ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label bercinta dengan kakak kandung. Show all posts
Showing posts with label bercinta dengan kakak kandung. Show all posts

Thursday, August 3, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XVI

Tidak ada yang begitu istimewa dari Mall yang baru buka. Cuma hiburan dari artis ibukota dan semua toko memberikan discont. Yang istimewa adalah adik ku. Sepanjang jalan dia tidak pernah melepaskan tanganku. Mulai dari turun dari parkiran aku di perlakukan dengan sangat baik. Dia terus menawari, "kakak mau ini" atau "kakak mau itu". Aku kebanyakan menggeleng. Di ajak jalan saja aku sangat senang. Aku melihat beberapa laki-laki menatap ku dengan pandangan kagum. Kagum plus mesum. Dan cewek-cewek ABG juga banyak yang curi-curi pandang ke arah Reno.

Kami cuma keliling-keliling, makan di food court, nyobain bilik film 4D. Aku teriak-teriak ketakutan. Zombi-zombi dalam film itu seolah-olah nyata dan mau menarikku. Aku peluk Reno kuat-kuat. Dari pada melek aku lebih sering  memejamkan mata. Takut.

" tuh kan suara kakak jadi parau. Kebanyakan teriak. Dia yang ngajakin dia yang ketakutan". Celoteh Reno pas kami sudah keluar. Dia memberikan aku sebotol air mineral.
"Kapok kakak nonton yang beginian. Nonton film yang biasa aja deh lain kali. Gak usah yang kayak nyata gitu". Jelas ku.

Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kami keluar dari Mall. Tanpa bawa apa-apa. "Kakak mau makan? Ada kwetiau enak loh. Cobain yuk. Papa sama mama juga suka. Tar kita bungkusin buat mereka juga". Aku nurut aja.

Sudah satu jam kami makan. Sekarang kami sudah mau pulang. Karena penjual kwetiaunya di pinggiran kota. Jalanan sudah mulai sepi. Di setiap jalanan sepi dan gelap. Aku menutup mataku dan memeluk Reno erat-erat.

Tetesan air terasa. Gerimis, dan makin lama makin deras. "Kita berteduh dulu kak." teriak adik ku sambil memacu sepeda motornya mencari tempat berteduh. Kami berhenti di depan sebuah ruko yang cukup lebar. Ada 4 pintu. Yang ujung-ujungnya ada tempat orang jualan. Ruko nomor 2 dan 3 sepertinya masih kosong. Ruko tempat kami berteduh sudah tutup. di bagian depan ada lemari untuk jual makanan yang tidak di masukkan kedalam ruko. Ada juga bangku. Kami duduk disana. Di ruko no 4 juga hampir mirip. Di sana juga ada sepasang anak muda yang juga numpang berteduh.
"Kakak dingin ya. Jaketku basah juga kalo mau kakak pake".
"Gak papa dek. Gak dingin-dingin amat kok".
Hujan makin deras. Kami makin mepet ke pintu roling Ruko. Atap di bagian depannya bayak yang bocor. Kami liat pasangan yang di ruko nomor 4 berpelukan. Kami masih bisa melihat mereka. Meskipun remang-remang. Yang wanita di belakang dan memeluk cowoknya dari belakang.
"Kak, kak liat. Mereka ciuman" kata reno.
Aku menoleh kesamping. Benar saja mereka sedang berciuman. Yang cowo sudah tidak lagi menghadap depan. Tapi sudah berbalik mengadap ceweknya.
"Biarin aja. Toh mereka emang pacaran. Kalo kamu mau, ajak aja gantian." godaku ke Reno.
"Ngapain juga ngajakin gantian. Aku sekarang sama cewek yang ribuan kali lebih cantik dari tu cewek". Kata Reno sambil tangannya merangkul pinggangku. Aku merasa senang sekali di puji seperti itu.
"Dek, dulu kita juga pernah ya kehujanan. Waktu masih sekolah dulu. Terus berenti di pondok.". Aku mulai berbicara
"Yang mana, kita mah sering banget kehujanan."jawab Reno. Memang benar juga. Kami udah sering kehujanan. Tapi aku ingat yang itu karena perlakuan Reno hari itu yang susah aku lupakan.
"Yang itu loh. Kakak minta antar kerumah temen kakak. Pulangnya kita keujanan. Berenti di pondok". Aku mendongak kesamping memandang wajah Reno.
"Ntah ya. Lupa aku". Jawab Reno matanya masih menatap pasangan di ruko no 4 yang masih bermesraan.

BLAM...
Listrik mati. Kondisi kami gelap gulita. Spontan aku langsung memeluk Reno.
"Dek, kakak takuuut...".
"Tenang aja kak. Gak bakal ada yang berani gangguin kakak selama ada aku di sini, nyamuk pun gak bakal berani".
" nah itu tuh. Kamu juga waktu itu ngomong gitu. Masa lupa sih".
"Iya.. Iya.. Aku ingat. Kalau gak ada tukang siomai sialan itu. Aku udah mencapai salah satu impianku." kata Reno. Aku tidak tau wajahnya bagaimana sambil bicara begitu. Kondisi gelap total.
"Ada ada aja kamu. Impian apa juga yang bisa di batalain tukang siomai".
"Kalau gak ada dia. Hari itu aku udah bisa jadi pacar kakak". Jawab Reno singkat.
"Ih suka sembarangan kalo ngomong, masa kakak di pacarin. Situ gak laku ya?" godaku sambil menekan dada Reno dengan jari telunjuk kananku.
"Aku serius loh".
Aku merasa pipiku di elus. Daguku di angkat. Ada ciuman mendarat di keningku. Reno menciumku.
Ciumannya turun ke pipi. Kemudian ke bibirku.
Aku langsung mengalihkan wajahku. Dan berputar badan. Aku membelakangi nya.
"Kamu anggap kakak cewek murahan ya". Kataku.
"Nggak kak. Semua orang pernah berbuat salah. Dan kakak tetap wanita paling cantik di muka bumi di mataku." jawab Reno. Tangannya melingkar di perutku. Satu lagi kecupan mendarat di leherku. Kecupan yang dalam.
Kecupan itu naik keatas. Ke arah telinga. Dan aku sangat sensitif di sana. Aku merasa geli sekali.
"Deeekkk... Gak boleh"  aku cuma bisa bilang itu. Tanpa berusaha melepaskan diri. Tangan Reno perlahan naik ke atas. Meraba bagian bawah BH ku. Perlahan juga penisnya sudah terasa menonjol di pinggangku yang mepet ke tubuhnya.
Aku berusaha melepaskan tangannya. Tapi pelukannya sangat erat. Tubuh Reno sekarang sudah jauh lebih besar ketimbang waktu kami masih SMA. Sekarang dia sudah lebih tinggi. Aku hanya sebatas bibirnya. Dadanya lebih bidang. Lengannya lebih kokoh. Dia sudah dewasa.

Ciumannya di leherku makin menjadi-jadi. Lidahnya ikut bermain, menari-nari di sepanjang leher samping kananku.
"Adeeeeekk, gak boleh gini". Suaraku lirih sekali. Aku sudah terbawa suasana.
Tangan kanan Reno sudah tidak malu-malu lagi meraba dadaku. Sesekali meremas dari luar.
"Deeekk, sakit dada kakak di gituin".
Reno melepaskan pelukannya, dan meraih kaitan BHku. Tesss. Kaitan BH ku sudah lepas. Tanganya kembali kedepan. BH ku di angkat ke atas. Dan tangannya sudah mulai meremas Payudaraku dari luar baju.
"Eegghhh". Tanpa sadar aku mendesah.
Bibir Reno bergerak kedepan. Dia berusaha mencium bibirku. Kami berciuman singkat. Aku memalingkan wajahku lagi.

" aku sayang kakak". Ucap Reno.
" sayang adik dan kakak tidak begini dek". Jawabku.
Tangan Reno sudah masuk kedalam bajuku. Memainkan puting kiri. Sesekali meremasnya.
Tangan kirinya sudah menjalar ke bawah. Perlahan menyusup kedalam celana. Celana dengan pinggang karet seperti yang aku gunakan memang tidak sulit untuk di susupi.

"Aaaahhh.. Dek,, jangan". Aku mendesah. Jari Reno sudah menyentuh kewanitaanku. Tepat di klotorisnya.
"Tapi kakak suka kan?". Suara berat Reno di telingaku, desahan nafasnya yang menghempas leher membuat napsuku naik menjadi-jadi. Perlahan pinggangku bergerak mengikuti jarinya yang bergerak-gerak memainkan Klitorisku.
"Kakak sudah basah. Nikmatin aja kak. Aku akan melakukan apa saja demi membuat kakak bahagia". Ucapan itu membuat aku melayang.
"Aagh... Agh.. Aaagh...". Aku mulai mendesah. Akal sehatku sudah hilang. Aku mendesah tanpa malu. Di pantatku terasa Reno mulai menggesekkan Penisnya. Penisnya terasa besar. Lebih besar dari kali terakhir ketika penis itu menempel di pantatku 4 tahun lalu.

Reno mencium bibirku lagi dari belakang. Dan aku terima. Dia kecup aku pun mengecup. Dia sedot akupun menyedot. Lidah kami saling bersilang di dalam rongga mulutku. Lidahku kadang di sedot kedalam mulutnya.

Jarinya makin lama makin cepat memainkan Vaginaku. Keatas kebawah, kekiri kekanan. Aku sudah tidak tahan lagi.
"Terus dek.. Terus.. Agh... Agh... Agh..." desahky tanpa malu.
Aaagggggghhhhhhhh
Aku tahan tanganya, aku dorong ke dalam. Aku tekan agar tangannya tidak lepas dari vaginaku. Akupun keluar. Aku klimaks dengan tangan adik kandungku.

Reno mendorongku melangkah kedepan. Masuk ke bilik dagang di depan ruko. Dia mendorong pungguku agar aku menunduk. Dengan cepat dia menarik celanaku turun sampai kepaha. Diremasnya pantatku beberapa kali. Kemudian terdengar kelentikan suara. Dia berusaha membuka ikat pinggang celananya.
Ada benda keras menggesek Vaginaku dar belakang.
Aku akan ML dengan adik kandungku malam ini. Kenapa harus dengan nya. Batinku berkecamuk. Nurani ku masih ada.

Suasana mendadak terang. Menyilaukan mata kami yang sudah mulai terbiasa dalam gelap.
Listrik kembali menyala.

BERSAMBUNG
Cerita lain
Screeshoot percakapan sex kakak cantik dan adiknya

Thursday, July 27, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XV

DCSS

Ada suara bising, pandanganku silau sekali. Aku susah membuka mata. Tubuhku juga berat.
“ siska.. Siska... Dia sudah sadar. Dia sudah sadar.!” Ada yang setengah berteriak di sebelahku.
“ Ka.. Ka... Ini aku Lita. Kamu bisa liat aku?” sinar silau itu makin memudar. Meskipun belum jelas tapi aku tahu kalau itu adalah sahabatku Lita. Aku kenal suaranya.
“ aku di mana ta?” suaraku lirih sekali. Aku sendiri sulit mendengar suaraku.
“ kamu di rumah sakit Ka.”
Aku kaget.  jadi ingat semuanya mulai dari sakit perut, hingga pendarahan hebat di kamar mandi. Aku melihat kebawah. Aku sudah mengenakan pakaian Rumah sakit. Dan makin lama aku penglihatanku makin jelas. Orang ramai mengitariku.
“ ta, kenapa rame? Mereka semua tahu kondisiku?” tanyaku kepada Lita
“ iya ka, terpaksa mereka harus tahu. Pas aku sampai ke kostmu, aku ketok2 gak ada jawaban. Pas aku mengintip kedalam ada banyak darah di lantai aku jadi panik. Aku teriak minta tolong. Ada bapak kost mu sama tetangga yang ngedobrak pintu.” Jelas Lita. Suaranya serak. Seperti habis nangis
“ mereka melihat semuanya ta?” tanya ku lagi.
“ iya. Tapi kamu gak perlu memikirkan hal itu dulu sekarang. Yang terpenting kamu selamat. Kamu sempat kritis tadi. Kamu udah pingsan lebih dari 6 jam. Pemilik kost mu td nelpon tante kamunyang di bogor. Sekarang mereka udah disini. Lagi nyiapin kamar inap kamu. Orang tuamu juga besok kesini.”. Jelas lita lagi.

Oh tuhannnn... Aku mendadak jadi ingin melarikan diri. Aku tidak mau mama dan papa melihatku dalan kondisi seperti ini. Mereka pasti akan marah sekali. Aku mau lari. Aku mencoba bangkit.
“Siska, kamu ngapain? Jangan bangun dulu.” Lita panik dan berusaha memengangku. Beberapa orang juga menenangkanku. Tanteku masuk ke ruangan beserta perawat.
“Aku mau mati saja. Aku mau mati saja”. Ada beberapa orang memengang tanganku dan ada perawat yang menyuntikan obat ke infusku. Pandanganku gelap lagi.
.....

NERAKA
Aku beranjak dari ruang tamu. Pindah ketaman belakang, duduk di gazebo taman belakang sambil memandangi ikan yang berenang di kolam. Sudah sebulan aku kembali kerumah. DO dari kampus. Dan di batasi kemana-mana. Aku seharusnya bersyukur tidak di penjara. Salah satu yang membawaku ke rumah sakit adalah anak bapak kost. Dia seorang polisi bagian Kriminal. Aku tidak tahu bagaimana papa menyelesaikannya. Yang ku ingat ketika mereka tiba di RS dia tidak berbicara denganku sepatah katapun. Dari raut muka mama juga ada kekecewaan yang sangat besar. Sebagai seorang Hakim. Papaku tau betul hukuman yang harusnya menimpaku. Dosen-dosenku juga semua tahu. Karena papa sempat mendatangi Rektor untuk mencari Pak Prima.
Kalau ku temukan dia. Kupatahkan lehernya saat itu juga. Aku masih ingat jelas kata-kata papa saat itu. Akupun juga ingin sekali bertemu dengan pak Prima. Aku mau marah. Aku juga rindu dia. HP yang dia berikan tertinggal di kostku. Cuma beberapa barang penting di di bawa mama pulang. Selebihnya di tinggalkan saja. Aku sudah menghubungi Lita supaya dia mengirimkan Hp itu kepadaku. Tapi kostku sudah di isi oleh orang baru. Dan dia bilang tidak ada Hp ketika pindah kesana. Aku kehilangan kontak dengan orang yang aku cintai dan sekaligus aku benci.

Di rumah ini aku di anggap sampah. Tidak di perdulikan. Hanya ada makian, bentakan dan amarah yang ku terima. Bikin malu saja. Anak seorang hakim melakukan tindak kriminal. Kata-kata yang sangat mengiris hati. Mama juga tidak banyak bicara. Sekenanya saja. Meskipun dia tidak marah-marah seperti papa. Hanya Reno seorang yang masih menganggap aku sebagai manusia. Reno baru 2 minggu kembali kerumah. Dan keberadaannya sangat menyejukkan hati. Minimal mengurangi sakit hatiku. Dia sering mengajakku ngobrol. Bercerita tentang kerjaanya yang baru. Atau cerita-cerita lucu ketika dia masih dalam karantina. Kami memang sangat bertolak belakang. Bagai bumi dan langit. Reno selalu berprestasi. Aku tidak. Reno selalu di banggakan. Aku di cemooh. Aku bersyukur masih di beri fisik yang ideal. Sehingga rasa sakit itu tidak terlalu lengkap.

Reno juga bercerita bahwa tahun kemarin ketika aku masih di bandung, ekonomi keluarga kami anjlok. Salah satu minimarket kami harus tutup karena tidak lagi mendatangkan keuntungan. Serangan kapital pusat dengan masukkan Alfamar* dan ind*maret ke kota kami sangat berpengaruh ke toko kami. Dan yang mengejutkan adalah yang membantu membuatnya bangkit lagi adalah Reno. Seorang remaja baru lulus SMA yang mengembalikan kestabilan. Aku dapat cerita dari bi Sur. Asisten rumah tangga kami. Papa sibuk di pengadilan. Mama pun begitu. Reno berusaha keras menyusun ulang sistem dan akhirnya perlahan usaha keluarga bangkit lagi. Ketika teman-temannya sibuk kuliah. Dia sibuk berdagang. Sukses berdagang dia melamar di Akpol. Dan lulus dalam test pertama.
Ini anakku loh. Kata-kata papa setiap memperkenalkan Reno kepada teman-temannya. Aku jarang sekali di kenalkan. Tidak ada kebanggaan pada diriku. Dan papa benci kepada orang yang hanya bermodalkan paras rupawan tanpa perjuangan.
Aku buka akun facebookku, melihat-lihat timeline. Ada yang posting foto jalan sama pacarnya. Ada yang sama keluarganya. Aku iri sekali. Cewek itu tidak lebih cantik dari ku, tapi dia terlihat bahagia bersama pacarnya. Yang posting jalan-jalan dengan keluarga juga terlihat bahagia meskipun hanya jalan-jalan di wisata sederhana di kota tetangga. Sedangkan aku, cantik tapi di tinggal pacar. Keluarga kami tidak kurang dalam ekonomi. Tapi aku tidak bahagia. Bahkan menjadi sampah.
“seandainya aku memiliki kehidupan yang menyenangkan. Alangkah bahagianya” aku tulis status di Timeline kusendiri.hanya sebentar saja. Puluhan Orang like dan komentar. Rata-rata cowok.
Sini deh. Biar aku yang bahagiain hidup u. Kata salah satu komentar. Tidak aku balas. Aku jarang menyapa orang yang komen. Aku tidak mau terlihat murahan. Ada notif WA masuk.
"Nanti sore kita keluar yuk kk. Ada mall yang baru launching. Nanti aku yang izinin sama papa." WA dari reno. Dia tau aku lagi bersedih. Dia mau menghiburku.
Klo di izinin kakak mau aja. "Tp kk gak punya duit". Balasku
Kakak tenang aja. Duitku banyak. Susah mau di habisin. Wkwkwk.  Balas reno lagi. Aku tersenyum. Seandainya bukan adikku. Sudah kuajak pacaran anak ini. Dia baru beli Motor Sprot dari gaji yang di rafel selama masa pendidikan. Sebenarnya papaku juga memberikan 30% keuntungan minimarket kami untuk reno. Dari ke 3 cabangnya. Reno tidak bakalan susah secara keuangan.
Jam 3 sore reno sudah sampai di rumah. Lebih cepat dari biasanya. Aku lagi duduk di balkon atas ketika dia naik. Kamar kami ber2 di lantai 2. Kamar dia menghadap ke samping. Kamarku menghadap ruang keluaga. Kamar kami terpisah dengan lorong yang biasa kami pakai untuk karaoke.
“ kakak belum siap-siap?” tanya Reno. Dia duduk di sofa. Sambil membuka buntelan berkas yang dia bawa.
“belum lah. Tar kakak udah siap-siap gak taunya gak jadi. Adek udah izin ke papa?” aku masuk ke dalam dan duduk di sebelahnya.
“udah tadi aku telpon papa. Dia ngizinin. Aku juga mampir ke toko dulu. Ambil laporan penjualan sama data stok”. Lanjut reno tanpa menoleh. Dia sibuk membolak balik berkasnya.
“Iss, lain nih calon direktur. Sibuk terus.” Candaku.
“eits, jangan salah ya. Aku emang dari dulu direkturnya. Papa kan gak boleh jadi direktur. PNS mana boleh”. Lanjut reno lagi
“ iya deh pak dir. Kakak mau mandi dulu. Siap-siap.” Aku bangkit dan masuk ke dalam kamarku.
Setengah jam lebih aku di kamar. Mandi dan siap-siap. Awalnya aku pakai setelan gaun plus rok pendek warna hijau. Tapi aku baru ingat kalau mau pakai motor. Jadi aku tukar lagi dengan celana panjang warna krem dr bahan katun, dan baju sutera lengan panjang warna biru. Aku pakai tas juga warna biru.  Dan sepatu wedges krem. Aku lihat di cermin. Riasan ku tidak berlebihan. simpel. Aku merasa cantik. Aku sudah siap. Pukul sudah menunjukkan ke angka 4. Sudah 1 jam aku siap-siap.
Aku keluar kamar. Reno juga sudah siap. Dengan baju kaos oblong putih abu-abu dan celana blue jeans panjang. Reno menatapku.
“ widih.....cakep amat. Bidadari nyasar ya?” guraunya. Aku merasa malu dan senang. Meskipun yang memujiku adiku sendiri.
“yuk ah. Berangkat.” Ajakku.
....
BERSAMBUNG

Sunday, May 7, 2017

DILEMA.CINTA SIMALAKAMA XIII

Aku masih meringkuk di sofa ruang tamu. Jari jemariku masih sibuk men-scroll layar hp naik turun tanpa tujuan. Aku masih berada di zona remang-remang. Pikiranku masih terbagi antara kenyataan saat ini dan kenanga manis bersama pak prima. Jariku berhenti ketika melihat postingan Reno. Status nya kemarin.
"Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menghapuskan air matamu, dan menjadikan luka lama itu tak lagi terasa sakit". Ada rasa geer di hatiku. Seolah aku mengklaim bahwa status nya tersebut di tulis untuk ku. Tapi memang bisa jadi arahnya kesana. Toh selama ini reno selalu berusaha baik kepadaku. Baik seperti pak prima.

Kenangan itu kembali lagi

Hari demi kami makin akrab. Gosip sudah beredar bahwa aku pacaran dengan pak prima. Aku santai-santai saja. Bahkan cenderung bangga. Kami sering jalan berdua di kala dia tidak sibuk.
Hari itu di cimory, puncak kami memadu kasih.

"Kalau kita punya anak pasti cantik kayak dedek". Dia menengadah menatapku. Akupun mengelus kepalanya yang sedang tiduran di pahaku.

"Kalau anak kita cowok, pasti cakep kaya papanya, hidungnya mancung, pinter lagi". Aku cubit hidungnya.

"Kita bikin yuk!". Dia beringsut naik dan mencium bibirku.
"Emang abang gak bakal nyesal punya istri kaya dedek, yabg gak bisa apa-apa?".
"Cuma laki-laki super bodoh yang menolak.punya istri seperti bidadari kayak gini."

Lumatannya makin kuat di bibirku, rabaan nya menjalar keseluruh tubuhku dan aku pasrah dengan apa yang dia lakukan. Aku bakal menjadi istri dari laki-laki yang sangat hebat.

Kami pulang kerumahnya sudah hampir jam 10 malam. Rumahnya terang. Lampu menyala. Ada orang yang masuk.
Dia mengeluarkan pistol dari dashboar dan masuk kedalam. Aku menempel ketat di belakangnya.

" hei capt, sorry we came without call you first. Urgent." sahut perempuan yang berdiri di depan TV tanpa menoleh kekami. Di ruang tengah sudah ada 4 orang. 3 laki-laki dan wanita yang menyapa kami tadi. Mereka cuek sekali. Seperti rumahnya sendiri. Yang pakai sweater abu-abu sedang makan mie instan sambil kaki nya naik di atas meja. Satu lagi sibuk mengotak-atik laptop di atas meja. Yang pakai kemeja menempalkan kertas-kertas seperti kliping ke dinding. Pak prima menoleh kepadaku sambil menyelipkan lagi pistolnya kepinggang. "Mereka team abang"  ujarnnya.

Aku duduk saja sofa ruang tamu. Ketika pak prima menemui teamnya dan kemudian mereka berdiskusi serius sekali. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Mereka bicara bahasa inggris dan ku akui inggrisku sangat parah. Lama-lama aku tertidur. Dalam mimpiku pak prima membisikiku. ' I Love you siska. But I'm sorry. I must go'.

....

BENCANA

Aku terbangun hari sudah pagi. Cahaya matahari menyilaukan mataku. Aku tidur di kamar, masih mengenakan baju kemarin. Dia sudah bangun. Tidak ada di sisiku.

" abang........" aku panggil dari kamar. Masih malas untuk bangkit.
Tidak ada sahutan.
"Abaaaaang....". Tetap sunyi. Aku langsung bangkit dari ranjang.

Di atas meja ada secarik kertas, ATM dan hp.

Maaf abang tidak pamit. Abang harus pergi menjalankan tugas. Tunggu abang menghubungi dedek ke HP yang ada di atas meja. Jaga baik-baik, cuma itu sarana komunikasi kita. ATM itu untuk dedek, pergunakan dengan baik ya sayang.
I Love you
Prima

 Serasa petir jutaan volt menyambar hatiku. Aku bingung bagaimana menyikapi ini. Air mataku menetes tanpa ku perintah. Aku ambil HP ku dari dalam tas dan menelpon nomornya. Hanya ada sahutan operator. Nomornya tidak aktif. Aku masukkan hp dan ATM ke dalam tas. Dan langsung bergegas pulang ke kost ku.

...

Sudah satu bulan sejak kepergian pak prima. Aku sangat tidak bersemangat untuk datang ke kampus. Aku banyak termenung meskipun teman-teman berusaha menghiburku. Dia juga tidak bisa di hubungi. 3 hari setelah dia pergi dia telpon dan bilang kalau mau berangkat ke medan tugas. Suaranya seperti sedang berada di helikopter. 1 minggu kemudian dia mengabarkan lagi kalau dia bakal susah menghubungi dalam waktu dekat. Tugas kali ini amat penting dan rahasia. Hanya itu. Sekarang aku tak bisa lagi menghubunginya. Sekedar menghilang rindu terkadang aku mengirim pesan ke WA nya meskipun aku tahu itu tak pernah di bacanya.

"Abang, hari ini dedek gak semangat kekampus, malas banget padahal mata kuliahnya dulu dedek suka karena abang yang ngajar. Sekarang di gantiin sama pak Slamet. Ngantuk banget belajar sama dia. Abang cepat pulang ya. I love U". Aku kirim WA ku. Hanya contreng 1. Sama seperti WA ku sebelumnya. Kepalaku jadi pusing, pusing sekali. Semua terasa berputar-putar. Aku merasa mual sekali. Aku bergegas keluar kelas, berlari tanpa pamit ke dosen yang lagi ngoceh di depan. Buru-buru aku masuk ke wc dan muntah. Tidak yang keluar. Hanya air. Dan mualku tak juga hilang. Muntah lagi sampai beberapa kali baru mualku reda.
Aku bergegas ke kantin di ujung bangunan kelas kami, aku beli tolak angin dan meminumnya langsung. Aku tidak langsung kembali ke kelas. Pasti di marahi kalau masuk lagi setelah keluar dengan begitu kurang ajarnya. Aku lapar. Aku baru ingat dari kemarin aku belum makan apapun. Mungkin mual ini gara-gara asam lambung yang naik. Aku pesan semangkuk bakso. Meskipun selera makan belum datang menghampiriku ketika baksonya datang.
'Kenapa aroma bakso ini menyengat sekali' batinku. Sendokan pertama yang masuk ke mulutku langsung memicu mual ku kembali. Aku langsung berlari lagi ke wc. Muntah lagi.

"Kamu tidak apa-apa ka?" tanya Lita yang menghampiriku ketika keluar dr wc. "Kamu muntahnya keras banget. Kengeran sampai keluar."
"Aku rasa aku masuk angin ta. Tolong antarin aki pulang ke kost ya!" aku melangkah gontai ke luar. Duduk di tangga sambil menunggu Lita menggambil tas ku di kelas.

Sebelum pulang kami mampir ke ATM depan kampus. Uang tunai ku makin menipis.
"Buseetttt, duit mu banyak amat sis. Kamu abis merampok di mana?" seru Lita kaget ketika melihat saldoku. Aku juga awalnya kaget ketika ngecek saldo ATM yang di tinggalkan pak Prima. Saldonya ada 50jt.
" di kasih pak Prima sebelum dia pergi". Jawabku sekenanya.
" widihhh, duit enak nih. Yuk shoping yuk..."
" tunggu aku agak baikan ya, tar kita shopping. Aku kasih 1jeti lah untuk kamu". Jawabku...
"Asyyiiiikkkkk, tapi pak Prima banyak juga ya duitnya. Padahal kan cuma dosen honor." kejar Lita
" dia menang tender, makanya sekarang gaknngajar lagi. Dia lagi ngerjain projeknya." dalam hatiku sebenarnya merasa miris. Aku juga gak tau dia dapat duit dari mana. Dan kamipun sudah melaju ke kost ku.
...

Sudah tiga hari mual itu tak juga berhenti. Lita juga dengan rela nginap di kost ku. Dia yang mengurusi ku. Kami hari ini tidak kuliah.
Aku sudah 6 kali muntah pagi ini. Dan sudah tidak ada lagi yang bisa ku muntahkan.
" ka, kamu kapan terakhir Mens?" tanya Lita
" bulan kemaren ta."
" bulan ini tanggal berapa biasanya mens?" kejar Lita lagi.
" biasanya sih awal bulan ta".
" ini udah tengah bulan loh ka, kamu gak ngerasa ada yang aneh?"
Aku diam, dan mulai berfikir. Aku sudah telat mens lebih dari seminggu. Biasanya aku rutin mens di awal bulan. Aku menepis kemungkinan itu. Mungkin jadwalnya berubah karena aku stress.
"Coba nanti kita kedokter ka. Gak bisa di biarin juga kamu muntah-muntah gini terus!". Saran lita.
" dimana ada dokter ta, jangan yang deket kampus kita lah kalo ada".
"Ada, di depan gang rumah bibiku ada dokter praktek. Nanti sore kita kesana.
...
Jam 5 kami sudah ikut mengantri di ruang tunggu dokter Nurmala. Aku dapat urutan kedua.
"Nyonya Siska". Panggil asistennya. Aku agak kaget di panggil nyonya. Akupun mendelik ke arah Lita.
"Cuma buat jaga2 dari kemungkinan terburuk ka." jawab lita. Akupun mengerti dan berjalan masuk.
"Apa keluhannya bu siska". Tanya dokter Nurmala ramah. Dan akupun menjelasakan.
" kita cek tekanan darah dulu ya". Aku nurut saja. Kemudian cek pakai stetoskop di perutku dan di USG.
" kapan terakhir mens bu?" tanya dokter lagi.
"Bulan kemarin dok!".
"Ibu silahkan ke toilet. Kita ambil sampelnya ya."
Aku nurut aja. Dalam hati aku cemas sekali. Aku takut kalau kemungkinan buruk aku pikirkan terjadi. Tak lama aku kembali kedalam. Membawa sample urin. Dokter mengambilnya dan memsukkan alat tes.
" suaminya ikut ngantar bu?". Tanya dokter Nurmala ramah.
"Nggak dok. Dia lagi kerja". Jawabku. Dan batinku meneruskan. Aku juga gak tau dok dia dimana.
Dokter Nurmala mengangkat alat tesnya. Di goyang-goyang. Kemudian tersenyum.
"Selamat ya bu Siska, sebentar lagi ibu akan menjadi seorang ibu. Ibu positif hamil."
Petir menyambar dadaku, aku tidak gembira mendengar ucapan selamatnya. Aku hamil tanpa suami. Aku bahkan tidak tahu kemana harus menuntut tanggung jawab atas kehamilanku. Orang yang menghamiliku sekarang menghilang di telan bumi. Tanpa di.perintah air mataku mengalir.
"Loh kok nangis bu?"
" saya bahagia dok. Suamiku pasti senang mendengar kabar ini". Jawabku. Hanya itu kalimat yang terpikirkan saat ini.
" oh pastilah bu, anak pertama kan?, semoga lancar ya bu hingga persalinan nanti."
" iya dok. Makasih".
Aku keluar. Menebus obat ke apotik dan langsung keluar klinik.
Kami baru masuk mobil, Lita langsung memegang pundakku.
"Gimana ka?" tanyanya
Aku diam saja dan memberikan kertas hasil perikasa ke Lita. Dia membukanya bergegas.
"Astagaaaaaaa... Ini anaknya pak Prima kan?".
Aku hanya mengangguk.
"Telpon dia ka. Suruh dia pulang. Dia harus nikahin kamu secepatnya!". Tukas Lita
Aku diam saja.
"Ta, antarin aku ke pasar dulu yuk. Kita cari nanas muda".

BERSAMBUNG.

Monday, March 20, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XII

Dia mandi dan aku juga mandi. Tapi tidak di satu kamar mandi. Di rumah ini ada 2 kamar mandi. Satu kamar mandi umum di belakang satu lagi kamar mandi di dalam kamar utama. Aku mandi dengan cepat, sambil membayangkan sebentar lagi aku akan bermesraan dengan laki-laki tampan nan misterius yang baru saja jadi pacarku. Terbersit rasa ngeri apakah kami akan bercinta malam ini. Aku masih perawan. Dan kabarnya kehilangan perawan itu sakit. Hanya 10 menit aku sudah selesai.

Dia sedang di depan cermin, mencukur kumis dan jenggotnya. Hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Baru kali ini aku melihatnya tanpa baju. Ada begitu banyak bekas luka di tubuhnya. Ada yang panjang. Ada yang pendek dan ada yang seperti bekas luka bakar. Meskipun begitu tubuhnya sangat indah. Full otot dengan lekuk lengan yang menawan. Tubuhnya ramping tapi berotot. Melihatnya saja membuat kewanitaanku basah. Akupun mendekatinya.

"Semoga setelah ini bekas lukamu tidak bertambah sayang" ujarku sambil mengelus bekas luka di sekujur tubuhnya. Dia berbalik memandangku.

"Augghhh" sekejab saja dia sudah mengangkat tubuhku kedalam gendongan tanganya. Tangan berotot yang begitu kokoh seolah tubuhku hanya seringan kapas. Dia membawaku ke kamar dan merebahkanku di ranjang.

Wajah kami sangat dekat. Dia menindihku dan hidungnya bertemu dengan hidungku.

Cupp

Dia mencium keningku. Aku merasa bahagia sekali. Aku pejamkan mata dan membiarkan dia beraksi.

Ciumannya turun ke pipiku, kemudian ke bibirku. Cium yang hangat dan lembut. Perlahan makin menguat dan aku menghisap bibir bawahnya. Pagutan bibir kami makin dalam sembari tangannya mulai meraba ke sekujur tubuhku. Satu persatu pakaianku lepas dari badan hingga tubuhku polos tanpa penghalang sehelaipun.

Dia bangkit dan memandangi tubuhku dari atas, seolah-olah dia mau menikmati dulu tubuhku dengan matanya. Aku jadi malu di tatap seperti itu.

"Dedek wanita paling cantik yang pernah abang temui".

Kata -kata itu di lanjutkannya dengan rabaan di sepanjang tubuhku. Dan bibirnya kembali menyusuri setiap lekuk tubuhku. Dia begitu piawai memainkan lidahnya hingga aku merasa tidak sabar.

"Aahhhhhh". Lidahnya menyentuh puting ku sebelah kanan. Di hisapnya perlahan dan tangan kanannya mulai meremas dada kiriku.
"Aaahhhh". Aku kembali mendesah. Aku meregangkan pahaku dan mengepit pinggulnya. Vaginaku terasa tertindih dengan penisnya yang tegang. Tapi masih terhalang handuk. Aku tarik handuknya hingga terlepas. Penisnya sudah tegang. Dan ini pertama kalinya aku melihat penis yang ukurannya lumayan besar. Ini penis ketiga yang pernah aku lihat. 2 milik mantan pacarku ketika mereka memohon2 untuk aku kocok. Kecil meskipun tegang. Milik pak prima di luar ekspektasi. Ada rasa ngeri bagaimana vaginaku yang masih perawan di terobos oleh penis yang lumayan besar.
Aku mencoba untuk menggapainya ketika penis itu menjauh. Pak prima menciumi tubuhku makin turun. Penisnya jadi menjauh. Sekarang lidahnya sudah menyapu area pubis. Dan makin menurun..

"Aagghhhhh"... Pantatku mengangkat otomatis ketika lidahnya menyapu klitorisku.

"Abaaaaanggg" rengekku manja. Aku merasa melayangm dia piawai sekali memainkan lidahnya. Atas bawah. Kiri kanan. Aku remas kepala nya dan menekan ke arah vaginaku. Aku tidak mau kenikmatan ini terhenti karena kepalanya naik. Pinggulku bergerak-gerak sendiri. Tanpa arah.. Berpacu menuju puncak...

"Aaaaaggghhhhhhhhhhh".....

Aku keluar. Tubuhku melengkung keatas. Melepas dentuman rasa nikmat yang luar biasa. Tubuhku menggelinjang dan bergetar. Lututku gemetaran. Aku kumpulkan semua sisa tenaga untuk menarik Dia ke atas kembali. Aku memeluknya.

" enak banget bang. Dedek capek". Rintihku dengan nafas masih naik turun.

Bibirku di ciumnya lembut. Awalnya aku agak jijik karena bibirnya masih basah oleh lendirku sendiri.

"Istirahat dulu ya sayang". Aku peluk tubuhnya. Aku masih terlentang dan dia setengah menindihku. Dia tersenyum manis kearahlu. Tidak ada paksaan memintaku untuk cepat-cepat menuntaskan birahinya. Dia biarkan aku beristirahat setalah orgasme panjang yang aku rasakan. Dia hanya membelai lembut tubuhku. Lebih tepatnya sekujur tubuhku. Vaginaku di elusnya dan libidoku kembali terpancing. Aku terangsang lagi.
"Masukin bang" aku yang memohon untuk di setubuhi.
Perlahan dia memposisikan penisnya kearah bibir vaginaku. Agak ngeri membayangkan penisnya bakal menerobos masuk kedalam celah sempit tubuhku. Aku membayangkan bakal merasakan perih yang sangat. Perlahan kepala penisnya di gosok ke klitorisku. Aku makin merangsang. Perlahan kepala penisnya menekan. Perlahan dan terus. Tidak begitu perih rasanya. Penisnya menekan lagi. Berusaha makin masuk. Aku meringis. Lebih perih rasanya. Panas dan pedih. Aku mencengkeram pundaknya. Dimundurkan lagi penisnya. Maju mundur berulang. Sampai aku merasa nyaman. Di majukan lebih dapam hingga menyentuh sekat. Aku yakin itu selaput dara ku. Aku tatap matanya. Mataku memberikan izin ke matanya. Aku sudah tidak tahan lagi. Dan di majukannya penisnya. Mantap tapi tidak kasar...

"Aakkhhhhhh..... Sakit bang.....".. Pedih sekali. Aku merasa seperti tersedak. Perutku penuh oleh banda asing. Aku gigit pundaknya. Penisnya diam di dalam. Aku merasa vaginaku berkedut di dalam.

" dedek tahan bentar lagi sakitnya hilang kok". Perlahan pinggulnya maju mundur, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku. Rasanya geli campur sakit campur nikmat.

"Akh... Akh.. Akh". Desahan mencur dari bibirku. Pedihnya sudah sirna. Kenikmatan yang luar biasa yang tersisa.

"Enak sayang?" Tanyanya.

Aku hanya mengangguk. Lidahku tidak bisa berkata lagi. Hanya desahan.

Kenikmatan ini makin lama makin besar. Ibarat balon yang ditiup makin lama makin besar dan hampir meletus. Aku sudah menggerakkan pinggulku mengimbangi gerakannya. Tangannya aku tarik untuk meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan. Dia makin mempercepat goyangannya.

"Akh... Akh... Akh..." Desahan ku makin cepat. Kocokan penisnya di vaginaku juga makin cepat.

Crot... Crot.. Crot...
Spermanya menyemprot di dalam vaginaku. Aku pun klimaks.

"Aaaaaaggghhhhhhhh.........." Klimak yang luar biasa. Mataku memutih. Badanku melengkung..

BERSAMBUNG

Sunday, April 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IX



Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa, kami sama-sama tidak ada yang membahas tentang ‘pergesekan’ yang terjadi selama di pondok. Meski aku sering memergoki reno yang semakin sering curi-curi pandang kearah dada atau pahaku. Hanya sebatas itu, meskipun terkadang kalau berpapasan denganya, dia pasti menyenggol pantatku, seolah-olah tidak sengaja.
Part II. Kesalahan fatal
Aku masih guling-guling di sofa ruang tamu. Membaca status-status teman-teman Fb ku. Ada yang galau, ada yang lucu ada yang pamer, Macam-macam. Aku kemudian melihat akun Reno, dia mengupdate status dan fotonya 2 hari yang lalu. Dia duduk jongkok diantara segerombolan anak-anak SD di acara Pocil. Polisi kecil. Mereka tertawa girang, reno juga tersenyum sambil memeluk 2 orang anak cowok di kiri dan kanannya. Reno memang penyayang. Hmm... aku jadi kembali teringat kisah lalu.
Tidak terasa aku sudah tamat SMA dan merantau kepulau jawa untuk kuliah. Aku memilih Masuk ke ITB. Kami punya saudara dari pihak Mama di bogor. Semester 1-2 aku tinggal dengan mereka.  Ketika semester 3 aku lebih memilih kost. Asalanku dengan mama dan papa adalah capet bolak-balik bandung bogor untuk kuliah. Lebih baik mencari kost di sekitar kampung. Lebih efisien waktu dan tenaga. Padalah aku lebih memilih kost karena aku bisa lebih bebas. Bisa pergi dengan teman-teman hingga malam atau mengundang orang-orang yang ku kenal untuk berkunjung ke kost ku dengan leluasa. Tanpa harus merasa tidak enak dengan bibi.
Dua tahun tinggal dibandung sudah menjadikanku seperti gadis bandung kebanyakan, modis dan fashionable. Wajahku memang sudah cantik, di usia 21 tahun kegadisannku sempurna. Aku digandrungi banyak cowok, dan menjadi idola di kampus. Bukan hanya di fakultasku, tapi di seluruh kampus. Dari adik tingkat hingga senior, bahkan dosen-dosen muda juga banyak yang menyukaiku. Tawaran untuk jalan atau pacaran terlalu sering kuterima. Kawan-kawan ku banyak yang jadi tukang pos. Mengantarkan pesan dan salam dari para penggemar. Lucu-lucu, ada yang pake surat kaya zaman dulu, ada yang nekat berdiri di tengah lapangan kampus dan membuat tulisan ‘ I Love U sisca’. Tapi dari sekian banyak orang yang mendekatiku, aku menaruh harapan kepada salah seorang asisten dosen baru. Pak Prima, Kebetulan dia mengajar ilmu topografi. Pelajaran yang paling aku gak mengerti. Dia masih muda, mungkin sekitar 26 atau 27 tahun, tinggi, keren, terkesan dingin dan cuek. Ketika sudah dekat denganya ternyata orangnya ramah dan santun. Badannya gak kurus, gak juga gemuk. Tapi full otot. Kulitnya putih, tapi mungkin karena sering berjemur jadi sedikit kecoklatan. Meskipun cuek, dia supel dalam pergaulan dengan mahasiswa, gak jaim. Sering nongkrong bareng mereka di kantin. Pak Prima juga Smart, cara dia mengajar sangat mudah dipahami, bahasanya juga membumi. Dengan kata lain dia hampir sempurna.
Dalam waktu singkat Pak Prima sudah menjadi idola di antara mahasiswi. Kalau pak prima lewat, mahasiswi rata-rata jadi kecentilan mendadak. Akupun juga ikut mengidolakannya.
Hari itu kami belajar dengan beliau, aku pandangi dia dan memang wajahnya manis dan mempesona. Satu jam lebih dia mengajar, aku tidak memperhatikan ucapannya sedikitpun, dan ku rasa setiap mahasiswi di lokalku juga begitu. Entah sial atau malah beruntung, diakhir pelajaran pak prima memberikan pertanyaan evaluasi dan aku yang disuruh menjawab. Aku jadi gelagapan, menoleh kiri dan kanan mengharapkan bantuan dari teman-teman. Tapi mereka juga langsung menunduk dan terkesan menjauh. Berharap tidak mendapatkan beban yang sama yang aku hadapi. Aku jadi ikut menunduk. Idak tahu harus menjawab apa.
“ gimana siska?” tegur pak Prima mengingatkan. Aku mendongak, dan pak prima sudah berdiri setengah meter dari kursi ku. Aku Cuma bisa cengir kuda. Dan berusaha mengeluarkan seluruh pesona yang aku punya. Dia juga tersenyum dan melangkah mendekat. Diambilnya binder yang ada di tanganku, aku mau menahannya tapi tenaga beliau lebih kuat. Aku berusaha merebutnya kembali tapi terlambat. Dia membolak-balikan binderku, kemudia membaca sebentar.
Oh tuhannnn, di binderitu ada kutulis Prima I love U, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu.
Dan di bawah tulisan itu ada gambar orang, dua besar, dua kecil seolah-olah itu keluarga kami. Aku berharap dia tidak membacakannya keras-keras di kelas.
“ siska, sudah hampir 2 bulan kita belajar tapi isi bindermu Cuma ada judul mata kuliah doang, di ajar oleh saya. Gimana kamu mau bisa?” tanyanya.
Aku diam saja.
“ sebagai hukumannya, kamu harus resum buku ini.” Dia menyerahkan buku. Dan isinya sudah banyak yang digaris menggunakan stabilo. “ resum yang sudah saya garis-garis saja. Dan harus menggunakan tulisan tangan. Dari halaman 7 sampai halaman 32. Dikerjakan hari ini. Jam 5 serahkan dengan saya.” Perintah beliau.
Ketika pelajaran berakhir, teman-teman sudah pada bubar hanya menyisakan segelintir di dalam kelas. Pak prima mendekatiku lagi dan menyerahkan buku tadi.
“nih bukunya, ingat serahkan ke saya jam lima di kantor. Kamu masih ada mata kuliah?” tanya beliau.
“ Cuma nyampe jam 2 pak.” Jawabku.
“ Nah kalau begitu kamu punya waktu untuk membuatnya.” Pak prima mendekat, dan mengucek pelan kepalaku. “mau jadi apa kamu kalau malas dan ngammbar doang”. Ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan aku yang melongok. Aku terdiam. Jantungku bergemuruh, dan dadaku terasa sesak.
Pak prima memengan kepalaku, ohhh tuhannnn. Bahagianya...
Aku senyum-senyum sendiri, dan tatapan iri sebagian teman mahasiswi yang melihat kejadian tadi memicu semangatku untuk menulis resumenya.
.....
Hari sudah sore, jam 3. Aku masih menulis resum nya sendirian di kelas. Teman-teman yang lain sudah pulang. Aku awalnya mau pulang dan menulis di kost. Tap aku urungkan kalau sudah di kostan pasti bawaanya mau tidur dan akhirnya tidak di kerjakan. Jadi aku bertekat untuk menyelesaikannya di kampus. Menyelesaikannya tepat waktu dan membuatnya terkesan.
Kringgg....kringgg....kringg....
Hp ku berdering, panggilan dari nomor baru.
“haloo” jawabku
“ halo, ini siska?” tanya suara di ujung telepon.
“ iya saya siska, ini siapa ya?” jawabku mulai ketus, ini kayaknya para penggemar deh. Dari mana juga dapat nomor ku. Padahal nomorku tidak aku publikasikan.
“ saya Prima, kamu dimana sekarang, bisa anterin buku tadi gak, saya butuh buku itu sekarang?”
Oh tuhannnn, laki-laki idaman yang sejak tadi di hayalkan menelponku, aku jadi sumringah sendiri.
“ oh iya pak, nanti siska antar, sekarang siska lagi ngerjain tugas dari bapak tadi.” Aku ubah nada suaraku semerdu yang aku bisa.
“ pending aja dulu, saya butuh sekarang. Kamu lagi sama siapa?” tanya nya.
“ sendiri pak.”
“ tolong kamu anterin kerumah saya ya, nanti saya kasih alamatnya. Gak jauh dari kampus. Kamu ada motor?”  tanya beliau lagi.
“ ada pak. Iya siska antar bukunya sekarang. Smsin aja alamatnya.” Sambungku. Ini salah satu kesempatan bisa kerumah pak Prima. Aku jadi kegirangan. Dalam waktu lima menit aku sudah keluar kampus dan mengarah kerumahnya.
Alamatnya mengarah kedaerah belakang kampus. Tidak begitu jauh dari kostku, mungkin sekitar 500 meter paling jauh. Ia tinggal di sebuah rumah bergaya kuno, pagar besi warna hijau. Ada halaman yang lumayan luas di sebelah kanan rumah. Sebuah pohon alpukat yang rindang tumbuh disana, dengan ayunan terbuat dari ban mobil tergantung di salah satu dahannya. Aku dorong pagarnya, tidak terkunci. Aku melangkah kedalam, dan meninggalkan motor terparkir diluar pagar. Dari depan pintu aku mencium aroma masakan yang sangat harum. Aku jadi lapar. Dan memang aku belum makan sudah sarapan. Aku ketuk pintunya.
Tok..tok..tok... Assalamualaikum....
Waalaikum salam...
 Ada sahutan dari dalam, suara pak Prima.
Berselang sepuluh detik gagang pintu bergerak, kepala pak Prima nongol. tidak ada suara langkah kaki yang terdengar ketika dia melangkah untuk membuka pintu tadi.
“ eh siska, ayo masuk”
Dia kembali kebelakang, meninggalkan ku sendiri diruang tamu. Dia mengenakan jeans biru gelap dengan atasan hanya singlet berwarna putih. Lekukuan otot-otot lengannya terlihat jelas. Ada garis jelas melingkar di lengan atasnya, garis yang membagi kulitnya menjadi putih dan coklat. Garis yang timbul karena sengatan matahari yang dibatasi oleh baju lengan pendek. Samar-samar ditutupi oleh singletnya ada bekas luka yang membentang dari pundak kiri bawah leher sampai ke lengan kiri atas tidak jauh dari lengan atas. Luka seperti bekas sayatan benda tajam.
Aku duduk di ruang tamu, aroma harum masakan itu semakin jelas, aroma itu berasal dari dapur pak prima. Kalau seandaikan suatu masakan hanya dinilai dari aromanya, mungkin masakan ini nilainya sembilan puluh sembilan. Atau aku hanya terlalu lapar, jadi masakan ini tercium sangat enak. Aku baru tahu kalau pak prima sudah punya istri. Istri yang pandai memasak.
“ maaf ya saya meminta kamu antar bukunya. Saya baru ingat kalau saya ada pekerjaan yang belum selesai.” Seru pak Prima dari belakang. Antar aku dan dia terhalang oleh lemari tua yang tinggi.
“ kamu pasti belum makan kan? Kebetulan saya lagi masak. Kita makan bersama aja.” Kepala pak Prima muncul dari balik dinding.
“ Bapak sedang masak?” aku bertanya, antara bertanya antara penegasan. Aku juga bingung.
“ iya saya sedang masak. Ini sudah hampir selesai, sini aja. Duduk di ruang tengah”
Aku bangkit, dan langsung masuk kedalam, enath apa yang ada dibenakku yang jelas aku masuk saj, tidak ada perasaan takut atau cemas. Tidak ada perasaan aneh bagi seorang gadis yang masuk kedalam rumah seorang laki-laki. Aku juga mau melihat istrinya.
Ruang tengahnya lumayan besar, ada sofa butut berwarna abu-bau kecoklatan dengan meja ditangahnya, menghadap sebuah TV cembung model lama berukuran lebih kurang 32 inci. Dari ruangan ini juga ada sebuah pintu keluar, mengarah kehalaman samping rumah. Aku melihat sekeliling, tidak ada foto atau pajangan, hanya ada sebuah jam dinding yang tidak lagi berfungsi. Jarum detik nya tidak lagi bergerak. Di samping sofa ada rak buku yang tidak terlalu besar. Penuh dengan buku-buku, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang seperti majalah. Di atas meja koran berbahasa Inggris, BBC News.
Aku duduk di sofa itu, memandang kearah pak prima. Dia sendirian, tidak ada istrinya disana. Antara ruang tengan dan dapur hanya dibatasi oleh dinding pembatas setinggi dada orang dewasa. Jadi aku bisa melihat dengan jelas dia yang bolak balik di dapur.
“ istri Bapak mana?” tanya ku sambil mencoba meraih koran yang tergeletak diatas meja.
Pak prima menoleh sebentar, kemudian tertawa.
“ ha.ha.ha, mana ada saya istri, saya belum laku.”
“jadi bapak sendiri yang masak?” lanjutku lagi
“ iya lah, emang sisca bisa liat dari tadi ada orang yang membantu saya masak?” pak prima mengambil beberapa piring kemudian kembali kearah kompor. Kemudian menghidangkannya diatas dinding pembatas, dinding itu ternyata juga berfungsi sebagi meja makan.
“ ayo kita makan dulu, kamu pasti belum makan.” Sambung pak Prima.
Aku belum beranjak dari sofa, aku bingung harus bagaimana, satu sis aku memang udah lapar, satu sisi aku juga malu kalau harus makan berdua dengannya, baru kenal, dia juga dosenku.
“ ayolah, masakan saya enak loh. Nyesal loh kalau kamu tidak makan.” Sambungnya lagi. Dia melangkah ke kamarnya, tidak lama dia keluar lagi. Sekarang sudah pakai baju kaos oblong.
Aku bangkit dari sofa dan bergerak kearah meja makan. Ada tiga buah kursi tinggi tanpa sandaran. Aku duduk di tengah, kursi yang berwarna biru muda. Dinding pembatas ini lumayan lebar, mungkin satu meter lebarnya. Sangat pas menjadi meja makan. Lokasinya juga tepat. Di atas meja ini ada Ayam yang dibaluri sambal berwarna merah, sup dengan sayuran dan sesuatu berwarna putih. Aku tidak tahu apa.
“ ayo makan, gak usah malu-malu.” Ujar pak prima yang sekarang sudah duduk di seberang meja. Menghadap kearahku.
Suapan pertama membuat ku kaget, ini masakan enak sekali, lebih enak dari masakan ibuku atau rumah makan manapun yang pernah ku coba. Pedasnya pas, aroma nya juga luar biasa. Aku coba supnya, enak dan yang putih-putih ini bikinku penasaran.
“ ini apa pak?” tanya ku sambil mengangkat benda itu di atas sendok.
“ itu namanya kulit tahu, kamu belum pernah makan itu ya?” jawab pak Prima sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. senyuman nya juga membuat kewanitaanku jadi basah. ada yang mengalir dari dalam tanpa di perintah...
BERSAMBUNG.....

Monday, April 18, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VIII



Tanpa sadar aku mendesah perlahan. Jempol tangan kanan reno nyaris menyentuh puting payudara kiriku. Tangan kirinya makin menekan kedalam, menekan pinggangku semakin menempel dengannya. Ganjalan penisnya yang menegang makin terasa jelas menggesek-gesek naik turun.
Ini tidak bisa di biarkan
Suara yang muncul dari dalam batinku membuat tanganku menarik tangan reno lepas dari kegiatannya yang terus berusaha menembus semakin tinggi. Aku tarik tangannya dan ku turunkan. Tidak ada rasa perlawanan dari reno. tangan kanannya kembali memeluk perutku. Tangan kirinya masih berada di bawah.
“ Rambut kakak wangi ya?” ucap reno pelan dan sangat dekat dengan telinga kananku. Hembusan nafasnya terasa hangat menerpa leher. Bulu-bulu halus yang ada di leher terasa berdiri. Geli sekali.
Cup..
Aku merasakan ada benda hangat dan lembab yang menempel antara bahu kanan dan leherku. Reno mengecupkan bibirnya ke leherku. Oh,,, aku merasa makin lunglai. Aku makin terangsang dengan perbuatannya. Tanpa sadar aku menggerakkan kepala mencondong ke kiri dan membuka ruang makin luas bagi reno untuk menyerang. Tapi aku tidak berusaha menghentikan serangannya.
Tindakan ini sepertinya di tangkap reno sebagai angin sejuk. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati leherku dari pundak hingga kebelakang leher. Uugghhhhh. Aku kembali mendesah. Dan desahan kali ini makin kuat.
“ Adeekkkkk, jangan gitu ah, kakak geli” Ujarku pelan. Tanpa sadar tangan kananku bergerak dan meremas tangan kanannya yang sedari tadi memeluk perutku.
Perlahan tangan kanan reno kembali naik, pergerakannya cepat, jauh lebih cepat dari tadi. Hanya dalam hitungan detik jempolnya sudah kembali menelusup kedalam BH ku. Hampir mengena putingku meskipun masih di batasi oleh baju.
Ughhh....
Aku kembali mendesah, jempol reno sudah menyentuh putingku. Putingku mengeras dengan sangat cepat. Ada gelombang aneh yang kurasakan dari putingku menyebar hingga keseluruh tubuhku. Gelombang ini membuatku makin tidak kuat untuk berdiri. Sekarang aku makin menyandarkan tubuhku ke tubuh reno. jempol tangan kanan reno berputar-puar di sekitar aerola payudara kananku, dan dalam ritme tertentu menyentuh putingnya. Tidak ada lagi kepura-puraan atau seolah-olah ketidak sengajaan yang dilakukan oleh reno. gerakannya sudah semakin jelas. Gerakan pinggulnya mengesek kepantatku pun makin terasa dan makin lama makin cepat.
Telunjuk tangan kanannya sekarang menelusup kedalam, melalui celah diantara dua kancing seragam sekolah yang ku kenakan. Aku mengenakan tanktop di dalam, jadi jari telinjuk nya masih tidak bersentuhan langsung ke kulit payudara ku. Dan dalam waktu singkat jari telunjuknya sudah menyentuh puting kiri. Jempol kanan memainkan pting kanan, telunjukknya memainkan puting kiri. Tangan kiri reno makin turun kebawah, dan sekarang tepat mengelus vaginaku dari luar.
Aaghhh.....
Aku kembali mendesah perlahan, tidak ada lagi obrlan yang keluar dari mulut kami, kami sudah sibuk berenang dalam birahi masing-masing. Birahi yang sangat tidak etis. Hujan mulai reda dan hanya berupa rintik-rintik hujan, tapi masing-masing dari kami masih bersikap seolah-olah tidak mau tahu dan tidak mau mengakhiri kegiatan erotis yang sedang berlangsung.
Reno sekarang sudah tidak malu-malu lagi menggesekan penisnya ke pantatku, dan bahkan sedikit mendorong. Beberapa kali aku harus melangkah pijakan kedepan untuk bertahan dari dorongannya. Sampai tangan kananku sekarang harus memegang kusen pintu ponok untuk bertahan. Tangan kiri reno yang awalnya hanya mengelus pelan vaginaku dari luar rok dengan satu jari, sekrang sudah mengelus ke kiri dan kekanan dengan keempat jarinya. Kata mengusap mungkin lebih tepat. Sensasi ini makin membuat ku melayang. Ingin rasanya kau mendesah sekuatnya.
HEI.. NGAPAIN KALIAN !!!
Kami berdua kaget dan langsung melepaskan diri. Tangan reno juga langsung melepaskan pelukannya. Selang 5 meter di depan kami ada mamang pedagang siomai lewat dari arah belakang pondok. Berjalan kearah depan jalan. Dia menoleh kepada kami dengan tatapan garang.
“ kami berteduh kehujanan pak” jawab Reno. nada suaranya tenang, tidak ada nada kecemasan dalam suaranya. Sedangkan aku sudah gemetar ketakutan. Suaraku serasa tertahan di tenggorokan.
“ alah, dasar kalian mau pacaran aja di pondok sana. Ni hujan udah berenti, pulang sono. Ganti seragamnya. Pamit sama orang tua dulu kalau mau pergi pacaran.” Lanjut mamang siomai
Reno mengambil serangamnya yang tadi tergantung di pintu pondok. Mengibas-mingabskan sebentar dan mengenakan nya kembali.
“ ayo pulang” ajak reno, wajahnya dingin, dia mengatakan itu tanpa menoleh kearahku, dan langsung aja berjalan kearah motor yang terparkir di pinggir jalan. Aku pun mengikutinya. Mamang siomai juga mulai kembali bergerak. Tidak lama reno menyalakan motornya dan aku sudah berada di boncengan. Mamang siomai sudah mendekati kami lagi.
“ kalian kalau tidak ketahuan saya pasti mau berbuat mesum di pondok tadi kan?” tanya mamang siomai sambil berusaha mendorong gerobaknya melewati pembatas trotoar jalan.
Aku menoleh kebelakang, suaraku kembali.
“ dia adik saya mang, bukan pacar” jawabku sambil senyum kuda.
Reno mengegas motornya, dan meninggalkan mamang siomai yang mentap kami dengan mulut terganga...

Wednesday, February 3, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IV



Bel berbunyi, dua jam pelajaran pertama, pelajaran bahasa inggris sudah selesai. Saatnya belajar fisika. Teman-temanku mulai heboh, cemas dan ketakutan. Aura mencekam langsung menyelimuti kelas. Kami langsung mengeluarkan buku PR. Berusaha membahas jawabannya. Aku dan geng ku, Iren, Lita dan zi membuka pr kami. Lita sebagai yang paling pintar di antara kami berusaha mengoreksi jawaban PR kami. Berusaha membantu semampunya. Dia kaget ketika membuka PR ku. Dan melihat punya nya.
“ panjang amat jawaban loe sis, gimana cara kamu ngerjainya?” tanya Lita
Aku Cuma cengir-cengir kuda dengan pertanyaan lita, aku juga bingung mau jawab apa.
“ aku gak kepikiran loh untuk mengerjakan seperti ini. Kamu dapat ilham dari mana?” kejar Lita lagi. Kedua teman ku yang lain juga memandangiku dengan penuh selidik. Penuh tanda tanya
“ hehe, yang ngerjainnya Reno. Itu kan bukan tulisanku. Itu tulisan Reno. Aku ketiduran malam tadi pas minta tolong dia bantu ngerjain PR.” Jawab ku sambil cengengesan.
Mereka menatap ku dengan pandangan aneh. Mungkin aneh seorang kakak minta bantu menyelesaikan PR kepada adiknya.
“ sepertinya jawaban loe benar deh sis.” Sambung lita lagi. Dia amati setiap jawaban PR ku, dan di samakan dengan Prnya.
Mendengar perkataan Lita, aku bukannya senang malahan cemas, karena kebiasaan pak Lubis, siswa yang bisa menjawab dengan benar akan di suruh mengerjakan di papan tulis, menjelaskan ke seluruh teman kelas. Mungkin mimpi ku malam tadi akan terjadi. Jika memang jawaban ini benar, aku bisa saja menyalinnya ke papan tulis, tapi bagaimana cara menjelaskannya. Awalnya saja aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Kecemasan ku makin menjadi ketika pak Lubis sudah melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Seluruh kelas mendadak hening. Aura mencekam makin kuat terasa di seluruh penjuru kelas. Anak-anak berandal yang duduk di belakang ku biasanya super ribut juga hening. Suasana kelas lebih mencekam daripada kuburan.
“ kumpulkan PR kalian ke depan barisan masing-masing dan tukarkan seperti biasa” perintah pak lubis dengan aksen batak nya yang kental. Cara pak lubis mengoreksi hasil nya memang selalu seperti itu, setiap buku PR kami akan di kumpulkan di meja paling depan. Kemudian di tukarkan ke barisan berkelang satu dari barisan kami. Kami ada 4 baris, aku di barisan ke empat, berarti akan di tukar ke barisan ke dua. Barisan satu di tukar kebarisan ketiga. Begitu juga sebalikkanya.
Buku sudah di bagikan, kami sudah tidak lagi memegang buku kami masing-masing. Tidak ada yang tahu siapa yang mengoreksinya.. Semoga saja jawabanku tidak terlalu mencolok. Cukuplah nilainya Rata-rata di antra semuanya. Agar tidak di suruh maju ke depan. Biasanya iklimah, Diah dan Harun yang selalu benar. Trio juara kelas kami. Pasti salah satu di antara mereka yang maju menjelaskan. aku memegang buku Iklimah dan jawabannya tidak sepanjang jawaban di PR ku. Aku makin cemas. Dalam hati aku berharap, semoga jawaban Iklimah yang benar, bukan jawaban Reno.
Pak lubis menuliskan angka satu, dua dan tiga. Dan menuliskan hasil akhir dari ketiga PR kami. Hanya jawabannya saja. Tidak dengan penguraian nya.
“ ini jawaban atas PR kalian minggu lalu, angkat tangan siapa di antara kaliah yang  mengoreksi jawaban yang benar. Sebut kan nama temanmu itu?” suara berat pak lubis mulai mengudara.
Satu orang mengangkat tangan. Septi.
“ Punya diah pak, benar satu jawaban nomor 3. Yang lain salah”
Aku lihat jawaban iklimah yang aku koreksi. Nomor 3 benar, nomor 2 salah nomor satu salah. Aku lihat liza  mengangkat tangan.
“ Harun Benar satu pak, nomor 3.”
aku mengangkat tangan
“Iklimah juga benar satu pak. Nomor 3.”
Ya memang mereka yang selalu mengudara namanya, meskipun hanya benar satu tapi tetap lebih unggul dari yang lain. Dan mereka hanya benar nomor 3. Tidak dengan nomor  lain. Ada satu tangan lagi yang terangkat. Karim.
“ Wah yang ini benar semua pak.” Ucap Karim setengah berteriak kaget. Seisi kelas juga kaget dan langsung memandang ke arah Karim.
“ ini punya........” sambung karim lagi tapi kalimatnya masih menggantung, dia membalikkan buku yang dia pegang. Mau melihat nama siapa yang tertera di depan. Nama empu sang buku kebenaran. Mata karim langsung membelalak ketika membaca namanya, dia melihat kearah pak Lubis dengan tatapan nanar seolah tidak percaya. Seisi kelas juga tegang menunggu karim menyebutkan nama anak jenius baru yang mampu menyelesaikan PR fisika pak lubis. Nafasku jadi sesak, siapa dia, batinku.
“punya siapa karim?” Tanya pak Lubis
“ ini punya Siska pak!”
HAH....... seluruh kelas kompak mengatakan kata yang sama, kemudian memandangku. Beribu pertanyaan seolah terpancar dari tatapan mereka. Siska, seorang anak yang hanya bisa bersolek sekarang mendadak menjadi jenius sains. Selama ini hanya berada di peringkat biasa-biasa saja menjadi yang terdepan. Biasanya kalau semua salah ikut salah, semua sedang ikut sedang, semua benar baru ikut benar. Tidak pernah mencolok.  Teman ku sendiri juga memandangku dengan kaget. Tapi mereka tahu bahwa itu bukan hasilku, dan aku sekarang dalam masalah besar. Keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori kulitku. Tangan dan lututku gemetar, seolah mengahadapi putusan eksekusi mati. Wajah ku pucat pasi.
“ siapa lagi yang benar?” tanya pak lubis. Dan seluruh kelas hening. Keheningan yang menobatkan ku sebagai pemenang pertama.
“ siska, maju kedapan, tulis jawaban mu dan jelas kan ke teman-teman?” perintah pak lubis.
Aku bingung luar biasa, kaki ku terasa berat sekali untuk melangkah. Serasa ada beban 1 ton menggantung di kaki. Ruangan kelas terasa mengecil, aku berharap ada pahlawan yang menahanku dan menyelamatkan ku dari masalah ini. Tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan pahlawan tersebut, dengan terpaksa aku bangkit. Aku berjalan ke arah karim mengambil buku ku. Diringi oleh tatapan kecurigaan dari seluruh kelas. Curiga bagaimana aku bisa berubah mendadak pintar. Aku berjalan kepapan tulis dan mengambil spidol yang ada di meja pak lubis. Sekarang Aku sudah menghadap papan tulis dengan spidol di tangan tanpa tahu apa yang harus di lakukan. Oh tuhan, Aku berharap mimpi malam tadi menjadi kenyataan. Tanganku bergerak dengan sendirinya. Tapi tanganku tetap tidak bergerak. Tidak bertindak sendiri. Dinding-dinding kelas yang berwarna orange serasa menjadi gelap. Suasana sangat hening. Hanya terdengar suara detik jarum jam yang bergerak, detik jam dinding menempel di belakang kelas.
Aku buka buku PR ku dan mulai menyalin tulisan Reno di buku PR ke papan tulis. Aku berusaha menyalinnya sama persis. Jarak, spasi, huruf dan tanda baca. Aku berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan. Rumus-rumus dan keterangan. Jawaban soal pertama sudah aku salin tanpa hambatan yang berarti, meskipun keringat dingin terus menucur di dahi. Sekarang aku mulai menuliskan jawaban untuk soal kedua.
“ berhenti dulu siska, coba kamu jelaskan ke teman mu bagaimana cara penyelesaian nya?”
Aku memutar badanku dan menatap pak lubis, tidak ada tatapan penuh kekaguman di wajahnya seperti mimpi malam tadi.  Yang ada hanya tatapan penuh selidik, tatapan yang sama dengan tatapan seluruh teman-teman yang lain. Aku terdiam, aku tundukkan wajah dan menatap buku PR di tangan. Aku tidak berani mengangkat wajah dan menatap mereka. Lidah ku kelu dan kaku. Aku lupa caranya berbicara.
Oh tuhan, bimbing lidahku seperti mimpi malam tadi. Apa yang harus aku jelaskan ke mereka. Batinku menjerit, aku merasa takut, aku juga merasa kesal kenapa otak ini begitu bodoh. Tidak mudah menangkap pelajaran yang di berikan. Kenapa otak encer itu hanya di turunkan ke Reno, tidak kepadaku juga. Bukankah kami satu genetik, satu kandungan dan berasal dari benih yang sama.
“ Ayo siska, jelaskan kepada teman-temanmu?” Perintah pak lubis
“e.....” aku hanya berguman singkat, kemudian hening, bingung mau berkata apa. Aku tidak tahu dari mana harus memulai.
“ayo jelaskan, jawaban yang kau tuliskan itu benar. Sekarang saya mau dengar bagaimana kau bisa menyelesaikan soal itu. Dari empat kelas yang saya berikan tiga soal itu. Hanya kau yang benar semua.” Jelas Pak lubis. Fakta bahwa aku sendiri yang benar membuat nyaliku makin ciut.
“ Ayo siska, mungkin kau adalah anak jenius yang selama ini menyembunyikan kemampuan?” Pak Lubis mulai meledek. Dan terdengar tawa dari seisi kelas.
Aku makin bingung harus menjawab apa, ledekan pak lubis barusan membuatku serasa ingin menangis.
“ saya jadi curiga jangan-jangan bukan kau yang mengerjakan PR itu, iya kan?” selidik Pak Lubis lagi setangah membentak. Suaranya berat. Aksen bataknya makin kentara
“ coba saya lihat Buku PR mu?” pak lubis melangkah mendekat dan mengambil buku dari tanganku. Lebih tepatnya merampas. Aku masih tertunduk tidak berani menatapnya.
“ benarkan, ini bukan tulisan mu, tulisan tangan ini berbeda dengan tulisan tangan di lembar-lembar sebelumnya.” Gumam pak lubis sambil membolak-balikkan halam per halaman. Menyocokkan tulisan tangan yang ada disana.
Hancurlah aku, aku akan menjadi bahan ejekan seumur hidup lagi. Terasa air mataku mulai berlinang, aku makin tidak berani mengangkat kepala.
“ siapa yang mengerjakan ini?” Tanya pak lubis
Aku masih diam seribu bahasa, tidak tahu harus menjawab apa. Jujur salah berbohong salah.
“ saya kenal tulisan itu pak!” terdengar sahutan dari tengah kelas, Itu suara karim. Yang mengoreksi PR ku tadi
“ itu tulisannya Reno, adik siska.” 
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)