ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label kakak kandungku. Show all posts
Showing posts with label kakak kandungku. Show all posts

Thursday, November 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA X

"Enak ya pak, rasanya kaya kenyal-kenyal gitu. Baru kali ini siska makan ini." Lanjutku.
"Syukurlah kalo enak. Ayo tambah lagi." Sahut pak prima.
" bapak menghina deh, baru aja suapan pertama pak. Masa udah nambah aja." Aku melirik ke pak prima. Aku berusaha mengeluarkan semua aura kecantikan yang kupunya. " bapak kok pinter masak sih. Belajar dari mana?" Lanjutku lagi.
"Sebelum kerja di sini saya merantau kemana-mana dan pernah kerja jadi koki." Jawab Pak prima kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya. "Siska bisa masak?"

Jeggeerrrrr,,, pertanyaan ini yang aku hindari dari tadi. Aku gak tahu mau jawab apa. Kalau jawab bisa nanti di test aku gak bisa apa-apa. Kalau di jawab gak bisa nanti dia jadi illfeel. Masa seorang perempuan gak bisa masak. Bilang aja deh bisa. Nanti kalau di test cari aja alasan. Batinku.

"Hmm.. Siska sih bisa pak masak." Tapi lidahku berat mau melanjutkanya. Di tambah lagi mata elang pak prima menatapku. Aku jadi makin salah tingkah.
"Masak apa? Masak air?" Timpal pak prima.

Aku cuma cengir aja. Ya mau gimana lagi, emang gitu kenyataanya.
"Gimana mau jadi ibu dari anak-anak ku, kalau gak bisa masak. Nanti anak kita mau di kasih makan apa?"

"Siska bakal belajar masak pak. Siska janji bakal belajar, ya meskipun awalnya nanti belum seenak masakan bapak. Siska janji bakal terus belajar." Jawaban spontan langsung meluncur dari lidah saya tanpa terkontrol.

"Hahahaha... Lucu kamu ya. Ya udah lanjutin makannya biar rada gede. Saya gak mau punya istri kerempeng."
Saya yakin dia mengucapkan kata-kata tadi itu bercanda saja. Tapi entah kenapa saya jadi baper. Bawa perasaan seolah-olah kami memang pasangan kekasih. Hatiku berbunga-bunga. Aku lanjutkan makan dan berimajinasi bahwa yang sedang makan di depanku sekarang memang suamiku.

" makan kok sambil senyum-senyum sendiri. Kamu menghayal yang jorok-jorok ya?"
Aku kaget dan langsung menundukkan kepala ke piring. Pak prima masih tertawa saja dari tadi. Tawa yang khas. Yang tidak akan pernah terlupakan.
.....

Semenjak hari itu kedekatankan dengan pak Prima makin intens. Aku semakin sering main kerumahnya. Kadang bantu2 dia menyelesaikan tugas kampus. Terkadang juga bantu dia beresin rumah ketika dia sibuk dengan pekerjaannya. Pak prima selain bertugas sebagai dosen di kampusku juga berprofesi sebagai arsitek dan ketika itu sedang menangani proyek besar. Pembuatan apartemen. Rumahnya terkadang tak terurus. Jadi aku lah memposisikan diri sebagai istrinya. Hehe

Di kampus sudah beredar gosip tentang kedekatan kami. Aku bukannya risih dengan gosip itu malah makin senang. Pak prima juga sepertinya tidak keberatan dengan gosip itu. Dia juga santai setiap ke kampus dan berkomunikasi dengan ku. Tidak ada yang berubah. Tidak lebih tidak kurang.

Sore itu, selesai kuliah pak prima menghampiriku minta bantuan lagi. Aku senang aja. Bahkan hari itu aku cepat pulang ke kost, mandi, dan langsunh mengenakan baju yang menurutku bisa membuat aku tampil cantik di matanya.
Aku mengenakan celana pendek setengah paha, baju kaos oblong yang lehernya udah melar. Plus rambut aku kucir tinggi. Leher jenjang dan bulu bulu halus leherku terpampang jelas. Aku berniat mau menggoda pak prima. Jam 4 sore aku udah sampai di kost beliau.

'Bapak mau kemana?' ketika aku sampai ke kostnya, mungkin lebih tepat disebut kapal pecah. Kertas berserakan di mana-mana. Baju dan piring kotor di lantai. Handuk basah di atas sofa. Tapi sekarang dia sudah rapi. Menjinjing tas. Sudah mau pergi.

'Saya ada presentasi sore ini. Bantu beresin rumah ini ya?' jawabnya sambil cengir kuda. 'Jam 7 saya pulang. Nanti kamu saya beliin hadiah?'

Sambil melangkah dia mengucek-ngucek rambutku. Entah kenapa yang di kucek rambut yang kacau malah hati. ^_^
Tidak perlu kau belikan aku hadiahpun akan kubereskan rumah ini pak. Asal kau selalu mengizinkan aku di dekatmu. Batinku.

Aku memulai pekerjaan beres-beres dengan hati sumringah. Pekerjaan berqt sekalipun kalau di kerjakan dengan cinta bakal terasa indah.

Aku membersihkan sofa, dan sebuah kaos dalam terselip di celah sofa. Aku coba tarik. Berat sekali. Aku mencoba memasukkan tangan kedalam celah sofa tersebut. Ada benda logam, keras dan dingin. Aku coba tarik keluar, susah sekali. Benda ini lumayan berat. Butuh perjuangan mengeluarkannya. Ketika benda itu keluar. Aku terhenyak mundur.

'Astagaaaaaa, kenapa dia memiliki ini?"

BERSAMBUNG

Friday, February 19, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VII



DUARRRRRRR
Suara petir besar sangat memekakkan telinga. Spontan aku langsung memeluk tubuh Reno. aku paling takut dengan petir. Aku benamkan kepala ku ke dada Reno, aku mampu mendengar detak jantungnya. Hangat kurasakan ketika pipiku menempel ke dadanya. Aku makin mengeratkan pelukanku ketika petir susulan berbunyi. Reno juga memelukku sekarang. Pelukannya hangat dan erat. Aku benar-benar merasa terlindungi. Kehangatan tubuh reno serasa mengalir ke seluruh tubuhku dan entah mengapa kewaitaanku terasa basah. Ada yang mengalir dari dalam tanpa diperintah. Aku merasakan pipiku memerah. Dan aku juga baru menyadari kalau ada sesuatu yang makin lama makin mengeras terasa dan benda itu menempel sedikit diatas kewaniataanku. Makin lama makin terasa, posisinya menekuk kebawah. Aku tertawa dalam hati, penis reno bangun di pelukanku. Dan karena tinggi kami tidak begitu beda. Aku 160 dan reno paling hanya beberapa centi di atasku. Posisiny penisnya bersentuhan dengan kewanitaanku. Aku melihat kebawah, tapi tidak jelas karena posisiku yang masih menempel erat ke reno. aku tidak berani bergerak, karena takut reno sadar kalau aku merasakan penisnya yang maikn menegang dan dia menjadi malu. Aku juga penasaran sampai mana jauhnya Penis reno bisa membesar. Terasa juga di punggungku kalau tangan reno mulai mengelus-elus punggungku, tangan kirinya memeluk pinggangku dan tangan kanannya mengelus-elus naik turun. Dari bawah leher sampai pinggang. Kemudian naik lagi. Penisnya kurasakan bernenyut-denyut. Tapi denyutannya aneh, tidak seperti denyut jantung. Denyutan nya berubah-ubah, seperti denyutan yang di sengaja. Aku jadi berfikir kalau reno sengaja menggerakkan atau lebih tepatnya mengontrol denyutan kemaluannya yang makin lama makin keras.
Aku melepaskan pelukanku ke reno, reno juga melepaskan pelukannya. Aku sempatkan melirik kebawah, terlihat sedikit tonjolan di celana reno, meski tidak terlalu jelas. Celana reno yang basah membuat warna celananya makin gelap di tambah suasanya yang juga tidak terang bahkan hampir gelap di dalam pondok. Aku berbalik dan membelakangi reno. sekarang posisi kami sedikit berenggang. Hujan masih turun dengan sangat deras. Aku usap-usap lenganku untuk mengatasi tusukan udara dingin yang muali menyerang.
“ kakak dingin ya?” tanya reno. tanpa komando kedua tangan reno mengusap-usap lenganku dari pangkal lengan hingga ke penggelangan tangan. Kiri dan kanan. Aku jadi berhenti mengusap-usap lenganku dan membiarkan reno yang mengambil alih. Kedua tanganku bersedekap diperut, tangan kiri di atas tangan kanan. Reno masih terus mengusap-usap kedua lenganku, posisi ini menarikku untuk kembali ke pelukan reno dengan posisi tetap membelakanginya. Aku kembali merasakan penis reno menempel padaku, sekarang pada pantat ku. Posisi ini membuat tubuhku dan tubuh reno berbagi kehangatan. Entah kenapa aku merasakan sebuah perasaan yang sangat nyaman bukan takut karena sedang dipeluk oleh remaja laki-laki yang sedang tidak mengenakan baju dan berada di tempat sepi. Di tambah dengan penis nya yang tegang. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah Reno akan memperkosaku di pondok ini. Apakah adik kandungku akan melakukan sesuatu yang tabu terhadap tubuh kakak perempuannya.
Reno masih mengusap tanganku, satu tangannya menyibak rambutku dan memindahkannya kedepan. Leher bagian kanan belakangku lebih bebas dan terbuka. Aku bisa merasakan desir hangat hembusan nafas reno yang menerpa leherku. Geli, geli sekali. Dan perasaaan geli ini mengalir keseluruh tubuh dengan cepat. Ada sesuatu yang mengalir dari selangkanganku.
“ kalau hujannya gak berenti juga gimana nih dek?” aku berusaha membuka obrolan dan mengalih kan pikiranku dan meredam rasa geli di selangkangan.
“ Ya kita nginep di sini? Kan tu ada tempat tidurnya.” Reno masih bisa bercanda dengan jawabannya.
“ yeee, nggak mau lah. Tar kakak di gigit nyamuk tidur disini.”  Aku menolehkan wajah kesamping kanan, berusaha melihat matanya. Waja kami sangat dekat. Hanya berkisar dua centimeter. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku.
“ kakak tenang aja, tar aku yang jaga. Jangankan nyamuk, macan sekalipun gak bakal berani gangguin kakak ku yang cantik ini?”
“ Ih gombal kamu”
Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku, entah kenapa aku merasa tersanjung di gombali oleh adik sendiri, mungkin jika suasana terang, rona merah dipipi ku bakal terlihat dengan jelas. Aku memegang tangan reno yang sedang melingkar diperutku. Tangan kanan reno perlahan tidak hanya memeluk diam, tapi mulai mengusap-usap perutku. Dari kiri kekanan. Sesekali terasa dia memainkan jarinya di lubang pusarku. Aku jadi merinding dan merasa hilang kuasa untuk mencegahnya.
“ ini namanya udel...” Kata reno pelan. Intonasinya lucu. Seperti sedang mengajarkan hal itu kepada anak kecil.
Aku melihat kesamping, dan hanya tersenyum. Dan entah kenapa aku sendiri merasakan kalau senyumku terkesan genit.
Tangan Kanan reno makin naik keatas dan sudah berada tepat dibawah payudaraku. Aku bisa merasakan kalau jempolnya berusaha menggesek bagian bawah payudaraku yang tidak tertutup utuh oleh BH yang ku kenakan. Tangan kirinya mengusap makin kebawah dan hampir menyentuh area pubis. Aku tidak mencegahnya dan memulai obrolan lagi. Yang aku sendiri tidak begitu jelas dengan apa yang aku obrolkan. Aku hanya berusaha menunjukkan seolah-olah aku tidak merasakan apa yang sedang reno lakukan. Reno juga sesekali menimpali ucapan-ucapanku. Aku bercerita tentang sekolah, dia hanya menjawab he’eh atau oooo. Aku merasakan bahwa perlahan reno menggesekkan penisnya ke pantatku. Gerakannya perlahan. Bahkan hampir tidak kentara. Gerakan nya naik turun dan tepat di antara dua bongkahan pantatku. Aku jadi gelisah. Tapi tangan kiri reno masih menekan kuat tubuhku untuk terus menepel di badannya. Jempol tangan kanannya terasa berusaha menelusup kedalam BH ku. Makin lama makin tinggi dan hampir menyentuh putingku. Paling hanya satu senti dari putingku.
                Ughhhh........     

Monday, February 1, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA II



PART II, KENANGAN 
Masih terkenang kejadian-kejadian masalalu ketika masih SMA. Di kelas tiga SMA aku kembali di selamatkan Reno dan kejadiaaan itu tidak jauh berbeda dengan kejadian kami saat SD. Aku ada PR Fisika yang tidak aku mengerti karena ketika pelajaran berlangsung aku sedang mengikuti latihan Drum Band. Aku kebingungan menatap buku di meja belajar. Rumus-rumus di buku panduan dan buku catatan seperti menari-nari dan tarian itu sangat tidak ku mengerti. Kalau tidak di kerjakan udah pasti kena marah, pak Lubis, guru fisika yang paling killer yang pernah ada di jagat raya. Aku keluar dari kamar dan membawa buku catatannya dan buku panduan, ku lihat Reno lagi nonton.
“ Dek, bisa bantuin kakak gak?” aku duduk di sofa menghadap ke Reno.
“ gak bisa, lagi sibuk!” jawab Reno sambil tetap nonton acara TV.
“ye... ayo dong dek..bantuin kakak.” Aku pukul dia dengan bantal sofa. Dan akhirnya reno bereaksi.
“ Eh ni orang, minta tolong tapi mukul-mukul, pemaksaan ini namanya.” Hardik reno sambil cengar-cengir dengan nada mengejek.
“ aaaaa, ayo dong adek kakak yang pinter dan cakep. Bantuin kakak bikin PR. Kakak gak ngerti. Ntar kakak beliin kamu nasi goreng deh.” Aku bujuk dengan makanan kesukaannya.
“emang kakak punya duit?” ejek reno
“ minta sama papa. Hehe”
“ enak aku minta langsung aja sama papa, beres.” Takus reno di iringi tawanya
“ aaaa, ayo dong dek, bantuin.” Rengekku
“ eh kak, dimana-mana yang minta bantuin tu adek ke kakak, anak kelas 1 minta bantu bikin PR sama yang kelas 3. Bukan kebalik.” Ejek reno sambil memutar badan dan mengambil buku dari tangnku, tanda persetujuaanya.
“ cantik-cantik oon”. Balas Reno.
“biarin. Weee”. Aku cibirkan lidah kearah dia. Satu sisi dia mengejek, tapi dia juga bilang cantik, aku merasa tersanjung di puji.
“yaudah, mana PR nya?”
Aku pun membuka PR fisikanya, materi nya tentang penghitungan energi hukum Newton. Soalnya hanya ada tiga. Tapi satu soal aja jawabannya bisa 2 lembar buku. Mikirin aja aku udah pusing. Aku lihat reno sudah mulai menuliskan sesuatu di coret-coretannya.
“ini rumus nya mana?” tanya reno
“ gak tau. Hehe, di catatan ini kali.” Aku serahkan buku catatanku ke dia. Reno langsung membolak-balikkan halaman per halaman. Kadang matanya ke buku panduan, kadang ke buku PR kadang ke ke buku catatan. Sebentar-sebantar dia mencoret-coretkan sesuatu yang aku tidak mengerti di coretan. Coretannya panjang sekali. Udah lebih 3 kertas buram.
“ini kakak harus cari berapa nilai gaya nya dulu?” celoteh Reno dengan mata tetap fokus ke coretan-coretannya tidak menoleh ke arahku. Aku iya-iyain aja. Karena sedikitpun aku tidak mengerti. Di tambah dengan mata yang semakin berat. Suara-suara Reno kadang jelas kadang samar di telingaku penglihatan ku juga mulai redup. Aku menopangkan lengan ke sandaran sofa untuk mengganjal kepala ku yang diserang kantuk berat. Ini lah selalu yang ku alami, setiapa mau belajar. Kantuk nya menjadi-jadi. Mata ini tidak bisa di ajak kompromi. Terdengar sesekali suara reno, namun makin lama suara itu main jauh dan sayup. Aku tidak bisa lagi mendengarnya dengan jelas. Ah, menjam sebentar doang gak masalah, tar kalau selesai bisa aku pelajari sendiri. Batin ku menggumam.
...
“Siska!! Coba kerjakan PR kamu di papan tulis.” Perintah pak Lubis
Aku kaget setengah mati, padahal aku sudah berusaha menghindar dari pandangan beliau agar tidak maju kedepan. Tapi apa mau di kata, semua sudah terjadi. Namaku sudah di ucapkannya dan tidak bakal bisa di tarik lagi. Pasrah kulangkahkan kakiku ke depan. Entah apa yang harus ku lakukan. Biarlah tuhan yang membimbing tanganku. Ku ambil spidol dan kuarahkan ke papan tulis kelas.
Tanganku mulai menggoreskan tinta spidol ke papan tulis kelas bahkan sebelum diperintah oleh otakku. Dengan lancar tangan ini menuliskan angka-angka yang bahkan tidak ku mengerti. Ajaib Sekali. Tanganku benar-benar di bimbing Tuhan. Hanya dalam hitungan menit ketiga soal itu aku selesaikan. Kaki ini juga bergerak sendiri. Aku berbalik ke hadapan teman-teman yang masih terperangah. Mulutku juga melakukan tindakan sendiri. Lidah ku mengeluarkan kata-kata ilmiah dengan sangat lancar. Menjelaskan jabaran Rumus yang baru kutuliskan ke papan Tulis. Teman-teman terperangah dengan perubahannku, aku yang biasanya tidak bisa apa-apa sekarang menjadi begitu lancar. Ekspresi kaget juga ada di wajah pak lubis. Ekspresi kaget bercampur rasa hormat. Dia mengakui kehebatan baru ku ini. Spontan seluruh isi kelas bertepuk tangan. Dengungan-dengungan kagum ku dengar di seluruh penjuru kelas. Bahkan Spidol, papan Tulis, Buku, Meja dan kUrsi seolah juga mengutarakan kekagumannya kepadaku. Aku menjadi senang sekali. Perasaan bahagia dan bangga ini baru ini kurasakan.
Tok...tok...tok...
“Siska...!!!” mamaku muncul di depan pintu kelas. Suaranya melengking. Kenapa mama kesekolah ini mendadak.
“SISKA.!!!!! Bangun... udah pagi” makin lama suara mama makin jelas, dan teman-teman kelasku makin menjauh. Semakin mengecil di iringi oleh suara mama yang terus memanggil. Kelas menjadi gelap. Kemudian muncul pancaran cahaya yang menyilaukan mata dan aku dapati tubuhku masih berbaring di tempat tidur berwarna Pink. Di kamarku. Terjaga dari mimpi indah yang mungkin tidak pernah aku alami di dunia nyata.
“iya udah bangun” sahutku malas dari dalam kamar.
ASTAGA.. aku terhenyak, bagaimana dengan PR fisika ku. Aku ketiduran malam tadi. Dan bagaimana aku bisa pindah ke kamar. Siapa yang memindahkan ku ke kamar? Apa aku pindah sendiri? Baju ku juga sudah berganti. Malam tadi aku masih mengenakan baju kaos oblong dan celana jeans. Aku belum ganti baju dari sore. Sekarang aku sudah mengenakan daster tidur. Dan TANPA BH!!! Aku coba memutar kembali ingatan ku. Mengingat apakah aku sempat mengganti baju sebelum tidur. Aku bangkit cepat aku lihat bajuku malam tadi sudah tergantung di gantungan baju belakang pintu. BH ku juga ada di sana. Kejanggalan, Aku tidak pernah menggantung BH, aku hanya sekali sehari mengenakan BH. Sudah pakai aku langsung menaruhnya di keranjang pakaian kotor. Kenapa sekarang tergantung. Aku ingat-ingat lagi kejadian terakhir aku tertidur, aku tidur di sofa ruang tengah. Dan yang ada hanya Reno. Apakah reno yang memindahkan ku ke kamar. Kenapa aku tidak sadar ketika dia membopongku ke kamar.dan dia yang menggantikan bajuku. Berarti dia juga yang melepas BH ku. Dia sudah melihat tubuhku tanpa busana. Apakah dia melakukan sesuatu terhadap tubuhku ketika aku tidur. Spontan aku bangkit dan menghadap ke cermin. Ku lepaskan dasterku dan mengamati setiap jengkal tubuhku. Mungkin ada bekas merah yang di tinggalkan. Tapi kulitku mulus-mulus saja. Tidak ada bekas seperti bekas remasan di seputar payudara ku. Ku lihat pantat juga biasa saja. Vagina ku juga kering, tidak ada lendir atau rasa perih jika sesuatu masuk secara paksa. Aku masuk ke kamar mandi kamar, dan ku putuskan untuk ku tanyakan sendiri kepada Reno nanti.
Tidak lama aku keluar kamar dan sudah lengkap dengan seragam sekolah. Buku PR fisika ku masih tergeletak di atas meja. Lengkap dengan buku panduan dan catatan harian. Ku buka, dan ketiga soal itu udah ada jawabannya. Tulisan tangan ini ku kenal, bukan tulisan tanganku, melainkan tulisan tangan Reno. Kumasukkan saja kedalam tas dan Aku turun ke bawah, kulihat papa dan Reno sedang sarapan. Kutunda saja sejuta pertanyaan yang ada di kepala. Tidak enak jika di dengar papa.
“Buku PR kakak di atas meja sofa atas.” Ujar Reno ketika melihat ku turun dari tangga. Dia masih asyik menyantap sarapannya.
“Iya udah kakak ambil”. Jawabku sekenanya dan duduk di meja makan. Aku lihat papa yang dari tadi asik ngopi dan membaca koran pagi jadi memperhatikannku. Sudut matanya menyiratkan suatu kecurigaan.
“Kau minta buatin PR sama adik mu lagi Siska?” tanya papa. Nada suaranya tinggi, seperti menanyakan terdakwa di persidangan.
“uhuk... tidak pa, aku yang meminjam buku PR kakak, ada yang mau aku pelajari tentang hukum newton, dan kakak bilang kalau mereka juga sedang belajar materi itu. Jadi aku pinjam buku catatan, buku panduan dan PR nya sekalian.” Sahut Reno cepat untuk membela ku. Aku sudah gelagapan awalnya tidak tahu mau menajawab apa.
“loh kok kamu belajar pelajaran kelas tiga, emang pelajarannya sama?” selidik papa.
“ Aku di tugaskan oleh guru fisika kami untuk ikut Olimpiade sains kategori Fisika Astronomi. Dan materinya dari kelas satu sampai kelas tiga. Makanya pinjam buku kakak.” Jelas Reno. Reno tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang ikut olimpiade Fisika. Tapi kali ini dia tidak pinjam untuk dirinya semata. Tapi untuk bantu PR ku juga. Aku diam saja biar tidak terjadi ke timpangan informasi. Toh, ini juga demi kebaikan bersama pikirku.
“ Ya Udah, kamu juga jangan terlalu menggantungkan diri sama adik kamu siska. Masa gak malu sebagai kakak di bantu adik terus. Bukan nya kakak yang membantu adik.” Serang papa. Kebiasaan nya berpidato sepertinya akan di mulai.
“iya pa.” Jawabku singkat.
“ cepat sudahi sarapan kamu, kita mau berangkat. Papa ada sidang hari ini.”
“ Kalau papa mau berangkat duluan gak papa. Aku bareng reno aja naik Motor”. Ujarku cepat. Toh memang ada yang ingin aku tanyakan ke Reno. Jadi nanti di motor bisa leluasa ku tanyakan.
“ ya udah, papa berangkat duluan.” “MA, Udah Belum?” teriak papa.
“udah. Bentar lagi mama keluar”
Reno bangkit dan cium tangan papa dan mama. Aku juga demikian. Tak lama kami juga udah berboncengan ke sekolah.
Jalanan pagi ini seperti biasa, macet. Reno terkadang nyelip-nyelip di antara kendaraan-kendaraan yang lain. Entah kenapa hari ini aku merasa tidak nyaman mau memeluk Reno. Tidak seperti biasanya. Aku merasa jangal jika aku memelukknya dan kedua bukit kembar ku menempel di punggungnya. Pikiran pun terasa tidak menentu, aku bingung bagai mana mau memulai pertanyaan untuk kejadian malam tadi. Aku masih diam saja di belakang Reno. Dan kami sudah berhentin di Lampu Merah pertama. Aku putuskan untuk bertanya
“ Kakak kok bisa tidur di kamar ya malam tadi. Perasaan kakak ketiduran di Sofa ruangan atas deh?” aku mulai pembicaraan sambil melirik ekspresi wajah reno dari Spion motor.
“ aku yang pindahin kakak ke dalam. Kasian aja tidur di luar. Tar kakak ku yang cantik ini di gigit nyamuk.” Canda reno sambil memutar kepalanya ke belakang dan tersenyum.
Benar dugaanku, artinya Reno yang memindahkan ku ke dalam kamar. Tapi masih banyak yang perlu aku pertanyakan.
“ kakak jalan sendiri ya?” tanya ku lagi.
“ hahaha.. kakak tidur kaya kerbau gitu, bagaimana caranya bisa jalan ke kamar”.
Ledekan Reno seperti ini memang sering ku terima, dan ungkapannya macam-macam. Mulai dari tidur kerbau, ini karena kalau aku sudah tidur aku susah untuk di bangunkan. Ada juga CCO. Cantik-cantik Oon. Ya, memang ku akui otak ku tidak secemerlang Reno. Ada barbie pengentut, dan macam-macam julukan-julukan aneh yang di anugrahkan si sempurna Reno. Kepada si Manusia paling tidak sempurna. Aku.
Aku kejar kembali kepertanyaan yang masih terngiang di kepalaku.
“trus gimana caranya kakak bisa pindah kekemar?” kejarku sambil mengencangkan pelukan ke pinggangnya. Kepala ku majukan kedepan. Berusaha melihat wajahnya secara langsung. Jika orang lain melihat, kami terlihat seperti sepasang Remaja yang sedang pacaran di atas Motor. Hehe
“ya aku gendong lah. Kaya film India.” Balas reno singkat. Matanya Fokus ke Trafic light.
“ Kamu juga yang gantiin baju kakak?” aku makin penasaran,
“Iya” jawab reno
dada ku bergemuruh. Perasaan aneh ku rasakan mengetahui kenyataan bahwa tubuhku telah di lihat oleh adik kandungku. Dalam kondisi tidur. Tubuhku yang belum di jamah oleh siapa pun sekarang telah di lihat oleh adik kandungku sendiri dan tubuh ini dalam kondisi hampir telanjang Bulat. Ada perasaan marah, kesal dan rasa ingin tahu. Apa yang dia rasakan ketika melihat tubuhku ini.
“ Kamu juga yang bukain BH kakak?” kejarku
“ Iya?”
Aku terdiam. Reno mengatakan itu tanpa ekspresi.
“gak usah takut deh, gak aku foto kok?” ledek Reno. “gak mungkin juga aku mau buat kakak aku .yang cantik ini jadi bintang Bugil Medsos. Haha”
Reno masih bisa bercanda di saat perasaan ku begitu berkecamuk. Dadaku bergemuruh, jantungku berdetak cepat. Perasaan ini aneh sekali. Mau di bilang ini marah, tidak juga, kesal, tidak juga, sedih, tidak terlalu. 
BERSAMBUNG 
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)

Monday, November 30, 2015

KAK WIDYA, I LOVE U (LANJUTAN bercinta dengan kakak kandung)



Sebelum membaca cerita di bawah. kami mengharapkan bantuan agan-agan sekalian untuk emmbantu meng-klik iklan yang ada di  blog ini (gambar/tulisan yang adai kanan blog). hal ini dapat membantu keberlangsungan hidup blog dan donasi para penulis. agan-agan sekalian yang memiliki cerita sesuai konten dapat kita publikasikan di blog ini. kirimkan cerita saudara ke email azadie007@gmail.com syarat konten harus original. salam dari kami. selamat membaca
Senin pagi aku berangkat ke Sumatra tepatnya ke kota palembang, ada tugas dari perusahaan selama 3 hari. Dari bandara aku langsung di jemput oleh manager area langsung, beliau masih muda, paling 7-8 tahun di atasku. Beliau menawarkan makan siang di salah satu restoran kenamaan di kota Palembang. Kami banyak ngobrol-ngobrol tentang hidup masing-masing. Dan saya ketahui bahwa dia adalah duda tanpa anak. Dan sekarang lagi cari pasangan. Aku langsung kepikiran sama ka widya (ini video kak widya), siapa tau dia bisa melupakan rendi pacarnya dan berpindah ke manager ini. kalau aku punya ipar manager, minimal jenjang karir di perusahaan ini bakal lancar. Hehe (klo agan-agan belum baca cerita awalnya. baca awalnya dulu. klik di sini .
“gimana criteria cewek yang pak reno mau?” tanyaku
“saya gak neko-neko sih, yang penting orangnya bisa jaga diri dan setia cantik bukan yang utama. Tapi saya tetap mau yg cantik juga. Saya trauma sama cewek yang cantik doang. Baru saya tinggal 1 bulan sudah selingkuh”
“ok deh. Nanti saya bantu promosiin sama teman2 di Jakarta deh”
“oh iya ndi, kamu sudah baca email dari saya tentang rencana ekspansi di wilayah satu kan?”
Akhirnya obrolan kami sudah masuk ke ranah kerja. Tidak terlalu menarik untuk saya ceritakan di sini. Saya tau agan-agan nungguin cerita ngeseknya doang. Hehe
Pukul 8 malam, aku sampai di hotel yang di sediakan oleh perusahaan. Aku buka semua pakaian, mandi bakalan membuat lebih segar. Baru mau melangkah ke kamar mandi gadget ku berbunyi. Ada BBM masuk
Adek jam berapa sampe? Kok gak ngabari?
BBM dari kak widya. Si cantik yang terpaksa harus di tinggalin. Aku balas
“jam 9 pagi, udah langsung kerja, tinjau lokasi sama manager sini. Kakak di mana skrg?”
Aku tinggalin gadgetnya dan masuk ke kamar mandi. 5 menit keluar dalam kondisi super segar.
Aku liat gadget lagi. Masih pake handuk. Ada balasan
Kk d rmh lg nyntai doang ma bi narsih ma anknya. Tp skrg d kmr. Adek lg apa?” aku tertawa dengan balasan kak widya, aku tadi Cuma Tanya dia dimana, jawabannya panjang lebar, dan aku gak ada nanya hal itu.
“aku baru udh mandi. Kk udah mandi blom?” kami memang akrab dan sering komunikasi jika sedang jauh. Tidak cuek seperti saudara kebanyakan. Balasan masuk. Cepet banget
Udah dong, kk udah cantik n wangi ky putri2 raja. :p
”gak percaya ah” aku balas singkat
Gadget ku bunyi lagi, tapi bukan bunyi BBM. Ada panggilan dari line. Video Call dari kak widya. aku angkat
“nih, kamu liat sendiri kan, kakak udah cantik”  kak widya memutar2 hpnya biar aku bisa melihar seluruh wajah n tubuhnya. Dia pake baju warna putih. Dengan potongan rendah di bagian dada. Awalnya dia terlentang sekarang dia tengkurap dan memandang hp. Belahan dadanya kelihatan sedikit. Lihat di sini
“iya sih cantik, tapi wanginya belum tau”
“Makanya pulang kalo mau tau wangi apa nggak?” Tantang kak widya
“jadi boleh cium nih klo pulang?”
Hmm... boleh gak ya.??? Kalo cium rambut boleh deh. Jawab kak widya sambil memanyunkan bibirnya, mata memandang kek kiri atas. Imut sekali
“kak, aku matiin dulu ya, aku mau pake baju dulu. Tar handuk nya lepas. Terbang dia. Hehe” ku turunkan kamera agar dia lihat aku belum pakai baju. Cuma handuk doang.
“Ih, sok pemalu deh adek jelek kakak. Kaya kakak gak pernah liat aja. Gak usah di matiin. Kakak mau ngintip kamu ganti baju. Awas kalo di matiin”. Kepalan tangannya di majukan ke dekat kamera.
“ idihhh, tar kakak pengen loh, mau puasin ke siapa coba?” aku goda dia dengan memajukan area tonjolan penisku yang tertutup handuk ke dia.
“ye,,, kamu kira kakak bakalan pengen gitu. Sory ya?” cibir kak widya. Bibirnya di majukan imut sekali.
“oke deh.” Aku beranjak bangun. Aku arahkan camera hp ke arah ku. Biar dia liat aku ganti pakaian. Sambil jongkok dan pura-pura ambil ada yang jatuh aku pasang celana boxer dengan handuk masih tertutup. Aku tutup sudut pandangnya agar dia tidak tahu bahwa aku sudah pakai celana di dalam handukku. Aku bangkit lagi dan kenakan baju kaos press body tanpa lengan. Trus aku ambil cd. Pura2 mau mengenakannya. Aku melirik ke kamera. Dia terlihat menunggu .
“liat sana dong, mau buka handuk nih” sambil menunjukkan cd ke kamera.
”buka aja, kakak mau liat, adek kemaren liat kakak bugil, sekarag gantian dong. Kakak juga pengen liat adek bugil. Hihihih.” Dia menopangkan kedua tangannya memegang pipi. Mata bulat dengan bulu mata hitam lentik itu tidak berkedip sedikitpun.
“ok deh. Satu.....dua...” aku membuka simpul handuk yang ada di pingging kiri. Perlahan-lahan. Biar dia makin penasaran. Terlihat sekali pipinya merona. Mungkin kalau terlihat, puting payudaranya pasti sudah mulai mengeras.
“tiga... taraaaaaaaa” aku buka handukku dan menampakkan bahwa di dalam handukku, aku sudah mengenakan celana pendek. Aku pun tertawa terbahak-bahak. Mata kak widya yang awalnya membelalak jadi redup. Dia menoleh ke kiri belakang. Mendengus. Dari telinganya keluar asap. Hehehe
“aaaaaa... adek curang. Benci kakak ma adek ih” jawab kak widya cemberut.
“jadi dari tadi kakak nungguin mau liat burung aku ya?” ledekku
“gak juga sih, burung kecil gitu aja. Gak ada keren-kerenya. Apalagi udah mandi. Pasti keriput. Kaya ulet bulu. Ihihi” balas kak widya
“eh kak, kakak gak pake BH ya?” tanya ku
“iya, udah kakak lepas. Kenapa? Mau liat?” goda kak widya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“gak mau ah, tar kalo liat burung aku jadi tegang. Susah tidurnya lagi”
“kok susah sih, kan ada kakak. Mau kakak kocokin, apa kakak emut?” goda kak widya sambil tangannya  menirukan gaya orang ngocok dan lidahnya keluar-keluar, menjilat-jilat angin.  
“ enaknya kalo masukin ke memek kakak” ujar ku berterus terang.
“ih adek gak sopan banget, masa ngomong gitu ma kakaknya sendiri.” kak widya pasang tampang merajuk
”trus gimana dong ngomongny? Emang yang enak kalo masukin ke situ”
“ya pake bahasa lain kek, masukin ke itunya kakak kek, ke anu kek, punya kakak kek, masa langsung to the poin gitu. Barbie kan malu dengernya.” Dikedip-kedipkannya berkali-kali ke kamera dengan tatapan menggoda. Burungku jadi tegang banget.
“ihhhh.. ada yang bangun tuh kayaknya.hahahah” jawab kakakku.
“hahaha. Tanggung jawab ya. Kakak udah bangunin dia.” Jawabku
“gak mau.. da..da..” dia melambaikan tangan ke kamera dan matikan videocall kami. Meninggalkan ku sendiri dalam ketegangan. Hiks,,,hiks,., :’(
Beginilah kelakuan kakakku, hoby menggodanya dari dulu gak pernah sembuh, kalau kecil dulu suka menggoda dengan makanan, sekarang suka menggoda dengan makanan juga, makanan lelaki. Hehe. Konak banget yang ku rasa. Di sini gak kenal cewek yang bisa di pake. Mau nanya resepsionis malu. Mau kocokin sendiri gak enak. Aagghhhh.. kampret banget deh kakak satu ini... tak lama hp ku bunyi lagi. Bunyi dering bbm. Ada peringatan kiriman suara di terima. Ada pilihan Terima atau tolak. Aku sentuh tombol terima.
“aaaadeeekkkkkkkkkkk” kak widya mengirimkan suaranya. Suara manja, berat. Suara wanita yang sedang terangsang birahi. Dia sengaja mengirimkan suara ini biar aku makin terangsang. Dan benar saja. Burungku udah sekeras monas jadinya. Aku biarkan saja. Gak balas. Selang satu menit masuk satu lagi rekaman suara.
“aadeeekkkk, kok punya kakak jadi basah ya? Kakak lap pake tisyu ya. Aaahhhhhh”
Kampreeetttttttt, dia makin jadi nih godain aku. Aku foto burungku dari luar celana. Aku kirim ke dia. Dia balas dengan suara lagi.
“udah tegang ya,, sini kakak elus-elus, apa mau di masukin langsung”
aku telp lagi linenya. Dering beberapa saat. Tidak di angkatnya. Kampret banget.  Aku coba telp lagi. Tetap gak di angkat. Aku kirim pesan.
“kalo kakak gak mau angkat, aku mau cari cewek aja deh.”
Tak lama hp ku berdering. Ada panggilan video dari kak widya.
“adek kakak mulai nakal ya, suka main cewek malam. Sekali adek nyentuh mereka adek jangan sentuh kakak lagi” ancamnya
”trus gimana dong, udah tegang banget nih”
“trus mau gimana? Makanya sini pulang. Kakak kocokin deh.” sahut kak widya
“aku kocok sendiri aja deh, kakak striptise”
“hmmm,.... ya deh. Bentar kakak hidupin musikknya dulu.” Kak widya beringsut, kearah meja nya. ada laptop disana. Gak lama dia kembali lagi mengahap hp.
“udah siap adek kakak yang aneh?”
Aku arahkan 2 jempolku ke kamera sambil tersenyum.
Perlahan mulai terdengar alunan musik remix di speakerku, kak widya mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Dia mengenakan baju tidur model gaun warna putih transparan. Dengan tali yang sangat tipis di kedua bahunya. Area putingnya tidak kelihatan tertutup oleh renda-renda baju yang berbentuk bunga mawar. Area selangkangannya jelas kelihatan. Tapi masih tertutup oleh CD yang juga berwarna putih. Sekarang dia membelakangi kamera, tangannya diangkat, baju tidur nya semangin terangkat dan memampangkan paha putih mulus ke pandanganku. Aku mulai mengeluarkan torpedo kebanggan dari celana. Ku urut-urut perlahan. Aku tidak mau spermaku cepat keluar dan mengakhiri tontonan terbaik yang pernah ada.  
(untuk membaca kelanjutan cerita, klik tulisan 'BERSAMBUNG' di bawah ini. nanti agan akan masuk ke web Adf.ly. tunggu selama 5 detik. maka di sudut kanan atas akan muncul tulisan 'SKIP'. klik tombol skip. dan agan akan di antar ke halaman berikutnya. selamat membaca)