ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label bersetubuh dengan kakak kandung. Show all posts
Showing posts with label bersetubuh dengan kakak kandung. Show all posts

Thursday, August 3, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XVI

Tidak ada yang begitu istimewa dari Mall yang baru buka. Cuma hiburan dari artis ibukota dan semua toko memberikan discont. Yang istimewa adalah adik ku. Sepanjang jalan dia tidak pernah melepaskan tanganku. Mulai dari turun dari parkiran aku di perlakukan dengan sangat baik. Dia terus menawari, "kakak mau ini" atau "kakak mau itu". Aku kebanyakan menggeleng. Di ajak jalan saja aku sangat senang. Aku melihat beberapa laki-laki menatap ku dengan pandangan kagum. Kagum plus mesum. Dan cewek-cewek ABG juga banyak yang curi-curi pandang ke arah Reno.

Kami cuma keliling-keliling, makan di food court, nyobain bilik film 4D. Aku teriak-teriak ketakutan. Zombi-zombi dalam film itu seolah-olah nyata dan mau menarikku. Aku peluk Reno kuat-kuat. Dari pada melek aku lebih sering  memejamkan mata. Takut.

" tuh kan suara kakak jadi parau. Kebanyakan teriak. Dia yang ngajakin dia yang ketakutan". Celoteh Reno pas kami sudah keluar. Dia memberikan aku sebotol air mineral.
"Kapok kakak nonton yang beginian. Nonton film yang biasa aja deh lain kali. Gak usah yang kayak nyata gitu". Jelas ku.

Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kami keluar dari Mall. Tanpa bawa apa-apa. "Kakak mau makan? Ada kwetiau enak loh. Cobain yuk. Papa sama mama juga suka. Tar kita bungkusin buat mereka juga". Aku nurut aja.

Sudah satu jam kami makan. Sekarang kami sudah mau pulang. Karena penjual kwetiaunya di pinggiran kota. Jalanan sudah mulai sepi. Di setiap jalanan sepi dan gelap. Aku menutup mataku dan memeluk Reno erat-erat.

Tetesan air terasa. Gerimis, dan makin lama makin deras. "Kita berteduh dulu kak." teriak adik ku sambil memacu sepeda motornya mencari tempat berteduh. Kami berhenti di depan sebuah ruko yang cukup lebar. Ada 4 pintu. Yang ujung-ujungnya ada tempat orang jualan. Ruko nomor 2 dan 3 sepertinya masih kosong. Ruko tempat kami berteduh sudah tutup. di bagian depan ada lemari untuk jual makanan yang tidak di masukkan kedalam ruko. Ada juga bangku. Kami duduk disana. Di ruko no 4 juga hampir mirip. Di sana juga ada sepasang anak muda yang juga numpang berteduh.
"Kakak dingin ya. Jaketku basah juga kalo mau kakak pake".
"Gak papa dek. Gak dingin-dingin amat kok".
Hujan makin deras. Kami makin mepet ke pintu roling Ruko. Atap di bagian depannya bayak yang bocor. Kami liat pasangan yang di ruko nomor 4 berpelukan. Kami masih bisa melihat mereka. Meskipun remang-remang. Yang wanita di belakang dan memeluk cowoknya dari belakang.
"Kak, kak liat. Mereka ciuman" kata reno.
Aku menoleh kesamping. Benar saja mereka sedang berciuman. Yang cowo sudah tidak lagi menghadap depan. Tapi sudah berbalik mengadap ceweknya.
"Biarin aja. Toh mereka emang pacaran. Kalo kamu mau, ajak aja gantian." godaku ke Reno.
"Ngapain juga ngajakin gantian. Aku sekarang sama cewek yang ribuan kali lebih cantik dari tu cewek". Kata Reno sambil tangannya merangkul pinggangku. Aku merasa senang sekali di puji seperti itu.
"Dek, dulu kita juga pernah ya kehujanan. Waktu masih sekolah dulu. Terus berenti di pondok.". Aku mulai berbicara
"Yang mana, kita mah sering banget kehujanan."jawab Reno. Memang benar juga. Kami udah sering kehujanan. Tapi aku ingat yang itu karena perlakuan Reno hari itu yang susah aku lupakan.
"Yang itu loh. Kakak minta antar kerumah temen kakak. Pulangnya kita keujanan. Berenti di pondok". Aku mendongak kesamping memandang wajah Reno.
"Ntah ya. Lupa aku". Jawab Reno matanya masih menatap pasangan di ruko no 4 yang masih bermesraan.

BLAM...
Listrik mati. Kondisi kami gelap gulita. Spontan aku langsung memeluk Reno.
"Dek, kakak takuuut...".
"Tenang aja kak. Gak bakal ada yang berani gangguin kakak selama ada aku di sini, nyamuk pun gak bakal berani".
" nah itu tuh. Kamu juga waktu itu ngomong gitu. Masa lupa sih".
"Iya.. Iya.. Aku ingat. Kalau gak ada tukang siomai sialan itu. Aku udah mencapai salah satu impianku." kata Reno. Aku tidak tau wajahnya bagaimana sambil bicara begitu. Kondisi gelap total.
"Ada ada aja kamu. Impian apa juga yang bisa di batalain tukang siomai".
"Kalau gak ada dia. Hari itu aku udah bisa jadi pacar kakak". Jawab Reno singkat.
"Ih suka sembarangan kalo ngomong, masa kakak di pacarin. Situ gak laku ya?" godaku sambil menekan dada Reno dengan jari telunjuk kananku.
"Aku serius loh".
Aku merasa pipiku di elus. Daguku di angkat. Ada ciuman mendarat di keningku. Reno menciumku.
Ciumannya turun ke pipi. Kemudian ke bibirku.
Aku langsung mengalihkan wajahku. Dan berputar badan. Aku membelakangi nya.
"Kamu anggap kakak cewek murahan ya". Kataku.
"Nggak kak. Semua orang pernah berbuat salah. Dan kakak tetap wanita paling cantik di muka bumi di mataku." jawab Reno. Tangannya melingkar di perutku. Satu lagi kecupan mendarat di leherku. Kecupan yang dalam.
Kecupan itu naik keatas. Ke arah telinga. Dan aku sangat sensitif di sana. Aku merasa geli sekali.
"Deeekkk... Gak boleh"  aku cuma bisa bilang itu. Tanpa berusaha melepaskan diri. Tangan Reno perlahan naik ke atas. Meraba bagian bawah BH ku. Perlahan juga penisnya sudah terasa menonjol di pinggangku yang mepet ke tubuhnya.
Aku berusaha melepaskan tangannya. Tapi pelukannya sangat erat. Tubuh Reno sekarang sudah jauh lebih besar ketimbang waktu kami masih SMA. Sekarang dia sudah lebih tinggi. Aku hanya sebatas bibirnya. Dadanya lebih bidang. Lengannya lebih kokoh. Dia sudah dewasa.

Ciumannya di leherku makin menjadi-jadi. Lidahnya ikut bermain, menari-nari di sepanjang leher samping kananku.
"Adeeeeekk, gak boleh gini". Suaraku lirih sekali. Aku sudah terbawa suasana.
Tangan kanan Reno sudah tidak malu-malu lagi meraba dadaku. Sesekali meremas dari luar.
"Deeekk, sakit dada kakak di gituin".
Reno melepaskan pelukannya, dan meraih kaitan BHku. Tesss. Kaitan BH ku sudah lepas. Tanganya kembali kedepan. BH ku di angkat ke atas. Dan tangannya sudah mulai meremas Payudaraku dari luar baju.
"Eegghhh". Tanpa sadar aku mendesah.
Bibir Reno bergerak kedepan. Dia berusaha mencium bibirku. Kami berciuman singkat. Aku memalingkan wajahku lagi.

" aku sayang kakak". Ucap Reno.
" sayang adik dan kakak tidak begini dek". Jawabku.
Tangan Reno sudah masuk kedalam bajuku. Memainkan puting kiri. Sesekali meremasnya.
Tangan kirinya sudah menjalar ke bawah. Perlahan menyusup kedalam celana. Celana dengan pinggang karet seperti yang aku gunakan memang tidak sulit untuk di susupi.

"Aaaahhh.. Dek,, jangan". Aku mendesah. Jari Reno sudah menyentuh kewanitaanku. Tepat di klotorisnya.
"Tapi kakak suka kan?". Suara berat Reno di telingaku, desahan nafasnya yang menghempas leher membuat napsuku naik menjadi-jadi. Perlahan pinggangku bergerak mengikuti jarinya yang bergerak-gerak memainkan Klitorisku.
"Kakak sudah basah. Nikmatin aja kak. Aku akan melakukan apa saja demi membuat kakak bahagia". Ucapan itu membuat aku melayang.
"Aagh... Agh.. Aaagh...". Aku mulai mendesah. Akal sehatku sudah hilang. Aku mendesah tanpa malu. Di pantatku terasa Reno mulai menggesekkan Penisnya. Penisnya terasa besar. Lebih besar dari kali terakhir ketika penis itu menempel di pantatku 4 tahun lalu.

Reno mencium bibirku lagi dari belakang. Dan aku terima. Dia kecup aku pun mengecup. Dia sedot akupun menyedot. Lidah kami saling bersilang di dalam rongga mulutku. Lidahku kadang di sedot kedalam mulutnya.

Jarinya makin lama makin cepat memainkan Vaginaku. Keatas kebawah, kekiri kekanan. Aku sudah tidak tahan lagi.
"Terus dek.. Terus.. Agh... Agh... Agh..." desahky tanpa malu.
Aaagggggghhhhhhhh
Aku tahan tanganya, aku dorong ke dalam. Aku tekan agar tangannya tidak lepas dari vaginaku. Akupun keluar. Aku klimaks dengan tangan adik kandungku.

Reno mendorongku melangkah kedepan. Masuk ke bilik dagang di depan ruko. Dia mendorong pungguku agar aku menunduk. Dengan cepat dia menarik celanaku turun sampai kepaha. Diremasnya pantatku beberapa kali. Kemudian terdengar kelentikan suara. Dia berusaha membuka ikat pinggang celananya.
Ada benda keras menggesek Vaginaku dar belakang.
Aku akan ML dengan adik kandungku malam ini. Kenapa harus dengan nya. Batinku berkecamuk. Nurani ku masih ada.

Suasana mendadak terang. Menyilaukan mata kami yang sudah mulai terbiasa dalam gelap.
Listrik kembali menyala.

BERSAMBUNG
Cerita lain
Screeshoot percakapan sex kakak cantik dan adiknya

Sunday, April 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IX



Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa, kami sama-sama tidak ada yang membahas tentang ‘pergesekan’ yang terjadi selama di pondok. Meski aku sering memergoki reno yang semakin sering curi-curi pandang kearah dada atau pahaku. Hanya sebatas itu, meskipun terkadang kalau berpapasan denganya, dia pasti menyenggol pantatku, seolah-olah tidak sengaja.
Part II. Kesalahan fatal
Aku masih guling-guling di sofa ruang tamu. Membaca status-status teman-teman Fb ku. Ada yang galau, ada yang lucu ada yang pamer, Macam-macam. Aku kemudian melihat akun Reno, dia mengupdate status dan fotonya 2 hari yang lalu. Dia duduk jongkok diantara segerombolan anak-anak SD di acara Pocil. Polisi kecil. Mereka tertawa girang, reno juga tersenyum sambil memeluk 2 orang anak cowok di kiri dan kanannya. Reno memang penyayang. Hmm... aku jadi kembali teringat kisah lalu.
Tidak terasa aku sudah tamat SMA dan merantau kepulau jawa untuk kuliah. Aku memilih Masuk ke ITB. Kami punya saudara dari pihak Mama di bogor. Semester 1-2 aku tinggal dengan mereka.  Ketika semester 3 aku lebih memilih kost. Asalanku dengan mama dan papa adalah capet bolak-balik bandung bogor untuk kuliah. Lebih baik mencari kost di sekitar kampung. Lebih efisien waktu dan tenaga. Padalah aku lebih memilih kost karena aku bisa lebih bebas. Bisa pergi dengan teman-teman hingga malam atau mengundang orang-orang yang ku kenal untuk berkunjung ke kost ku dengan leluasa. Tanpa harus merasa tidak enak dengan bibi.
Dua tahun tinggal dibandung sudah menjadikanku seperti gadis bandung kebanyakan, modis dan fashionable. Wajahku memang sudah cantik, di usia 21 tahun kegadisannku sempurna. Aku digandrungi banyak cowok, dan menjadi idola di kampus. Bukan hanya di fakultasku, tapi di seluruh kampus. Dari adik tingkat hingga senior, bahkan dosen-dosen muda juga banyak yang menyukaiku. Tawaran untuk jalan atau pacaran terlalu sering kuterima. Kawan-kawan ku banyak yang jadi tukang pos. Mengantarkan pesan dan salam dari para penggemar. Lucu-lucu, ada yang pake surat kaya zaman dulu, ada yang nekat berdiri di tengah lapangan kampus dan membuat tulisan ‘ I Love U sisca’. Tapi dari sekian banyak orang yang mendekatiku, aku menaruh harapan kepada salah seorang asisten dosen baru. Pak Prima, Kebetulan dia mengajar ilmu topografi. Pelajaran yang paling aku gak mengerti. Dia masih muda, mungkin sekitar 26 atau 27 tahun, tinggi, keren, terkesan dingin dan cuek. Ketika sudah dekat denganya ternyata orangnya ramah dan santun. Badannya gak kurus, gak juga gemuk. Tapi full otot. Kulitnya putih, tapi mungkin karena sering berjemur jadi sedikit kecoklatan. Meskipun cuek, dia supel dalam pergaulan dengan mahasiswa, gak jaim. Sering nongkrong bareng mereka di kantin. Pak Prima juga Smart, cara dia mengajar sangat mudah dipahami, bahasanya juga membumi. Dengan kata lain dia hampir sempurna.
Dalam waktu singkat Pak Prima sudah menjadi idola di antara mahasiswi. Kalau pak prima lewat, mahasiswi rata-rata jadi kecentilan mendadak. Akupun juga ikut mengidolakannya.
Hari itu kami belajar dengan beliau, aku pandangi dia dan memang wajahnya manis dan mempesona. Satu jam lebih dia mengajar, aku tidak memperhatikan ucapannya sedikitpun, dan ku rasa setiap mahasiswi di lokalku juga begitu. Entah sial atau malah beruntung, diakhir pelajaran pak prima memberikan pertanyaan evaluasi dan aku yang disuruh menjawab. Aku jadi gelagapan, menoleh kiri dan kanan mengharapkan bantuan dari teman-teman. Tapi mereka juga langsung menunduk dan terkesan menjauh. Berharap tidak mendapatkan beban yang sama yang aku hadapi. Aku jadi ikut menunduk. Idak tahu harus menjawab apa.
“ gimana siska?” tegur pak Prima mengingatkan. Aku mendongak, dan pak prima sudah berdiri setengah meter dari kursi ku. Aku Cuma bisa cengir kuda. Dan berusaha mengeluarkan seluruh pesona yang aku punya. Dia juga tersenyum dan melangkah mendekat. Diambilnya binder yang ada di tanganku, aku mau menahannya tapi tenaga beliau lebih kuat. Aku berusaha merebutnya kembali tapi terlambat. Dia membolak-balikan binderku, kemudia membaca sebentar.
Oh tuhannnn, di binderitu ada kutulis Prima I love U, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu.
Dan di bawah tulisan itu ada gambar orang, dua besar, dua kecil seolah-olah itu keluarga kami. Aku berharap dia tidak membacakannya keras-keras di kelas.
“ siska, sudah hampir 2 bulan kita belajar tapi isi bindermu Cuma ada judul mata kuliah doang, di ajar oleh saya. Gimana kamu mau bisa?” tanyanya.
Aku diam saja.
“ sebagai hukumannya, kamu harus resum buku ini.” Dia menyerahkan buku. Dan isinya sudah banyak yang digaris menggunakan stabilo. “ resum yang sudah saya garis-garis saja. Dan harus menggunakan tulisan tangan. Dari halaman 7 sampai halaman 32. Dikerjakan hari ini. Jam 5 serahkan dengan saya.” Perintah beliau.
Ketika pelajaran berakhir, teman-teman sudah pada bubar hanya menyisakan segelintir di dalam kelas. Pak prima mendekatiku lagi dan menyerahkan buku tadi.
“nih bukunya, ingat serahkan ke saya jam lima di kantor. Kamu masih ada mata kuliah?” tanya beliau.
“ Cuma nyampe jam 2 pak.” Jawabku.
“ Nah kalau begitu kamu punya waktu untuk membuatnya.” Pak prima mendekat, dan mengucek pelan kepalaku. “mau jadi apa kamu kalau malas dan ngammbar doang”. Ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan aku yang melongok. Aku terdiam. Jantungku bergemuruh, dan dadaku terasa sesak.
Pak prima memengan kepalaku, ohhh tuhannnn. Bahagianya...
Aku senyum-senyum sendiri, dan tatapan iri sebagian teman mahasiswi yang melihat kejadian tadi memicu semangatku untuk menulis resumenya.
.....
Hari sudah sore, jam 3. Aku masih menulis resum nya sendirian di kelas. Teman-teman yang lain sudah pulang. Aku awalnya mau pulang dan menulis di kost. Tap aku urungkan kalau sudah di kostan pasti bawaanya mau tidur dan akhirnya tidak di kerjakan. Jadi aku bertekat untuk menyelesaikannya di kampus. Menyelesaikannya tepat waktu dan membuatnya terkesan.
Kringgg....kringgg....kringg....
Hp ku berdering, panggilan dari nomor baru.
“haloo” jawabku
“ halo, ini siska?” tanya suara di ujung telepon.
“ iya saya siska, ini siapa ya?” jawabku mulai ketus, ini kayaknya para penggemar deh. Dari mana juga dapat nomor ku. Padahal nomorku tidak aku publikasikan.
“ saya Prima, kamu dimana sekarang, bisa anterin buku tadi gak, saya butuh buku itu sekarang?”
Oh tuhannnn, laki-laki idaman yang sejak tadi di hayalkan menelponku, aku jadi sumringah sendiri.
“ oh iya pak, nanti siska antar, sekarang siska lagi ngerjain tugas dari bapak tadi.” Aku ubah nada suaraku semerdu yang aku bisa.
“ pending aja dulu, saya butuh sekarang. Kamu lagi sama siapa?” tanya nya.
“ sendiri pak.”
“ tolong kamu anterin kerumah saya ya, nanti saya kasih alamatnya. Gak jauh dari kampus. Kamu ada motor?”  tanya beliau lagi.
“ ada pak. Iya siska antar bukunya sekarang. Smsin aja alamatnya.” Sambungku. Ini salah satu kesempatan bisa kerumah pak Prima. Aku jadi kegirangan. Dalam waktu lima menit aku sudah keluar kampus dan mengarah kerumahnya.
Alamatnya mengarah kedaerah belakang kampus. Tidak begitu jauh dari kostku, mungkin sekitar 500 meter paling jauh. Ia tinggal di sebuah rumah bergaya kuno, pagar besi warna hijau. Ada halaman yang lumayan luas di sebelah kanan rumah. Sebuah pohon alpukat yang rindang tumbuh disana, dengan ayunan terbuat dari ban mobil tergantung di salah satu dahannya. Aku dorong pagarnya, tidak terkunci. Aku melangkah kedalam, dan meninggalkan motor terparkir diluar pagar. Dari depan pintu aku mencium aroma masakan yang sangat harum. Aku jadi lapar. Dan memang aku belum makan sudah sarapan. Aku ketuk pintunya.
Tok..tok..tok... Assalamualaikum....
Waalaikum salam...
 Ada sahutan dari dalam, suara pak Prima.
Berselang sepuluh detik gagang pintu bergerak, kepala pak Prima nongol. tidak ada suara langkah kaki yang terdengar ketika dia melangkah untuk membuka pintu tadi.
“ eh siska, ayo masuk”
Dia kembali kebelakang, meninggalkan ku sendiri diruang tamu. Dia mengenakan jeans biru gelap dengan atasan hanya singlet berwarna putih. Lekukuan otot-otot lengannya terlihat jelas. Ada garis jelas melingkar di lengan atasnya, garis yang membagi kulitnya menjadi putih dan coklat. Garis yang timbul karena sengatan matahari yang dibatasi oleh baju lengan pendek. Samar-samar ditutupi oleh singletnya ada bekas luka yang membentang dari pundak kiri bawah leher sampai ke lengan kiri atas tidak jauh dari lengan atas. Luka seperti bekas sayatan benda tajam.
Aku duduk di ruang tamu, aroma harum masakan itu semakin jelas, aroma itu berasal dari dapur pak prima. Kalau seandaikan suatu masakan hanya dinilai dari aromanya, mungkin masakan ini nilainya sembilan puluh sembilan. Atau aku hanya terlalu lapar, jadi masakan ini tercium sangat enak. Aku baru tahu kalau pak prima sudah punya istri. Istri yang pandai memasak.
“ maaf ya saya meminta kamu antar bukunya. Saya baru ingat kalau saya ada pekerjaan yang belum selesai.” Seru pak Prima dari belakang. Antar aku dan dia terhalang oleh lemari tua yang tinggi.
“ kamu pasti belum makan kan? Kebetulan saya lagi masak. Kita makan bersama aja.” Kepala pak Prima muncul dari balik dinding.
“ Bapak sedang masak?” aku bertanya, antara bertanya antara penegasan. Aku juga bingung.
“ iya saya sedang masak. Ini sudah hampir selesai, sini aja. Duduk di ruang tengah”
Aku bangkit, dan langsung masuk kedalam, enath apa yang ada dibenakku yang jelas aku masuk saj, tidak ada perasaan takut atau cemas. Tidak ada perasaan aneh bagi seorang gadis yang masuk kedalam rumah seorang laki-laki. Aku juga mau melihat istrinya.
Ruang tengahnya lumayan besar, ada sofa butut berwarna abu-bau kecoklatan dengan meja ditangahnya, menghadap sebuah TV cembung model lama berukuran lebih kurang 32 inci. Dari ruangan ini juga ada sebuah pintu keluar, mengarah kehalaman samping rumah. Aku melihat sekeliling, tidak ada foto atau pajangan, hanya ada sebuah jam dinding yang tidak lagi berfungsi. Jarum detik nya tidak lagi bergerak. Di samping sofa ada rak buku yang tidak terlalu besar. Penuh dengan buku-buku, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang seperti majalah. Di atas meja koran berbahasa Inggris, BBC News.
Aku duduk di sofa itu, memandang kearah pak prima. Dia sendirian, tidak ada istrinya disana. Antara ruang tengan dan dapur hanya dibatasi oleh dinding pembatas setinggi dada orang dewasa. Jadi aku bisa melihat dengan jelas dia yang bolak balik di dapur.
“ istri Bapak mana?” tanya ku sambil mencoba meraih koran yang tergeletak diatas meja.
Pak prima menoleh sebentar, kemudian tertawa.
“ ha.ha.ha, mana ada saya istri, saya belum laku.”
“jadi bapak sendiri yang masak?” lanjutku lagi
“ iya lah, emang sisca bisa liat dari tadi ada orang yang membantu saya masak?” pak prima mengambil beberapa piring kemudian kembali kearah kompor. Kemudian menghidangkannya diatas dinding pembatas, dinding itu ternyata juga berfungsi sebagi meja makan.
“ ayo kita makan dulu, kamu pasti belum makan.” Sambung pak Prima.
Aku belum beranjak dari sofa, aku bingung harus bagaimana, satu sis aku memang udah lapar, satu sisi aku juga malu kalau harus makan berdua dengannya, baru kenal, dia juga dosenku.
“ ayolah, masakan saya enak loh. Nyesal loh kalau kamu tidak makan.” Sambungnya lagi. Dia melangkah ke kamarnya, tidak lama dia keluar lagi. Sekarang sudah pakai baju kaos oblong.
Aku bangkit dari sofa dan bergerak kearah meja makan. Ada tiga buah kursi tinggi tanpa sandaran. Aku duduk di tengah, kursi yang berwarna biru muda. Dinding pembatas ini lumayan lebar, mungkin satu meter lebarnya. Sangat pas menjadi meja makan. Lokasinya juga tepat. Di atas meja ini ada Ayam yang dibaluri sambal berwarna merah, sup dengan sayuran dan sesuatu berwarna putih. Aku tidak tahu apa.
“ ayo makan, gak usah malu-malu.” Ujar pak prima yang sekarang sudah duduk di seberang meja. Menghadap kearahku.
Suapan pertama membuat ku kaget, ini masakan enak sekali, lebih enak dari masakan ibuku atau rumah makan manapun yang pernah ku coba. Pedasnya pas, aroma nya juga luar biasa. Aku coba supnya, enak dan yang putih-putih ini bikinku penasaran.
“ ini apa pak?” tanya ku sambil mengangkat benda itu di atas sendok.
“ itu namanya kulit tahu, kamu belum pernah makan itu ya?” jawab pak Prima sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. senyuman nya juga membuat kewanitaanku jadi basah. ada yang mengalir dari dalam tanpa di perintah...
BERSAMBUNG.....

Monday, April 18, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VIII



Tanpa sadar aku mendesah perlahan. Jempol tangan kanan reno nyaris menyentuh puting payudara kiriku. Tangan kirinya makin menekan kedalam, menekan pinggangku semakin menempel dengannya. Ganjalan penisnya yang menegang makin terasa jelas menggesek-gesek naik turun.
Ini tidak bisa di biarkan
Suara yang muncul dari dalam batinku membuat tanganku menarik tangan reno lepas dari kegiatannya yang terus berusaha menembus semakin tinggi. Aku tarik tangannya dan ku turunkan. Tidak ada rasa perlawanan dari reno. tangan kanannya kembali memeluk perutku. Tangan kirinya masih berada di bawah.
“ Rambut kakak wangi ya?” ucap reno pelan dan sangat dekat dengan telinga kananku. Hembusan nafasnya terasa hangat menerpa leher. Bulu-bulu halus yang ada di leher terasa berdiri. Geli sekali.
Cup..
Aku merasakan ada benda hangat dan lembab yang menempel antara bahu kanan dan leherku. Reno mengecupkan bibirnya ke leherku. Oh,,, aku merasa makin lunglai. Aku makin terangsang dengan perbuatannya. Tanpa sadar aku menggerakkan kepala mencondong ke kiri dan membuka ruang makin luas bagi reno untuk menyerang. Tapi aku tidak berusaha menghentikan serangannya.
Tindakan ini sepertinya di tangkap reno sebagai angin sejuk. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati leherku dari pundak hingga kebelakang leher. Uugghhhhh. Aku kembali mendesah. Dan desahan kali ini makin kuat.
“ Adeekkkkk, jangan gitu ah, kakak geli” Ujarku pelan. Tanpa sadar tangan kananku bergerak dan meremas tangan kanannya yang sedari tadi memeluk perutku.
Perlahan tangan kanan reno kembali naik, pergerakannya cepat, jauh lebih cepat dari tadi. Hanya dalam hitungan detik jempolnya sudah kembali menelusup kedalam BH ku. Hampir mengena putingku meskipun masih di batasi oleh baju.
Ughhh....
Aku kembali mendesah, jempol reno sudah menyentuh putingku. Putingku mengeras dengan sangat cepat. Ada gelombang aneh yang kurasakan dari putingku menyebar hingga keseluruh tubuhku. Gelombang ini membuatku makin tidak kuat untuk berdiri. Sekarang aku makin menyandarkan tubuhku ke tubuh reno. jempol tangan kanan reno berputar-puar di sekitar aerola payudara kananku, dan dalam ritme tertentu menyentuh putingnya. Tidak ada lagi kepura-puraan atau seolah-olah ketidak sengajaan yang dilakukan oleh reno. gerakannya sudah semakin jelas. Gerakan pinggulnya mengesek kepantatku pun makin terasa dan makin lama makin cepat.
Telunjuk tangan kanannya sekarang menelusup kedalam, melalui celah diantara dua kancing seragam sekolah yang ku kenakan. Aku mengenakan tanktop di dalam, jadi jari telinjuk nya masih tidak bersentuhan langsung ke kulit payudara ku. Dan dalam waktu singkat jari telunjuknya sudah menyentuh puting kiri. Jempol kanan memainkan pting kanan, telunjukknya memainkan puting kiri. Tangan kiri reno makin turun kebawah, dan sekarang tepat mengelus vaginaku dari luar.
Aaghhh.....
Aku kembali mendesah perlahan, tidak ada lagi obrlan yang keluar dari mulut kami, kami sudah sibuk berenang dalam birahi masing-masing. Birahi yang sangat tidak etis. Hujan mulai reda dan hanya berupa rintik-rintik hujan, tapi masing-masing dari kami masih bersikap seolah-olah tidak mau tahu dan tidak mau mengakhiri kegiatan erotis yang sedang berlangsung.
Reno sekarang sudah tidak malu-malu lagi menggesekan penisnya ke pantatku, dan bahkan sedikit mendorong. Beberapa kali aku harus melangkah pijakan kedepan untuk bertahan dari dorongannya. Sampai tangan kananku sekarang harus memegang kusen pintu ponok untuk bertahan. Tangan kiri reno yang awalnya hanya mengelus pelan vaginaku dari luar rok dengan satu jari, sekrang sudah mengelus ke kiri dan kekanan dengan keempat jarinya. Kata mengusap mungkin lebih tepat. Sensasi ini makin membuat ku melayang. Ingin rasanya kau mendesah sekuatnya.
HEI.. NGAPAIN KALIAN !!!
Kami berdua kaget dan langsung melepaskan diri. Tangan reno juga langsung melepaskan pelukannya. Selang 5 meter di depan kami ada mamang pedagang siomai lewat dari arah belakang pondok. Berjalan kearah depan jalan. Dia menoleh kepada kami dengan tatapan garang.
“ kami berteduh kehujanan pak” jawab Reno. nada suaranya tenang, tidak ada nada kecemasan dalam suaranya. Sedangkan aku sudah gemetar ketakutan. Suaraku serasa tertahan di tenggorokan.
“ alah, dasar kalian mau pacaran aja di pondok sana. Ni hujan udah berenti, pulang sono. Ganti seragamnya. Pamit sama orang tua dulu kalau mau pergi pacaran.” Lanjut mamang siomai
Reno mengambil serangamnya yang tadi tergantung di pintu pondok. Mengibas-mingabskan sebentar dan mengenakan nya kembali.
“ ayo pulang” ajak reno, wajahnya dingin, dia mengatakan itu tanpa menoleh kearahku, dan langsung aja berjalan kearah motor yang terparkir di pinggir jalan. Aku pun mengikutinya. Mamang siomai juga mulai kembali bergerak. Tidak lama reno menyalakan motornya dan aku sudah berada di boncengan. Mamang siomai sudah mendekati kami lagi.
“ kalian kalau tidak ketahuan saya pasti mau berbuat mesum di pondok tadi kan?” tanya mamang siomai sambil berusaha mendorong gerobaknya melewati pembatas trotoar jalan.
Aku menoleh kebelakang, suaraku kembali.
“ dia adik saya mang, bukan pacar” jawabku sambil senyum kuda.
Reno mengegas motornya, dan meninggalkan mamang siomai yang mentap kami dengan mulut terganga...

Monday, February 1, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA II



PART II, KENANGAN 
Masih terkenang kejadian-kejadian masalalu ketika masih SMA. Di kelas tiga SMA aku kembali di selamatkan Reno dan kejadiaaan itu tidak jauh berbeda dengan kejadian kami saat SD. Aku ada PR Fisika yang tidak aku mengerti karena ketika pelajaran berlangsung aku sedang mengikuti latihan Drum Band. Aku kebingungan menatap buku di meja belajar. Rumus-rumus di buku panduan dan buku catatan seperti menari-nari dan tarian itu sangat tidak ku mengerti. Kalau tidak di kerjakan udah pasti kena marah, pak Lubis, guru fisika yang paling killer yang pernah ada di jagat raya. Aku keluar dari kamar dan membawa buku catatannya dan buku panduan, ku lihat Reno lagi nonton.
“ Dek, bisa bantuin kakak gak?” aku duduk di sofa menghadap ke Reno.
“ gak bisa, lagi sibuk!” jawab Reno sambil tetap nonton acara TV.
“ye... ayo dong dek..bantuin kakak.” Aku pukul dia dengan bantal sofa. Dan akhirnya reno bereaksi.
“ Eh ni orang, minta tolong tapi mukul-mukul, pemaksaan ini namanya.” Hardik reno sambil cengar-cengir dengan nada mengejek.
“ aaaaa, ayo dong adek kakak yang pinter dan cakep. Bantuin kakak bikin PR. Kakak gak ngerti. Ntar kakak beliin kamu nasi goreng deh.” Aku bujuk dengan makanan kesukaannya.
“emang kakak punya duit?” ejek reno
“ minta sama papa. Hehe”
“ enak aku minta langsung aja sama papa, beres.” Takus reno di iringi tawanya
“ aaaa, ayo dong dek, bantuin.” Rengekku
“ eh kak, dimana-mana yang minta bantuin tu adek ke kakak, anak kelas 1 minta bantu bikin PR sama yang kelas 3. Bukan kebalik.” Ejek reno sambil memutar badan dan mengambil buku dari tangnku, tanda persetujuaanya.
“ cantik-cantik oon”. Balas Reno.
“biarin. Weee”. Aku cibirkan lidah kearah dia. Satu sisi dia mengejek, tapi dia juga bilang cantik, aku merasa tersanjung di puji.
“yaudah, mana PR nya?”
Aku pun membuka PR fisikanya, materi nya tentang penghitungan energi hukum Newton. Soalnya hanya ada tiga. Tapi satu soal aja jawabannya bisa 2 lembar buku. Mikirin aja aku udah pusing. Aku lihat reno sudah mulai menuliskan sesuatu di coret-coretannya.
“ini rumus nya mana?” tanya reno
“ gak tau. Hehe, di catatan ini kali.” Aku serahkan buku catatanku ke dia. Reno langsung membolak-balikkan halaman per halaman. Kadang matanya ke buku panduan, kadang ke buku PR kadang ke ke buku catatan. Sebentar-sebantar dia mencoret-coretkan sesuatu yang aku tidak mengerti di coretan. Coretannya panjang sekali. Udah lebih 3 kertas buram.
“ini kakak harus cari berapa nilai gaya nya dulu?” celoteh Reno dengan mata tetap fokus ke coretan-coretannya tidak menoleh ke arahku. Aku iya-iyain aja. Karena sedikitpun aku tidak mengerti. Di tambah dengan mata yang semakin berat. Suara-suara Reno kadang jelas kadang samar di telingaku penglihatan ku juga mulai redup. Aku menopangkan lengan ke sandaran sofa untuk mengganjal kepala ku yang diserang kantuk berat. Ini lah selalu yang ku alami, setiapa mau belajar. Kantuk nya menjadi-jadi. Mata ini tidak bisa di ajak kompromi. Terdengar sesekali suara reno, namun makin lama suara itu main jauh dan sayup. Aku tidak bisa lagi mendengarnya dengan jelas. Ah, menjam sebentar doang gak masalah, tar kalau selesai bisa aku pelajari sendiri. Batin ku menggumam.
...
“Siska!! Coba kerjakan PR kamu di papan tulis.” Perintah pak Lubis
Aku kaget setengah mati, padahal aku sudah berusaha menghindar dari pandangan beliau agar tidak maju kedepan. Tapi apa mau di kata, semua sudah terjadi. Namaku sudah di ucapkannya dan tidak bakal bisa di tarik lagi. Pasrah kulangkahkan kakiku ke depan. Entah apa yang harus ku lakukan. Biarlah tuhan yang membimbing tanganku. Ku ambil spidol dan kuarahkan ke papan tulis kelas.
Tanganku mulai menggoreskan tinta spidol ke papan tulis kelas bahkan sebelum diperintah oleh otakku. Dengan lancar tangan ini menuliskan angka-angka yang bahkan tidak ku mengerti. Ajaib Sekali. Tanganku benar-benar di bimbing Tuhan. Hanya dalam hitungan menit ketiga soal itu aku selesaikan. Kaki ini juga bergerak sendiri. Aku berbalik ke hadapan teman-teman yang masih terperangah. Mulutku juga melakukan tindakan sendiri. Lidah ku mengeluarkan kata-kata ilmiah dengan sangat lancar. Menjelaskan jabaran Rumus yang baru kutuliskan ke papan Tulis. Teman-teman terperangah dengan perubahannku, aku yang biasanya tidak bisa apa-apa sekarang menjadi begitu lancar. Ekspresi kaget juga ada di wajah pak lubis. Ekspresi kaget bercampur rasa hormat. Dia mengakui kehebatan baru ku ini. Spontan seluruh isi kelas bertepuk tangan. Dengungan-dengungan kagum ku dengar di seluruh penjuru kelas. Bahkan Spidol, papan Tulis, Buku, Meja dan kUrsi seolah juga mengutarakan kekagumannya kepadaku. Aku menjadi senang sekali. Perasaan bahagia dan bangga ini baru ini kurasakan.
Tok...tok...tok...
“Siska...!!!” mamaku muncul di depan pintu kelas. Suaranya melengking. Kenapa mama kesekolah ini mendadak.
“SISKA.!!!!! Bangun... udah pagi” makin lama suara mama makin jelas, dan teman-teman kelasku makin menjauh. Semakin mengecil di iringi oleh suara mama yang terus memanggil. Kelas menjadi gelap. Kemudian muncul pancaran cahaya yang menyilaukan mata dan aku dapati tubuhku masih berbaring di tempat tidur berwarna Pink. Di kamarku. Terjaga dari mimpi indah yang mungkin tidak pernah aku alami di dunia nyata.
“iya udah bangun” sahutku malas dari dalam kamar.
ASTAGA.. aku terhenyak, bagaimana dengan PR fisika ku. Aku ketiduran malam tadi. Dan bagaimana aku bisa pindah ke kamar. Siapa yang memindahkan ku ke kamar? Apa aku pindah sendiri? Baju ku juga sudah berganti. Malam tadi aku masih mengenakan baju kaos oblong dan celana jeans. Aku belum ganti baju dari sore. Sekarang aku sudah mengenakan daster tidur. Dan TANPA BH!!! Aku coba memutar kembali ingatan ku. Mengingat apakah aku sempat mengganti baju sebelum tidur. Aku bangkit cepat aku lihat bajuku malam tadi sudah tergantung di gantungan baju belakang pintu. BH ku juga ada di sana. Kejanggalan, Aku tidak pernah menggantung BH, aku hanya sekali sehari mengenakan BH. Sudah pakai aku langsung menaruhnya di keranjang pakaian kotor. Kenapa sekarang tergantung. Aku ingat-ingat lagi kejadian terakhir aku tertidur, aku tidur di sofa ruang tengah. Dan yang ada hanya Reno. Apakah reno yang memindahkan ku ke kamar. Kenapa aku tidak sadar ketika dia membopongku ke kamar.dan dia yang menggantikan bajuku. Berarti dia juga yang melepas BH ku. Dia sudah melihat tubuhku tanpa busana. Apakah dia melakukan sesuatu terhadap tubuhku ketika aku tidur. Spontan aku bangkit dan menghadap ke cermin. Ku lepaskan dasterku dan mengamati setiap jengkal tubuhku. Mungkin ada bekas merah yang di tinggalkan. Tapi kulitku mulus-mulus saja. Tidak ada bekas seperti bekas remasan di seputar payudara ku. Ku lihat pantat juga biasa saja. Vagina ku juga kering, tidak ada lendir atau rasa perih jika sesuatu masuk secara paksa. Aku masuk ke kamar mandi kamar, dan ku putuskan untuk ku tanyakan sendiri kepada Reno nanti.
Tidak lama aku keluar kamar dan sudah lengkap dengan seragam sekolah. Buku PR fisika ku masih tergeletak di atas meja. Lengkap dengan buku panduan dan catatan harian. Ku buka, dan ketiga soal itu udah ada jawabannya. Tulisan tangan ini ku kenal, bukan tulisan tanganku, melainkan tulisan tangan Reno. Kumasukkan saja kedalam tas dan Aku turun ke bawah, kulihat papa dan Reno sedang sarapan. Kutunda saja sejuta pertanyaan yang ada di kepala. Tidak enak jika di dengar papa.
“Buku PR kakak di atas meja sofa atas.” Ujar Reno ketika melihat ku turun dari tangga. Dia masih asyik menyantap sarapannya.
“Iya udah kakak ambil”. Jawabku sekenanya dan duduk di meja makan. Aku lihat papa yang dari tadi asik ngopi dan membaca koran pagi jadi memperhatikannku. Sudut matanya menyiratkan suatu kecurigaan.
“Kau minta buatin PR sama adik mu lagi Siska?” tanya papa. Nada suaranya tinggi, seperti menanyakan terdakwa di persidangan.
“uhuk... tidak pa, aku yang meminjam buku PR kakak, ada yang mau aku pelajari tentang hukum newton, dan kakak bilang kalau mereka juga sedang belajar materi itu. Jadi aku pinjam buku catatan, buku panduan dan PR nya sekalian.” Sahut Reno cepat untuk membela ku. Aku sudah gelagapan awalnya tidak tahu mau menajawab apa.
“loh kok kamu belajar pelajaran kelas tiga, emang pelajarannya sama?” selidik papa.
“ Aku di tugaskan oleh guru fisika kami untuk ikut Olimpiade sains kategori Fisika Astronomi. Dan materinya dari kelas satu sampai kelas tiga. Makanya pinjam buku kakak.” Jelas Reno. Reno tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang ikut olimpiade Fisika. Tapi kali ini dia tidak pinjam untuk dirinya semata. Tapi untuk bantu PR ku juga. Aku diam saja biar tidak terjadi ke timpangan informasi. Toh, ini juga demi kebaikan bersama pikirku.
“ Ya Udah, kamu juga jangan terlalu menggantungkan diri sama adik kamu siska. Masa gak malu sebagai kakak di bantu adik terus. Bukan nya kakak yang membantu adik.” Serang papa. Kebiasaan nya berpidato sepertinya akan di mulai.
“iya pa.” Jawabku singkat.
“ cepat sudahi sarapan kamu, kita mau berangkat. Papa ada sidang hari ini.”
“ Kalau papa mau berangkat duluan gak papa. Aku bareng reno aja naik Motor”. Ujarku cepat. Toh memang ada yang ingin aku tanyakan ke Reno. Jadi nanti di motor bisa leluasa ku tanyakan.
“ ya udah, papa berangkat duluan.” “MA, Udah Belum?” teriak papa.
“udah. Bentar lagi mama keluar”
Reno bangkit dan cium tangan papa dan mama. Aku juga demikian. Tak lama kami juga udah berboncengan ke sekolah.
Jalanan pagi ini seperti biasa, macet. Reno terkadang nyelip-nyelip di antara kendaraan-kendaraan yang lain. Entah kenapa hari ini aku merasa tidak nyaman mau memeluk Reno. Tidak seperti biasanya. Aku merasa jangal jika aku memelukknya dan kedua bukit kembar ku menempel di punggungnya. Pikiran pun terasa tidak menentu, aku bingung bagai mana mau memulai pertanyaan untuk kejadian malam tadi. Aku masih diam saja di belakang Reno. Dan kami sudah berhentin di Lampu Merah pertama. Aku putuskan untuk bertanya
“ Kakak kok bisa tidur di kamar ya malam tadi. Perasaan kakak ketiduran di Sofa ruangan atas deh?” aku mulai pembicaraan sambil melirik ekspresi wajah reno dari Spion motor.
“ aku yang pindahin kakak ke dalam. Kasian aja tidur di luar. Tar kakak ku yang cantik ini di gigit nyamuk.” Canda reno sambil memutar kepalanya ke belakang dan tersenyum.
Benar dugaanku, artinya Reno yang memindahkan ku ke dalam kamar. Tapi masih banyak yang perlu aku pertanyakan.
“ kakak jalan sendiri ya?” tanya ku lagi.
“ hahaha.. kakak tidur kaya kerbau gitu, bagaimana caranya bisa jalan ke kamar”.
Ledekan Reno seperti ini memang sering ku terima, dan ungkapannya macam-macam. Mulai dari tidur kerbau, ini karena kalau aku sudah tidur aku susah untuk di bangunkan. Ada juga CCO. Cantik-cantik Oon. Ya, memang ku akui otak ku tidak secemerlang Reno. Ada barbie pengentut, dan macam-macam julukan-julukan aneh yang di anugrahkan si sempurna Reno. Kepada si Manusia paling tidak sempurna. Aku.
Aku kejar kembali kepertanyaan yang masih terngiang di kepalaku.
“trus gimana caranya kakak bisa pindah kekemar?” kejarku sambil mengencangkan pelukan ke pinggangnya. Kepala ku majukan kedepan. Berusaha melihat wajahnya secara langsung. Jika orang lain melihat, kami terlihat seperti sepasang Remaja yang sedang pacaran di atas Motor. Hehe
“ya aku gendong lah. Kaya film India.” Balas reno singkat. Matanya Fokus ke Trafic light.
“ Kamu juga yang gantiin baju kakak?” aku makin penasaran,
“Iya” jawab reno
dada ku bergemuruh. Perasaan aneh ku rasakan mengetahui kenyataan bahwa tubuhku telah di lihat oleh adik kandungku. Dalam kondisi tidur. Tubuhku yang belum di jamah oleh siapa pun sekarang telah di lihat oleh adik kandungku sendiri dan tubuh ini dalam kondisi hampir telanjang Bulat. Ada perasaan marah, kesal dan rasa ingin tahu. Apa yang dia rasakan ketika melihat tubuhku ini.
“ Kamu juga yang bukain BH kakak?” kejarku
“ Iya?”
Aku terdiam. Reno mengatakan itu tanpa ekspresi.
“gak usah takut deh, gak aku foto kok?” ledek Reno. “gak mungkin juga aku mau buat kakak aku .yang cantik ini jadi bintang Bugil Medsos. Haha”
Reno masih bisa bercanda di saat perasaan ku begitu berkecamuk. Dadaku bergemuruh, jantungku berdetak cepat. Perasaan ini aneh sekali. Mau di bilang ini marah, tidak juga, kesal, tidak juga, sedih, tidak terlalu. 
BERSAMBUNG 
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)