ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label memek mama. Show all posts
Showing posts with label memek mama. Show all posts

Saturday, December 19, 2015

Kusetubuhi ibuku dalam tidurnya V



Sore itu aku baru saja pulang kerja, kuparkirkan motor diteras lalu aku letakkan tas ku dikamar. Di meja sudah ada segelas kopi buatan ibuku, setiap pulang kerja ibu pasti sudah siapkan kopi untukku. Aku duduk diteras sambil merokok dan menikmati segelas kopi. Lalu lalang tetangga yang lewat depan rumahku, sudah jadi kebiasaan saling bertegur sapa karena beginilah kehidupan di rumah gang sempit.
Ibuku berbicara dari dalam ruang tamu mengatakan bahwa kakakku akan datang sabtu ini. Aku menanggapi biasa saja, kakakku memang kalo sudah dirumah sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengobrol dengan ibu. Oh ya..aku belum menceritakan tentang kakakku ini yang sekarang sedang merantau ke jakarta.
Aku dan kakakku 2 bersaudara, sama-sama belum menikah. Umur kakakku 27 tahun, kulitnya putih rambut lurus sebahu dan menggunakan kaca mata. Namanya Dian ariani sulistiawati, biasa aku panggil mbak dian saja. Kakakku secara fisik bisa dibilang biasa saja tidak ada yang istimewa menurutku. Meskipun mbak dian lebih tua dariku tapi posturnya lebih pendek dariku.
Singkat cerita sabtu itu kakakku datang, biasa lah ibuku paling heboh kalo kakak pulang, aku sih cuma basa basi saja sambil liat oleh-oleh yang dibawa mbak dian. Mereka lebih asik ngobrol berdua sampe malam. Aku lebih memilih nongkrong di tempat tetangga kalo malam minggu begini, sebelumnya aku sudah persiapan bawa kunci rumah karena aku pasti pulang jam 12 malam.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kamar berniat untuk tidur. Mungkin karena terlalu banyak minum kopi tadi sudah hampir sejam mataku tak kunjung terpejam. Akhirnya aku mengambil hp dan membuka situs facebook. Tak sengaja akun mbak dian muncul di timelineku, wah..rupanya dia baru update foto profil. Aku lihat dia sedang selfie di ruang tamu rumahku. Ada yang menggelitik pandanganku, mbak dian selfie dari atas wajah, sekilas wajahnya mirip memang dengan ibu (mbak dian juga mengenakan jilbab jika keluar), Disini aku malah jadi ingat ibuku. Aku juga jadi ingat bagaimana aku memperlakukan ibuku dengan perbuatan mesumku.
Aku buka kembali foto-foto ibu yang telah aku pindahkan ke hp ku. Berbagai foto yang aku lihat memang membuatku penisku tegang. Teringat lagi bagaimana sentuhan penis dan vagina ibuku mampu memberikan efek orgasme yang dahsyat. Aku jadi berpikir kalau besentuhan saja sudah seperti itu bagaimana kalo penisku sampai tembus ke liang rahimnya. Pasti sensasinya akan lebih nikmat apalagi kalau sampai aku mengeluarkan sperma didalam rahim ibuku. Bayangan-bayangan seperti itulah yang memacu diriku untuk bangun dan bergerak ke kamar ibu.
Tapi aku ingat juga mbak dian saat ini tidur di sebelah ibuku, lagi pula malam ini aku tidak menggunakan obat tidur seperti sebelumnya. Sedikit sentuhan gerakan atau suara saja sangat mungkin untuk membangunkan mereka berdua. Aku berjalan ke kamar ibu dan melihat dibalik tirai, mbak dian tidur disebelah tembok dengan posisi miring menghadap tembok, sementara ibuku tidur terlentang disebelahnya. Dalam situasi seperti ini aku ragu. Berbeda jika ibu tidur sendiri, nah sekarang ada mbak dian disebelahnya.
Seperti yang sudah-sudah, meskipun keraguanku sangat besar tetap saja aku tidak bisa menolak dorongan nafsu. Kali ini aku mulai agak nekat, apabila aksiku sampai kepergok ibu aku akan beri penjelasan, sekuat tenaga aku kumpulkan nyali untuk melakukannya. Aku teringat kala aku pertama kali melumat bibir ibuku waktu itu, ibu tidak terbangun sama sekali. Aku ingin mengulangi lagi, merasakan lagi sensasi kehangatan cumbuan pada bibir dan lidah ibuku. Akhirnya aku masuk juga ke kamar ibu dan berlutut disisi ranjang ibuku.
Aku sentuh dagu ibu dengan telunjukku dan kutarik kebawah supaya kedua bibirnya terbuka. Aku sudah melihat barisan gigi depannya, aku tarik lebih jauh lagi kebawah, makin lebar terbuka mulutnya sampai gigi depannya ikut membuka. Kembali aku julurkan lidahku untuk menerobos rongga mulut ibuku. Rasanya hangat ketika aku jelajahi rongga mulut ibuku dengan lidahku. Entah kenapa aku mulai mengabaikan resiko ibu terbangun jadi aku tetap melanjutkan aksiku. Lagi pula ibuku tidak menunjukkan anda akan terbangun jadi aku makin semangat.
Ketika sedang asik mencumbu ibuku, mbak dian bergerak menelentangkan badannya, seketika itu juga aku bergerak mundur dan tiarap disebelah ranjang. Disini aku jadi sadar, malam ini akan sangat beresiko jika aku meneruskan, aku memutuskan tidak melanjutkan aksiku barusan walaupun sedang enak-enaknya. Akhirnya aku tuntaskan di kamar mandi dengan cara onani. Aku harus sabar menunggu sampai mbak dian pulang lagi ke jakarta.
Esoknya mbak dian sudah pulang lagi, aku memang sudah menunggu dia pulang lagi, dengan begitu aku bisa kembali meneruskan aksi bejatku pada ibu. Aku kembali berencana memasukkan obat tidur kedalam rebusan jamu yang biasa ibu buat. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, aku sudah hafal betul dengan rutinitas ibu setiap harinya. Aku masukkan obat tidur kedalam panci rebusan jamu tanpa sepengtahuan ibuku. Aku sudah berniat aku ingin menyetubuhinya malam ini. Aku harus bisa menembus vaginanya dengan penisku.
Selang 2 jam kemudian aku kembali memastikan keadaan sebelum memulai aksiku. Aku lihat ibu tidur dengan lilitan sarung dan kaos. Kali ini aku lebih mengabaikan ‘standar keamanan’ dalam menjalankan aksiku, mungkin aku berpikir tanpa obat tidur saja ibu tidak merasakan mulutnya digumuli olehku apalagi jika menggunakan obat tidur. Nah..pemikiran ini yang memicu diriku berniat untuk menyetubuhinya malam ini bukan lagi hanya sekedar dengan sentuhan-sentuhan.
Setelah aku menciumi bibir ibuku aku langsung menaikkan sarung ibuku keatas, nampak kedua pahanya yang gempal berisi, putih mulus sampai ujung pangkalnya. Kali ini aku menurunkan CD ibuku perlahan, pelan sekali aku turunkan hingga terlepas. Aku tidak mau terburu-buru, semua gerakan aku nikmati dengan penuh penghayatan. Vagina ibu terlihat jelas dimataku meski kamar itu hanya mengandalkan cahaya dari ruang tv. Aku mulai menyentuhnya dari bawa ke atas dengan jariku, turun lagi ke bawah. Yang kurasakan saat itu jemariku merasa hangat dan agak lembab juga sedikit licin. Yang aku tau vagina selalu ada cairan agak lengket.
Dengan posisiku dibawah selangkangan ibu aku tetap sesekali memperhatikan wajah ibu, jaga-jaga saja bila ibu terbangun. Setelah ujung jariku basah dan lembab aku mulai dorong sedikit-demi sedikit, yang semula hanya ujung telunjukku saja yang menyentuh vagina ibu kini sudah masuk seukuran kuku. Aku gerakkan melingkar serta keatas dan kebawah dengan tujuan supaya bibir vagina ibu lebih menyeruak membuka. Tanpa disadari pula karena sentuhanku itu vagina ibu secara otomatis menjadi lebih basah dan ini memudahkanku untuk memasukkan jariku lebih dalam.
Tidak terasa sudah setengah jariku masuk, disamping vagina ibu yang memang sudah pernah mengeluarkan 2 orang anak gerakan jariku juga turut membantu proses ini. Tak tahan melihat vagina ibu yang makin basah, aku julurkan lidahku sambil kedua tanganku membuka bibir vagina ibu kesamping kanan kiri. Ada rasa asin getir yang kurasa dilidahku, semakin dalam dan akhirnya bibirku bersentuhan langsung dengan bibir vagina ibu. Aku diamkan sejenak sambil melihat ke arah wajah ibu, setelah dirasa aman aku teruskan gerakan lidahku didalam vagina ibu.
Produksi cairan vagina ibu makin meningkat, karena sudah bercampur juga dengan liurku. Otomatis liang vaginanya lebih lebar membuka. Aku tusuk-tusuk vagina ibu dengan lidahku dan kadang aku hisap dalam-dalam dengan suara seperti mengecap. Dalam kondisi seperti ini, aku sudah dikuasai sepenuhnya oleh hawa nafsu, aku sudah tidak peduli lagi dengan resiko apapun nanti. Aku sudah siap menyetubuhi ibuku, sudah siap untuk membenamkan penisku di vagina ibu, sudah siap untuk mengeluarkan benih spermaku didalam rahim ibu kandungku sendiri. Ibuku erni sulistiawati harus aku setubuhi malam ini juga, apapun yang terjadi aku tidak peduli. Tujuanku hanya satu aku tuntaskan obsesiku malam ini, menyatukan tubuhku dan tubuh ibuku kembali dengan cara dan situasi yang berbeda dengan yang terjadi 22 tahun lalu.
Aku merasa belum puas juga dengan aktifitas oralku pada vagina ibu, meski sebagian wajahku sudah belepotan cairan aku malah semakin bernafsu. Sebenarnya aku masih ingin mencumbu vagina ibu tapi aku ingin mencoba hal baru lainnya. Dari balik selangkangan ibu aku menatap bibir tebalnya, aku ingin merasakan penisku masuk kedalam mulutnya. Aku bangkit dan mengelap wajahku yang penuh dengan campuran cairan vagina dan liurku. Aku buka celana dan bajuku, aku benar-benar telanjang dihadapan ibuku saat ini.
Aku berbaring disebelah kanan ibu lalu aku lingkarkan tanganku dipinggangnya. Selangkangan ibuku masih terbuka bekas aku oral tadi dan aku biarkan saja seperti itu. Aku menatap wajah ibuku dari samping memperhatikan matanya yang terpejam, bibirnya yang menggoda dan alunan nafas dalam tidurnya yang teratur. Pada saat itu aku merasa nyaman dan bahagia sekali. Aku yang tak menyangka, perbuatanku akan sejauh ini, aku sudah berhasil menggumuli bibir dan vagina ibuku. Semakin menyadari wanita tersebut adalah ibu semakin nafsuku bangkit.
Aku memang ingin menyetubuhinya sebagai ibuku, bukan sebagai kekasih atau istri. Pikiranku sebagai anak kandung yang ingin menyetubuhi ibuku malah jadi energi tambahan betapa aneh dan gila sensasi yang kurasakan saat ini. Dahulu aku juga pernah berorientasi seksual terhadap teman sebayaku atau rekan kerja, atau bahkan puluhan bintang porno yang pernah aku tonton, tapi tidak sekuat gairahnya ketika aku memendam nafsu pada ibuku.
Ibu adalah wanita yang seharusnya kita hormati sayangi dan muliakan. Kenyataannya tidak berlaku bagiku, aku benar-benar sudah bukan manusia normal lagi, dengan kata lain cuma binatang yang menyetubuhi ibu kandungnya, tapi nyatanya didunia ini bukan sekali dua kali seorang anak menyetubuhi ibu kandungnya sendiri, yang jelas aku tidak sendiri, beberapa sudah pernah melakukannya atau mungkin baru berniat saja untuk melakukan.
Tapi meskipun aku menyadari bahwa perbuatanku ini salah aku juga ingin mengungkapkan sisi perasaanku yang lain terhadap ibu. Sebelum aku memulai kembali perbuatan bejatku aku berucap pada ibu disisi telinganya. Meski aku tau ibu tidak mungkin menangkap suara yang kuucapkan. Aku masih memeluknya dari sisi kanan, dengan begini aku merasa lebih intim dan dekat dengan ibuku.
“Bu..aku minta maaf sama ibu sebelumnya, selama ini ibu tidak tau kalo aku sudah pernah mencium ibu, bukan saja di pipi tapi seluruh bibir ibu dan kita juga sudah saling merasakan sentuhan lidah”. Aku terdiam sejenak sambil sesekali aku kecup kening dan telinga ibuku.
“Maafkan aku bu, kalo aku jadi anak yang kurang ajar, anak yang bernafsu pada ibunya sendiri, aku tidak sanggup menahan semua godaan ini bu”.
“Aku minta maaf sebelumnya pada ibu… malam ini aku menyetubuhi ibu, malam ini aku dan ibu tidak saja terikat pertalian darah, tapi juga terikat dalam indahnya persenggamaan yang mempertemukan penisku dan vagina ibu, dan memasukkan benih spermaku kedalam rahim ibu”.
“Aku sayang ibu…tapi aku juga ingin…menyetubuhimu….ibu……”.
Lambat sekali aku mengucapkan kata-kata tersebut disamping telinga ibuku, aku menganggap seolah-olah ibuku mendengar dan mengiyakan seluruh ucapanku itu. Aku sengaja bermain kata-kata untuk lebih mendorong nafsuku pada ibu. Dengan begini aku memang sadar dan menyadari bahwa aku memang ingin menyetubuhi wanita yang sedang aku peluk dengan kondisi setengah telanjang yang tiada lain ibu kandungku sendiri. Setelah itu aku kecup pelan pipi ibuku, sampai disini ibuku masih tertidur pulas karena efek obat tidur yang kuberikan tadi.
Aku bangun dan mengambil posisi diatas tubuh ibuku. Aku sandarkan tubuhku diatas tubuh ibuku, kedua lenganku kuletakkan disamping kanan dan kiri kepala ibuku. Penisku yang dari tadi sudah menegang aku lipat dan letakkan diantara perut dan vagina ibu. Kubelai-belai rambutnya, alisnya dan kusentuh pipinya lalu kukecup dahinya. Aku tetap ingin menunjukkan rasa hormat dan sayang kepada ibuku. Aku letakkan kedua telapak tanganku dipipi ibu dan dengan sedikit memiringkan wajahku aku kecup bibir ibuku. Aku memang sangat menyukai berciuman dengan ibuku, menyenangkan rasanya bisa mencium ibu dibibir bahkan bisa merasakan memilin lidahnya didalam. Mungkin kebanyakan orang lain hanya mencium tangan pipi atau dahi ibunya tapi aku sudah bisa merasakan jauh lebih dari itu.
Sudah hampir seluruh rongga mulut ibu aku jelajahi dengan lidahku. Kadang aku menghisap dan mengecap-ngecap permukaan bibir dan gigi depan serta lidahnya yang tersembunyi. Hingga rasanya tidak ada lagi ruang rongga mulut ibuku yang belum tersentuh oleh lidahku. Makin lama tubuhku makin panas dan berkeringat. Kembali aku bangun dan menempatkan selangkanganku tepat dihadapan wajah ibuku. Aku ingin mencoba merasakan seperti apa penisku jika masuk kedalam mulut ibuku. Kutarik sedikit dagunya supaya mulutnya agak terbuka dan tangan kananku menuntun penisku keujung bibirnya. Pertama kali penisku menyentuh bibirnya ada rasa licin dan hangat yang kurasakan. Aku diam sejenak sambil menahan rasa nikmat yang terasa diujung penisku.
Kugerakkan penisku dicelah bibir ibuku membelah dan menyentuh permukaan giginya yang masih agak rapat sementara tangan kiriku memegang dagunya berusaha membuka celah bibirnya agar lebih terbuka. Aku merasakan ujung penisku geli dan agak basah sampai-sampai aku merinding keenakan saking kuatnya rangsangan yang kurasa. Kudorong kedalam pelan-pelan sambil membuka celah bibirnya lebih lebar, sedikit demi sedikit kepala penisku masuk kedalam mulut ibuku.
Ada rasa geli, ngilu, hangat dan nikmat campur jadi satu ditambah dengan efek visual pandangan mataku yang melihat penisku didalam mulut ibuku. Aku coba benamkan lebih dalam lagi hingga menyentuh permukaan lidah ibuku. Kuhentikan sejenak pada fase ini. Aku ingin menikmati dahulu sensasi seperti ini, sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya melebihi ekspektasiku selama ini yang mengira oral seks sama rasanya dengan onani. Maklum aku memang belum pernah merasakan oral seks jadi aku benar-benar berusaha keras menahan agar tidak orgasme didalam mulut ibuku. Bukan apa-apa, aku belum merasakan liang vagina ibuku, aku tidak mau misiku belum tuntas tapi sudah orgasme duluan.
Setelah setengah penisku masuk kedalam mulut ibu kedua tanganku memegang kepala bagian belakang ibuku yang aku gunakan sebagai tumpuan. Pelan sekali aku mulai menggerakkan penisku naik turun searah dengan mulut ibuku. Gesekan antara bibir lidah dan rongga mulut ibu pada penisku menciptakan sensasi dahsyat disekujur tubuhku. Makin lama gerakanku kupercepat, penisku juga terbantu oleh cairan dari mulu ibuku ada bunyi seperti Clepp..clep…clepp..ketika aku melakukan gerakan tersebut.
Segera aku tarik penisku dari dalam mulut ibu, hampir saja aku muncratkan didalam tadi. Aku langsung berdiri, mengatur nafas dan berusaha melepas konsentrasiku pada tubuh ibuku supaya aku tidak kecolongan orgasme duluan. Kulihat sekitar mulut ibu basah belepotan cairan. Meski kondisi ruangan tidak terang tapi aku bisa melihat jelas wajah ibuku.
Tiba saatnya kini aku memulai misi puncak dari segala obsesiku terhadap ibu selama ini. Menyatukan tubuhku dan tubuh ibu, menyatukan kelaminku dengan kelamin ibuku dan menyatukan cairanku dengan sel indung telur ibuku. Aku mundur agak kebelakang berjongkok diantara selangkangan ibu yang masih terbuka lebar bekas aku oral tadi. Aku sentuh lipatan bibir vaginanya, membuka dan menyentuh liang dalamnya. Aku bisa mencium aroma vagina ibu dari jarak seperti ini dan secara otomatis pula memancing penisku berdiri lebih tegang.
Aku mengambil posisi seperti push-up dengan tanganku menopang disisi kiri dan kanan leher ibuku. Disaat bersamaan aku tempelkan penisku di vagina ibuku. Masih ada tersisa cairan dipermukaan vaginanya. Setelah kurasa pas, aku dorong penisku pelan-pelan kedalam vagina ibuku. Aku merasa penisku seperti tertahan dan tidak serta merta masuk dengan mudah. Kembali aku dorong perlahan lalu aku tarik lagi, aku dorong lagi dan kutarik lagi. Tangan kiriku kini memegang penisku dan membantu menggesek lubang vagina ibuku, dengan bantuan tangan kiriku aku gerakkan penisku sedikit memutar naik dan turun agak cepat ditambah dengan sedikit dorongan pada pinggulku.
Tidak terasa kepala penisku sudah terbenam, aku sudah merasa kepalang tanggung. Minimal penisku harus masuk seutuhnya kedalam vagina ibuku. Dengan gerakan yang sama seperti tadi kini dorongan pinggulku lebih mantap membantu penisku yang sedang berjuang membuka tabir vagina ibu. Makin dalam dan kini sudah setengah penisku masuk. Kini kedua tanganku aku jadikan tumpuan kembali disisi leher ibu, kini sebagai motor penggeraknya adalah pinggulku.
Gerakkanku makin lama makin bertenaga dan konstan. Cairan pada kelamin kami makin banyak yang turut membantu melicinkan gerakan penisku didalam vagina ibuku aku sambil perhatikan raut wajah ibuku. Wajahnya tenang sekali dalam kondisi tertidur seperti ini. Ada keanggunan dan wajah keibuan pada ibuku. Wanita yang telah mengandung dan melahirkanku, telah membesarkanku dengan kasih sayang seorang ibu. Wanita yang selalu mengayomi anak-anaknya termasuk diriku dari kecil sampai dewasa. Kini wanita itu malah aku setubuhi, aku nikmati tubuhnya, aku hisap kelaminnya dan aku nikmati bibir dan kemaluannya sebagai lelaki.
Sejenak aku merasakan perasaan aneh, antara menyesal dan nafsu. Perasaan bersalah seorang anak yang telah menodai kesucian seorang ibu, seorang anak yang memutus pembatas hubungan ibu dan anak dengan cara yang amat tidak wajar. Dalam situasi seperti ini, ego dan nafsuku berbalik menguasaiku. Aku rebahkan tubuhku dan menopang dengan kedua lenganku. Sekuat tenaga aku dorong maju mundurkan penisku didalam vaginanya. Makin lama makin cepat dan bertenaga. Sampai aku merasakan kepala penisku seperti menyeruak membelah sesuatu yang jadi penahan didalam vagina ibuku, seperti ada semacam daging yang mengganjal ujung penisku. Makin lama makin kudorong pada akhirnya, seluruh penisku sudah masuki kedalam vagina ibuku.
Aku terdiam sejenak, wajahku kini rapat sekali dengan wajah ibuku. Ada rasa hangat licin dan nikmat menjalar disekujur penisku. Pada akhirnya aku masuk dalam frame dimana seorang anak bisa menyetubuhi ibunya secara utuh, menyatukan kembali dua tubuh dengan cara yang tabu. Aku mencium bibir ibuku dan melumatnya sejenak. Aku pandangi lagi wajahnya, ingin rasanya aku bilang saat itu…ibu…maafkan anakmu…yang telah menyetubuhimu….
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)
Cerita lain
Screeshoot percakapan sex kakak cantik dan adiknya
KEMBALI
Bersambung

Kusetubuhi Ibuku dalam tidurnya III



Tidak terasa sudah setahun lamanya aku terjebak dalam obsesiku ini. Di usianya yang sudah menyentuh angka 43 ibuku juga sudah mulai nampak keriput dan beberapa helai uban dikepalanya. Wajahnya ayu (bukan cantik) sangat keibuan, Erni sulistiawati nama lengkap ibuku, tubuhnya sudah agak sedikit berlemak tapi tidak gemuk. Buat orang seusiaku jenis wanita seperti ibuku tentu bukanlah hal yang menarik, tapi tidak bagiku, aku tidak memandangnya secara fisik utuh, maksudku penilaianku bukan mutlak secara fisik, karena aku juga menyadari untuk usia ibuku bukan lagi kecantikan yang jadi pokok utama. Aku menyadari betul dia adalah ibuku yang 22 tahun lalu melahirkanku dari lubang vaginanya. Pertalian darah yang dimana dahulu aku tumbuh dalam rahimnya, setelah lahir aku meminum susu dari kedua payudaranya hingga kini aku tumbuh dewasa dan pada akhirnya justru aku malah memiliki keinginan untuk merasakan bagaimana aku menyetubuhi lubang vaginanya dan menumpahkan sperma kedalam rahimnya. Kenyataan tersebutlah yang makin memicu gairahku. Antara tabu dan rasa sensasi yang berbeda.
Kisahku tentang aktifitas didalam kamar dan kamar mandi rasanya tidak perlu lagi diulang atau diperjelas, disini aku hanya akan mengurai peristiwa yang menjadi moment baru yang kualami semenjak awal pertama aku bertingkah mesum terhadap ibuku.
Malam itu seperti biasa ibuku menonton sinetron religi kesukaannya di salah satu stasiun tv swasta. Beliau memang sangat menyukai acara tersebut, sementara aku lebih memilih untuk chatting dengan teman-temanku lewat hp dikamar. Ruang kamarku menghadap langsung ruang tv, terkadang aku menonton tv dari kamarku karena letaknya memang menghadap ke arah kamarku.
Karena asik ngobrol di chatting tidak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam, aku lihat nampak ibu juga sudah tertidur didepan tv. Aku semula bermaksud membangunkan ibu supaya pindah ke kamar, namun sialnya justru ibu tidur terlentang dengan sebelah kaki menekuk keatas, otomatis paha ibu terlihat jelas dimataku. Aku bimbang, seketika gairahku langsung tinggi. Lampu kamar aku matikan, dan aku lihat ke arah paha ibuku sambil meremas-remas penisku. Jarak antara aku dan ibuku hanya beberapa meter saja dan ini sudah cukup menegangkan rasanya bagiku. Tanpa sadar aku keluarkan batang penisku dan kuremas sambil kuusap diujungnya. Aku tidak menurunkan seluruh celanaku, aku tetap waspada manakal setiap saat ibuku terbangun aku tinggal tarik kembali celanaku., namun nyatanya ibu masih tetap tidur.
Lama kelamaan aku tidak sanggup lagi menahan aliran sperma yang ingin keluar, saat itu juga aku muncratkan spermaku di lantai kamarku, aku sedikit menahan nafas dan menjaga agar suara gesekan penis dan tanganku tidak terdengar. Banyak sekali spermaku yang tumpah di lantai, dengan cepat aku ambil tisu dan membersihkannya. Ada perasaan aneh dan tidak nyaman sama sekali manakala aku berhasil orgasme, penyebabnya adalah memang aku merasa bersalah yang sebelumnya hanya ada nafsu.
Setelah itu aku matikan tv dan membangunkan ibu untuk pindah ke kamar. Malam itu aku berhasil menuntaskan, bahkan langsung berhadapan dengan objek onani yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.
Hari hari berikutnya aku mulai berpikir bahwa kesempatan terbaik dan paling memacu adrenalin adalah pada saat ibuku tidur. Sempat terpikir juga untuk memberi obat tidur pada ibuku, kebetulan aku mengetahui beberapa jenis obat tidur yang aman dikonsumsi seperti Ambien CR atau Stilnox, tapi hal tersebut urung kulakukan.
Suatu malam hujan turun dengan sangat deras, biasanya kalau sudah hujan begini pasti listrik padam. Benar saja baru setengah jam hujan listrik sudah gelap. Aku nyalakan lilin disetiap sudut ruangan. Karena tidak ada kerjaan akhirnya aku dan ibuku ngobrol di ruang tv sambil tidur-tiduran. Banyak hal yang kami bicarakan sampai akhirnya tidak sadar aku tertidur. Aku terbangun 2 jam kemudian karena ingin buang air kecil. Hujan masih turun deras dan listrik juga belum kunjung menyala.
Ketika aku kembali hendak tidur aku lihat ibuku masih tertidur didepan ruang tv dengan posisi telentang. Ibuku mengenakan kaos dan sarung dibawahnya. Aku langsung masuk kamar untuk melanjutkan tidur. Selang 10 menit kemudian mataku tak kunjung tidur, disinilah tiba-tiba aku ingat ibuku tadi yang masih tertidur. Aku tiba-tiba saja horny saat itu. Kulihat ibuku masih tidur dengan posisi tadi. Batinku berkecamuk luar biasa, dengan situasi seperti itu aku benar-benar ingin bersetubuh dengan ibu. Tapi logikaku masih berjalan, masih ada rasa was-was takut ibuku terbangun pada saat menggerayanginya.
Sebenarnya aku lebih merasa takut ketimbang horny, tapi sialnya lagi aku juga tak kuasa menghentikan laju nafsu dalam diriku. Aku masih berdiri dipintu kamarku dengan perasaan bimbang luar biasa. Aku berpikir akan lebih aman bila aku cukup onani saja dari dalam kamarku, namun aku juga butuh pengalaman yang lebih dari sekedar itu. Dalam perasaan was-was aku mulai mendekati ibuku. Rasanya ingin balik lagi ke kamar tapi kakiku seakan berat.
Perlahan sekali aku mengambil posisi tidur juga disebelah ibuku, menyamakan posisi tubuhku dengan ibuku. Aku diam dahulu, meyakinkan segalanya masih berjalan aman, sesekali aku melirik ke arah ibuku yang tertidur pulas disamping kiriku. Aku tidak serta merta menyentuh ibuku, tapi hal pertama yang aku lakukan adalah memasukkan tanganku kedalam celanaku sendiri dan mengelus perlahan penisku. Sampai disini saja rasanya sudah menggairahkan buatku. Kukocok pelan sekali penisku, sambil kutatap tubuh ibuku dari wajah hingga payudaranya.
Amat janggal rasanya buatku sebagai anak yang mengocok penis disamping ibuku sendiri, memang tidak seharusnya aku berbuat demikian namun aku juga menikmati sensasi aneh dalam diriku. Buat yang memiliki pengalaman yang sama denganku akan tahu bagaimana rasanya, antara was-was dan horny, ada rasa ingin segera menyudahi namun ada juga rasa ingin tetap bertahan. Pada akhirnya rasa ‘nanggung’ inilah yang mengalahkan segalanya.
Aku mulai merubah posisi tubuhku menyamping, dengan begini mataku tidak pegal lagi untuk lirik-lirik. Kulihat ibuku tertidur lumayan pulas, mulutnya agak terbuka dan nampak gigi depannya. Tiba-tiba aku merasa ingin sekali mencium bibirnya, aku mengangkat badanku dan mendekatkan wajahku pada wajah ibu. Kuamati terus sudut bibir serta rongga mulu dalamnya. Sebenarnya aku juga tetap mengawasi kelopak matanya, mana tau tiba-tiba ibuka terjaga. Maklum ruangan itu begitu redup dengan cahaya lilin, jadi aku harus ekstra waspada mengantisipasi bilamana ibu terbangun.
Kukumpulkan keberanian untuk merasakan sentuhan bibir dengan ibu, kuatur nafas sedemikian rupa supaya tidak terlalu menyapu wajahnya. Jantungku semakin memacu, perlahan kukeluarkan lidahku dan kusentuhkan pada bibir atas ibuku. Pelan sekali, aku bahkan agak menahan nafas sedikit supaya ibu tidak merasakan sentuhan lidahku di bibirnya. Dari bibir atas aku sentuh ke bibir bawahnya, aku sapu dengan lidahku kekanan dan ke kiri mengikuti garis bibirnya.
Sampai disini, ibuku masih tertidur bahkan tidak ada gerakan yang berarti sama sekali. Mengetahui hal tersebut aku jadi semakin berani saja, yang semula hanya sebatas bibir atas dan bawah kini lidahku kuarahkan ke giginya. Kembali aku gerakkan lidahku menelusuri antara giginya yang sedikit terbuka, aku coba dorong lidahku kedalam lagi untuk menggapai rongga mulutnya. Agak tertahan memang, tapi aku terus melakukan itu, kembali kudorong pelan lidahku sampai akhirnya lidahku menyentuh langsung lidah ibuku. Ada rasa semacam asam yang kurasakan, ini pasti rasa dari liur ibuku dilidahnya.
Situasi masih aman, meski takut ibu kalau terbangun aku tetap melanjutkannya. Kini kepalaku agak kuputar ke kanan demi ingin mendapatkan posisi berciuman yang sempurna. Aku masih menggunakan lidahku untuk menyapu pelan lidah ibuku didalam rongga mulutnya, kutekan lebih dalam lagi dan aku menutup mulut ibuku dengan mulutku. Aku tahan sebentar jaga-jaga jika ibu sampai terbangun. Kini aku dan ibuku sudah dalam posisi berciuman dengan lidahku menjulur didalam rongga mulut ibuku. Dengan posisi seperti ini otomatis produksi liurku juga meningkat dan membasahi mulut kami berdua.
Lama aku menikmati posisi berciuman ini, lalu aku rebahkan badanku disamping ibuku dengan posisi tengkurap kedua tanganku sebagai tumpuan dan tetap menjaga mulutku melumat bibir ibuku. Aku telusuri lidahku didalamnya, mencari cari sudut kenikmatan yang aku rasakan. Bagiku inilah ‘prestasi’ besar obsesiku dimana aku berhasil merasakan berciuman dengan ibuku meski dia dalam keadaan tertidur. Pengalaman berciuman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya ini dengan cepat membuat aku orgasme, aku biarkan spermaku keluar membasahi celanaku, aku ingin menikmati benar adegan ini dan merasakan sensasi lebih dari sekedar yang aku bayangkan selama ini.
Setelah spermaku habis terkuras, aku angkat perlahan tubuhku. Kulihat mulut ibuku amat basah oleh liurku, wajar karena ada sekitar 15 menitan aku bertahan dalam posisi tersebut. Secara gaya gravitasi liurku akan ikut turun menetes menelusuri bibir, gigi, lidah serta rongga mulut ibuku. Setidaknya sekarang aku sudah tau bagaimana rasanya berciuman dengan ibuku, merasakan lidahnya di lidahku. Sungguh aku merasa sangat beruntung pada fase ini. Aku belum berpikir untuk mengulang kembali apa yang aku lakukan barusan, aku sudah cukup puas dengan pencapaianku kali ini, meski itu hanya sekedar berciuman. Namun ciuman yang akan aku ingat seumur hidupku. Ciuman gairah dari seorang anak untuk ibunya yang semestinya tidak dilakukan, dan sekali lagi aku beruntung sudah pernah merasakannya
KEMBALI
Bersambung

Kusetubuhi Ibuku dalam tidurnya II



Selanjutnya aku mulai melihat-lihat wajah dan tubuh ibuku melalui foto, kebetulan aku punya kamera SLR yang aku beli dari hasil tabunganku. Aku jadi sering memotret ibuku dirumah dalam berbagai aktifitasnya. Ibuku awalnya risih karena aku sering memotretnya tapi lama-lama terbiasa juga. Aku sengaja mencari cari moment yang tepat saat memotret, misalnya dalam keadaan rambut basah, dalam keadaan mencuci, memasak, atau dalam keadaan santai, sampai ketika ibuku tidurpun aku foto. Lama-lama koleksiku makin banyak dan aku simpan semua di laptop kamarku.
Ketika akan tidur aku selalu sempatkan melihat-lihat hasil jepretanku ini. Aku pilih yang paling menarik secara seksual pada foto-foto ibuku tersebut. Selanjutnya aku zoom diarea sekitar wajah, payudara atau area paha. Aku amati benar-benar sambil membangkitkan fantasi seksualku dalam pikiran. Kelakuanku ini mungkin aneh tapi bagiku ini sangat menyenangkan, terlebih aku melakukannya didalam kamar sendiri. Aku pegang-pegang penisku sambil tangan kananku memegang mouse untuk mengatur gambar mana yang akan jadi objek fantasiku. Pada akhirnya aku mencapai klimaks dan spermaku berceceran dilantai. Sangat nikmat rasanya ketika orgasme sambil melihat foto ibuku dan dengan lirih menyebut namanya…
Aku tetap bersikap biasa didepan ibuku, tidak sama sekali berusaha merayu atau menggoda, karena otak warasku masih bekerja normal, aku masih takut terhadap norma dan penilaian ibuku apabila aku menggodanya secara frontal. Namun berbeda ketika aku didalam kamar, hasrat bercinta dengan ibuku makin kuat makin kuat dan makin kuat, perlahan namun pasti aku menjadi seorang Oedipus complex. Aku sangat menyadari ada yang salah dalam diriku tapi aku juga menikmati sekali berfantasi adegan ranjang dengan ibu kandungku sendiri.
Saat ini aku sudah memiliki dua kebiasaan aktifitas seksual, yang pertama dengan menciumi aroma celana dalam ibuku dan yang kedua adalah menjadikan foto sebagai bahan objek fantasiku. Cukup lama aku berkutat dalam aktifitasku tersebut sampai akhirnya aku menemukan di internet tentang foto video atau kisah incest khususnya antara ibu dan anak. Meskipun aku tahu di internet content hampir kebanyakan fake tapi setidaknya lumayan untuk berfantasi seolah-olah diriku dan ibuku yang ada dalam adegan panas tersebut, dan memang hanya sebatas itu saja ruang obsesiku tidak lebih.
Aku memang sangat berhati-hati dan detail dalam segala hal yang menyangkut aktifitasku ini. Aku juga parno apabila ibuku sampai memergoki jejak-jejak yang mencurigakan, dan disinilah bagiku letak seninya. Sensasinya luar biasa bagiku dan aku tidak pernah berhenti untuk berfantasi terhadap ibuku.
Pernah suatu ketika aku mengedit foto-foto ibuku dan kubuat cropping diwajahnya lalu digabungkan dengan tubuh bugil yang kuperoleh dari internet. Aku memang punya kemampuan olah gambar dengan photoshop dan hasil editanku aku simpan dapi tersembunyi dan aku hidden. Aku buka kembali manakala aku butuhkan sebagai bahan onani (lebih populer disebut bacol). Seperti yang aku bilang sebelumnya, segala macam eksplorasi yang aku lakukan rasanya tidak membuatku puas, selalu saja menuntut lebih lebih dan lebih, hal ini tentu saja membuat otakku bekerja memikirkan bagaimana selanjutnya aku memuaskan dahaga seks ku kepada ibuku.
Aku mulai beralih terhadap benda bekas pakai ibuku seperti gelas dan sendok. Ketika aku menjumpai ibuku sehabis minum dari gelas maka aku ambil gelas tersebut dan merasai bekas mulut ibuku yang menempel pada gelas tersebut. Aku hayati rasakan dan kadang sensasinya jadi lain, mirip seorang psikopat yang sedang menikmati sesuatu yang disukai. Meskipun aku tidak merasakan perbedaan apapun dilidah dan bibirku namun disinilah kemampuan otak dalam membangkitkan sensasi gairah seksual.
Pembaca mungkin berfikir, aku gila dan terlalu aneh. Tapi memang itulah yang terjadi. Pasti pembaca juga bertanya kenapa tidak langsung rayu, ekse dan seterusnya. Aku bilang inilah realitanya, kenyataan tidak sesuai dengan bacaan fiksi tentang percintaan ibu dan anak. Tidak semudah itu memasukkan penis kedalam vagina ibu kandung. Butuh kerja keras ekstra dalam mengatur situasi dan melampiaskan nafsu supaya tidak berantakan dikemudian hari. Ya benar aku seorang pengidap kelainan seksual, bagi orang-orang sepertiku pasti mengerti betapa parnonya apabila kesenanganku ini sampi diketahui oleh orang lain terlebih pada orang yang kita jadikan objek seksual yaitu ibuku. Tapi bukan berarti aku menyerah dengan keadaan, aku bertekad suatu saat aku harus bisa benar-benar menyetubuhi ibu kandungku karena itulah obsesiku dalam hidup.
KEMBALI

Kusetubuhi ibuku dalam tidurnya

Namaku sandi dan aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana dan kini usiaku menginjak 21 tahun, ibuku sekitar 42 tahun, sementara bapakku telah lama bercerai dan tinggal dengan istri mudanya. Aku tinggal bersama ibu dirumah karena kakak perempuanku sudah merantau ke jakarta. Kehidupanku tidak ada yang aneh, aku bekerja di sebuah pabrik dan ibuku hanya dirumah sebagai ibu rumah tangga dan juga bidan desa. Keseharian ibuku selain menjaga klinik yang buka di rumah hanya masak mencuci bersih-bersih dan ngobrol dengan para ibu-ibu tetangga. Ibuku mengenakan jilbab pada saat diluar rumah, dan tetangga biasa memanggil ibuku dengan panggilan bu erni.
Aku tidak pernah berkelakuan aneh-aneh diluar, bahkan dirumah pun aku termasuk anak yang baik, sering aku ikut membantu ibu apabila sedang libur atau dirumah. Cerita ini sebenarnya belum pernah ada yang tahu dimana aku yang semula anak baik tiba-tiba menjadi anak yang bejat dan memiliki nafsu untuk menyetubuhi ibu sendiri. Terkadang aku menyesal kenapa bisa terjadi hal tabu seperti ini, dan rasanya sulit untuk menghentikan godaan nafsuku yang besar terhadap ibuku.
Tak ada asap jika tak ada api, peribahasa itu benar adanya. Tak mungkin aku punya nafsu terhadap ibuku sendiri bila tak ada yang memulainya. Awal mulanya adalah ketika libur aku sedang mencuci motor di teras depan, kebetulan rumah kami ada di dalam gang sempit dimana kanan kiri depan belakang rumah cukup rapat dengan bangunan. Siang itu tetangga depan rumahku yang bernama mbak kinan yang sudah punya anak satu sedang menjemur pakaian sehabis mencuci. Entah kenapa aku tiba-tiba terangsang melihat dia menjemur celana dalamnya,kulihat lekukan tubuhnya nampak jelas dan mataku tertuju pada paha gempalnya yang terlihat menggoda dengan dibalut celanan kolor pendek diatas lutut.
Aku hanya melihat sekilas saja namun reaksi pada penisku langsung terasa. Setelah mencuci motor aku bergegas mandi dan berusaha melupakan kejadian tersebut. Namun sialnya moment itulah yang ternyata jadi pemicu gairah seksualku. Aku jadi sering curi-curi pandang dibalik jendela rumahku pada ibu-ibu tetanggaku ini ketika mereka sedang asik mengobrol. Kuperhatikan satu-persatu, ada yang masih usia 30an sampai 40an. Kegiatan curi-curi pandang ini jadi sesuatu yang menyenangkan bagiku. Pada akhirnya onani lah senjata ampuh bagiku untuk melepas keinginan bercinta, dan sudah pasti objek onaniku adalah para ibu-ibu tetangga ini.
Sebulan lebih aku menekuni ‘hobi’ baruku ini, sampai tiba suatu ketika ibuku juga ikut ngobrol di depan rumah ngerumpi dengan ibu-ibu lainnya. Ketika pandangan mataku tertuju pada ibuku seketika aku merasa ada getaran aneh, antara takut, merasa tidak sopan, namun disatu sisi aku juga merasa horny terhadap ibuku sendiri, padahal ibuku ini rapat berjilbab. Aduuuh… Ini tidak boleh…tidak boleh… Batinku dalam hati, namun berulang kali aku mengalihkan pandangan tetap saja saat melihat ibukulah jantungku lebih berdetak kencang. Masak iya sih nafsu sama ibu sendiri. Antara pikiram bimbang dan godaan nafsu berkecamuk dalam diriku. Aku memutuskan pergi ke kamar nonton tv untuk mengalihkan pikiranku, namun ternyata percuma kembali bayangan ibuku muncul dipikiran, penisku pun tidak kunjung menciut. Padahal ibu tidak menggunakan pakaian seksi, bahkan sangat tertutup dan sopan.
Aku kembali ke balik kaca rumahku sambil memandangi ibuku lagi yang sedang ngobrol, kuperhatikan lebih detail dari sudut wajah mata lalu ke bibir, aku perhatikan terus area bibir lidah dan mulutnya, tidak terasa penisku berdiri kencang hanya memandang ibuku saja. Aku mulai membayangkan bagaimana jika bibir itu kusentuh, kukecup dan kulumat, aku mainkan lidahku didalam mulutnya, menyapu gigi-giginya dan merasakan serta menelan liurnya. Aku bisa melihat jelas rongga mulut ibuku ketika dia berbicara dan tertawa. Ahh…aku tidak tahan lagi dan aku segera menuntaskan nafsuku lewat onani.
Hari demi hari aku lalui, saat ini aku mulai terobsesi pada ibuku sendiri, mulai sering mengamatinya ketika memasak, mencuci duduk bahkan ketika tidurpun aku perhatikan. Sungguh menyenangkan dan sangat memicu adrenalin ketika aku horny pada ibuku sementara aku juga takut dan tidak berani menunjukkan ketertarikanku secara seksual kepada ibu.
Hal pertama yang aku eksplorasi dari ibuku adalah celana dalam, ibuku biasa menyimpan pakaian yang sudah dipakai didalam ember kamar mandi. Dan area ini sangat aman dan menyenangkan buatku. Ketika mandi biasanya aku mengambil celana dalam ibu yang habis pakai, ada aroma kuat dan khas vagina wanita yang bikin aku bernafsu. Kuhirup dalam-dalam meresapi aroma kewanitaan yang muncul dari barang tersebut, dan biasanya aku sambil onani membayangkan aku sedang menjilati dan menghirup kemaluan ibuku. Rutinitas kamar mandi ini aku lalui hingga berbulan-bulan. Selebihnya aku belum berani berbuat lebih pada ibuku apalagi kontak fisik, maka celana dalam ibukuah yang jadi pelampiasanku, itupun tidak berani kusemprotkan spermaku. Aku masih menganggap akan sangat bahaya kalau ibu melihat celana dalamnya tercecer sperma, oleh sebabnya aku lebih memilih menembakkan cairan sperma di lantai kamar mandi. Untuk saat ini aku sudah puas dengan cara seperti itu. Namun dikemudian hari obsesiku semakin menjadi dan
tentunya aku terus meningkatkan eksplorasi seksualku terhadap ibuku.
Mungkin benar kata orang, bahwa gairah seksual adalah candu, dari waktu ke waktu dosisnya dirasa ingin ditambah terus. Itu pula yang aku alami saat ini, aku sudah mulai agak susah orgasme hanya dengan menciumi aroma celana dalam bekas pakai ibuku. Aku butuh sesuatu yang lebih sebagai bahan inspirasi seksualku dan merasakan sensasi yang lain lagi. Aku mulai mencari-cari apa yang bisa aku jadikan objek fantasi seksualku terhadap ibuku. Kalau memandangi ibuku secara langsung fokus dan terarah pada otak serta membayangkan ibuku dengan sudut pandang seksualitas jujur aku belum berani, ada rasa was-was sendiri manakala aku berhadapan langsung dengan ibuku entah dalam keadaan bicara langsung atau sekedar melihat sekilas pada tubuh ibuku.
Secara realita aku tidak punya nyali untuk itu, kalo boleh dibilang jujur mustahil di kehidupan ini menempatkan ibu kandung kita dalam frame satu ranjang beradegan intim dengan anak sendiri. Meski demikian tidak sedikit orang yang mengalami hal yang sama denganku yaitu terobsesi secara seksual terhadap ibu kandungnya sendiri, dan hampir dipastikan semua juga hanya sebatas fantasi seksual atau hanya sebatas mengeksplorasi barang-barang pribadi seperti celana dalam, bra dan pakaian, termasuk diriku.