ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label cerita nyata seks sedarah. Show all posts
Showing posts with label cerita nyata seks sedarah. Show all posts

Friday, February 19, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VI



AWAL PERISTIWA TABU 

Ingatanku masih berpetualang di masa lalu. Masih seputar Reno. setelah aksi penyelamatan yang Reno lakukan di kelas ku, Reno menjadi Juara Olimpiade tingkat provinsi dan akan berangkat ke bali untuk mengikuti olimpiade tingkat nasional. Ketika upacara bendera hari senin,  nama reno di elu-elukan oleh kepsek dan di ikuti seluruh siswa. Reno di undang kedepan untuk menyampaikan pidatosingkat.
“ Terima kasih atas kesempatannya. Saya bisa menjadi juara Olimpiade sain ini bukan semata-mata karena saya hebat dan cerdas. Ada begitu banyak orang yang mendukung keberhasilan saya. Pak Lubis dan Bu Lira yang menjadi mentor saya dan mengajarkan trik-trik hebat yang sangat membantu, pak Kepala sekolah, guru kelas saya, teman-teman yang saling bahu membahu membantu saya untuk tetap bisa fokus pada perlombaan. Tak lupa saya sampaikan terima kasih kepada kedua orang tua saya, meskipun sekarang mereka gak bisa dengar. Hehe” canda gurau di antara pidatonya membuat suasana jadi pecah, tidak terlalu kaku. Meskipun demikian Semua mata masih tertuju kepada Reno. terik matahari yang mulai meninggi tanpaknya tidak tertlalu dipedulikan oleh segenap peserta Upacara hari itu.
“tak lupa saya sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk seseorang yang tanpa dia sadari dia sangat membantu saya hingga hari ini, membantu mempersiapkan fasilitas-fasilitas yang sering tidak saya sadari dan dukungan moril yang penuh sehingga saya bisa mengikuti perlombaan dengan santai dan tenang. Memang kesannya sepele, seperti, buatin susu, rautin pensil, beliin nasi goreng, menyetrikankan baju seragam, benerin dasi. Tapi,  Kalau baju saya kusut, saya jadi tidak PD ketika mengikuti perlombaan, toh mungkin hasil yang saya kerjakan tidak bakalan maksimal. Jadi terimakasih sekali lagi untuk kakak saya yang baik dan cantik jelita. Kakak yang sangat saya sayangi. Kak siska.” Reno menjulurkan tangannya dari atas podium dan menunjuk tepat ke arahku diiringi dengan suara tepuk tangan yang membahana. Sekarang semua mata berpindah menatapku. Aku jadi malu sendiri.
.....
Hari sudah menujukkan pukul 4 sore, hari ini aku pulang agak sore karena harus mengikuti Les persiapan Ujian nasional. Aku keluar kelas. Aku lihat Reno sedang duduk dengan beberapa temannya. 2 cowok dan 4 cewek. Seperti semut yang mengerumbungi Gula. Ada kesan kalau yang cewek terus mendesak reno dengan sesuatu yang aku tidak tahu. Bahasa tubuh reno yang sedikit mencondong kebelakang menjunjukkan dia ingin segera lari dari sana.
“ Reno !!!” Teriakku dari kelas
Reno melihat kearahku dan langsung bangkit, bercakap sebentar dengan temannya dan langsung berlari ke arahku. Reno sudah tidak mengenakan seragam sekolah lagi, dia mengenakan T-Shirt berwarna abu-abu dengan celana jeans biru pendek setengah tiang. Anak kelas satu memang sudah pulang dari jam 1 siang tadi.
“ kamu sengaja jemput kakak?” tanyaku ketika Reno sudah sampai di hadapanku.
“ kami hari ini ada pertemuan tapak suci, gak lama juga bubarnya. Jadi aku sekalian aja nungguin kakak.” Jawab reno
“ ih, adek kakak baik banget” ujarku sambil mencubit pipinya. Kemudian reno aku gandeng dan berjalan ke parkiran. Sorot mata kecemburuan terpancar dari mata beberapa siswi cewek yang melihat kami.
“ oh iya dek, bisa anterin kakak kerumah miska bentar gak? Kakak mau ambil buku panduan Matematika kakak. Kami ada PR besok dia sakit. Gak masuk.”
“ emang rumahnya dimana?”
“ Plaju.” Jawabku singkat sambil naik ke boncengan. Tak lama kami sudah meluncur kesana.
Sesampai disana aku hanya basa basi singkat dengan miska, menayakan kabarnya, sakit apa dan kapan bisa masuk sekolah lagi. Kemudian pamit karena hari mau hujan. Aku juga tidak nyaman melihat Miska yang sering curi pandang ke arah Reno. dan juga pakaian Miska yang agak terbuka, reno juga terlihat sedikit salah tingkah. Sesekali terlihat reno melihat ke arah dada miska ketika miska menyodorkan air minum. Buah dadanya terlihat dengan jelas. Aku pun menyegerakan pamit. Alasan takut kehujanan.
Perjalanan menuju rumah miska agak jauh dan melewati beberapa perkebunan. Rintik hujan mulai terasa menetes satu persatu. Awan hitam sudah berkumpul diatas kepala. Hanya dalam hitungan detik butir-butir hujan sudah terasa ebesar biji jagung, dan makin lama makin deras. Reno memacu sepeda motornya berharap bisa melewati hujan, tapi makin lama makin deras. Tidak ada rumah warga di sekitar kami, kami sedang berada di tengah perkebunan salak yang cukup luas.
“ kita berteduh dulu kak” Teriak reno dan langsung megarahkan motornya ke pinggir kiri jalan. Sedikit masuk dari jalan raya ada sebuah pondok kecil dengan atap seng yang sudah karatan. Seperti pondok tempat jualan yang sudah tidak digunakan lagi. Reno memarkirkan motornya persis didepan pondok, aku langsung masuk ke dalam. Pondok ini berdinding anyaman bambu di bagian belakang, ada pintu kecil dan jendela yang bisa di buka jika diangkat keatas. Ada sebuah dipan yang juga terbuat dari bambu di dalam pondok, bangku kayu di bagian luar. Sayangnya atap teras pondok ini sudah banyak bolong, jadi kami harus berteduh di dalam pondok. Kami hanya berdiri di pintu pondok, tidak benar-benar masuk kedalam. Reno membuka bajunya agar bisa di peras. Bajunya sudah lumayan basah. Sedangkan bajuku hanya basah sedikit karena tadi aku berlindung di belakang tubuh reno. reno menggantungkan bajunya di atas pintu pondok dan sekarang berdiri di depanku. Dada reno sudah mulai bidang dan berbentuk. Usianya yang masih 16 tahun memang sedang dalam pertumbuhan yang sangat pesat. Otot perutnya juga sudah mulai kelihatan. Sebentar lagi Reno bakal menjadi pria dewasa yang macho.
DUARRRRRRR

DILEMA CINTA SIMALAKAMA V



“ itu tulisannya Reno, adik siska.”
DUUARRRR, aku bagai tersambar petir di siang bolong, petir berkekuatan sejuta volt dan menyambar tepat kejantungku, bagaimana karim bisa tahu. Sedangkan dia tidak mendengar apa yang katakan dengan Lita tadi. Tempat duduk kami berjauhan dan aku mengatakan dengan suara pelan. Aku angkat kepalaku dan menatap karim. Dia hanya tersenyum, senyuman kemenangan.
“ Reno yang menulis janji pesilat di ekstrakulikuler kami, di tulis dengan tulisan tangan dan di kopikan. Aku jadi hafal sama bentuk tulisannya. Dia juga pinter pak? Wajar kalau bisa menyelesaikan soal itu. Beda sama kakaknya. Hahaha” terang Karim panjang Lebar
“ Benar Itu siska?” Bentak pak Lubis
Aku kembali menunduk, aku menatap lantai, menghitung pasir di dekat kaki ku. Berusaha mengalihkan pikiranku dari pertanyaan pak Lubis.
“ Jawab saya siska? Apa kau sudah lupa cara bicara juga sekarang?” Lanjut pak Lubis
Suasana kelas kembali hening dan mencekam, tidak ada gunanya aku terus mematung dan jadi tontonan seluruh kelas karena kebodohanku. Aku harus hadapi ini.
“ benar pak” jawabku pelan.
“ Sekolah di mana adik mu?” lanjut pak Lubis
Kok nanya sekolah dimana? Bukanya tadi karim mengatakan kalau dia dan adikku satu ekskul, ya otomatis sekolah disini lah. Bego juga ni orang ya. Maki ku dalam hati.
“ sekolah di sini pak.” Jawabku pelan lagi. Bahkan pak lubis pun harus memasang telinganya untuk mendengarkan suaraku ini.
“itu orangnya pak, barusan lewat?” Teriak karim memecahkan keheningan. Anak bandel itu mau bikin aku makin tersudut.
Aku menoleh kearah pintu, memang terdengar suara beberapa siswa yang melintas di kelasku, sepertinya mereka mau keruangan seni di ujung koridor. Dan beberapa orang siswa yang lewat memang teman sekelas reno. Matilah aku, aku merasa bakal di telanjangi di muka umum.
“ Panggil dia?” perintah Pak Lubis.
Karim dengan sigap langsung keluar kelas. Berusaha memanggil adikku yang sudah melewati kelas kami. Sayup terdengar suara karim yang memanggilmanggil nama Reno. Aku menanti dengan cemas. Apa yang akan terjadi berikutnya.
Langkah kaki terdengar mendekati kelas, karim masuk sambil cengengesan. Dibelakangnya ada Reno. Reno masuk ke kelas, dan melihat ke arah ku sekilas yang masih berdiri diatas panggung kecil di bawah papan tulis.
“Kamu adik nya siska?” Pak lubis memulai interogasinya
“benar pak” jawab Reno santai
“ Kau kelas Berapa?”
“ saya kelas sepuluh A”
“ benar kamu yang mengerjakan ini?” lanjut pak Lubis sambil menyodorkan buku PR fisika ku ke pada nya. reno menerima buku tersebut, tapi tidak langsung menjawab pertanyaan pak lubis. Dia menatap ku. Tatapannya meminta bantuan jawaban. Jawaban untuk membelaku. Aku menggangguk pelan. Bibirku bergerak tanpa suara. Bahasa bibirku mengatakan bilang aja
Reno menghela nafas, dan menatap pak Lubis lagi.
“iya pak, saya yang mengerjakan. Malam tadi kak siska bilang dia kurang sehat, tapi dia masih berusaha mengerjakan PR nya. jadi dia sudah ketiduran sebelum bisa menyalin hasil nya ke buku Ini. Dia baru mengerjakan di kertas buram. Jadi saya Cuma menyalin hasil kerjaan kakak saya dari ekrtas buram ke buku ini.” Jelas Reno yang masih berusaha berbohong untuk membela ku.
“ hahaha begitu ya?” tawa pak lubis.
“ baiklah, sekarang masalah nya begini. Saya dan kakak kau berbeda pendapat, saya mengatakan bahwa jawaban ini salah. Sedangkan kakak kau mengatakan kalau jawabannya benar. Sampai sekarang kami belum sependapat tentang cara penurunan rumus itu. Coba kau katakan ke kakak kau ini kalau jawaban itu salah. Biar dia mengerti.”
Reno mengernyitkan keningnya, kemudian menatap tulisannku di papan tulis. Tak lama dia berbalik lagi ke arah pak Lubis.
“ saya rasa ini jawabannya benar pak?” Balas reno sengit,
“ Aduh, sama saja kau dan kakak kau ini. Coba jelaskan dimana benarnya?” Ada senyum simpul di bibirnya yang berusaha di tanah oleh pak lubis.
Sigap reno ambil spidol hitam yang terletak diatas meja, kemudian berbalik kepapan tulis. Buku PR ku tidak di pegangnya lagi. Reno melingkari beberapa rumus dan kemudian berbalik.
“ dalam soal ini yang di ketahui hanya berapa nilai gravitasi bumi dan bulan, sedangkan yang ditanyakan adalah pada jarak berapa besar gravitasi ini bernilai 0. Ada banyak masalah jika hanya melihat dari data dasar yang ada di soal ini. Dalam hukum newton 1 adalah semua benda yang bergerak akan terus bergerak, dan semua benda yang diam akan terus diam hingga ada gaya lain yang mempengaruhinya. Dengan demikian bahwa bisa diasumsikan masalah ini kedalam hukum newton1. Sigma f samadengan nol. nilai f atau gaya bisa kita ketahui dengan mengalikan nilai konstanta gravitasi dengan masa dibagi oleh jarak. Makanya disini dituliskan diketahui adalah nilai gravitasi, yang memang itu nilai konstanta. Ditanya jarak berapa gravitasi bernilai 0. Maksudnya benda yang berada pada jarak tersebut tidak tertarik kebumi dan tidak di tarik ke bulan. Kita ibaratkan dengan gambar ini.” Reno kemudian menggambakan sesuatu di papan tulis. Di mataku itu hanya berupa lingkaran besar dan lingkaran kecil yang ditenganya ada titik dan tanda panah. Aku lihat pak lubis dan teman-tamanku yang lain fokus mendengarkan penjelasan Reno.
“oke, anggap lingkaran ini adalah bumi, kita beri simbol satu dan lingkaran yang ini adalah bulan kita beri simbol 3, titik ini adalah partikel uji kita beri simbol 2. Titik inilah yang mau kita ketahui berada di posisi mana dia agar bisa berada di gravitasi nol” lanjut reno sambil meberikan penegasan-peneagasan pada gambal yang dia bikin.
“ agar resultan gaya gravitasi pada partikel uji bernilai nol, maka besar grafitasi bumi pada partikel uji harus sama dengan besar gaya gravitasi bulan pada partikel uji. Dan kedua gaya berlawanan arah. Seperti di simbolkan oleh kedua panah ini.” Intonasi suara reno meninggi di kata HARUS SAMA.
“ jadi kita bisa memasukkan nya ke dalam rumus, F atau gaya gravitasi sama dengan G atau nilai kontanta di kali massa satu dikali massa dua dibagi jarak” Reno mencoretkan sesuatu di sebalah tulisan rumusku di papan tulis. Tulisan buta yang kubuat tanpa tahu makna dari goresan tinta tersebut.
“ dengan asumsi sigma f sama dengan nol, maka f  satu dikurang f 2 sama dengan nol. atau dalam matematika nya f1 sama dengan f dua. Kita turunkan rumusnya ke rumus di atas. F adalah g dikali m1m2 per x begitu juga dengan f 2. “ kemudia reno menulisakan rumus yang panjang luar biasa dan sambil mengoceh dengan kata-kata alien yang tidak aku pahami. Mungkin hanya segelintir orang di kelas ini yang mengerti apa yang reno katakan.
“ sehingga kita bisa mendapatkan x1 adalah enampuluh juta empatratus tujuh puluh dua ribu empat ratus tujuh puluh delapan koma enam meter. ” Reno berbalik dan mengambil buku PR ku yang tadi berada di meja pak Lubis.
“ dan nilai ini sama dengan nilai yang di tuliskan oleh kak siska di buku ini begitu juga yang dia tuliskan di papan tulis, hanya saja di tuliskan dalam penyelesaian yang lebih sederhana.” Ujar Reno bijak sambil memperlihatkan buku PR ke kehadapan pak Lubis. Pak lubis mengambil buku itu, menatapnya sebentar kemudian menatap papan tulis.
Plok...plok...plok...
Pak Lubis bertepuk tangan, tak lama di ikuti oleh seluruh teman-temanku di dalam kelas. Aku bingung, dan mimik wajah Reno juga menunjukkan kebingungan. Dia menatap kearahku.
“ Hebat kau, hebat.” Tutur pak lubis
“ kau tahu, ini hanya pancingan saya, saya dan kakak kau ini dari tadi tidak pernah berdebat, dan ssaya tidak mengatakan kalau jawaban dia salah. saya sudah memberikan soal ini ke 3 kelas, dan hanya kakak kau ini yang benar semua, sayangnya ketika saya suruh dia mengerjakannya dan menjelaskannya di depan, Dia menjadi diam seribu bahasa, dan ternyata yang mengerjakannya adalah orang lain. Saya juga tidak yakin kalau kau yang mengerjakan ini seperti kata karim. Makanya ku pancing kau agar mau menjelaskan hasil nya. kalau saya suruh langsung kau pasti menolak, dan terus membela kakak mu seperti tadi.” Lanjut pak lubis. Dia berbicara sambil mukanya di maju-majukan ke arah Reno. reno jadi kelihat seperti terdesak.
“ tak ku sangka tak kuduga, ada berlian juga di sekolah ini. Hebat kau..kau hebat” puji pak Lubis dengan logat batak nya yang semakin kental. Di rangkulnya pundak reno dan di hadapkan ke seluruh kelas.
“ Ini adalah salah satu bukti bahwa fisika itu mudah, bisa dipahami oleh semua orang, asal kita menyukainya. Kalian semua kalau bisa contoh anak ini, meskipun baru kelas satu bisa mengerjakan soal kelas tiga. Contoh dia, jangan contoh kakaknya yang Cuma pandai bersolek saja”
Tawa pecah dikelasku, tawa ejekan yang di utarakan untuk ku, dan senyum kebanggaan untuk Reno. selalu seperti ini
“ tapi jangan salah pak, kakak ku ini suara nya sangat bagus, meskipun dia tidak bisa fisika, tapi kalau menyanyi dia bisa di sandingkan dengan Bunga citra lestari. Bukankah Aku kalau ada tugas kesenian selalu minta bantuan dia. kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.”
Jawaban Reno barusan sejenak mampu menghilangkan tawa ejekan di wajah pak Lubis. Dia jadi menatapku dan kembali metapa Reno.
“ Selain pintar, bijak juga kau ini. Memang langit bumi lah kalian berdua. Hahhaa” pak lubis kembali tertawa. 

Wednesday, February 3, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IV



Bel berbunyi, dua jam pelajaran pertama, pelajaran bahasa inggris sudah selesai. Saatnya belajar fisika. Teman-temanku mulai heboh, cemas dan ketakutan. Aura mencekam langsung menyelimuti kelas. Kami langsung mengeluarkan buku PR. Berusaha membahas jawabannya. Aku dan geng ku, Iren, Lita dan zi membuka pr kami. Lita sebagai yang paling pintar di antara kami berusaha mengoreksi jawaban PR kami. Berusaha membantu semampunya. Dia kaget ketika membuka PR ku. Dan melihat punya nya.
“ panjang amat jawaban loe sis, gimana cara kamu ngerjainya?” tanya Lita
Aku Cuma cengir-cengir kuda dengan pertanyaan lita, aku juga bingung mau jawab apa.
“ aku gak kepikiran loh untuk mengerjakan seperti ini. Kamu dapat ilham dari mana?” kejar Lita lagi. Kedua teman ku yang lain juga memandangiku dengan penuh selidik. Penuh tanda tanya
“ hehe, yang ngerjainnya Reno. Itu kan bukan tulisanku. Itu tulisan Reno. Aku ketiduran malam tadi pas minta tolong dia bantu ngerjain PR.” Jawab ku sambil cengengesan.
Mereka menatap ku dengan pandangan aneh. Mungkin aneh seorang kakak minta bantu menyelesaikan PR kepada adiknya.
“ sepertinya jawaban loe benar deh sis.” Sambung lita lagi. Dia amati setiap jawaban PR ku, dan di samakan dengan Prnya.
Mendengar perkataan Lita, aku bukannya senang malahan cemas, karena kebiasaan pak Lubis, siswa yang bisa menjawab dengan benar akan di suruh mengerjakan di papan tulis, menjelaskan ke seluruh teman kelas. Mungkin mimpi ku malam tadi akan terjadi. Jika memang jawaban ini benar, aku bisa saja menyalinnya ke papan tulis, tapi bagaimana cara menjelaskannya. Awalnya saja aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Kecemasan ku makin menjadi ketika pak Lubis sudah melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Seluruh kelas mendadak hening. Aura mencekam makin kuat terasa di seluruh penjuru kelas. Anak-anak berandal yang duduk di belakang ku biasanya super ribut juga hening. Suasana kelas lebih mencekam daripada kuburan.
“ kumpulkan PR kalian ke depan barisan masing-masing dan tukarkan seperti biasa” perintah pak lubis dengan aksen batak nya yang kental. Cara pak lubis mengoreksi hasil nya memang selalu seperti itu, setiap buku PR kami akan di kumpulkan di meja paling depan. Kemudian di tukarkan ke barisan berkelang satu dari barisan kami. Kami ada 4 baris, aku di barisan ke empat, berarti akan di tukar ke barisan ke dua. Barisan satu di tukar kebarisan ketiga. Begitu juga sebalikkanya.
Buku sudah di bagikan, kami sudah tidak lagi memegang buku kami masing-masing. Tidak ada yang tahu siapa yang mengoreksinya.. Semoga saja jawabanku tidak terlalu mencolok. Cukuplah nilainya Rata-rata di antra semuanya. Agar tidak di suruh maju ke depan. Biasanya iklimah, Diah dan Harun yang selalu benar. Trio juara kelas kami. Pasti salah satu di antara mereka yang maju menjelaskan. aku memegang buku Iklimah dan jawabannya tidak sepanjang jawaban di PR ku. Aku makin cemas. Dalam hati aku berharap, semoga jawaban Iklimah yang benar, bukan jawaban Reno.
Pak lubis menuliskan angka satu, dua dan tiga. Dan menuliskan hasil akhir dari ketiga PR kami. Hanya jawabannya saja. Tidak dengan penguraian nya.
“ ini jawaban atas PR kalian minggu lalu, angkat tangan siapa di antara kaliah yang  mengoreksi jawaban yang benar. Sebut kan nama temanmu itu?” suara berat pak lubis mulai mengudara.
Satu orang mengangkat tangan. Septi.
“ Punya diah pak, benar satu jawaban nomor 3. Yang lain salah”
Aku lihat jawaban iklimah yang aku koreksi. Nomor 3 benar, nomor 2 salah nomor satu salah. Aku lihat liza  mengangkat tangan.
“ Harun Benar satu pak, nomor 3.”
aku mengangkat tangan
“Iklimah juga benar satu pak. Nomor 3.”
Ya memang mereka yang selalu mengudara namanya, meskipun hanya benar satu tapi tetap lebih unggul dari yang lain. Dan mereka hanya benar nomor 3. Tidak dengan nomor  lain. Ada satu tangan lagi yang terangkat. Karim.
“ Wah yang ini benar semua pak.” Ucap Karim setengah berteriak kaget. Seisi kelas juga kaget dan langsung memandang ke arah Karim.
“ ini punya........” sambung karim lagi tapi kalimatnya masih menggantung, dia membalikkan buku yang dia pegang. Mau melihat nama siapa yang tertera di depan. Nama empu sang buku kebenaran. Mata karim langsung membelalak ketika membaca namanya, dia melihat kearah pak Lubis dengan tatapan nanar seolah tidak percaya. Seisi kelas juga tegang menunggu karim menyebutkan nama anak jenius baru yang mampu menyelesaikan PR fisika pak lubis. Nafasku jadi sesak, siapa dia, batinku.
“punya siapa karim?” Tanya pak Lubis
“ ini punya Siska pak!”
HAH....... seluruh kelas kompak mengatakan kata yang sama, kemudian memandangku. Beribu pertanyaan seolah terpancar dari tatapan mereka. Siska, seorang anak yang hanya bisa bersolek sekarang mendadak menjadi jenius sains. Selama ini hanya berada di peringkat biasa-biasa saja menjadi yang terdepan. Biasanya kalau semua salah ikut salah, semua sedang ikut sedang, semua benar baru ikut benar. Tidak pernah mencolok.  Teman ku sendiri juga memandangku dengan kaget. Tapi mereka tahu bahwa itu bukan hasilku, dan aku sekarang dalam masalah besar. Keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori kulitku. Tangan dan lututku gemetar, seolah mengahadapi putusan eksekusi mati. Wajah ku pucat pasi.
“ siapa lagi yang benar?” tanya pak lubis. Dan seluruh kelas hening. Keheningan yang menobatkan ku sebagai pemenang pertama.
“ siska, maju kedapan, tulis jawaban mu dan jelas kan ke teman-teman?” perintah pak lubis.
Aku bingung luar biasa, kaki ku terasa berat sekali untuk melangkah. Serasa ada beban 1 ton menggantung di kaki. Ruangan kelas terasa mengecil, aku berharap ada pahlawan yang menahanku dan menyelamatkan ku dari masalah ini. Tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan pahlawan tersebut, dengan terpaksa aku bangkit. Aku berjalan ke arah karim mengambil buku ku. Diringi oleh tatapan kecurigaan dari seluruh kelas. Curiga bagaimana aku bisa berubah mendadak pintar. Aku berjalan kepapan tulis dan mengambil spidol yang ada di meja pak lubis. Sekarang Aku sudah menghadap papan tulis dengan spidol di tangan tanpa tahu apa yang harus di lakukan. Oh tuhan, Aku berharap mimpi malam tadi menjadi kenyataan. Tanganku bergerak dengan sendirinya. Tapi tanganku tetap tidak bergerak. Tidak bertindak sendiri. Dinding-dinding kelas yang berwarna orange serasa menjadi gelap. Suasana sangat hening. Hanya terdengar suara detik jarum jam yang bergerak, detik jam dinding menempel di belakang kelas.
Aku buka buku PR ku dan mulai menyalin tulisan Reno di buku PR ke papan tulis. Aku berusaha menyalinnya sama persis. Jarak, spasi, huruf dan tanda baca. Aku berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan. Rumus-rumus dan keterangan. Jawaban soal pertama sudah aku salin tanpa hambatan yang berarti, meskipun keringat dingin terus menucur di dahi. Sekarang aku mulai menuliskan jawaban untuk soal kedua.
“ berhenti dulu siska, coba kamu jelaskan ke teman mu bagaimana cara penyelesaian nya?”
Aku memutar badanku dan menatap pak lubis, tidak ada tatapan penuh kekaguman di wajahnya seperti mimpi malam tadi.  Yang ada hanya tatapan penuh selidik, tatapan yang sama dengan tatapan seluruh teman-teman yang lain. Aku terdiam, aku tundukkan wajah dan menatap buku PR di tangan. Aku tidak berani mengangkat wajah dan menatap mereka. Lidah ku kelu dan kaku. Aku lupa caranya berbicara.
Oh tuhan, bimbing lidahku seperti mimpi malam tadi. Apa yang harus aku jelaskan ke mereka. Batinku menjerit, aku merasa takut, aku juga merasa kesal kenapa otak ini begitu bodoh. Tidak mudah menangkap pelajaran yang di berikan. Kenapa otak encer itu hanya di turunkan ke Reno, tidak kepadaku juga. Bukankah kami satu genetik, satu kandungan dan berasal dari benih yang sama.
“ Ayo siska, jelaskan kepada teman-temanmu?” Perintah pak lubis
“e.....” aku hanya berguman singkat, kemudian hening, bingung mau berkata apa. Aku tidak tahu dari mana harus memulai.
“ayo jelaskan, jawaban yang kau tuliskan itu benar. Sekarang saya mau dengar bagaimana kau bisa menyelesaikan soal itu. Dari empat kelas yang saya berikan tiga soal itu. Hanya kau yang benar semua.” Jelas Pak lubis. Fakta bahwa aku sendiri yang benar membuat nyaliku makin ciut.
“ Ayo siska, mungkin kau adalah anak jenius yang selama ini menyembunyikan kemampuan?” Pak Lubis mulai meledek. Dan terdengar tawa dari seisi kelas.
Aku makin bingung harus menjawab apa, ledekan pak lubis barusan membuatku serasa ingin menangis.
“ saya jadi curiga jangan-jangan bukan kau yang mengerjakan PR itu, iya kan?” selidik Pak Lubis lagi setangah membentak. Suaranya berat. Aksen bataknya makin kentara
“ coba saya lihat Buku PR mu?” pak lubis melangkah mendekat dan mengambil buku dari tanganku. Lebih tepatnya merampas. Aku masih tertunduk tidak berani menatapnya.
“ benarkan, ini bukan tulisan mu, tulisan tangan ini berbeda dengan tulisan tangan di lembar-lembar sebelumnya.” Gumam pak lubis sambil membolak-balikkan halam per halaman. Menyocokkan tulisan tangan yang ada disana.
Hancurlah aku, aku akan menjadi bahan ejekan seumur hidup lagi. Terasa air mataku mulai berlinang, aku makin tidak berani mengangkat kepala.
“ siapa yang mengerjakan ini?” Tanya pak lubis
Aku masih diam seribu bahasa, tidak tahu harus menjawab apa. Jujur salah berbohong salah.
“ saya kenal tulisan itu pak!” terdengar sahutan dari tengah kelas, Itu suara karim. Yang mengoreksi PR ku tadi
“ itu tulisannya Reno, adik siska.” 
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)

Monday, January 25, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA



         PART I GADIS MALANG
Pagi ini entah mengapa aku sangat malas melakukan aktifitas. Mataku masih bengkak akibat semalam. Ucapan-ucapan dengan penuh amaran yang di lontarkan papa malam tadi sangat menyakitkan hati ini. Ingin rasanya aku menemui tuhan dan mengakhiri semua kepiluan ini. Tidak lagi mendapatkan makian dari papa. Apakah mereka tidak pernah muda? Apakah ketika muda mereka tidak pernah sekalipun melakukan kesalahan? Apakah memang aku yang paling bersalah dari semua ini? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku bangkit dari pembaringan, duduk di ujung ranjang berseprai Pink. Menghadap kecermin kamar yang menampilkan bayangannku yang sangat kusut. Mata bengkak dan hitam. Aku seolah tidak mengenali siapa yang ada di cermin. Di luar jendela Seekor Kolibri hinggap di bougenfile ungu yang kutanam di salah satu pot di ujung balkon kamar. Sesekali dia bersiul, berpindah dari satu tangkai ke tangkai yang lain. Kicauannya riang, entah apa yang dipikirkan oleh burung mungil itu. Bersiul tanpa beban dan hambatan. Tidak harus takut apa yang harus di lakukan esok hari, tidak harus kena omelan dari orangtua, tidak perlu cemas apa yang akan terjadi di masa depan.
Tok...tok...
“kak, bangun. Kunci pintu rumah. Aku mau berangkat” suara adikku, Reno terdengar dari balik pintu. Aku buka gerendel pintu kamar dan melangkah gontai keluar.
“sarapan udah siap di meja makan. Aku hari ini mungkin pulang malam. Papa dan mama nanti siang pulang, tapi mau pergi lagi. Kakak jangan pergi-pergi keluar dulu ya?” ujar Reno sambil mengikat tali sepatu. Aku diam saja, duduk memperhatikannya dari kursi tamu. Reno berdiri dan menyambar tasnya dan berjalan menuju Ninja R 250cc kesayangannya. Aku turut mengantarkannya ke pintu pagar.
“udah gak usah sedih lagi, besok papa dan mama pergi. Kita jalan-jalan. Ok?” Reno tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyuman singkat.
Reno pun berangkat, deru motornya sudah hilang di ujung gang. Aku tutup kembali pintu pagar dan kembali kedalam. Cuma reno yang masih menganggapku manusia di rumah ini. Dia adik yang sangat sempurna. Pintar, tampan, dan mapan. Meski di usia yang masih sangat muda dia sudah mandiri secara ekonomi. Berbeda sekali denganku, hanya sampah yang selalu memberatkan kedua orang tua. Setidaknya itu yang di rasakan oleh kedua orangtuaku.
Mau kuliah ke Bandung katanya biar  masa depan terjamin,gampang cari kerja, udah ngabisin uang banyak. Tetap saja gak berguna. Coba kamu lihat reno, usianya baru 20 tahun, lulus kepolisian tanpa sepeserpun papa perlu mengeluarkan uang. Lulus SMA dengan nilai paling tinggi di sekolah. Selalu dapat bea siswa. Selalu peringkat satu. Setiap papa ketemu gurunya selalu di puji. Dapat medali emas pekan olahraga pelajar. Apa kamu tidak malu dengan keadaan kamu sekarang ini. Dimana-mana anak laki yang biasanya nakal, bukan perempuan. Ini kenapa kamu malah yang berulah. Papa bisa maklum kalau reno yang nakal, tapi kalian seperti bumi dan langit. Apa yang mau kamu andalkan untuk hidup kamu kedepan? Mau ngandalin wajah cantik doang. Mau jadi pelacur?
Makian-makian ayah malam tadi masih terngiang-ngiang di benakku. Kata-kata pedas yang menjadi santapan pagi, siang, malam selama sebulan aku pulang kerumah. Tidak ada kata manis, hanya ada makian dan di banding-bandingkan dengan Reno. Reno hebat, aku tidak ada apa-apa, Reno pemenang, Aku pecundang. Aku juga tidak bisa mau menyalahkan Reno. Memang dia selalu menjadi idola dari kami masih kecil. Aku bisa membaca dan menulis ketika masuk SD. Reno sudah bisa membaca dan menulis bahkan sebelum dia masuk ke TK. Di SD dia sudah menarik perhatian semua guru di tiga bulan pertama dia duduk di kelas 1. Sedangkan aku hanya anak yang antara ada dan tiada. Ada tidak berpengaruh, tidak ada pun tak apa-apa. Jantungku makin bergemuruh setiap kenangan-kenangan masa kecil melintas. Waktu itu aku kelas tiga SD, Reno kelas I. Aku dimarah oleh papa karena membawa pulang nilai 0. Aku bingung dengan pengurangan dengan cara turun kebawah dan meminjam angka. Malamnya mama mengajarkan ku cara pengurangan jalan kebawah. Dan reno ikut belajar di sebelahku. Besok disekolah aku di suruh mengerjakan soal serupa di papan tulis oleh guru kami dan entah kenapa aku lupa cara menyelesaikan soal seperti itu padahal baru malam tadi diajarkan oleh mama. Aku kebingungan di depan kelas. Entah apa yang harus aku coret kan ke papan tulis ini. Dalam kebingungan ini ada tangan kecil yang mengambil alih kapur dari tanganku dan mengerjakan satu soal yang di tuliskan guru di papan tulis. Setelah menuliskan dia berbicara singkat ke guruku kemudian melangkah keluar kelas dengan gontai. Meninggalkan seisikelas yang masih terperangah. Reno, ya, tangan kecil itu tangan Reno. Dia yang mengerjakan soal siswa kelas tiga SD hanya dengan pembelajaran singkat di malam hari. Mulai hari itu Reno menjadi populer di kalangan guru dan teman-teman bahkan di tegaskan lagi oleh kepala sekolah ketika upacara, dan aku makin menjadi bahan olokan oleh teman dan guru-guru. Aku adalah kakak yang diselamatkan oleh adik kecil.
Di SMP kami berbeda sekolah, aku tidak bisa masuk ke SMP favorit karena nilaiku tidak cukup. Reno sudah pasti lulus. Ketika SMA aku dan Reno satu seolah lagi. Kejadian-kejadian itu kembali lagi. Aku cukup popular di SMA, aku dianugrahi wajah yang lumayan cantik. Perpaduan Papa Bugis dan mama yang Chinese menjadikan aku dan Reno memiliki wajah yang lumayan menarik. Aku terpilih menjadi mayoret I di Ekstrakulikuler Drum band sekolah sejak kelas II. Meskipun cantik, dalam hal pelajaran aku tetap berada di kalangan menengah kebawah. Dan Reno, tetap sama seperti sebelumnya. Selalu berada di puncak yang tidak mampu aku jangkau. Di tahun pertamanya di SMA reno memenangi medali emas perlombaan Silat tingkat provinsi. Dia memang hobi di bidang itu, sering ikut papa latihan sejak kecil. Dan saat itu dia menuai hasil. Aku yang selama ini hanya dipuja oleh kalangan cowok, mulai di dekati oleh cewek-cewek yang minta di comblangin sama reno. Dari kelas satu sampai teman-teman kelasku, kelas tiga. Bangga juga rasanya memiliki adik yang jadi idola. Dan hikmah terbesar bagiku, sudah tidak ada lagi anak-anak cowok yang berusaha melecehkanku, mengintip kedalam Rok sekolahku atau pelecehan-pelecehan lain. Pulang dan pergi sekolah aku di bonceng oleh Reno. Dengan kemenangan di perlombaan itu dia bisa membeli sepeda motor baru, Yamaha Vixion. Aku teringat percakapan kami ketika pulang dari sekolah.
“ Dek, ada salam tuh dari Alya, temen kelas kakak”
“ Yang mana tuh?” jawab reno cuek sambil pandangannya tetap fokus ke depan.
“ masa kamu gak tau sama Alya, dia populer loh. Anaknya cantik, imut. Dia mayoret II”
“ohh...” jawab Reno singkat
“kok Cuma ohh sih?”
“ ya terus aku harus respon gimana?” Reno memelankan laju sepeda motornya karena mulai masuk ke jalan raya. Kendaraan mulai ramai.
“ ya respon lain dong, salam balik kek, apa kek, cakep loh dek dia ini?”
“ gak ah, tetep gak secantik mayoret I nya, kalau mayoret satunya yang ngasih salam, baru aku mau.” Ujar Reno sambil menoleh ke belakang dan menatap mataku ketika kami berhenti sambil menunggu lampu merah berganti hijau.
“ Ah, kamu suka bikin kakak GR.” Aku tersipu malu mendengar Ucapan Reno.
“ tapi sering loh dek, temen-temen SMP kakak yang gak kenal sama kamu, kalo ketemu kita lagi di luar sering menyangka kalau kamu itu pacarnya kakak.?” Aku majukan kepalaku ke balik bahu kanannya berusaha melihat ke wajahnya. Dan kalau orang luar melihat, kami memang terlihat seperti sepasang anak muda yang sedang pacaran. Setiap boncengan dengan Reno aku tidak segan-segan melingkarkan lenganku ke perutnya, memelukkanya dari belakang. Atau sesekali tangankua bertumpu ke pahanya. Kami juga sering bercanda gurau di jalan pulang, atau terkadang berhenti dulu di di tempat makan. Karena saat itu dia masih kelas I SMA jadi belum punya pacar sendiri sedankan aku juga belum ada pacar yang serius. Kami lebih suka menghabiskan waktu berdua. Kadang karena aku boncengan dalam kondisi memeluknya dari belakang, otomatis payudaraku menempel ke punggungnya. Aku santai aja dan tidak ada respon berlebih dari reno. Terkadang di timpalinya dengan candaan.
“kak, nenen kakak dorong-dorong tuh. Kaya ada balon di punggungku deh jadinya” ledek Reno
“ihhh.. adek jorok deh ngomongnya..” aku balas cubit ke pinggangnya.
Reno tertawa terbahak-bahak, dan aku pun ikut tertawa. Candaan kami memang terkadang terdengar vulgar, tapi disanalah letak keakraban kami. Tidak canggung seperti kakak beradik yang lain. Kenangan-kenangan itu terus mengalir di kepala ku. Aku merebahkan diri di sofa ruang keluarga. Melihat sekilas kearah TV yang menayangkan gosip selebritis, seorang Vokalis kenamaan keluar dari penahanan karena skandal video porno nya. tatapan ku ke arah TV tapi pikiranku masih melayang kearah lain.
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)