ku kirimkan padanya. Aku sudah benar-benar bernapsu.

Pintu kamarku terbuka. Reno berdiri di depan pintu dan menatapku tajam.
Dia langsung masuk dan merampas hp ku.
"DASAR CEWEK MURAHAN!!!" Bentaknya.
Aku ketakutan sekali. Semua napsu yang tadi menguasai diriku menguap.
"Jadi ini kerjaan kakak tiap hari. Mengobrol tubuh keorang lain." maki reno
Aku terdiam. Tak berani menatapnya.
"Ini tak bisa di biarkan. Ini harus di laporkan ke papa".
Aku kaget dengan ucapan reno. Aku langsung berlutut dan memeluk kakinya.
"Jangan dek. Jangan, papa bakalan tambah marah ke kakak. Lebih baik adek bunuh saja kakak. Kalau adek sudah marah juga dengan kakak. Tidak ada lagi gunanya kakak hidup." aku menangis di kaki reno. Aku tidak memperdulikan kondisiku yang masih telanjang di hadapannya.
"Aku akan cari laki-laki ini, bakal kuhabisi dia" Jawab reno.
"Jangan dek, masalahnya bakal tambah besar. Kakak akan lakukan apa aja untuk adek asal adek mau maafin kakak".

Reno menarik tanganku. Aku berdiri di hadapannya.

"Puasi aku".

BERSAMBUNG


Thursday, August 3, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XVI

Tidak ada yang begitu istimewa dari Mall yang baru buka. Cuma hiburan dari artis ibukota dan semua toko memberikan discont. Yang istimewa adalah adik ku. Sepanjang jalan dia tidak pernah melepaskan tanganku. Mulai dari turun dari parkiran aku di perlakukan dengan sangat baik. Dia terus menawari, "kakak mau ini" atau "kakak mau itu". Aku kebanyakan menggeleng. Di ajak jalan saja aku sangat senang. Aku melihat beberapa laki-laki menatap ku dengan pandangan kagum. Kagum plus mesum. Dan cewek-cewek ABG juga banyak yang curi-curi pandang ke arah Reno.

Kami cuma keliling-keliling, makan di food court, nyobain bilik film 4D. Aku teriak-teriak ketakutan. Zombi-zombi dalam film itu seolah-olah nyata dan mau menarikku. Aku peluk Reno kuat-kuat. Dari pada melek aku lebih sering  memejamkan mata. Takut.

" tuh kan suara kakak jadi parau. Kebanyakan teriak. Dia yang ngajakin dia yang ketakutan". Celoteh Reno pas kami sudah keluar. Dia memberikan aku sebotol air mineral.
"Kapok kakak nonton yang beginian. Nonton film yang biasa aja deh lain kali. Gak usah yang kayak nyata gitu". Jelas ku.

Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kami keluar dari Mall. Tanpa bawa apa-apa. "Kakak mau makan? Ada kwetiau enak loh. Cobain yuk. Papa sama mama juga suka. Tar kita bungkusin buat mereka juga". Aku nurut aja.

Sudah satu jam kami makan. Sekarang kami sudah mau pulang. Karena penjual kwetiaunya di pinggiran kota. Jalanan sudah mulai sepi. Di setiap jalanan sepi dan gelap. Aku menutup mataku dan memeluk Reno erat-erat.

Tetesan air terasa. Gerimis, dan makin lama makin deras. "Kita berteduh dulu kak." teriak adik ku sambil memacu sepeda motornya mencari tempat berteduh. Kami berhenti di depan sebuah ruko yang cukup lebar. Ada 4 pintu. Yang ujung-ujungnya ada tempat orang jualan. Ruko nomor 2 dan 3 sepertinya masih kosong. Ruko tempat kami berteduh sudah tutup. di bagian depan ada lemari untuk jual makanan yang tidak di masukkan kedalam ruko. Ada juga bangku. Kami duduk disana. Di ruko no 4 juga hampir mirip. Di sana juga ada sepasang anak muda yang juga numpang berteduh.
"Kakak dingin ya. Jaketku basah juga kalo mau kakak pake".
"Gak papa dek. Gak dingin-dingin amat kok".
Hujan makin deras. Kami makin mepet ke pintu roling Ruko. Atap di bagian depannya bayak yang bocor. Kami liat pasangan yang di ruko nomor 4 berpelukan. Kami masih bisa melihat mereka. Meskipun remang-remang. Yang wanita di belakang dan memeluk cowoknya dari belakang.
"Kak, kak liat. Mereka ciuman" kata reno.
Aku menoleh kesamping. Benar saja mereka sedang berciuman. Yang cowo sudah tidak lagi menghadap depan. Tapi sudah berbalik mengadap ceweknya.
"Biarin aja. Toh mereka emang pacaran. Kalo kamu mau, ajak aja gantian." godaku ke Reno.
"Ngapain juga ngajakin gantian. Aku sekarang sama cewek yang ribuan kali lebih cantik dari tu cewek". Kata Reno sambil tangannya merangkul pinggangku. Aku merasa senang sekali di puji seperti itu.
"Dek, dulu kita juga pernah ya kehujanan. Waktu masih sekolah dulu. Terus berenti di pondok.". Aku mulai berbicara
"Yang mana, kita mah sering banget kehujanan."jawab Reno. Memang benar juga. Kami udah sering kehujanan. Tapi aku ingat yang itu karena perlakuan Reno hari itu yang susah aku lupakan.
"Yang itu loh. Kakak minta antar kerumah temen kakak. Pulangnya kita keujanan. Berenti di pondok". Aku mendongak kesamping memandang wajah Reno.
"Ntah ya. Lupa aku". Jawab Reno matanya masih menatap pasangan di ruko no 4 yang masih bermesraan.

BLAM...
Listrik mati. Kondisi kami gelap gulita. Spontan aku langsung memeluk Reno.
"Dek, kakak takuuut...".
"Tenang aja kak. Gak bakal ada yang berani gangguin kakak selama ada aku di sini, nyamuk pun gak bakal berani".
" nah itu tuh. Kamu juga waktu itu ngomong gitu. Masa lupa sih".
"Iya.. Iya.. Aku ingat. Kalau gak ada tukang siomai sialan itu. Aku udah mencapai salah satu impianku." kata Reno. Aku tidak tau wajahnya bagaimana sambil bicara begitu. Kondisi gelap total.
"Ada ada aja kamu. Impian apa juga yang bisa di batalain tukang siomai".
"Kalau gak ada dia. Hari itu aku udah bisa jadi pacar kakak". Jawab Reno singkat.
"Ih suka sembarangan kalo ngomong, masa kakak di pacarin. Situ gak laku ya?" godaku sambil menekan dada Reno dengan jari telunjuk kananku.
"Aku serius loh".
Aku merasa pipiku di elus. Daguku di angkat. Ada ciuman mendarat di keningku. Reno menciumku.
Ciumannya turun ke pipi. Kemudian ke bibirku.
Aku langsung mengalihkan wajahku. Dan berputar badan. Aku membelakangi nya.
"Kamu anggap kakak cewek murahan ya". Kataku.
"Nggak kak. Semua orang pernah berbuat salah. Dan kakak tetap wanita paling cantik di muka bumi di mataku." jawab Reno. Tangannya melingkar di perutku. Satu lagi kecupan mendarat di leherku. Kecupan yang dalam.
Kecupan itu naik keatas. Ke arah telinga. Dan aku sangat sensitif di sana. Aku merasa geli sekali.
"Deeekkk... Gak boleh"  aku cuma bisa bilang itu. Tanpa berusaha melepaskan diri. Tangan Reno perlahan naik ke atas. Meraba bagian bawah BH ku. Perlahan juga penisnya sudah terasa menonjol di pinggangku yang mepet ke tubuhnya.
Aku berusaha melepaskan tangannya. Tapi pelukannya sangat erat. Tubuh Reno sekarang sudah jauh lebih besar ketimbang waktu kami masih SMA. Sekarang dia sudah lebih tinggi. Aku hanya sebatas bibirnya. Dadanya lebih bidang. Lengannya lebih kokoh. Dia sudah dewasa.

Ciumannya di leherku makin menjadi-jadi. Lidahnya ikut bermain, menari-nari di sepanjang leher samping kananku.
"Adeeeeekk, gak boleh gini". Suaraku lirih sekali. Aku sudah terbawa suasana.
Tangan kanan Reno sudah tidak malu-malu lagi meraba dadaku. Sesekali meremas dari luar.
"Deeekk, sakit dada kakak di gituin".
Reno melepaskan pelukannya, dan meraih kaitan BHku. Tesss. Kaitan BH ku sudah lepas. Tanganya kembali kedepan. BH ku di angkat ke atas. Dan tangannya sudah mulai meremas Payudaraku dari luar baju.
"Eegghhh". Tanpa sadar aku mendesah.
Bibir Reno bergerak kedepan. Dia berusaha mencium bibirku. Kami berciuman singkat. Aku memalingkan wajahku lagi.

" aku sayang kakak". Ucap Reno.
" sayang adik dan kakak tidak begini dek". Jawabku.
Tangan Reno sudah masuk kedalam bajuku. Memainkan puting kiri. Sesekali meremasnya.
Tangan kirinya sudah menjalar ke bawah. Perlahan menyusup kedalam celana. Celana dengan pinggang karet seperti yang aku gunakan memang tidak sulit untuk di susupi.

"Aaaahhh.. Dek,, jangan". Aku mendesah. Jari Reno sudah menyentuh kewanitaanku. Tepat di klotorisnya.
"Tapi kakak suka kan?". Suara berat Reno di telingaku, desahan nafasnya yang menghempas leher membuat napsuku naik menjadi-jadi. Perlahan pinggangku bergerak mengikuti jarinya yang bergerak-gerak memainkan Klitorisku.
"Kakak sudah basah. Nikmatin aja kak. Aku akan melakukan apa saja demi membuat kakak bahagia". Ucapan itu membuat aku melayang.
"Aagh... Agh.. Aaagh...". Aku mulai mendesah. Akal sehatku sudah hilang. Aku mendesah tanpa malu. Di pantatku terasa Reno mulai menggesekkan Penisnya. Penisnya terasa besar. Lebih besar dari kali terakhir ketika penis itu menempel di pantatku 4 tahun lalu.

Reno mencium bibirku lagi dari belakang. Dan aku terima. Dia kecup aku pun mengecup. Dia sedot akupun menyedot. Lidah kami saling bersilang di dalam rongga mulutku. Lidahku kadang di sedot kedalam mulutnya.

Jarinya makin lama makin cepat memainkan Vaginaku. Keatas kebawah, kekiri kekanan. Aku sudah tidak tahan lagi.
"Terus dek.. Terus.. Agh... Agh... Agh..." desahky tanpa malu.
Aaagggggghhhhhhhh
Aku tahan tanganya, aku dorong ke dalam. Aku tekan agar tangannya tidak lepas dari vaginaku. Akupun keluar. Aku klimaks dengan tangan adik kandungku.

Reno mendorongku melangkah kedepan. Masuk ke bilik dagang di depan ruko. Dia mendorong pungguku agar aku menunduk. Dengan cepat dia menarik celanaku turun sampai kepaha. Diremasnya pantatku beberapa kali. Kemudian terdengar kelentikan suara. Dia berusaha membuka ikat pinggang celananya.
Ada benda keras menggesek Vaginaku dar belakang.
Aku akan ML dengan adik kandungku malam ini. Kenapa harus dengan nya. Batinku berkecamuk. Nurani ku masih ada.

Suasana mendadak terang. Menyilaukan mata kami yang sudah mulai terbiasa dalam gelap.
Listrik kembali menyala.

BERSAMBUNG
Cerita lain
Screeshoot percakapan sex kakak cantik dan adiknya

Thursday, July 27, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XV

DCSS

Ada suara bising, pandanganku silau sekali. Aku susah membuka mata. Tubuhku juga berat.
“ siska.. Siska... Dia sudah sadar. Dia sudah sadar.!” Ada yang setengah berteriak di sebelahku.
“ Ka.. Ka... Ini aku Lita. Kamu bisa liat aku?” sinar silau itu makin memudar. Meskipun belum jelas tapi aku tahu kalau itu adalah sahabatku Lita. Aku kenal suaranya.
“ aku di mana ta?” suaraku lirih sekali. Aku sendiri sulit mendengar suaraku.
“ kamu di rumah sakit Ka.”
Aku kaget.  jadi ingat semuanya mulai dari sakit perut, hingga pendarahan hebat di kamar mandi. Aku melihat kebawah. Aku sudah mengenakan pakaian Rumah sakit. Dan makin lama aku penglihatanku makin jelas. Orang ramai mengitariku.
“ ta, kenapa rame? Mereka semua tahu kondisiku?” tanyaku kepada Lita
“ iya ka, terpaksa mereka harus tahu. Pas aku sampai ke kostmu, aku ketok2 gak ada jawaban. Pas aku mengintip kedalam ada banyak darah di lantai aku jadi panik. Aku teriak minta tolong. Ada bapak kost mu sama tetangga yang ngedobrak pintu.” Jelas Lita. Suaranya serak. Seperti habis nangis
“ mereka melihat semuanya ta?” tanya ku lagi.
“ iya. Tapi kamu gak perlu memikirkan hal itu dulu sekarang. Yang terpenting kamu selamat. Kamu sempat kritis tadi. Kamu udah pingsan lebih dari 6 jam. Pemilik kost mu td nelpon tante kamunyang di bogor. Sekarang mereka udah disini. Lagi nyiapin kamar inap kamu. Orang tuamu juga besok kesini.”. Jelas lita lagi.

Oh tuhannnn... Aku mendadak jadi ingin melarikan diri. Aku tidak mau mama dan papa melihatku dalan kondisi seperti ini. Mereka pasti akan marah sekali. Aku mau lari. Aku mencoba bangkit.
“Siska, kamu ngapain? Jangan bangun dulu.” Lita panik dan berusaha memengangku. Beberapa orang juga menenangkanku. Tanteku masuk ke ruangan beserta perawat.
“Aku mau mati saja. Aku mau mati saja”. Ada beberapa orang memengang tanganku dan ada perawat yang menyuntikan obat ke infusku. Pandanganku gelap lagi.
.....

NERAKA
Aku beranjak dari ruang tamu. Pindah ketaman belakang, duduk di gazebo taman belakang sambil memandangi ikan yang berenang di kolam. Sudah sebulan aku kembali kerumah. DO dari kampus. Dan di batasi kemana-mana. Aku seharusnya bersyukur tidak di penjara. Salah satu yang membawaku ke rumah sakit adalah anak bapak kost. Dia seorang polisi bagian Kriminal. Aku tidak tahu bagaimana papa menyelesaikannya. Yang ku ingat ketika mereka tiba di RS dia tidak berbicara denganku sepatah katapun. Dari raut muka mama juga ada kekecewaan yang sangat besar. Sebagai seorang Hakim. Papaku tau betul hukuman yang harusnya menimpaku. Dosen-dosenku juga semua tahu. Karena papa sempat mendatangi Rektor untuk mencari Pak Prima.
Kalau ku temukan dia. Kupatahkan lehernya saat itu juga. Aku masih ingat jelas kata-kata papa saat itu. Akupun juga ingin sekali bertemu dengan pak Prima. Aku mau marah. Aku juga rindu dia. HP yang dia berikan tertinggal di kostku. Cuma beberapa barang penting di di bawa mama pulang. Selebihnya di tinggalkan saja. Aku sudah menghubungi Lita supaya dia mengirimkan Hp itu kepadaku. Tapi kostku sudah di isi oleh orang baru. Dan dia bilang tidak ada Hp ketika pindah kesana. Aku kehilangan kontak dengan orang yang aku cintai dan sekaligus aku benci.

Di rumah ini aku di anggap sampah. Tidak di perdulikan. Hanya ada makian, bentakan dan amarah yang ku terima. Bikin malu saja. Anak seorang hakim melakukan tindak kriminal. Kata-kata yang sangat mengiris hati. Mama juga tidak banyak bicara. Sekenanya saja. Meskipun dia tidak marah-marah seperti papa. Hanya Reno seorang yang masih menganggap aku sebagai manusia. Reno baru 2 minggu kembali kerumah. Dan keberadaannya sangat menyejukkan hati. Minimal mengurangi sakit hatiku. Dia sering mengajakku ngobrol. Bercerita tentang kerjaanya yang baru. Atau cerita-cerita lucu ketika dia masih dalam karantina. Kami memang sangat bertolak belakang. Bagai bumi dan langit. Reno selalu berprestasi. Aku tidak. Reno selalu di banggakan. Aku di cemooh. Aku bersyukur masih di beri fisik yang ideal. Sehingga rasa sakit itu tidak terlalu lengkap.

Reno juga bercerita bahwa tahun kemarin ketika aku masih di bandung, ekonomi keluarga kami anjlok. Salah satu minimarket kami harus tutup karena tidak lagi mendatangkan keuntungan. Serangan kapital pusat dengan masukkan Alfamar* dan ind*maret ke kota kami sangat berpengaruh ke toko kami. Dan yang mengejutkan adalah yang membantu membuatnya bangkit lagi adalah Reno. Seorang remaja baru lulus SMA yang mengembalikan kestabilan. Aku dapat cerita dari bi Sur. Asisten rumah tangga kami. Papa sibuk di pengadilan. Mama pun begitu. Reno berusaha keras menyusun ulang sistem dan akhirnya perlahan usaha keluarga bangkit lagi. Ketika teman-temannya sibuk kuliah. Dia sibuk berdagang. Sukses berdagang dia melamar di Akpol. Dan lulus dalam test pertama.
Ini anakku loh. Kata-kata papa setiap memperkenalkan Reno kepada teman-temannya. Aku jarang sekali di kenalkan. Tidak ada kebanggaan pada diriku. Dan papa benci kepada orang yang hanya bermodalkan paras rupawan tanpa perjuangan.
Aku buka akun facebookku, melihat-lihat timeline. Ada yang posting foto jalan sama pacarnya. Ada yang sama keluarganya. Aku iri sekali. Cewek itu tidak lebih cantik dari ku, tapi dia terlihat bahagia bersama pacarnya. Yang posting jalan-jalan dengan keluarga juga terlihat bahagia meskipun hanya jalan-jalan di wisata sederhana di kota tetangga. Sedangkan aku, cantik tapi di tinggal pacar. Keluarga kami tidak kurang dalam ekonomi. Tapi aku tidak bahagia. Bahkan menjadi sampah.
“seandainya aku memiliki kehidupan yang menyenangkan. Alangkah bahagianya” aku tulis status di Timeline kusendiri.hanya sebentar saja. Puluhan Orang like dan komentar. Rata-rata cowok.
Sini deh. Biar aku yang bahagiain hidup u. Kata salah satu komentar. Tidak aku balas. Aku jarang menyapa orang yang komen. Aku tidak mau terlihat murahan. Ada notif WA masuk.
"Nanti sore kita keluar yuk kk. Ada mall yang baru launching. Nanti aku yang izinin sama papa." WA dari reno. Dia tau aku lagi bersedih. Dia mau menghiburku.
Klo di izinin kakak mau aja. "Tp kk gak punya duit". Balasku
Kakak tenang aja. Duitku banyak. Susah mau di habisin. Wkwkwk.  Balas reno lagi. Aku tersenyum. Seandainya bukan adikku. Sudah kuajak pacaran anak ini. Dia baru beli Motor Sprot dari gaji yang di rafel selama masa pendidikan. Sebenarnya papaku juga memberikan 30% keuntungan minimarket kami untuk reno. Dari ke 3 cabangnya. Reno tidak bakalan susah secara keuangan.
Jam 3 sore reno sudah sampai di rumah. Lebih cepat dari biasanya. Aku lagi duduk di balkon atas ketika dia naik. Kamar kami ber2 di lantai 2. Kamar dia menghadap ke samping. Kamarku menghadap ruang keluaga. Kamar kami terpisah dengan lorong yang biasa kami pakai untuk karaoke.
“ kakak belum siap-siap?” tanya Reno. Dia duduk di sofa. Sambil membuka buntelan berkas yang dia bawa.
“belum lah. Tar kakak udah siap-siap gak taunya gak jadi. Adek udah izin ke papa?” aku masuk ke dalam dan duduk di sebelahnya.
“udah tadi aku telpon papa. Dia ngizinin. Aku juga mampir ke toko dulu. Ambil laporan penjualan sama data stok”. Lanjut reno tanpa menoleh. Dia sibuk membolak balik berkasnya.
“Iss, lain nih calon direktur. Sibuk terus.” Candaku.
“eits, jangan salah ya. Aku emang dari dulu direkturnya. Papa kan gak boleh jadi direktur. PNS mana boleh”. Lanjut reno lagi
“ iya deh pak dir. Kakak mau mandi dulu. Siap-siap.” Aku bangkit dan masuk ke dalam kamarku.
Setengah jam lebih aku di kamar. Mandi dan siap-siap. Awalnya aku pakai setelan gaun plus rok pendek warna hijau. Tapi aku baru ingat kalau mau pakai motor. Jadi aku tukar lagi dengan celana panjang warna krem dr bahan katun, dan baju sutera lengan panjang warna biru. Aku pakai tas juga warna biru.  Dan sepatu wedges krem. Aku lihat di cermin. Riasan ku tidak berlebihan. simpel. Aku merasa cantik. Aku sudah siap. Pukul sudah menunjukkan ke angka 4. Sudah 1 jam aku siap-siap.
Aku keluar kamar. Reno juga sudah siap. Dengan baju kaos oblong putih abu-abu dan celana blue jeans panjang. Reno menatapku.
“ widih.....cakep amat. Bidadari nyasar ya?” guraunya. Aku merasa malu dan senang. Meskipun yang memujiku adiku sendiri.
“yuk ah. Berangkat.” Ajakku.
....
BERSAMBUNG

Friday, February 17, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XI

"Astagaaaaaaaa" batinku
Ditanganku sekarang ada sepucuk senjata api jenis pistol. Aku tidak tahu jenis dan merk apa. Ada tulisan NH50CC dan angka-angka yang ku rasa adalah no seri. Aku taruh pistol itu di sofa. Aku takut setengah mati. Aku takut senjata ini meledak dan mengenaiku. Aku angkat perlahan-lahan dak aku pindahkan ke dalam laci di meja kerjanya.
Di dalam laci tersebut ada beberapa berkas yang semuanya berbahasa inggris. Ada foto-foto orang. Ada yang bersih ada yang di beri tanda silang. Ada juga beberapa pasport dan sim. Aku buka satu persatu, semua adalah pasport miliknya. Lebih tepatnya adalah pasport dengan fotonya. Nama yang tertera dalam pasport tersebut berbeda-beda. Aku makin aneh. Siapa orang yang sekarang dekat denganku ini. Apakah prima memang namanya yang asli?
Laci ini terkesan sangat dangkal. Sedangkan dari luar kelihatan tebal. Dari luar kedalaman laci ini selitar 20cm. Kalau di lihat dari dalam hanya 10cm. Aku tarik keluar laci itu. Berat. Padahal isinya sudah aku kosongkan. Aku tekan ujungnya. Dan benar saja, alas laci itu terangkat. Di bawahnya ada ruangan lain. Lagi-lagi isinya mengagetkanku. Satu pucuk pistol beserta beberapa magazine dan peluru ada di sana.
"Kenapa ada begitu banyak senjata di rumah ini?" batiku

Laci itu aku kembalikan ketempat semula. Isinya juga aku kembalikan. Seolah2 aku tak pernah menyentuhnya. Pistol yang tadi aku dapat di sofa aku kembalikan lagi ke selipan sofa bagian ujung. Dengan moncongnya mengarah ke bawah.

Aku melanjutkan beres-beres. Sambil memperhatikan dengan teliti setiap sudut rumah ini. Aku kembali menemukan senjata lain. Di bawah meja komputernya ada 1. Di belakang kulkas ada 1. Di selipan kursi di ruang tamu 1. Di kamarnya 1 tergantung di bawah ranjang. Dan di bawah pot bunga besar di depan pintu samping. Total ada 7 buah pistol yang dia sebar di segenap penjuru rumah.

Memory ku berputar kembali waktu aku datang kerumahnya pertama kali. Aku melihat bekas luka membayang di punggungnya. Dan mungkin masih ada lagi yang lain. Yang aku tidak tahu.

Hari sudah gelap. Aku sudah selesai beres-beres. Aku rebahan di sofa sambil menyalakan tv untuk mengusir sepi. Entah apa yang di siarkan di tv aku tidak tahu. Pikiranku menerawang jauh. Memikirkan siapakah sosok pak prima sebenarnya. Kenapa ada begitu banyak senjata dan beberapa pasport dengan nama yang berbeda-beda. Aku harus tahu semuanya. Aku harus dengar dari dia langsung. Tapi aku ini siapa. Aku bukan istrinya. Bahkan pacarpun juga bukan. Kami hanya dekat. Aku bahkan belum tahu bagaimana perasaan pak prima kepadaku. Bagaimana jika aku bertanya hal ini dia jadi marah, akhirnya dia menjauhiku. Atau ternyata dia orang jahat. Aku sudah tahu rahasianya dan dia akan membunuhku. Bayangan-bayangan mengerikan itu berseliweran di kepalaku. Mataku jadi berat.

Ada rasa hangat yang menyelimuti tubuhku, dan benar saja, ada selimut yang menyelimuti tubuhku. Dan pak prima sudah duduk di lantai dan mengetik entah apa di laptopnya yang terletak di atas meja. Sudah berapa lama aku tertidur.

"Udah bangun neng?"  dia menyapaku. Senyumnya masih tetap manis. Mata menyipit dengan sepasang lesung pipi. Tidak ada tampang manusia jahat terpancar dari wajahnya. Aku bangkit mendadak. Dan mengintip kebalik selimut.

"Hahaha... Kaget amat. Saya gak macam-macam kok. Cuma masangin selimut aja sama pegang dahi kamu. Ngecek temperatur. Saya kira kamu demam". Sahutnya sambil tertawa.  seolah-olah bisa membaca pikiranku.

Aku beringsut menjaug darinya. Memeluk lutut sendiri. Entah kenapa badanku serasa menggigil.

"Kamu kenapa siska?" dia mendekatiku, dan memegang dahiku. Aku tidak merasa demam. Aku hanya ketakutan.

"Kamu demam? Saya antar ke dokter ya?" kejarnya lagi.

Aku masih diam seribu bahasa.

"Kamu mungkin masuk angin, pakai baju tipis dan celana pendek gitu. Kita ke dokter saya antar. Pakai celana saya dulu. Di gulung ujungnya biar gak kepanjangan." dia masuk ke dalam kamar dan keluar membawa jaket serta celana panjang berbahan kaos.
Aku masih terdiam di sofa, tidak menoleh kearahnya atau menjawab. Pak prima jongkok di depanku sekarang. Dan berusaha mengambil tanganku untuk memasang jaket. Aku tatap matanya.
"Bapak bukan orang jahat kan?" kata-kata itu yang mengalir pertama kali dari mulutku.
Pak prima agak bingung dengan pertanyaanku. Kemudia menoleh ke seantero ruangan seolah mencari atau menyadari sesuatu. Dia menatao laci agak lama. Kemudia kembali menatapku sambil tersenyum.

"Kita kedokter dulu yuk. Pulang dari sana saya cerita". Suaranya masih tetap terdengar lembut dan penyayang. Tidak ada satu nadapun yang berubah. Dia tetap orang baik.

"Siska tidak apa-apa pak. Kita tidak perlu kedokter. Siska menggigil bukan karena demam. Tapi mungkin karena siska cemas saja". Jawabku

Dia hanya tersenyum
"Beneran nih gak papa?" tanya nya lagi
"Iya pak. Siska gak papa".
" yaudah, makan dulu yuk. Kamu pasti laper". Dia bangkit dari duduk di hadapanku dan beranjak kedapur. Bunyi kelentingan di sana. Dan kembali membawa 2 piring dan sendok. Dia beli nasi bungkus buat kami makan.
"Saya sengaja beli dua, saya yakin kamu belum makan."

Aku masih malas-malasan menggapai bukusan jatah untukku. Berat sekali tangan ini rasanya. Dan posisi meringkuk di dalam selimut ini juga begitu nyaman. Tanpa sadar sekarang ada sesendok nasi + lauk di depan wajahku. Pak prima mau menyuapiku. Aku tersenyum dan menerima suapannya.

Sambil makan dia bercerita dan memintaku untuk tidak menceritakannya kepada siapapun. Dia sebenarnya adalah personil BIN. Yang bertugas sebagai agent senior untuk wilayah bandung. Dalam masa tugasnya dia berprofesi sebagai dosen dan arsitek.karena profesi itu menunjang misinya kali ini. Pistol yang ada dimana-mana memang sengaja di posisikan disana jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Tak terasa nasi bungkus yang untukku sudah habis aku santap. Dan semuanya dia suapin. Dan kurang ajarnya aku, dia bahkan belum makan sesuappun. Akupun sudah keluar dari selimut dan duduk bersila didepannya.

"Udah kenyang bayi gede? Makan sambil di dongengin". Canda nya sambil menoyor kepalaku pelan. Aku hanya cengengesan tanpa suara karena mulutku masih penuh nasi.
"Bapak makan aku yang suapi deh, gantian sebagai balasannya".
"Gak deh makasih. Saya masih bisa makan sendiri gak lemah kaya orang itu tu!" jawabnya sambil memajukan bibir.

Tidak sampai 10 menit. Mungkin hanya sepuluh menit dia sudah selesai makan. Habis. Rekor makan yang cepat banget bagiku. Aku menghabiskan sebungkus nasi bisa sampai 1 jam. Kemudia dia bangkin dan mencuci piring di wastafel. Aku mengikutinya dari belakang.

Aku berdiri persisi di belakanyanya. Dia mengenakan celana jeans biru panjang dan hanya mengenakan singlet putih tipis tanpa lengan. Guratan bekas luka di punggunya makin jelas. Jariku otomati mengikuti alur luka tersebut.
"Sekeras apa hidup yang pernah bapak lalui?" aku bertanya dalam suara pelan. Aku tidak butuh di jawab. Hanya menggumam sendiri. Tanpa sadar aku memeluknya dari belakang. Karena dia tinggi. Kepalaku nempel persis di punggungnya.
"Bapak bukan orang jahat kan? Siska sayang bapak". Kata-kata ini meluncur dengan sendirinya dari lidahku.
Pak prima mematikan keran air. Mengelap tangannya dan berbalik. Sekarang aku berhadapan dengannya. Dia tersenyum manis sekali.
"Kok gak di jawab, bapak gak suka ya?" kejarku manja.
"Iya saya juga sayang kamu!" balas pak prima.
"Jadi kita pacaran dong!" kejarku lagi
Dia hanya tersenyum.

"Jawab dong pak?" rengekku
"Iya... Iyaaa.... Pacaran. Saya sayang kamu juga. Dan sekarang kita pacaran!" balasnya
"Masa sama pacar pake saya kamu. Formal amat."
"Trus harus gimana" tanya pak prima.
" siska panggil abang aja ya. Abang panggil dedek. Kan lebih romantis." jawabku sambil senyum.
" ok deh. Apapun deh demi bidadari abang".

Cuuup.. Spontan aku menginjitkan kakiku dan mencium bibirnya. Dia agak kaget. Aku juga kaget kenapa aku begitu agresif. Ciuman itu singkat. Aku tertunduk. Kemudian pak prima merangkul pinggangku dan mencium bibirku lagi. Ciumannya lembut. Aku membalas ciumannya dan melingkarkan tanganku ke lehernya. Ciuman kami makin lama makin dalam dan aku merasakan kalau ciumanya makin menguat. Dia melepaskan bibirku dan turun ke leher. Aku menggelinjang kegelian. Dia cium makin turun. Aku cium kepala nya. Dan berbisik.
"Sayang, mandi dulu gih. Accemmm"....

BERSAMBUNG

Sunday, April 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IX



Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa, kami sama-sama tidak ada yang membahas tentang ‘pergesekan’ yang terjadi selama di pondok. Meski aku sering memergoki reno yang semakin sering curi-curi pandang kearah dada atau pahaku. Hanya sebatas itu, meskipun terkadang kalau berpapasan denganya, dia pasti menyenggol pantatku, seolah-olah tidak sengaja.
Part II. Kesalahan fatal
Aku masih guling-guling di sofa ruang tamu. Membaca status-status teman-teman Fb ku. Ada yang galau, ada yang lucu ada yang pamer, Macam-macam. Aku kemudian melihat akun Reno, dia mengupdate status dan fotonya 2 hari yang lalu. Dia duduk jongkok diantara segerombolan anak-anak SD di acara Pocil. Polisi kecil. Mereka tertawa girang, reno juga tersenyum sambil memeluk 2 orang anak cowok di kiri dan kanannya. Reno memang penyayang. Hmm... aku jadi kembali teringat kisah lalu.
Tidak terasa aku sudah tamat SMA dan merantau kepulau jawa untuk kuliah. Aku memilih Masuk ke ITB. Kami punya saudara dari pihak Mama di bogor. Semester 1-2 aku tinggal dengan mereka.  Ketika semester 3 aku lebih memilih kost. Asalanku dengan mama dan papa adalah capet bolak-balik bandung bogor untuk kuliah. Lebih baik mencari kost di sekitar kampung. Lebih efisien waktu dan tenaga. Padalah aku lebih memilih kost karena aku bisa lebih bebas. Bisa pergi dengan teman-teman hingga malam atau mengundang orang-orang yang ku kenal untuk berkunjung ke kost ku dengan leluasa. Tanpa harus merasa tidak enak dengan bibi.
Dua tahun tinggal dibandung sudah menjadikanku seperti gadis bandung kebanyakan, modis dan fashionable. Wajahku memang sudah cantik, di usia 21 tahun kegadisannku sempurna. Aku digandrungi banyak cowok, dan menjadi idola di kampus. Bukan hanya di fakultasku, tapi di seluruh kampus. Dari adik tingkat hingga senior, bahkan dosen-dosen muda juga banyak yang menyukaiku. Tawaran untuk jalan atau pacaran terlalu sering kuterima. Kawan-kawan ku banyak yang jadi tukang pos. Mengantarkan pesan dan salam dari para penggemar. Lucu-lucu, ada yang pake surat kaya zaman dulu, ada yang nekat berdiri di tengah lapangan kampus dan membuat tulisan ‘ I Love U sisca’. Tapi dari sekian banyak orang yang mendekatiku, aku menaruh harapan kepada salah seorang asisten dosen baru. Pak Prima, Kebetulan dia mengajar ilmu topografi. Pelajaran yang paling aku gak mengerti. Dia masih muda, mungkin sekitar 26 atau 27 tahun, tinggi, keren, terkesan dingin dan cuek. Ketika sudah dekat denganya ternyata orangnya ramah dan santun. Badannya gak kurus, gak juga gemuk. Tapi full otot. Kulitnya putih, tapi mungkin karena sering berjemur jadi sedikit kecoklatan. Meskipun cuek, dia supel dalam pergaulan dengan mahasiswa, gak jaim. Sering nongkrong bareng mereka di kantin. Pak Prima juga Smart, cara dia mengajar sangat mudah dipahami, bahasanya juga membumi. Dengan kata lain dia hampir sempurna.
Dalam waktu singkat Pak Prima sudah menjadi idola di antara mahasiswi. Kalau pak prima lewat, mahasiswi rata-rata jadi kecentilan mendadak. Akupun juga ikut mengidolakannya.
Hari itu kami belajar dengan beliau, aku pandangi dia dan memang wajahnya manis dan mempesona. Satu jam lebih dia mengajar, aku tidak memperhatikan ucapannya sedikitpun, dan ku rasa setiap mahasiswi di lokalku juga begitu. Entah sial atau malah beruntung, diakhir pelajaran pak prima memberikan pertanyaan evaluasi dan aku yang disuruh menjawab. Aku jadi gelagapan, menoleh kiri dan kanan mengharapkan bantuan dari teman-teman. Tapi mereka juga langsung menunduk dan terkesan menjauh. Berharap tidak mendapatkan beban yang sama yang aku hadapi. Aku jadi ikut menunduk. Idak tahu harus menjawab apa.
“ gimana siska?” tegur pak Prima mengingatkan. Aku mendongak, dan pak prima sudah berdiri setengah meter dari kursi ku. Aku Cuma bisa cengir kuda. Dan berusaha mengeluarkan seluruh pesona yang aku punya. Dia juga tersenyum dan melangkah mendekat. Diambilnya binder yang ada di tanganku, aku mau menahannya tapi tenaga beliau lebih kuat. Aku berusaha merebutnya kembali tapi terlambat. Dia membolak-balikan binderku, kemudia membaca sebentar.
Oh tuhannnn, di binderitu ada kutulis Prima I love U, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu.
Dan di bawah tulisan itu ada gambar orang, dua besar, dua kecil seolah-olah itu keluarga kami. Aku berharap dia tidak membacakannya keras-keras di kelas.
“ siska, sudah hampir 2 bulan kita belajar tapi isi bindermu Cuma ada judul mata kuliah doang, di ajar oleh saya. Gimana kamu mau bisa?” tanyanya.
Aku diam saja.
“ sebagai hukumannya, kamu harus resum buku ini.” Dia menyerahkan buku. Dan isinya sudah banyak yang digaris menggunakan stabilo. “ resum yang sudah saya garis-garis saja. Dan harus menggunakan tulisan tangan. Dari halaman 7 sampai halaman 32. Dikerjakan hari ini. Jam 5 serahkan dengan saya.” Perintah beliau.
Ketika pelajaran berakhir, teman-teman sudah pada bubar hanya menyisakan segelintir di dalam kelas. Pak prima mendekatiku lagi dan menyerahkan buku tadi.
“nih bukunya, ingat serahkan ke saya jam lima di kantor. Kamu masih ada mata kuliah?” tanya beliau.
“ Cuma nyampe jam 2 pak.” Jawabku.
“ Nah kalau begitu kamu punya waktu untuk membuatnya.” Pak prima mendekat, dan mengucek pelan kepalaku. “mau jadi apa kamu kalau malas dan ngammbar doang”. Ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan aku yang melongok. Aku terdiam. Jantungku bergemuruh, dan dadaku terasa sesak.
Pak prima memengan kepalaku, ohhh tuhannnn. Bahagianya...
Aku senyum-senyum sendiri, dan tatapan iri sebagian teman mahasiswi yang melihat kejadian tadi memicu semangatku untuk menulis resumenya.
.....
Hari sudah sore, jam 3. Aku masih menulis resum nya sendirian di kelas. Teman-teman yang lain sudah pulang. Aku awalnya mau pulang dan menulis di kost. Tap aku urungkan kalau sudah di kostan pasti bawaanya mau tidur dan akhirnya tidak di kerjakan. Jadi aku bertekat untuk menyelesaikannya di kampus. Menyelesaikannya tepat waktu dan membuatnya terkesan.
Kringgg....kringgg....kringg....
Hp ku berdering, panggilan dari nomor baru.
“haloo” jawabku
“ halo, ini siska?” tanya suara di ujung telepon.
“ iya saya siska, ini siapa ya?” jawabku mulai ketus, ini kayaknya para penggemar deh. Dari mana juga dapat nomor ku. Padahal nomorku tidak aku publikasikan.
“ saya Prima, kamu dimana sekarang, bisa anterin buku tadi gak, saya butuh buku itu sekarang?”
Oh tuhannnn, laki-laki idaman yang sejak tadi di hayalkan menelponku, aku jadi sumringah sendiri.
“ oh iya pak, nanti siska antar, sekarang siska lagi ngerjain tugas dari bapak tadi.” Aku ubah nada suaraku semerdu yang aku bisa.
“ pending aja dulu, saya butuh sekarang. Kamu lagi sama siapa?” tanya nya.
“ sendiri pak.”
“ tolong kamu anterin kerumah saya ya, nanti saya kasih alamatnya. Gak jauh dari kampus. Kamu ada motor?”  tanya beliau lagi.
“ ada pak. Iya siska antar bukunya sekarang. Smsin aja alamatnya.” Sambungku. Ini salah satu kesempatan bisa kerumah pak Prima. Aku jadi kegirangan. Dalam waktu lima menit aku sudah keluar kampus dan mengarah kerumahnya.
Alamatnya mengarah kedaerah belakang kampus. Tidak begitu jauh dari kostku, mungkin sekitar 500 meter paling jauh. Ia tinggal di sebuah rumah bergaya kuno, pagar besi warna hijau. Ada halaman yang lumayan luas di sebelah kanan rumah. Sebuah pohon alpukat yang rindang tumbuh disana, dengan ayunan terbuat dari ban mobil tergantung di salah satu dahannya. Aku dorong pagarnya, tidak terkunci. Aku melangkah kedalam, dan meninggalkan motor terparkir diluar pagar. Dari depan pintu aku mencium aroma masakan yang sangat harum. Aku jadi lapar. Dan memang aku belum makan sudah sarapan. Aku ketuk pintunya.
Tok..tok..tok... Assalamualaikum....
Waalaikum salam...
 Ada sahutan dari dalam, suara pak Prima.
Berselang sepuluh detik gagang pintu bergerak, kepala pak Prima nongol. tidak ada suara langkah kaki yang terdengar ketika dia melangkah untuk membuka pintu tadi.
“ eh siska, ayo masuk”
Dia kembali kebelakang, meninggalkan ku sendiri diruang tamu. Dia mengenakan jeans biru gelap dengan atasan hanya singlet berwarna putih. Lekukuan otot-otot lengannya terlihat jelas. Ada garis jelas melingkar di lengan atasnya, garis yang membagi kulitnya menjadi putih dan coklat. Garis yang timbul karena sengatan matahari yang dibatasi oleh baju lengan pendek. Samar-samar ditutupi oleh singletnya ada bekas luka yang membentang dari pundak kiri bawah leher sampai ke lengan kiri atas tidak jauh dari lengan atas. Luka seperti bekas sayatan benda tajam.
Aku duduk di ruang tamu, aroma harum masakan itu semakin jelas, aroma itu berasal dari dapur pak prima. Kalau seandaikan suatu masakan hanya dinilai dari aromanya, mungkin masakan ini nilainya sembilan puluh sembilan. Atau aku hanya terlalu lapar, jadi masakan ini tercium sangat enak. Aku baru tahu kalau pak prima sudah punya istri. Istri yang pandai memasak.
“ maaf ya saya meminta kamu antar bukunya. Saya baru ingat kalau saya ada pekerjaan yang belum selesai.” Seru pak Prima dari belakang. Antar aku dan dia terhalang oleh lemari tua yang tinggi.
“ kamu pasti belum makan kan? Kebetulan saya lagi masak. Kita makan bersama aja.” Kepala pak Prima muncul dari balik dinding.
“ Bapak sedang masak?” aku bertanya, antara bertanya antara penegasan. Aku juga bingung.
“ iya saya sedang masak. Ini sudah hampir selesai, sini aja. Duduk di ruang tengah”
Aku bangkit, dan langsung masuk kedalam, enath apa yang ada dibenakku yang jelas aku masuk saj, tidak ada perasaan takut atau cemas. Tidak ada perasaan aneh bagi seorang gadis yang masuk kedalam rumah seorang laki-laki. Aku juga mau melihat istrinya.
Ruang tengahnya lumayan besar, ada sofa butut berwarna abu-bau kecoklatan dengan meja ditangahnya, menghadap sebuah TV cembung model lama berukuran lebih kurang 32 inci. Dari ruangan ini juga ada sebuah pintu keluar, mengarah kehalaman samping rumah. Aku melihat sekeliling, tidak ada foto atau pajangan, hanya ada sebuah jam dinding yang tidak lagi berfungsi. Jarum detik nya tidak lagi bergerak. Di samping sofa ada rak buku yang tidak terlalu besar. Penuh dengan buku-buku, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang seperti majalah. Di atas meja koran berbahasa Inggris, BBC News.
Aku duduk di sofa itu, memandang kearah pak prima. Dia sendirian, tidak ada istrinya disana. Antara ruang tengan dan dapur hanya dibatasi oleh dinding pembatas setinggi dada orang dewasa. Jadi aku bisa melihat dengan jelas dia yang bolak balik di dapur.
“ istri Bapak mana?” tanya ku sambil mencoba meraih koran yang tergeletak diatas meja.
Pak prima menoleh sebentar, kemudian tertawa.
“ ha.ha.ha, mana ada saya istri, saya belum laku.”
“jadi bapak sendiri yang masak?” lanjutku lagi
“ iya lah, emang sisca bisa liat dari tadi ada orang yang membantu saya masak?” pak prima mengambil beberapa piring kemudian kembali kearah kompor. Kemudian menghidangkannya diatas dinding pembatas, dinding itu ternyata juga berfungsi sebagi meja makan.
“ ayo kita makan dulu, kamu pasti belum makan.” Sambung pak Prima.
Aku belum beranjak dari sofa, aku bingung harus bagaimana, satu sis aku memang udah lapar, satu sisi aku juga malu kalau harus makan berdua dengannya, baru kenal, dia juga dosenku.
“ ayolah, masakan saya enak loh. Nyesal loh kalau kamu tidak makan.” Sambungnya lagi. Dia melangkah ke kamarnya, tidak lama dia keluar lagi. Sekarang sudah pakai baju kaos oblong.
Aku bangkit dari sofa dan bergerak kearah meja makan. Ada tiga buah kursi tinggi tanpa sandaran. Aku duduk di tengah, kursi yang berwarna biru muda. Dinding pembatas ini lumayan lebar, mungkin satu meter lebarnya. Sangat pas menjadi meja makan. Lokasinya juga tepat. Di atas meja ini ada Ayam yang dibaluri sambal berwarna merah, sup dengan sayuran dan sesuatu berwarna putih. Aku tidak tahu apa.
“ ayo makan, gak usah malu-malu.” Ujar pak prima yang sekarang sudah duduk di seberang meja. Menghadap kearahku.
Suapan pertama membuat ku kaget, ini masakan enak sekali, lebih enak dari masakan ibuku atau rumah makan manapun yang pernah ku coba. Pedasnya pas, aroma nya juga luar biasa. Aku coba supnya, enak dan yang putih-putih ini bikinku penasaran.
“ ini apa pak?” tanya ku sambil mengangkat benda itu di atas sendok.
“ itu namanya kulit tahu, kamu belum pernah makan itu ya?” jawab pak Prima sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. senyuman nya juga membuat kewanitaanku jadi basah. ada yang mengalir dari dalam tanpa di perintah...
BERSAMBUNG.....

Monday, April 18, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VIII



Tanpa sadar aku mendesah perlahan. Jempol tangan kanan reno nyaris menyentuh puting payudara kiriku. Tangan kirinya makin menekan kedalam, menekan pinggangku semakin menempel dengannya. Ganjalan penisnya yang menegang makin terasa jelas menggesek-gesek naik turun.
Ini tidak bisa di biarkan
Suara yang muncul dari dalam batinku membuat tanganku menarik tangan reno lepas dari kegiatannya yang terus berusaha menembus semakin tinggi. Aku tarik tangannya dan ku turunkan. Tidak ada rasa perlawanan dari reno. tangan kanannya kembali memeluk perutku. Tangan kirinya masih berada di bawah.
“ Rambut kakak wangi ya?” ucap reno pelan dan sangat dekat dengan telinga kananku. Hembusan nafasnya terasa hangat menerpa leher. Bulu-bulu halus yang ada di leher terasa berdiri. Geli sekali.
Cup..
Aku merasakan ada benda hangat dan lembab yang menempel antara bahu kanan dan leherku. Reno mengecupkan bibirnya ke leherku. Oh,,, aku merasa makin lunglai. Aku makin terangsang dengan perbuatannya. Tanpa sadar aku menggerakkan kepala mencondong ke kiri dan membuka ruang makin luas bagi reno untuk menyerang. Tapi aku tidak berusaha menghentikan serangannya.
Tindakan ini sepertinya di tangkap reno sebagai angin sejuk. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati leherku dari pundak hingga kebelakang leher. Uugghhhhh. Aku kembali mendesah. Dan desahan kali ini makin kuat.
“ Adeekkkkk, jangan gitu ah, kakak geli” Ujarku pelan. Tanpa sadar tangan kananku bergerak dan meremas tangan kanannya yang sedari tadi memeluk perutku.
Perlahan tangan kanan reno kembali naik, pergerakannya cepat, jauh lebih cepat dari tadi. Hanya dalam hitungan detik jempolnya sudah kembali menelusup kedalam BH ku. Hampir mengena putingku meskipun masih di batasi oleh baju.
Ughhh....
Aku kembali mendesah, jempol reno sudah menyentuh putingku. Putingku mengeras dengan sangat cepat. Ada gelombang aneh yang kurasakan dari putingku menyebar hingga keseluruh tubuhku. Gelombang ini membuatku makin tidak kuat untuk berdiri. Sekarang aku makin menyandarkan tubuhku ke tubuh reno. jempol tangan kanan reno berputar-puar di sekitar aerola payudara kananku, dan dalam ritme tertentu menyentuh putingnya. Tidak ada lagi kepura-puraan atau seolah-olah ketidak sengajaan yang dilakukan oleh reno. gerakannya sudah semakin jelas. Gerakan pinggulnya mengesek kepantatku pun makin terasa dan makin lama makin cepat.
Telunjuk tangan kanannya sekarang menelusup kedalam, melalui celah diantara dua kancing seragam sekolah yang ku kenakan. Aku mengenakan tanktop di dalam, jadi jari telinjuk nya masih tidak bersentuhan langsung ke kulit payudara ku. Dan dalam waktu singkat jari telunjuknya sudah menyentuh puting kiri. Jempol kanan memainkan pting kanan, telunjukknya memainkan puting kiri. Tangan kiri reno makin turun kebawah, dan sekarang tepat mengelus vaginaku dari luar.
Aaghhh.....
Aku kembali mendesah perlahan, tidak ada lagi obrlan yang keluar dari mulut kami, kami sudah sibuk berenang dalam birahi masing-masing. Birahi yang sangat tidak etis. Hujan mulai reda dan hanya berupa rintik-rintik hujan, tapi masing-masing dari kami masih bersikap seolah-olah tidak mau tahu dan tidak mau mengakhiri kegiatan erotis yang sedang berlangsung.
Reno sekarang sudah tidak malu-malu lagi menggesekan penisnya ke pantatku, dan bahkan sedikit mendorong. Beberapa kali aku harus melangkah pijakan kedepan untuk bertahan dari dorongannya. Sampai tangan kananku sekarang harus memegang kusen pintu ponok untuk bertahan. Tangan kiri reno yang awalnya hanya mengelus pelan vaginaku dari luar rok dengan satu jari, sekrang sudah mengelus ke kiri dan kekanan dengan keempat jarinya. Kata mengusap mungkin lebih tepat. Sensasi ini makin membuat ku melayang. Ingin rasanya kau mendesah sekuatnya.
HEI.. NGAPAIN KALIAN !!!
Kami berdua kaget dan langsung melepaskan diri. Tangan reno juga langsung melepaskan pelukannya. Selang 5 meter di depan kami ada mamang pedagang siomai lewat dari arah belakang pondok. Berjalan kearah depan jalan. Dia menoleh kepada kami dengan tatapan garang.
“ kami berteduh kehujanan pak” jawab Reno. nada suaranya tenang, tidak ada nada kecemasan dalam suaranya. Sedangkan aku sudah gemetar ketakutan. Suaraku serasa tertahan di tenggorokan.
“ alah, dasar kalian mau pacaran aja di pondok sana. Ni hujan udah berenti, pulang sono. Ganti seragamnya. Pamit sama orang tua dulu kalau mau pergi pacaran.” Lanjut mamang siomai
Reno mengambil serangamnya yang tadi tergantung di pintu pondok. Mengibas-mingabskan sebentar dan mengenakan nya kembali.
“ ayo pulang” ajak reno, wajahnya dingin, dia mengatakan itu tanpa menoleh kearahku, dan langsung aja berjalan kearah motor yang terparkir di pinggir jalan. Aku pun mengikutinya. Mamang siomai juga mulai kembali bergerak. Tidak lama reno menyalakan motornya dan aku sudah berada di boncengan. Mamang siomai sudah mendekati kami lagi.
“ kalian kalau tidak ketahuan saya pasti mau berbuat mesum di pondok tadi kan?” tanya mamang siomai sambil berusaha mendorong gerobaknya melewati pembatas trotoar jalan.
Aku menoleh kebelakang, suaraku kembali.
“ dia adik saya mang, bukan pacar” jawabku sambil senyum kuda.
Reno mengegas motornya, dan meninggalkan mamang siomai yang mentap kami dengan mulut terganga...

Friday, February 19, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VII



DUARRRRRRR
Suara petir besar sangat memekakkan telinga. Spontan aku langsung memeluk tubuh Reno. aku paling takut dengan petir. Aku benamkan kepala ku ke dada Reno, aku mampu mendengar detak jantungnya. Hangat kurasakan ketika pipiku menempel ke dadanya. Aku makin mengeratkan pelukanku ketika petir susulan berbunyi. Reno juga memelukku sekarang. Pelukannya hangat dan erat. Aku benar-benar merasa terlindungi. Kehangatan tubuh reno serasa mengalir ke seluruh tubuhku dan entah mengapa kewaitaanku terasa basah. Ada yang mengalir dari dalam tanpa diperintah. Aku merasakan pipiku memerah. Dan aku juga baru menyadari kalau ada sesuatu yang makin lama makin mengeras terasa dan benda itu menempel sedikit diatas kewaniataanku. Makin lama makin terasa, posisinya menekuk kebawah. Aku tertawa dalam hati, penis reno bangun di pelukanku. Dan karena tinggi kami tidak begitu beda. Aku 160 dan reno paling hanya beberapa centi di atasku. Posisiny penisnya bersentuhan dengan kewanitaanku. Aku melihat kebawah, tapi tidak jelas karena posisiku yang masih menempel erat ke reno. aku tidak berani bergerak, karena takut reno sadar kalau aku merasakan penisnya yang maikn menegang dan dia menjadi malu. Aku juga penasaran sampai mana jauhnya Penis reno bisa membesar. Terasa juga di punggungku kalau tangan reno mulai mengelus-elus punggungku, tangan kirinya memeluk pinggangku dan tangan kanannya mengelus-elus naik turun. Dari bawah leher sampai pinggang. Kemudian naik lagi. Penisnya kurasakan bernenyut-denyut. Tapi denyutannya aneh, tidak seperti denyut jantung. Denyutan nya berubah-ubah, seperti denyutan yang di sengaja. Aku jadi berfikir kalau reno sengaja menggerakkan atau lebih tepatnya mengontrol denyutan kemaluannya yang makin lama makin keras.
Aku melepaskan pelukanku ke reno, reno juga melepaskan pelukannya. Aku sempatkan melirik kebawah, terlihat sedikit tonjolan di celana reno, meski tidak terlalu jelas. Celana reno yang basah membuat warna celananya makin gelap di tambah suasanya yang juga tidak terang bahkan hampir gelap di dalam pondok. Aku berbalik dan membelakangi reno. sekarang posisi kami sedikit berenggang. Hujan masih turun dengan sangat deras. Aku usap-usap lenganku untuk mengatasi tusukan udara dingin yang muali menyerang.
“ kakak dingin ya?” tanya reno. tanpa komando kedua tangan reno mengusap-usap lenganku dari pangkal lengan hingga ke penggelangan tangan. Kiri dan kanan. Aku jadi berhenti mengusap-usap lenganku dan membiarkan reno yang mengambil alih. Kedua tanganku bersedekap diperut, tangan kiri di atas tangan kanan. Reno masih terus mengusap-usap kedua lenganku, posisi ini menarikku untuk kembali ke pelukan reno dengan posisi tetap membelakanginya. Aku kembali merasakan penis reno menempel padaku, sekarang pada pantat ku. Posisi ini membuat tubuhku dan tubuh reno berbagi kehangatan. Entah kenapa aku merasakan sebuah perasaan yang sangat nyaman bukan takut karena sedang dipeluk oleh remaja laki-laki yang sedang tidak mengenakan baju dan berada di tempat sepi. Di tambah dengan penis nya yang tegang. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah Reno akan memperkosaku di pondok ini. Apakah adik kandungku akan melakukan sesuatu yang tabu terhadap tubuh kakak perempuannya.
Reno masih mengusap tanganku, satu tangannya menyibak rambutku dan memindahkannya kedepan. Leher bagian kanan belakangku lebih bebas dan terbuka. Aku bisa merasakan desir hangat hembusan nafas reno yang menerpa leherku. Geli, geli sekali. Dan perasaaan geli ini mengalir keseluruh tubuh dengan cepat. Ada sesuatu yang mengalir dari selangkanganku.
“ kalau hujannya gak berenti juga gimana nih dek?” aku berusaha membuka obrolan dan mengalih kan pikiranku dan meredam rasa geli di selangkangan.
“ Ya kita nginep di sini? Kan tu ada tempat tidurnya.” Reno masih bisa bercanda dengan jawabannya.
“ yeee, nggak mau lah. Tar kakak di gigit nyamuk tidur disini.”  Aku menolehkan wajah kesamping kanan, berusaha melihat matanya. Waja kami sangat dekat. Hanya berkisar dua centimeter. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku.
“ kakak tenang aja, tar aku yang jaga. Jangankan nyamuk, macan sekalipun gak bakal berani gangguin kakak ku yang cantik ini?”
“ Ih gombal kamu”
Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku, entah kenapa aku merasa tersanjung di gombali oleh adik sendiri, mungkin jika suasana terang, rona merah dipipi ku bakal terlihat dengan jelas. Aku memegang tangan reno yang sedang melingkar diperutku. Tangan kanan reno perlahan tidak hanya memeluk diam, tapi mulai mengusap-usap perutku. Dari kiri kekanan. Sesekali terasa dia memainkan jarinya di lubang pusarku. Aku jadi merinding dan merasa hilang kuasa untuk mencegahnya.
“ ini namanya udel...” Kata reno pelan. Intonasinya lucu. Seperti sedang mengajarkan hal itu kepada anak kecil.
Aku melihat kesamping, dan hanya tersenyum. Dan entah kenapa aku sendiri merasakan kalau senyumku terkesan genit.
Tangan Kanan reno makin naik keatas dan sudah berada tepat dibawah payudaraku. Aku bisa merasakan kalau jempolnya berusaha menggesek bagian bawah payudaraku yang tidak tertutup utuh oleh BH yang ku kenakan. Tangan kirinya mengusap makin kebawah dan hampir menyentuh area pubis. Aku tidak mencegahnya dan memulai obrolan lagi. Yang aku sendiri tidak begitu jelas dengan apa yang aku obrolkan. Aku hanya berusaha menunjukkan seolah-olah aku tidak merasakan apa yang sedang reno lakukan. Reno juga sesekali menimpali ucapan-ucapanku. Aku bercerita tentang sekolah, dia hanya menjawab he’eh atau oooo. Aku merasakan bahwa perlahan reno menggesekkan penisnya ke pantatku. Gerakannya perlahan. Bahkan hampir tidak kentara. Gerakan nya naik turun dan tepat di antara dua bongkahan pantatku. Aku jadi gelisah. Tapi tangan kiri reno masih menekan kuat tubuhku untuk terus menepel di badannya. Jempol tangan kanannya terasa berusaha menelusup kedalam BH ku. Makin lama makin tinggi dan hampir menyentuh putingku. Paling hanya satu senti dari putingku.
                Ughhhh........