ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label bercinta dengan anak kandung. Show all posts
Showing posts with label bercinta dengan anak kandung. Show all posts

Monday, March 20, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XII

Dia mandi dan aku juga mandi. Tapi tidak di satu kamar mandi. Di rumah ini ada 2 kamar mandi. Satu kamar mandi umum di belakang satu lagi kamar mandi di dalam kamar utama. Aku mandi dengan cepat, sambil membayangkan sebentar lagi aku akan bermesraan dengan laki-laki tampan nan misterius yang baru saja jadi pacarku. Terbersit rasa ngeri apakah kami akan bercinta malam ini. Aku masih perawan. Dan kabarnya kehilangan perawan itu sakit. Hanya 10 menit aku sudah selesai.

Dia sedang di depan cermin, mencukur kumis dan jenggotnya. Hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Baru kali ini aku melihatnya tanpa baju. Ada begitu banyak bekas luka di tubuhnya. Ada yang panjang. Ada yang pendek dan ada yang seperti bekas luka bakar. Meskipun begitu tubuhnya sangat indah. Full otot dengan lekuk lengan yang menawan. Tubuhnya ramping tapi berotot. Melihatnya saja membuat kewanitaanku basah. Akupun mendekatinya.

"Semoga setelah ini bekas lukamu tidak bertambah sayang" ujarku sambil mengelus bekas luka di sekujur tubuhnya. Dia berbalik memandangku.

"Augghhh" sekejab saja dia sudah mengangkat tubuhku kedalam gendongan tanganya. Tangan berotot yang begitu kokoh seolah tubuhku hanya seringan kapas. Dia membawaku ke kamar dan merebahkanku di ranjang.

Wajah kami sangat dekat. Dia menindihku dan hidungnya bertemu dengan hidungku.

Cupp

Dia mencium keningku. Aku merasa bahagia sekali. Aku pejamkan mata dan membiarkan dia beraksi.

Ciumannya turun ke pipiku, kemudian ke bibirku. Cium yang hangat dan lembut. Perlahan makin menguat dan aku menghisap bibir bawahnya. Pagutan bibir kami makin dalam sembari tangannya mulai meraba ke sekujur tubuhku. Satu persatu pakaianku lepas dari badan hingga tubuhku polos tanpa penghalang sehelaipun.

Dia bangkit dan memandangi tubuhku dari atas, seolah-olah dia mau menikmati dulu tubuhku dengan matanya. Aku jadi malu di tatap seperti itu.

"Dedek wanita paling cantik yang pernah abang temui".

Kata -kata itu di lanjutkannya dengan rabaan di sepanjang tubuhku. Dan bibirnya kembali menyusuri setiap lekuk tubuhku. Dia begitu piawai memainkan lidahnya hingga aku merasa tidak sabar.

"Aahhhhhh". Lidahnya menyentuh puting ku sebelah kanan. Di hisapnya perlahan dan tangan kanannya mulai meremas dada kiriku.
"Aaahhhh". Aku kembali mendesah. Aku meregangkan pahaku dan mengepit pinggulnya. Vaginaku terasa tertindih dengan penisnya yang tegang. Tapi masih terhalang handuk. Aku tarik handuknya hingga terlepas. Penisnya sudah tegang. Dan ini pertama kalinya aku melihat penis yang ukurannya lumayan besar. Ini penis ketiga yang pernah aku lihat. 2 milik mantan pacarku ketika mereka memohon2 untuk aku kocok. Kecil meskipun tegang. Milik pak prima di luar ekspektasi. Ada rasa ngeri bagaimana vaginaku yang masih perawan di terobos oleh penis yang lumayan besar.
Aku mencoba untuk menggapainya ketika penis itu menjauh. Pak prima menciumi tubuhku makin turun. Penisnya jadi menjauh. Sekarang lidahnya sudah menyapu area pubis. Dan makin menurun..

"Aagghhhhh"... Pantatku mengangkat otomatis ketika lidahnya menyapu klitorisku.

"Abaaaaanggg" rengekku manja. Aku merasa melayangm dia piawai sekali memainkan lidahnya. Atas bawah. Kiri kanan. Aku remas kepala nya dan menekan ke arah vaginaku. Aku tidak mau kenikmatan ini terhenti karena kepalanya naik. Pinggulku bergerak-gerak sendiri. Tanpa arah.. Berpacu menuju puncak...

"Aaaaaggghhhhhhhhhhh".....

Aku keluar. Tubuhku melengkung keatas. Melepas dentuman rasa nikmat yang luar biasa. Tubuhku menggelinjang dan bergetar. Lututku gemetaran. Aku kumpulkan semua sisa tenaga untuk menarik Dia ke atas kembali. Aku memeluknya.

" enak banget bang. Dedek capek". Rintihku dengan nafas masih naik turun.

Bibirku di ciumnya lembut. Awalnya aku agak jijik karena bibirnya masih basah oleh lendirku sendiri.

"Istirahat dulu ya sayang". Aku peluk tubuhnya. Aku masih terlentang dan dia setengah menindihku. Dia tersenyum manis kearahlu. Tidak ada paksaan memintaku untuk cepat-cepat menuntaskan birahinya. Dia biarkan aku beristirahat setalah orgasme panjang yang aku rasakan. Dia hanya membelai lembut tubuhku. Lebih tepatnya sekujur tubuhku. Vaginaku di elusnya dan libidoku kembali terpancing. Aku terangsang lagi.
"Masukin bang" aku yang memohon untuk di setubuhi.
Perlahan dia memposisikan penisnya kearah bibir vaginaku. Agak ngeri membayangkan penisnya bakal menerobos masuk kedalam celah sempit tubuhku. Aku membayangkan bakal merasakan perih yang sangat. Perlahan kepala penisnya di gosok ke klitorisku. Aku makin merangsang. Perlahan kepala penisnya menekan. Perlahan dan terus. Tidak begitu perih rasanya. Penisnya menekan lagi. Berusaha makin masuk. Aku meringis. Lebih perih rasanya. Panas dan pedih. Aku mencengkeram pundaknya. Dimundurkan lagi penisnya. Maju mundur berulang. Sampai aku merasa nyaman. Di majukan lebih dapam hingga menyentuh sekat. Aku yakin itu selaput dara ku. Aku tatap matanya. Mataku memberikan izin ke matanya. Aku sudah tidak tahan lagi. Dan di majukannya penisnya. Mantap tapi tidak kasar...

"Aakkhhhhhh..... Sakit bang.....".. Pedih sekali. Aku merasa seperti tersedak. Perutku penuh oleh banda asing. Aku gigit pundaknya. Penisnya diam di dalam. Aku merasa vaginaku berkedut di dalam.

" dedek tahan bentar lagi sakitnya hilang kok". Perlahan pinggulnya maju mundur, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku. Rasanya geli campur sakit campur nikmat.

"Akh... Akh.. Akh". Desahan mencur dari bibirku. Pedihnya sudah sirna. Kenikmatan yang luar biasa yang tersisa.

"Enak sayang?" Tanyanya.

Aku hanya mengangguk. Lidahku tidak bisa berkata lagi. Hanya desahan.

Kenikmatan ini makin lama makin besar. Ibarat balon yang ditiup makin lama makin besar dan hampir meletus. Aku sudah menggerakkan pinggulku mengimbangi gerakannya. Tangannya aku tarik untuk meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan. Dia makin mempercepat goyangannya.

"Akh... Akh... Akh..." Desahan ku makin cepat. Kocokan penisnya di vaginaku juga makin cepat.

Crot... Crot.. Crot...
Spermanya menyemprot di dalam vaginaku. Aku pun klimaks.

"Aaaaaaggghhhhhhhh.........." Klimak yang luar biasa. Mataku memutih. Badanku melengkung..

BERSAMBUNG

Friday, February 19, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA V



“ itu tulisannya Reno, adik siska.”
DUUARRRR, aku bagai tersambar petir di siang bolong, petir berkekuatan sejuta volt dan menyambar tepat kejantungku, bagaimana karim bisa tahu. Sedangkan dia tidak mendengar apa yang katakan dengan Lita tadi. Tempat duduk kami berjauhan dan aku mengatakan dengan suara pelan. Aku angkat kepalaku dan menatap karim. Dia hanya tersenyum, senyuman kemenangan.
“ Reno yang menulis janji pesilat di ekstrakulikuler kami, di tulis dengan tulisan tangan dan di kopikan. Aku jadi hafal sama bentuk tulisannya. Dia juga pinter pak? Wajar kalau bisa menyelesaikan soal itu. Beda sama kakaknya. Hahaha” terang Karim panjang Lebar
“ Benar Itu siska?” Bentak pak Lubis
Aku kembali menunduk, aku menatap lantai, menghitung pasir di dekat kaki ku. Berusaha mengalihkan pikiranku dari pertanyaan pak Lubis.
“ Jawab saya siska? Apa kau sudah lupa cara bicara juga sekarang?” Lanjut pak Lubis
Suasana kelas kembali hening dan mencekam, tidak ada gunanya aku terus mematung dan jadi tontonan seluruh kelas karena kebodohanku. Aku harus hadapi ini.
“ benar pak” jawabku pelan.
“ Sekolah di mana adik mu?” lanjut pak Lubis
Kok nanya sekolah dimana? Bukanya tadi karim mengatakan kalau dia dan adikku satu ekskul, ya otomatis sekolah disini lah. Bego juga ni orang ya. Maki ku dalam hati.
“ sekolah di sini pak.” Jawabku pelan lagi. Bahkan pak lubis pun harus memasang telinganya untuk mendengarkan suaraku ini.
“itu orangnya pak, barusan lewat?” Teriak karim memecahkan keheningan. Anak bandel itu mau bikin aku makin tersudut.
Aku menoleh kearah pintu, memang terdengar suara beberapa siswa yang melintas di kelasku, sepertinya mereka mau keruangan seni di ujung koridor. Dan beberapa orang siswa yang lewat memang teman sekelas reno. Matilah aku, aku merasa bakal di telanjangi di muka umum.
“ Panggil dia?” perintah Pak Lubis.
Karim dengan sigap langsung keluar kelas. Berusaha memanggil adikku yang sudah melewati kelas kami. Sayup terdengar suara karim yang memanggilmanggil nama Reno. Aku menanti dengan cemas. Apa yang akan terjadi berikutnya.
Langkah kaki terdengar mendekati kelas, karim masuk sambil cengengesan. Dibelakangnya ada Reno. Reno masuk ke kelas, dan melihat ke arah ku sekilas yang masih berdiri diatas panggung kecil di bawah papan tulis.
“Kamu adik nya siska?” Pak lubis memulai interogasinya
“benar pak” jawab Reno santai
“ Kau kelas Berapa?”
“ saya kelas sepuluh A”
“ benar kamu yang mengerjakan ini?” lanjut pak Lubis sambil menyodorkan buku PR fisika ku ke pada nya. reno menerima buku tersebut, tapi tidak langsung menjawab pertanyaan pak lubis. Dia menatap ku. Tatapannya meminta bantuan jawaban. Jawaban untuk membelaku. Aku menggangguk pelan. Bibirku bergerak tanpa suara. Bahasa bibirku mengatakan bilang aja
Reno menghela nafas, dan menatap pak Lubis lagi.
“iya pak, saya yang mengerjakan. Malam tadi kak siska bilang dia kurang sehat, tapi dia masih berusaha mengerjakan PR nya. jadi dia sudah ketiduran sebelum bisa menyalin hasil nya ke buku Ini. Dia baru mengerjakan di kertas buram. Jadi saya Cuma menyalin hasil kerjaan kakak saya dari ekrtas buram ke buku ini.” Jelas Reno yang masih berusaha berbohong untuk membela ku.
“ hahaha begitu ya?” tawa pak lubis.
“ baiklah, sekarang masalah nya begini. Saya dan kakak kau berbeda pendapat, saya mengatakan bahwa jawaban ini salah. Sedangkan kakak kau mengatakan kalau jawabannya benar. Sampai sekarang kami belum sependapat tentang cara penurunan rumus itu. Coba kau katakan ke kakak kau ini kalau jawaban itu salah. Biar dia mengerti.”
Reno mengernyitkan keningnya, kemudian menatap tulisannku di papan tulis. Tak lama dia berbalik lagi ke arah pak Lubis.
“ saya rasa ini jawabannya benar pak?” Balas reno sengit,
“ Aduh, sama saja kau dan kakak kau ini. Coba jelaskan dimana benarnya?” Ada senyum simpul di bibirnya yang berusaha di tanah oleh pak lubis.
Sigap reno ambil spidol hitam yang terletak diatas meja, kemudian berbalik kepapan tulis. Buku PR ku tidak di pegangnya lagi. Reno melingkari beberapa rumus dan kemudian berbalik.
“ dalam soal ini yang di ketahui hanya berapa nilai gravitasi bumi dan bulan, sedangkan yang ditanyakan adalah pada jarak berapa besar gravitasi ini bernilai 0. Ada banyak masalah jika hanya melihat dari data dasar yang ada di soal ini. Dalam hukum newton 1 adalah semua benda yang bergerak akan terus bergerak, dan semua benda yang diam akan terus diam hingga ada gaya lain yang mempengaruhinya. Dengan demikian bahwa bisa diasumsikan masalah ini kedalam hukum newton1. Sigma f samadengan nol. nilai f atau gaya bisa kita ketahui dengan mengalikan nilai konstanta gravitasi dengan masa dibagi oleh jarak. Makanya disini dituliskan diketahui adalah nilai gravitasi, yang memang itu nilai konstanta. Ditanya jarak berapa gravitasi bernilai 0. Maksudnya benda yang berada pada jarak tersebut tidak tertarik kebumi dan tidak di tarik ke bulan. Kita ibaratkan dengan gambar ini.” Reno kemudian menggambakan sesuatu di papan tulis. Di mataku itu hanya berupa lingkaran besar dan lingkaran kecil yang ditenganya ada titik dan tanda panah. Aku lihat pak lubis dan teman-tamanku yang lain fokus mendengarkan penjelasan Reno.
“oke, anggap lingkaran ini adalah bumi, kita beri simbol satu dan lingkaran yang ini adalah bulan kita beri simbol 3, titik ini adalah partikel uji kita beri simbol 2. Titik inilah yang mau kita ketahui berada di posisi mana dia agar bisa berada di gravitasi nol” lanjut reno sambil meberikan penegasan-peneagasan pada gambal yang dia bikin.
“ agar resultan gaya gravitasi pada partikel uji bernilai nol, maka besar grafitasi bumi pada partikel uji harus sama dengan besar gaya gravitasi bulan pada partikel uji. Dan kedua gaya berlawanan arah. Seperti di simbolkan oleh kedua panah ini.” Intonasi suara reno meninggi di kata HARUS SAMA.
“ jadi kita bisa memasukkan nya ke dalam rumus, F atau gaya gravitasi sama dengan G atau nilai kontanta di kali massa satu dikali massa dua dibagi jarak” Reno mencoretkan sesuatu di sebalah tulisan rumusku di papan tulis. Tulisan buta yang kubuat tanpa tahu makna dari goresan tinta tersebut.
“ dengan asumsi sigma f sama dengan nol, maka f  satu dikurang f 2 sama dengan nol. atau dalam matematika nya f1 sama dengan f dua. Kita turunkan rumusnya ke rumus di atas. F adalah g dikali m1m2 per x begitu juga dengan f 2. “ kemudia reno menulisakan rumus yang panjang luar biasa dan sambil mengoceh dengan kata-kata alien yang tidak aku pahami. Mungkin hanya segelintir orang di kelas ini yang mengerti apa yang reno katakan.
“ sehingga kita bisa mendapatkan x1 adalah enampuluh juta empatratus tujuh puluh dua ribu empat ratus tujuh puluh delapan koma enam meter. ” Reno berbalik dan mengambil buku PR ku yang tadi berada di meja pak Lubis.
“ dan nilai ini sama dengan nilai yang di tuliskan oleh kak siska di buku ini begitu juga yang dia tuliskan di papan tulis, hanya saja di tuliskan dalam penyelesaian yang lebih sederhana.” Ujar Reno bijak sambil memperlihatkan buku PR ke kehadapan pak Lubis. Pak lubis mengambil buku itu, menatapnya sebentar kemudian menatap papan tulis.
Plok...plok...plok...
Pak Lubis bertepuk tangan, tak lama di ikuti oleh seluruh teman-temanku di dalam kelas. Aku bingung, dan mimik wajah Reno juga menunjukkan kebingungan. Dia menatap kearahku.
“ Hebat kau, hebat.” Tutur pak lubis
“ kau tahu, ini hanya pancingan saya, saya dan kakak kau ini dari tadi tidak pernah berdebat, dan ssaya tidak mengatakan kalau jawaban dia salah. saya sudah memberikan soal ini ke 3 kelas, dan hanya kakak kau ini yang benar semua, sayangnya ketika saya suruh dia mengerjakannya dan menjelaskannya di depan, Dia menjadi diam seribu bahasa, dan ternyata yang mengerjakannya adalah orang lain. Saya juga tidak yakin kalau kau yang mengerjakan ini seperti kata karim. Makanya ku pancing kau agar mau menjelaskan hasil nya. kalau saya suruh langsung kau pasti menolak, dan terus membela kakak mu seperti tadi.” Lanjut pak lubis. Dia berbicara sambil mukanya di maju-majukan ke arah Reno. reno jadi kelihat seperti terdesak.
“ tak ku sangka tak kuduga, ada berlian juga di sekolah ini. Hebat kau..kau hebat” puji pak Lubis dengan logat batak nya yang semakin kental. Di rangkulnya pundak reno dan di hadapkan ke seluruh kelas.
“ Ini adalah salah satu bukti bahwa fisika itu mudah, bisa dipahami oleh semua orang, asal kita menyukainya. Kalian semua kalau bisa contoh anak ini, meskipun baru kelas satu bisa mengerjakan soal kelas tiga. Contoh dia, jangan contoh kakaknya yang Cuma pandai bersolek saja”
Tawa pecah dikelasku, tawa ejekan yang di utarakan untuk ku, dan senyum kebanggaan untuk Reno. selalu seperti ini
“ tapi jangan salah pak, kakak ku ini suara nya sangat bagus, meskipun dia tidak bisa fisika, tapi kalau menyanyi dia bisa di sandingkan dengan Bunga citra lestari. Bukankah Aku kalau ada tugas kesenian selalu minta bantuan dia. kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.”
Jawaban Reno barusan sejenak mampu menghilangkan tawa ejekan di wajah pak Lubis. Dia jadi menatapku dan kembali metapa Reno.
“ Selain pintar, bijak juga kau ini. Memang langit bumi lah kalian berdua. Hahhaa” pak lubis kembali tertawa. 

Wednesday, February 3, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA III



Reno masih bisa bercanda di saat perasaan ku begitu berkecamuk. Dadaku bergemuruh, jantungku berdetak cepat. Perasaan ini aneh sekali. Mau di bilang ini marah, tidak juga, kesal, tidak juga, sedih, tidak terlalu. Yang aku rasakan malahan penasaran, apa yang di rasakan oleh Reno ketika melihat tubuhku dalam keadaan polos. Tapi aku malu mau menanyakannya, tapi hati ini sangat ingin tahu apa yang di rasakannya.
“ Tapi kok kamu sampai membuka BH kakak?” Pancingku lagi, tidur tanpa BH memang kebiasaan ku, Tapi apakah Reno tahu kalau aku setiap tidur tidak mengenakan BH lagi.
“ Kemaren aku baca di berita Online, kalau cewek tidur tetap mengenakan BH bisa memicu sesak Nafas dan juga memicu kanker Payudara, selain membuat bentuk nya jadi gak bagus lagi.” Jelas Reno
“ Cuma Itu?” Kejar Ku lagi sambil mengeratkan pelukanku di pinggangnya, menyiratkan aku bbutuh penegasan lebih.
“ Iya Cuma itu, emang apa lagi?” Reno malah balik bertanya.
“ kamu tidak macam-macam kan sama badan kakak?” aku pelankan suara, takut orang-orang di yang berkendara di sekitar kami mendengar perbincangan kami. Sungguh tidak etis jika di ketahui oleh mereka. Seorang gadis badannya di jamah oleh pemuda yang orang itu adalah adik kandungnya sendiri.
“ ya nggak lah kakak sayang, emang aku apain? Aku lukis-lukis gitu? Hahaha”
Aku cubit perutnya, pertanyaan serius ku di timpalinya dengan candaan. Tapi yang lebih aneh, ada perasaan kecewa yang aku rasakan. Aku kecewa karena adikku malahan tidak melakukan sesuatu terhadap tubuhku. Tepatnya aku kecewa karena dia seolah tidak mengagumi tubuh yang aku rawat dengan susah payah. Membatasi makanan, olahraga ringan agar selalu tampil langsing dan cantik. Timbul juga rasa penasaran dalam hatiku, benarkah dia tidak melakukan sesuatu, dia seorang remaja yang di usianya pasti lagi tertarik dengan tubuh wanita. Tidak mungkin dia tidak merasakan perasaan yang aneh ketika membuka bajuku. Oh, pikiran-pikiran ini membuat kewanitaanku jadi geli, pelumas alami menyeruak keluar dari celah sempit itu. Aku jadi terangsang sendiri. Aku terangsang karena memikirkan adik kandungku menikmati tubuh ku ini. Secara reflek aku silangkan paha kiriku ke atas paha kananku, kondisi ini membuat kewanitaan ku terjepit. Ada rasa nyaman yang di timbulkan. Tangan kananku yang awalnya memeluk perutnya berpindang bertopang ke paha kananya, malah lebih kepada mencengkeram. Sedikit aku rasakan gerakan tubuhnya. Tapi dia berusaha meminimalisir gerakan tersebut, barusaha tenang.
“ waktu aku gendong kakak ke kamar malam tadi, aku merasa kalau BH kakak keras banget, kayak tempurung kelapa. Jadi aku pikir kasian kalau di biarkan. Aku udah berapa kali coba bangunin kakak suruh ganti baju dulu. Kakak Cuma bilang ah..eh aja. Aku juga bilang aku gantiin ya? Kakak diam aja. Ya aku pikir boleh. Aku buka deh.” Reno memulai obrolan kembali, dan menyadarkan ku dari lamunan.
“ aku kirain kakak beneran pakai tempurung kelapa, keras banget. Hehe” sambung reno lagi
“ Emangnya kakak suku pedalaman apa pakai tempurung kelapa segala.”
Reno tertawa terbahak-bahak. Lampu lalu lintas sudah hijau. Kami melanjutkan perjalanan kami ke sekolah.
“ eh kak, emang gak sakit ya pakai BH sekeras itu?” Tanya Reno, pertanyaanya membuat ku makin yakin kalau Reno juga penasaran dengan tubuh wanita.
“ aku juga sempat mikir, kalau emang keras gitu, seharusnya sekarang juga kerasa keras kalau kakak nempel ke punggungku gitu. Seharusnya rasanya kayak batu, bukan kayak balon. Atau jangan-jangan nenen kakak bisa berubah-rubah ya. Kadang bisa kayak batu, kadang bisa kayak balon” Sambung Reno lagi.
Ni anak kan otak nya encer, masa sih yang begini tidak tahu. Sekarang kan tentang ini bukan hal tabu lagi. Informasi nya udah beredar dan bisa di akses dimana saja. Aku jadi curiga
“ kamu beneran gak tahu apa pura-pura gak tahu?” pancingku, sambil mengerlingkan mata ke spion motor. Berusaha menatap matanya.
“ aku kan gak punya nenen, gimana bisa tahu?” sungut Reno balik
“ jangan-jangan kamu pegang-pegang dada kakak malam tadi ya? Ayo ngaku?” kejarku lagi, aku masih risih untuk menggunakan kata ‘nenen’ ke adik ku sendiri. Meskipun Reno dengan gamblang mengatakannya.
“ pengen sih pegang, tapi takut kakak bangun. Hahaha”
Jawaban Reno membuat jantung ku berdetak cepat, ternyata benar ada ketertarikan di dirinya dengan tubuhku, ada rasa bangga yang ku rasakan, tapi ini kebanggaan yang aneh. Dia bukan laki-laki yang tepat dan boleh untuk merasakan itu.
“ih, kurang ajar kamu ya. mana boleh pegang-pegang dada anak gadis. Apa lagi dada kakak sendiri. Di marah suami kakak kamu nanti.” Kucibut perutnya dengan kuat.
“ aduh... sakit tahu kak. nanti kita jatuh loh dari motor.” Tangan kiri reno berusaha melepaskan cubitan ku di perutnya.
Tidak lama kami sudah sampai ke gerbang sekolah, setelah memarkirkan motor, kami berpisah dan menuju kelas masing-masing. Reno langsung bergabung dengan teman-temannya yang juga baru tiba, aku juga demikian.
“pagi kak siska” sapa beberapa teman Reno, sapaan dengan nada menggoda. Tersirat mereka mengagumi kecantikanku. Bangga rasanya. 
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)

Saturday, December 19, 2015

Kusetubuhi ibu dalam tidurnya VI



Bagiku istilah peribahasa ‘Surga ada dibawah telapak kaki ibu’ nampaknya sudah tidak berlaku lagi. Menurut pendapatku surga ada dibawah selangkangan ibu. Memang terkesan menjijikkan dan kurang ajar bagi orang pada umumnya. Aku memang punya orientasi seksual yang nyeleneh, bagaimana tidak ? Aku sudah kehilangan nuraniku sebagai manusia normal. Penisku yang seharusnya hanya aku tancapkan kedalam vagina istriku malah aku arahkan ke liang yang sama saat aku dilahirkan.
Aku memang sudah jauh dari kata waras. Diriku terlalu mudah dikuasai oleh nafsu binatang yang bukan pada tempatnya. Aku sudah terlanjur berbuat sampai sejauh ini. Tak ada lagi tempat yang layak bagiku dari sisi pemikiran normal apapun, yang pada akhirnya menciptakan situasi pembenaran menurut sudut pandangku. Aku tidak mau menggunakan istilah nasi sudah menjadi bubur, bagiku istilah yang tepat adalah penis sudah terlanjur masuk ke dalam vagina, dan vagina itu adalah vagina milik ibu kandungku.
Aku masih berusaha menikmati dahulu prosesi persetubuhan paling tabu ini. Penisku sudah tenggelam sepenuhnya didalam vagina ibu, bahkan aku merasa ujung penisku sudah menyundul sesuatu yang menahan pergerakan penisku untuk lebih jauh lagi. Akhirnya impian dan obsesi gilaku selama ini bisa aku wujudkan, malam ini aku berhasil menyetubuhi tubuh wanita yang telah melahirkanku. Tubuhku dan tubuh ibuku menjadi satu kembali melalui kelamin. Sungguh aku merasakan dahsyatnya sensasi persetubuhan ini. Semakin aku merasa tabu semakin aku merasakan sensasi kenikmatannya. Menyetubuhi ibu kandung bukan hanya rasa kenikmatan karena berhasil memasukkan penisku di vagina ibu, aku merasakan esensi kenikmatannya justru bukan dari situ, melainkan akan rasa bersalah dan tabu yang seharusnya tidak aku lakukan bersatu dengan kenikmatan tubuh dalam adegan seksual. Hal itulah yang menciptakan kenikmatan hubungan seksual dalam sensasi atau dimensi yang berbeda. Ibarat kata kenikmatan sensasi menyetubuhi ibu sendiri sangat tidak mainstream. Aku sendiri bingung menjelaskannya tapi bagi orang yang punya pengalaman sama denganku pasti akan mengerti apa yang aku maksudkan.
Aku mulai memompa perlahan penisku yang sudah tertanam mantap dalam vagina ibuku. Perlahan namun pasti gerakanku makin cepat. Makin lama kurasa lendiri di area vagina ibuku makin banyak dan penisku makin licin menggesek dinding vagina ibu. Ibu masih tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari bahwa tubuhnya sedang disetubuhi oleh anaknya sendiri. Aku dekatkan bibirku ke bibirnya, dan kembali aku lumat bibirnya aku masukkan lidahku kedalam mulutnya dan aku cium ibuku dengan sangat bergairah sambil aku pompa terus penisku.
Kini tangan kiriku menelusup dibalik kaosnya, dan menggapai gundukan payudara sebelah kanannya. Ibuku masih mengenakan bra didalamnya. Jariku kumasukkan dan terus mencapai ujung putingnya, akhirnya telapak tangan kiriku sudah sepenuhnya menggenggam payudara kanan ibuku. Aku remas perlahan payudara ibuku. Masih kurasa kenyal ketika aku remas, meski sudah terasa agak kendor karena faktor usia. Ketika sudah sampai disini aku berpikir akan lebih nikmat bila aku menelanjangi ibuku dan bersetubuh secara total, jadi aku bisa merasakan sentuhan kulit tubuhku dengan tubuh ibuku.
Kucabut penisku dan aku bangun dari posisiku. Segera aku angkat kaos yang dikenakan ibu. Agak butuh waktu lama memang namun pada akhirnya aku berhasil membuka kaos ibuku. Bra yang dikenakan ibu aku biarkan saja, tapi aku angkat kedua cup nya keatas sehingga payudaranya terpampang jelas dimataku. Setelah itu aku lepaskan kain sarung yang masih terlilit dipinggangnya. Aku tertegun sejenak tidak kusangka aku bisa melihat ibuku dalam kondisi telanjang yang biasanya aku melihat ibu dengan kondisi pakaian yang tertutup dan sopan. Menyaksikan ibu dalam kondisi seperti ini otomatis gairahku meningkat kembali.
Kuposisikan tubuhku sejajar diatas tubuh ibuku. Aku peluk tubuh ibuku dari atas, merasakan dahulu sentuhan kulit hangat dari tubuhnya. Aku mulai tergoda dengan payudara ibu yang menempel erat didadaku. Aku pegang keduanya, meremasnya perlahan dan secara reflek aku mengecup puting kanan payudaranya, aku masukkan kedalam mulutku sedalam mungkin sampai memenuhi seluruh rongga mulutku. Aku seperti merasa ada balon didalam mulutku, aku bergerak turun sedikit dan aku mulai menghisap-hisap payudara ibuku didalam mulutku, lidahku juga turut bermain diseputar putingnya. Ada rasa sedikit asin tapi samar yang kurasa dilidahku. Baru kali ini aku merasakan payudara seorang wanita dewasa. Dari kanan aku pindah ke kiri, bolah balik lalu aku sapu celah payudaranya dengan lidahku, bergerak memutar naik dan turun lalu kembali menjilati pangkal payudara hinggal putingnya secara bergantian. Lama-lama kedua payudara ibuku makin basah oleh liurku.
Kembali aku memposisikan tubuhku lebih naik sedikit dengan tujuan agar penisku bisa berada pada posisi yang pas dengan vagina ibuku. Aku mengangkat sedikit tubuhku lalu aku arahkan penisku ke vagina ibuku dan kudorong perlahan. Aku melakukan gerakan piston agar penisku bisa keluar masuk dengan lancar. Aku merebahkan tubuhku dan kulingkarkan kedua tanganku dibalik pundak ibuku sambil terus menggenjot vaginanya lebih cepat. aku ingin merasakan persetubuhan yang sempurna, aku lalu mencium bibir ibuku dalam posisi dan gerakan yang sama, dengan posisi dan kondisi seperti ini lengkap sudah prosesi persetubuhanku dengan ibuku. Dari wajah sampai selangkangan berhasil aku satukan denganku. Aku benar-benar sudah diluar batas dan kendali, aku makin cepat melakukan genjotan di vagina ibuku. Tidak terasa keringatku makin mengucur dan membasahi tubuh ibuku juga.
Hampir saja aku memuntahkan spermaku jika tidak aku hentikan gerakanku. Aku masih belum puas dan ingin mencoba posisi lainnya. Kini tubuh ibuku aku miringkan ke kiri dan kedua kakinya melipat seperti gunting yang terbuka. Aku arahkan kembali penisku sambil bertumpu pada bongkahan pantat kanannya. Vagina ibuku sudah sangat licin sehingga mudah sekali penisku masuk kembali kedalamnya. Pantat ibu aku remas-remas sambil agak menarik keatas supaya liang vaginanya lebih terangkat. Aku percepat gerakanku dan menghasilkan bunyi seperti tepukan antara pahaku dan pantat ibuku. Pada posisi ini aku merasa penisku bisa masuk lebih dalam lagi, benar-benar tidak ada yang tersisa sedikitpun dari pangkal kelaminku. Semuanya sudah masuk tertanam didalam vagina ibuku.
Setelah beberapa saat aku ingin merubah posisi kembali. Kali ini tubuh ibuku aku posisikan dalam keadaan tengkurap kedua tangannya memanjang ke atas kepalanya dan kepalanya aku miringkan kekanan agar ibu tetap bisa bernafas dengan baik. Aku arahkan lagi penisku dibawah bongkahan kedua pantat ibuku. Kucari celah lubangnya dan perlahan aku dorong lagi ke dalam. Aku tarik sedikit lalu kudorong lagi lebih dalam, begitu seterusnya hingga pangkal penisku menyatu sepenuhnya dengan pantat bagian bawah ibuku. Kedua pantat ibuku ini amat menggodaku, lalu kedua tanganku kuletakkan pada kedua pantatnya, sambil aku remas dan kujadikan tumpuan. Selanjutnya aku gerakkan penisku keluar masuk didalm vagina ibuku. Sungguh luar biasa sekali kenikmatan yang aku rasakan, aku terus memacu tubuhku dan memacu gairahku dan benar-benar menikmati setiap gerakan yang aku lakukan. Saking aku merasa nikmatnya sampai wajahku terdengak keatas dan mataku terpejam menikmati setiap aliran darah ditubuhku yang mengalir membawa sensasi kenikmatan berhubungan badan dengan ibu kandungku.
Makin cepat kusodok vagina ibuku makin dekat dengan orgasmeku. Aku ingin mencapai puncak dari persetubuhanku. Aku ingin menyentuh batas maksimal dari obsesiku selama ini. Aku sudah tidak mungkin mundur lagi dan harus aku tuntaskan juga apa yang selama ini jadi keinginan terbesarku. Aku rebahkan tubuhku ke tubuh ibuku, tangan kananku aku selipkan dibalik dada kanannya dan menggapai pipi sebelah kirinya. Aku bermaksud mendekatkan bibirku dengan bibir ibuku. Aku julurkan lidahku dan mencium bibir ibuku sambil terus aku genjot penisku didalam vaginanya. Aku sudah hampir mencapai orgasme, dalam posisi ini dengan lirih aku sebut nama ibuku, erni…erni…erniii…sampai akhirnya tiba juga puncak dari persetubuhanku. Ada perasaan lain ketika aku memanggil ibuku dengan namanya, seolah aku mengungkapkan wujud nafsuku pada yang mengalir disekujur tubuhku. Aku mengejang dan kudorong dengan sangat kuat penisku lalu aku tahan dan diamkan. Tubuhku kaku sepenuhnya dan pada saat yang bersamaan pula, cairan spermaku keluar dari penisku dan muncrat beberapa kali didalam vagina ibuku. Aku benar-benar mengalami sensasi yang luar biasa sampai-sampai tubuhku terdiam untuk beberapa saat mengalami kenikmatan terbesar dalam hidupku yang belum pernah kurasakan. Seluruh batas antara aku dan ibuku sudah kulanggar didalam bingkai hubungan seksual meskipun aku melakukannya secara sepihak pada saat ibuku tidak sadar.
Aku belum terpikir untuk melakukannya dalam keadaan ibuku sadar, aku ingin menikmati dahulu puncak dari pencapaianku ini. Dalam kondisi inipun aku sudah merasa sangat puas sampai aku kehabisan kata cara mengungkapkan bagaimana perasaanku saat itu. Aku sudah menaklukkan ibu kandungku secara fisik namun belum secara logika, entah kapan aku bisa bersetubuh dengan ibuku dalam keadaan mau sama mau, saling menginginkan untuk bergumul diatas ranjang melakukan hubungan seksual.
Setelah beberapa saat aku puas dan badanku terasa lemas, aku bangkit dan kukeluarkan penisku dari tubuh ibuku. Bekas spermaku terlihat berceceran dipermukaan vagina ibuku. Buru-buru aku bersihkan vaginanya dan mengeluarkan sedikit demi sedikit sisa sperma yang masih tertinggal di dalam. Aku tidak ingin ibu sampai mengenali cairan spermaku ketika terbangun nanti. Aku balikkan tubuhnya dan kupakaikan kembali bra dan kaosnya seperti semula, tidak lupa lilitan sarung dan CD nya aku pasang kembali seperti sedia kalah. Aku berulang kali memastikan kondisi tubuh ibuku ini seperti sebelum aku setubuhi supaya ibu tidak merasa curiga, walaupun aku sudah puas merasakan bersetubuh dengan ibuku tapi aku juga tidak mau ambil resiko ibuku sampai melihat kejanggalan ditubuhnya.
sebelum aku meninggalkan kamar ibuku aku sempatkan untuk mencium bibir ibuku lagi, kecupan ringan sebagai tanda terima kasihku pada ibuku meski disisi lain ada rasa bersalah juga karena sebagai manusia normal yang punya nurani tetap ada perasaan bersalah walau pada akhirnya nafsulah yang berkuasa ditubuhku. Ibuku masih tertidur dengan tenangnya, ada raut wajah keanggunan seorang ibu yang kulihat, kembali kudekatkan wajahku dan kukecup dahinya, bagaimanapun aku masih sayang pada ibuku. Benar-benar sebagai ibu, inilah yang kurasakan, perasaan yang campur aduk, karena aku masih menghormati dan menyayanginya sebagai ibuku dan disatu sisi aku juga punya nafsu seksual pada ibu.
Tubuhku sudah sangat lelah dan lemas, lega rasanya dengan apa yang terjadi barusan. Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidurku. Pikiranku melayang kesana kemari, aku masih enggan memikirkan bagaimana besok ceritanya, aku sudah siap jika besok kejadiannya ibu sampai tau apa yang tadi kulakukan walaupun ada juga rasa was-was. Ahh…sudahlah, gimana besok saja, malam ini aku bahagia dan akan aku ingat selamanya kejadian barusan sebagai sebuah pengalaman hidup terbesarku selama 22 tahun. Dalam hati aku berucap, “ibu…aku menyayangimu….”. Lalu aku tertidur dalam sejuta pikiran yang kubawa bersama sunyinya malam ini…. klik videoanya di sini
kembali
TAMAT
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)
cerita lainnya
DILEMA CINTA DAN SEKS SEDARAH
merasakan lubang kenikmatan mama

Kusetubuhi ibuku dalam tidurnya V



Sore itu aku baru saja pulang kerja, kuparkirkan motor diteras lalu aku letakkan tas ku dikamar. Di meja sudah ada segelas kopi buatan ibuku, setiap pulang kerja ibu pasti sudah siapkan kopi untukku. Aku duduk diteras sambil merokok dan menikmati segelas kopi. Lalu lalang tetangga yang lewat depan rumahku, sudah jadi kebiasaan saling bertegur sapa karena beginilah kehidupan di rumah gang sempit.
Ibuku berbicara dari dalam ruang tamu mengatakan bahwa kakakku akan datang sabtu ini. Aku menanggapi biasa saja, kakakku memang kalo sudah dirumah sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengobrol dengan ibu. Oh ya..aku belum menceritakan tentang kakakku ini yang sekarang sedang merantau ke jakarta.
Aku dan kakakku 2 bersaudara, sama-sama belum menikah. Umur kakakku 27 tahun, kulitnya putih rambut lurus sebahu dan menggunakan kaca mata. Namanya Dian ariani sulistiawati, biasa aku panggil mbak dian saja. Kakakku secara fisik bisa dibilang biasa saja tidak ada yang istimewa menurutku. Meskipun mbak dian lebih tua dariku tapi posturnya lebih pendek dariku.
Singkat cerita sabtu itu kakakku datang, biasa lah ibuku paling heboh kalo kakak pulang, aku sih cuma basa basi saja sambil liat oleh-oleh yang dibawa mbak dian. Mereka lebih asik ngobrol berdua sampe malam. Aku lebih memilih nongkrong di tempat tetangga kalo malam minggu begini, sebelumnya aku sudah persiapan bawa kunci rumah karena aku pasti pulang jam 12 malam.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kamar berniat untuk tidur. Mungkin karena terlalu banyak minum kopi tadi sudah hampir sejam mataku tak kunjung terpejam. Akhirnya aku mengambil hp dan membuka situs facebook. Tak sengaja akun mbak dian muncul di timelineku, wah..rupanya dia baru update foto profil. Aku lihat dia sedang selfie di ruang tamu rumahku. Ada yang menggelitik pandanganku, mbak dian selfie dari atas wajah, sekilas wajahnya mirip memang dengan ibu (mbak dian juga mengenakan jilbab jika keluar), Disini aku malah jadi ingat ibuku. Aku juga jadi ingat bagaimana aku memperlakukan ibuku dengan perbuatan mesumku.
Aku buka kembali foto-foto ibu yang telah aku pindahkan ke hp ku. Berbagai foto yang aku lihat memang membuatku penisku tegang. Teringat lagi bagaimana sentuhan penis dan vagina ibuku mampu memberikan efek orgasme yang dahsyat. Aku jadi berpikir kalau besentuhan saja sudah seperti itu bagaimana kalo penisku sampai tembus ke liang rahimnya. Pasti sensasinya akan lebih nikmat apalagi kalau sampai aku mengeluarkan sperma didalam rahim ibuku. Bayangan-bayangan seperti itulah yang memacu diriku untuk bangun dan bergerak ke kamar ibu.
Tapi aku ingat juga mbak dian saat ini tidur di sebelah ibuku, lagi pula malam ini aku tidak menggunakan obat tidur seperti sebelumnya. Sedikit sentuhan gerakan atau suara saja sangat mungkin untuk membangunkan mereka berdua. Aku berjalan ke kamar ibu dan melihat dibalik tirai, mbak dian tidur disebelah tembok dengan posisi miring menghadap tembok, sementara ibuku tidur terlentang disebelahnya. Dalam situasi seperti ini aku ragu. Berbeda jika ibu tidur sendiri, nah sekarang ada mbak dian disebelahnya.
Seperti yang sudah-sudah, meskipun keraguanku sangat besar tetap saja aku tidak bisa menolak dorongan nafsu. Kali ini aku mulai agak nekat, apabila aksiku sampai kepergok ibu aku akan beri penjelasan, sekuat tenaga aku kumpulkan nyali untuk melakukannya. Aku teringat kala aku pertama kali melumat bibir ibuku waktu itu, ibu tidak terbangun sama sekali. Aku ingin mengulangi lagi, merasakan lagi sensasi kehangatan cumbuan pada bibir dan lidah ibuku. Akhirnya aku masuk juga ke kamar ibu dan berlutut disisi ranjang ibuku.
Aku sentuh dagu ibu dengan telunjukku dan kutarik kebawah supaya kedua bibirnya terbuka. Aku sudah melihat barisan gigi depannya, aku tarik lebih jauh lagi kebawah, makin lebar terbuka mulutnya sampai gigi depannya ikut membuka. Kembali aku julurkan lidahku untuk menerobos rongga mulut ibuku. Rasanya hangat ketika aku jelajahi rongga mulut ibuku dengan lidahku. Entah kenapa aku mulai mengabaikan resiko ibu terbangun jadi aku tetap melanjutkan aksiku. Lagi pula ibuku tidak menunjukkan anda akan terbangun jadi aku makin semangat.
Ketika sedang asik mencumbu ibuku, mbak dian bergerak menelentangkan badannya, seketika itu juga aku bergerak mundur dan tiarap disebelah ranjang. Disini aku jadi sadar, malam ini akan sangat beresiko jika aku meneruskan, aku memutuskan tidak melanjutkan aksiku barusan walaupun sedang enak-enaknya. Akhirnya aku tuntaskan di kamar mandi dengan cara onani. Aku harus sabar menunggu sampai mbak dian pulang lagi ke jakarta.
Esoknya mbak dian sudah pulang lagi, aku memang sudah menunggu dia pulang lagi, dengan begitu aku bisa kembali meneruskan aksi bejatku pada ibu. Aku kembali berencana memasukkan obat tidur kedalam rebusan jamu yang biasa ibu buat. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, aku sudah hafal betul dengan rutinitas ibu setiap harinya. Aku masukkan obat tidur kedalam panci rebusan jamu tanpa sepengtahuan ibuku. Aku sudah berniat aku ingin menyetubuhinya malam ini. Aku harus bisa menembus vaginanya dengan penisku.
Selang 2 jam kemudian aku kembali memastikan keadaan sebelum memulai aksiku. Aku lihat ibu tidur dengan lilitan sarung dan kaos. Kali ini aku lebih mengabaikan ‘standar keamanan’ dalam menjalankan aksiku, mungkin aku berpikir tanpa obat tidur saja ibu tidak merasakan mulutnya digumuli olehku apalagi jika menggunakan obat tidur. Nah..pemikiran ini yang memicu diriku berniat untuk menyetubuhinya malam ini bukan lagi hanya sekedar dengan sentuhan-sentuhan.
Setelah aku menciumi bibir ibuku aku langsung menaikkan sarung ibuku keatas, nampak kedua pahanya yang gempal berisi, putih mulus sampai ujung pangkalnya. Kali ini aku menurunkan CD ibuku perlahan, pelan sekali aku turunkan hingga terlepas. Aku tidak mau terburu-buru, semua gerakan aku nikmati dengan penuh penghayatan. Vagina ibu terlihat jelas dimataku meski kamar itu hanya mengandalkan cahaya dari ruang tv. Aku mulai menyentuhnya dari bawa ke atas dengan jariku, turun lagi ke bawah. Yang kurasakan saat itu jemariku merasa hangat dan agak lembab juga sedikit licin. Yang aku tau vagina selalu ada cairan agak lengket.
Dengan posisiku dibawah selangkangan ibu aku tetap sesekali memperhatikan wajah ibu, jaga-jaga saja bila ibu terbangun. Setelah ujung jariku basah dan lembab aku mulai dorong sedikit-demi sedikit, yang semula hanya ujung telunjukku saja yang menyentuh vagina ibu kini sudah masuk seukuran kuku. Aku gerakkan melingkar serta keatas dan kebawah dengan tujuan supaya bibir vagina ibu lebih menyeruak membuka. Tanpa disadari pula karena sentuhanku itu vagina ibu secara otomatis menjadi lebih basah dan ini memudahkanku untuk memasukkan jariku lebih dalam.
Tidak terasa sudah setengah jariku masuk, disamping vagina ibu yang memang sudah pernah mengeluarkan 2 orang anak gerakan jariku juga turut membantu proses ini. Tak tahan melihat vagina ibu yang makin basah, aku julurkan lidahku sambil kedua tanganku membuka bibir vagina ibu kesamping kanan kiri. Ada rasa asin getir yang kurasa dilidahku, semakin dalam dan akhirnya bibirku bersentuhan langsung dengan bibir vagina ibu. Aku diamkan sejenak sambil melihat ke arah wajah ibu, setelah dirasa aman aku teruskan gerakan lidahku didalam vagina ibu.
Produksi cairan vagina ibu makin meningkat, karena sudah bercampur juga dengan liurku. Otomatis liang vaginanya lebih lebar membuka. Aku tusuk-tusuk vagina ibu dengan lidahku dan kadang aku hisap dalam-dalam dengan suara seperti mengecap. Dalam kondisi seperti ini, aku sudah dikuasai sepenuhnya oleh hawa nafsu, aku sudah tidak peduli lagi dengan resiko apapun nanti. Aku sudah siap menyetubuhi ibuku, sudah siap untuk membenamkan penisku di vagina ibu, sudah siap untuk mengeluarkan benih spermaku didalam rahim ibu kandungku sendiri. Ibuku erni sulistiawati harus aku setubuhi malam ini juga, apapun yang terjadi aku tidak peduli. Tujuanku hanya satu aku tuntaskan obsesiku malam ini, menyatukan tubuhku dan tubuh ibuku kembali dengan cara dan situasi yang berbeda dengan yang terjadi 22 tahun lalu.
Aku merasa belum puas juga dengan aktifitas oralku pada vagina ibu, meski sebagian wajahku sudah belepotan cairan aku malah semakin bernafsu. Sebenarnya aku masih ingin mencumbu vagina ibu tapi aku ingin mencoba hal baru lainnya. Dari balik selangkangan ibu aku menatap bibir tebalnya, aku ingin merasakan penisku masuk kedalam mulutnya. Aku bangkit dan mengelap wajahku yang penuh dengan campuran cairan vagina dan liurku. Aku buka celana dan bajuku, aku benar-benar telanjang dihadapan ibuku saat ini.
Aku berbaring disebelah kanan ibu lalu aku lingkarkan tanganku dipinggangnya. Selangkangan ibuku masih terbuka bekas aku oral tadi dan aku biarkan saja seperti itu. Aku menatap wajah ibuku dari samping memperhatikan matanya yang terpejam, bibirnya yang menggoda dan alunan nafas dalam tidurnya yang teratur. Pada saat itu aku merasa nyaman dan bahagia sekali. Aku yang tak menyangka, perbuatanku akan sejauh ini, aku sudah berhasil menggumuli bibir dan vagina ibuku. Semakin menyadari wanita tersebut adalah ibu semakin nafsuku bangkit.
Aku memang ingin menyetubuhinya sebagai ibuku, bukan sebagai kekasih atau istri. Pikiranku sebagai anak kandung yang ingin menyetubuhi ibuku malah jadi energi tambahan betapa aneh dan gila sensasi yang kurasakan saat ini. Dahulu aku juga pernah berorientasi seksual terhadap teman sebayaku atau rekan kerja, atau bahkan puluhan bintang porno yang pernah aku tonton, tapi tidak sekuat gairahnya ketika aku memendam nafsu pada ibuku.
Ibu adalah wanita yang seharusnya kita hormati sayangi dan muliakan. Kenyataannya tidak berlaku bagiku, aku benar-benar sudah bukan manusia normal lagi, dengan kata lain cuma binatang yang menyetubuhi ibu kandungnya, tapi nyatanya didunia ini bukan sekali dua kali seorang anak menyetubuhi ibu kandungnya sendiri, yang jelas aku tidak sendiri, beberapa sudah pernah melakukannya atau mungkin baru berniat saja untuk melakukan.
Tapi meskipun aku menyadari bahwa perbuatanku ini salah aku juga ingin mengungkapkan sisi perasaanku yang lain terhadap ibu. Sebelum aku memulai kembali perbuatan bejatku aku berucap pada ibu disisi telinganya. Meski aku tau ibu tidak mungkin menangkap suara yang kuucapkan. Aku masih memeluknya dari sisi kanan, dengan begini aku merasa lebih intim dan dekat dengan ibuku.
“Bu..aku minta maaf sama ibu sebelumnya, selama ini ibu tidak tau kalo aku sudah pernah mencium ibu, bukan saja di pipi tapi seluruh bibir ibu dan kita juga sudah saling merasakan sentuhan lidah”. Aku terdiam sejenak sambil sesekali aku kecup kening dan telinga ibuku.
“Maafkan aku bu, kalo aku jadi anak yang kurang ajar, anak yang bernafsu pada ibunya sendiri, aku tidak sanggup menahan semua godaan ini bu”.
“Aku minta maaf sebelumnya pada ibu… malam ini aku menyetubuhi ibu, malam ini aku dan ibu tidak saja terikat pertalian darah, tapi juga terikat dalam indahnya persenggamaan yang mempertemukan penisku dan vagina ibu, dan memasukkan benih spermaku kedalam rahim ibu”.
“Aku sayang ibu…tapi aku juga ingin…menyetubuhimu….ibu……”.
Lambat sekali aku mengucapkan kata-kata tersebut disamping telinga ibuku, aku menganggap seolah-olah ibuku mendengar dan mengiyakan seluruh ucapanku itu. Aku sengaja bermain kata-kata untuk lebih mendorong nafsuku pada ibu. Dengan begini aku memang sadar dan menyadari bahwa aku memang ingin menyetubuhi wanita yang sedang aku peluk dengan kondisi setengah telanjang yang tiada lain ibu kandungku sendiri. Setelah itu aku kecup pelan pipi ibuku, sampai disini ibuku masih tertidur pulas karena efek obat tidur yang kuberikan tadi.
Aku bangun dan mengambil posisi diatas tubuh ibuku. Aku sandarkan tubuhku diatas tubuh ibuku, kedua lenganku kuletakkan disamping kanan dan kiri kepala ibuku. Penisku yang dari tadi sudah menegang aku lipat dan letakkan diantara perut dan vagina ibu. Kubelai-belai rambutnya, alisnya dan kusentuh pipinya lalu kukecup dahinya. Aku tetap ingin menunjukkan rasa hormat dan sayang kepada ibuku. Aku letakkan kedua telapak tanganku dipipi ibu dan dengan sedikit memiringkan wajahku aku kecup bibir ibuku. Aku memang sangat menyukai berciuman dengan ibuku, menyenangkan rasanya bisa mencium ibu dibibir bahkan bisa merasakan memilin lidahnya didalam. Mungkin kebanyakan orang lain hanya mencium tangan pipi atau dahi ibunya tapi aku sudah bisa merasakan jauh lebih dari itu.
Sudah hampir seluruh rongga mulut ibu aku jelajahi dengan lidahku. Kadang aku menghisap dan mengecap-ngecap permukaan bibir dan gigi depan serta lidahnya yang tersembunyi. Hingga rasanya tidak ada lagi ruang rongga mulut ibuku yang belum tersentuh oleh lidahku. Makin lama tubuhku makin panas dan berkeringat. Kembali aku bangun dan menempatkan selangkanganku tepat dihadapan wajah ibuku. Aku ingin mencoba merasakan seperti apa penisku jika masuk kedalam mulut ibuku. Kutarik sedikit dagunya supaya mulutnya agak terbuka dan tangan kananku menuntun penisku keujung bibirnya. Pertama kali penisku menyentuh bibirnya ada rasa licin dan hangat yang kurasakan. Aku diam sejenak sambil menahan rasa nikmat yang terasa diujung penisku.
Kugerakkan penisku dicelah bibir ibuku membelah dan menyentuh permukaan giginya yang masih agak rapat sementara tangan kiriku memegang dagunya berusaha membuka celah bibirnya agar lebih terbuka. Aku merasakan ujung penisku geli dan agak basah sampai-sampai aku merinding keenakan saking kuatnya rangsangan yang kurasa. Kudorong kedalam pelan-pelan sambil membuka celah bibirnya lebih lebar, sedikit demi sedikit kepala penisku masuk kedalam mulut ibuku.
Ada rasa geli, ngilu, hangat dan nikmat campur jadi satu ditambah dengan efek visual pandangan mataku yang melihat penisku didalam mulut ibuku. Aku coba benamkan lebih dalam lagi hingga menyentuh permukaan lidah ibuku. Kuhentikan sejenak pada fase ini. Aku ingin menikmati dahulu sensasi seperti ini, sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya melebihi ekspektasiku selama ini yang mengira oral seks sama rasanya dengan onani. Maklum aku memang belum pernah merasakan oral seks jadi aku benar-benar berusaha keras menahan agar tidak orgasme didalam mulut ibuku. Bukan apa-apa, aku belum merasakan liang vagina ibuku, aku tidak mau misiku belum tuntas tapi sudah orgasme duluan.
Setelah setengah penisku masuk kedalam mulut ibu kedua tanganku memegang kepala bagian belakang ibuku yang aku gunakan sebagai tumpuan. Pelan sekali aku mulai menggerakkan penisku naik turun searah dengan mulut ibuku. Gesekan antara bibir lidah dan rongga mulut ibu pada penisku menciptakan sensasi dahsyat disekujur tubuhku. Makin lama gerakanku kupercepat, penisku juga terbantu oleh cairan dari mulu ibuku ada bunyi seperti Clepp..clep…clepp..ketika aku melakukan gerakan tersebut.
Segera aku tarik penisku dari dalam mulut ibu, hampir saja aku muncratkan didalam tadi. Aku langsung berdiri, mengatur nafas dan berusaha melepas konsentrasiku pada tubuh ibuku supaya aku tidak kecolongan orgasme duluan. Kulihat sekitar mulut ibu basah belepotan cairan. Meski kondisi ruangan tidak terang tapi aku bisa melihat jelas wajah ibuku.
Tiba saatnya kini aku memulai misi puncak dari segala obsesiku terhadap ibu selama ini. Menyatukan tubuhku dan tubuh ibu, menyatukan kelaminku dengan kelamin ibuku dan menyatukan cairanku dengan sel indung telur ibuku. Aku mundur agak kebelakang berjongkok diantara selangkangan ibu yang masih terbuka lebar bekas aku oral tadi. Aku sentuh lipatan bibir vaginanya, membuka dan menyentuh liang dalamnya. Aku bisa mencium aroma vagina ibu dari jarak seperti ini dan secara otomatis pula memancing penisku berdiri lebih tegang.
Aku mengambil posisi seperti push-up dengan tanganku menopang disisi kiri dan kanan leher ibuku. Disaat bersamaan aku tempelkan penisku di vagina ibuku. Masih ada tersisa cairan dipermukaan vaginanya. Setelah kurasa pas, aku dorong penisku pelan-pelan kedalam vagina ibuku. Aku merasa penisku seperti tertahan dan tidak serta merta masuk dengan mudah. Kembali aku dorong perlahan lalu aku tarik lagi, aku dorong lagi dan kutarik lagi. Tangan kiriku kini memegang penisku dan membantu menggesek lubang vagina ibuku, dengan bantuan tangan kiriku aku gerakkan penisku sedikit memutar naik dan turun agak cepat ditambah dengan sedikit dorongan pada pinggulku.
Tidak terasa kepala penisku sudah terbenam, aku sudah merasa kepalang tanggung. Minimal penisku harus masuk seutuhnya kedalam vagina ibuku. Dengan gerakan yang sama seperti tadi kini dorongan pinggulku lebih mantap membantu penisku yang sedang berjuang membuka tabir vagina ibu. Makin dalam dan kini sudah setengah penisku masuk. Kini kedua tanganku aku jadikan tumpuan kembali disisi leher ibu, kini sebagai motor penggeraknya adalah pinggulku.
Gerakkanku makin lama makin bertenaga dan konstan. Cairan pada kelamin kami makin banyak yang turut membantu melicinkan gerakan penisku didalam vagina ibuku aku sambil perhatikan raut wajah ibuku. Wajahnya tenang sekali dalam kondisi tertidur seperti ini. Ada keanggunan dan wajah keibuan pada ibuku. Wanita yang telah mengandung dan melahirkanku, telah membesarkanku dengan kasih sayang seorang ibu. Wanita yang selalu mengayomi anak-anaknya termasuk diriku dari kecil sampai dewasa. Kini wanita itu malah aku setubuhi, aku nikmati tubuhnya, aku hisap kelaminnya dan aku nikmati bibir dan kemaluannya sebagai lelaki.
Sejenak aku merasakan perasaan aneh, antara menyesal dan nafsu. Perasaan bersalah seorang anak yang telah menodai kesucian seorang ibu, seorang anak yang memutus pembatas hubungan ibu dan anak dengan cara yang amat tidak wajar. Dalam situasi seperti ini, ego dan nafsuku berbalik menguasaiku. Aku rebahkan tubuhku dan menopang dengan kedua lenganku. Sekuat tenaga aku dorong maju mundurkan penisku didalam vaginanya. Makin lama makin cepat dan bertenaga. Sampai aku merasakan kepala penisku seperti menyeruak membelah sesuatu yang jadi penahan didalam vagina ibuku, seperti ada semacam daging yang mengganjal ujung penisku. Makin lama makin kudorong pada akhirnya, seluruh penisku sudah masuki kedalam vagina ibuku.
Aku terdiam sejenak, wajahku kini rapat sekali dengan wajah ibuku. Ada rasa hangat licin dan nikmat menjalar disekujur penisku. Pada akhirnya aku masuk dalam frame dimana seorang anak bisa menyetubuhi ibunya secara utuh, menyatukan kembali dua tubuh dengan cara yang tabu. Aku mencium bibir ibuku dan melumatnya sejenak. Aku pandangi lagi wajahnya, ingin rasanya aku bilang saat itu…ibu…maafkan anakmu…yang telah menyetubuhimu….
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)
Cerita lain
Screeshoot percakapan sex kakak cantik dan adiknya
KEMBALI
Bersambung