ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Monday, March 20, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XII

Dia mandi dan aku juga mandi. Tapi tidak di satu kamar mandi. Di rumah ini ada 2 kamar mandi. Satu kamar mandi umum di belakang satu lagi kamar mandi di dalam kamar utama. Aku mandi dengan cepat, sambil membayangkan sebentar lagi aku akan bermesraan dengan laki-laki tampan nan misterius yang baru saja jadi pacarku. Terbersit rasa ngeri apakah kami akan bercinta malam ini. Aku masih perawan. Dan kabarnya kehilangan perawan itu sakit. Hanya 10 menit aku sudah selesai.

Dia sedang di depan cermin, mencukur kumis dan jenggotnya. Hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Baru kali ini aku melihatnya tanpa baju. Ada begitu banyak bekas luka di tubuhnya. Ada yang panjang. Ada yang pendek dan ada yang seperti bekas luka bakar. Meskipun begitu tubuhnya sangat indah. Full otot dengan lekuk lengan yang menawan. Tubuhnya ramping tapi berotot. Melihatnya saja membuat kewanitaanku basah. Akupun mendekatinya.

"Semoga setelah ini bekas lukamu tidak bertambah sayang" ujarku sambil mengelus bekas luka di sekujur tubuhnya. Dia berbalik memandangku.

"Augghhh" sekejab saja dia sudah mengangkat tubuhku kedalam gendongan tanganya. Tangan berotot yang begitu kokoh seolah tubuhku hanya seringan kapas. Dia membawaku ke kamar dan merebahkanku di ranjang.

Wajah kami sangat dekat. Dia menindihku dan hidungnya bertemu dengan hidungku.

Cupp

Dia mencium keningku. Aku merasa bahagia sekali. Aku pejamkan mata dan membiarkan dia beraksi.

Ciumannya turun ke pipiku, kemudian ke bibirku. Cium yang hangat dan lembut. Perlahan makin menguat dan aku menghisap bibir bawahnya. Pagutan bibir kami makin dalam sembari tangannya mulai meraba ke sekujur tubuhku. Satu persatu pakaianku lepas dari badan hingga tubuhku polos tanpa penghalang sehelaipun.

Dia bangkit dan memandangi tubuhku dari atas, seolah-olah dia mau menikmati dulu tubuhku dengan matanya. Aku jadi malu di tatap seperti itu.

"Dedek wanita paling cantik yang pernah abang temui".

Kata -kata itu di lanjutkannya dengan rabaan di sepanjang tubuhku. Dan bibirnya kembali menyusuri setiap lekuk tubuhku. Dia begitu piawai memainkan lidahnya hingga aku merasa tidak sabar.

"Aahhhhhh". Lidahnya menyentuh puting ku sebelah kanan. Di hisapnya perlahan dan tangan kanannya mulai meremas dada kiriku.
"Aaahhhh". Aku kembali mendesah. Aku meregangkan pahaku dan mengepit pinggulnya. Vaginaku terasa tertindih dengan penisnya yang tegang. Tapi masih terhalang handuk. Aku tarik handuknya hingga terlepas. Penisnya sudah tegang. Dan ini pertama kalinya aku melihat penis yang ukurannya lumayan besar. Ini penis ketiga yang pernah aku lihat. 2 milik mantan pacarku ketika mereka memohon2 untuk aku kocok. Kecil meskipun tegang. Milik pak prima di luar ekspektasi. Ada rasa ngeri bagaimana vaginaku yang masih perawan di terobos oleh penis yang lumayan besar.
Aku mencoba untuk menggapainya ketika penis itu menjauh. Pak prima menciumi tubuhku makin turun. Penisnya jadi menjauh. Sekarang lidahnya sudah menyapu area pubis. Dan makin menurun..

"Aagghhhhh"... Pantatku mengangkat otomatis ketika lidahnya menyapu klitorisku.

"Abaaaaanggg" rengekku manja. Aku merasa melayangm dia piawai sekali memainkan lidahnya. Atas bawah. Kiri kanan. Aku remas kepala nya dan menekan ke arah vaginaku. Aku tidak mau kenikmatan ini terhenti karena kepalanya naik. Pinggulku bergerak-gerak sendiri. Tanpa arah.. Berpacu menuju puncak...

"Aaaaaggghhhhhhhhhhh".....

Aku keluar. Tubuhku melengkung keatas. Melepas dentuman rasa nikmat yang luar biasa. Tubuhku menggelinjang dan bergetar. Lututku gemetaran. Aku kumpulkan semua sisa tenaga untuk menarik Dia ke atas kembali. Aku memeluknya.

" enak banget bang. Dedek capek". Rintihku dengan nafas masih naik turun.

Bibirku di ciumnya lembut. Awalnya aku agak jijik karena bibirnya masih basah oleh lendirku sendiri.

"Istirahat dulu ya sayang". Aku peluk tubuhnya. Aku masih terlentang dan dia setengah menindihku. Dia tersenyum manis kearahlu. Tidak ada paksaan memintaku untuk cepat-cepat menuntaskan birahinya. Dia biarkan aku beristirahat setalah orgasme panjang yang aku rasakan. Dia hanya membelai lembut tubuhku. Lebih tepatnya sekujur tubuhku. Vaginaku di elusnya dan libidoku kembali terpancing. Aku terangsang lagi.
"Masukin bang" aku yang memohon untuk di setubuhi.
Perlahan dia memposisikan penisnya kearah bibir vaginaku. Agak ngeri membayangkan penisnya bakal menerobos masuk kedalam celah sempit tubuhku. Aku membayangkan bakal merasakan perih yang sangat. Perlahan kepala penisnya di gosok ke klitorisku. Aku makin merangsang. Perlahan kepala penisnya menekan. Perlahan dan terus. Tidak begitu perih rasanya. Penisnya menekan lagi. Berusaha makin masuk. Aku meringis. Lebih perih rasanya. Panas dan pedih. Aku mencengkeram pundaknya. Dimundurkan lagi penisnya. Maju mundur berulang. Sampai aku merasa nyaman. Di majukan lebih dapam hingga menyentuh sekat. Aku yakin itu selaput dara ku. Aku tatap matanya. Mataku memberikan izin ke matanya. Aku sudah tidak tahan lagi. Dan di majukannya penisnya. Mantap tapi tidak kasar...

"Aakkhhhhhh..... Sakit bang.....".. Pedih sekali. Aku merasa seperti tersedak. Perutku penuh oleh banda asing. Aku gigit pundaknya. Penisnya diam di dalam. Aku merasa vaginaku berkedut di dalam.

" dedek tahan bentar lagi sakitnya hilang kok". Perlahan pinggulnya maju mundur, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku. Rasanya geli campur sakit campur nikmat.

"Akh... Akh.. Akh". Desahan mencur dari bibirku. Pedihnya sudah sirna. Kenikmatan yang luar biasa yang tersisa.

"Enak sayang?" Tanyanya.

Aku hanya mengangguk. Lidahku tidak bisa berkata lagi. Hanya desahan.

Kenikmatan ini makin lama makin besar. Ibarat balon yang ditiup makin lama makin besar dan hampir meletus. Aku sudah menggerakkan pinggulku mengimbangi gerakannya. Tangannya aku tarik untuk meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan. Dia makin mempercepat goyangannya.

"Akh... Akh... Akh..." Desahan ku makin cepat. Kocokan penisnya di vaginaku juga makin cepat.

Crot... Crot.. Crot...
Spermanya menyemprot di dalam vaginaku. Aku pun klimaks.

"Aaaaaaggghhhhhhhh.........." Klimak yang luar biasa. Mataku memutih. Badanku melengkung..

BERSAMBUNG

Friday, February 17, 2017

DILEMA CINTA SIMALAKAMA XI

"Astagaaaaaaaa" batinku
Ditanganku sekarang ada sepucuk senjata api jenis pistol. Aku tidak tahu jenis dan merk apa. Ada tulisan NH50CC dan angka-angka yang ku rasa adalah no seri. Aku taruh pistol itu di sofa. Aku takut setengah mati. Aku takut senjata ini meledak dan mengenaiku. Aku angkat perlahan-lahan dak aku pindahkan ke dalam laci di meja kerjanya.
Di dalam laci tersebut ada beberapa berkas yang semuanya berbahasa inggris. Ada foto-foto orang. Ada yang bersih ada yang di beri tanda silang. Ada juga beberapa pasport dan sim. Aku buka satu persatu, semua adalah pasport miliknya. Lebih tepatnya adalah pasport dengan fotonya. Nama yang tertera dalam pasport tersebut berbeda-beda. Aku makin aneh. Siapa orang yang sekarang dekat denganku ini. Apakah prima memang namanya yang asli?
Laci ini terkesan sangat dangkal. Sedangkan dari luar kelihatan tebal. Dari luar kedalaman laci ini selitar 20cm. Kalau di lihat dari dalam hanya 10cm. Aku tarik keluar laci itu. Berat. Padahal isinya sudah aku kosongkan. Aku tekan ujungnya. Dan benar saja, alas laci itu terangkat. Di bawahnya ada ruangan lain. Lagi-lagi isinya mengagetkanku. Satu pucuk pistol beserta beberapa magazine dan peluru ada di sana.
"Kenapa ada begitu banyak senjata di rumah ini?" batiku

Laci itu aku kembalikan ketempat semula. Isinya juga aku kembalikan. Seolah2 aku tak pernah menyentuhnya. Pistol yang tadi aku dapat di sofa aku kembalikan lagi ke selipan sofa bagian ujung. Dengan moncongnya mengarah ke bawah.

Aku melanjutkan beres-beres. Sambil memperhatikan dengan teliti setiap sudut rumah ini. Aku kembali menemukan senjata lain. Di bawah meja komputernya ada 1. Di belakang kulkas ada 1. Di selipan kursi di ruang tamu 1. Di kamarnya 1 tergantung di bawah ranjang. Dan di bawah pot bunga besar di depan pintu samping. Total ada 7 buah pistol yang dia sebar di segenap penjuru rumah.

Memory ku berputar kembali waktu aku datang kerumahnya pertama kali. Aku melihat bekas luka membayang di punggungnya. Dan mungkin masih ada lagi yang lain. Yang aku tidak tahu.

Hari sudah gelap. Aku sudah selesai beres-beres. Aku rebahan di sofa sambil menyalakan tv untuk mengusir sepi. Entah apa yang di siarkan di tv aku tidak tahu. Pikiranku menerawang jauh. Memikirkan siapakah sosok pak prima sebenarnya. Kenapa ada begitu banyak senjata dan beberapa pasport dengan nama yang berbeda-beda. Aku harus tahu semuanya. Aku harus dengar dari dia langsung. Tapi aku ini siapa. Aku bukan istrinya. Bahkan pacarpun juga bukan. Kami hanya dekat. Aku bahkan belum tahu bagaimana perasaan pak prima kepadaku. Bagaimana jika aku bertanya hal ini dia jadi marah, akhirnya dia menjauhiku. Atau ternyata dia orang jahat. Aku sudah tahu rahasianya dan dia akan membunuhku. Bayangan-bayangan mengerikan itu berseliweran di kepalaku. Mataku jadi berat.

Ada rasa hangat yang menyelimuti tubuhku, dan benar saja, ada selimut yang menyelimuti tubuhku. Dan pak prima sudah duduk di lantai dan mengetik entah apa di laptopnya yang terletak di atas meja. Sudah berapa lama aku tertidur.

"Udah bangun neng?"  dia menyapaku. Senyumnya masih tetap manis. Mata menyipit dengan sepasang lesung pipi. Tidak ada tampang manusia jahat terpancar dari wajahnya. Aku bangkit mendadak. Dan mengintip kebalik selimut.

"Hahaha... Kaget amat. Saya gak macam-macam kok. Cuma masangin selimut aja sama pegang dahi kamu. Ngecek temperatur. Saya kira kamu demam". Sahutnya sambil tertawa.  seolah-olah bisa membaca pikiranku.

Aku beringsut menjaug darinya. Memeluk lutut sendiri. Entah kenapa badanku serasa menggigil.

"Kamu kenapa siska?" dia mendekatiku, dan memegang dahiku. Aku tidak merasa demam. Aku hanya ketakutan.

"Kamu demam? Saya antar ke dokter ya?" kejarnya lagi.

Aku masih diam seribu bahasa.

"Kamu mungkin masuk angin, pakai baju tipis dan celana pendek gitu. Kita ke dokter saya antar. Pakai celana saya dulu. Di gulung ujungnya biar gak kepanjangan." dia masuk ke dalam kamar dan keluar membawa jaket serta celana panjang berbahan kaos.
Aku masih terdiam di sofa, tidak menoleh kearahnya atau menjawab. Pak prima jongkok di depanku sekarang. Dan berusaha mengambil tanganku untuk memasang jaket. Aku tatap matanya.
"Bapak bukan orang jahat kan?" kata-kata itu yang mengalir pertama kali dari mulutku.
Pak prima agak bingung dengan pertanyaanku. Kemudia menoleh ke seantero ruangan seolah mencari atau menyadari sesuatu. Dia menatao laci agak lama. Kemudia kembali menatapku sambil tersenyum.

"Kita kedokter dulu yuk. Pulang dari sana saya cerita". Suaranya masih tetap terdengar lembut dan penyayang. Tidak ada satu nadapun yang berubah. Dia tetap orang baik.

"Siska tidak apa-apa pak. Kita tidak perlu kedokter. Siska menggigil bukan karena demam. Tapi mungkin karena siska cemas saja". Jawabku

Dia hanya tersenyum
"Beneran nih gak papa?" tanya nya lagi
"Iya pak. Siska gak papa".
" yaudah, makan dulu yuk. Kamu pasti laper". Dia bangkit dari duduk di hadapanku dan beranjak kedapur. Bunyi kelentingan di sana. Dan kembali membawa 2 piring dan sendok. Dia beli nasi bungkus buat kami makan.
"Saya sengaja beli dua, saya yakin kamu belum makan."

Aku masih malas-malasan menggapai bukusan jatah untukku. Berat sekali tangan ini rasanya. Dan posisi meringkuk di dalam selimut ini juga begitu nyaman. Tanpa sadar sekarang ada sesendok nasi + lauk di depan wajahku. Pak prima mau menyuapiku. Aku tersenyum dan menerima suapannya.

Sambil makan dia bercerita dan memintaku untuk tidak menceritakannya kepada siapapun. Dia sebenarnya adalah personil BIN. Yang bertugas sebagai agent senior untuk wilayah bandung. Dalam masa tugasnya dia berprofesi sebagai dosen dan arsitek.karena profesi itu menunjang misinya kali ini. Pistol yang ada dimana-mana memang sengaja di posisikan disana jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Tak terasa nasi bungkus yang untukku sudah habis aku santap. Dan semuanya dia suapin. Dan kurang ajarnya aku, dia bahkan belum makan sesuappun. Akupun sudah keluar dari selimut dan duduk bersila didepannya.

"Udah kenyang bayi gede? Makan sambil di dongengin". Canda nya sambil menoyor kepalaku pelan. Aku hanya cengengesan tanpa suara karena mulutku masih penuh nasi.
"Bapak makan aku yang suapi deh, gantian sebagai balasannya".
"Gak deh makasih. Saya masih bisa makan sendiri gak lemah kaya orang itu tu!" jawabnya sambil memajukan bibir.

Tidak sampai 10 menit. Mungkin hanya sepuluh menit dia sudah selesai makan. Habis. Rekor makan yang cepat banget bagiku. Aku menghabiskan sebungkus nasi bisa sampai 1 jam. Kemudia dia bangkin dan mencuci piring di wastafel. Aku mengikutinya dari belakang.

Aku berdiri persisi di belakanyanya. Dia mengenakan celana jeans biru panjang dan hanya mengenakan singlet putih tipis tanpa lengan. Guratan bekas luka di punggunya makin jelas. Jariku otomati mengikuti alur luka tersebut.
"Sekeras apa hidup yang pernah bapak lalui?" aku bertanya dalam suara pelan. Aku tidak butuh di jawab. Hanya menggumam sendiri. Tanpa sadar aku memeluknya dari belakang. Karena dia tinggi. Kepalaku nempel persis di punggungnya.
"Bapak bukan orang jahat kan? Siska sayang bapak". Kata-kata ini meluncur dengan sendirinya dari lidahku.
Pak prima mematikan keran air. Mengelap tangannya dan berbalik. Sekarang aku berhadapan dengannya. Dia tersenyum manis sekali.
"Kok gak di jawab, bapak gak suka ya?" kejarku manja.
"Iya saya juga sayang kamu!" balas pak prima.
"Jadi kita pacaran dong!" kejarku lagi
Dia hanya tersenyum.

"Jawab dong pak?" rengekku
"Iya... Iyaaa.... Pacaran. Saya sayang kamu juga. Dan sekarang kita pacaran!" balasnya
"Masa sama pacar pake saya kamu. Formal amat."
"Trus harus gimana" tanya pak prima.
" siska panggil abang aja ya. Abang panggil dedek. Kan lebih romantis." jawabku sambil senyum.
" ok deh. Apapun deh demi bidadari abang".

Cuuup.. Spontan aku menginjitkan kakiku dan mencium bibirnya. Dia agak kaget. Aku juga kaget kenapa aku begitu agresif. Ciuman itu singkat. Aku tertunduk. Kemudian pak prima merangkul pinggangku dan mencium bibirku lagi. Ciumannya lembut. Aku membalas ciumannya dan melingkarkan tanganku ke lehernya. Ciuman kami makin lama makin dalam dan aku merasakan kalau ciumanya makin menguat. Dia melepaskan bibirku dan turun ke leher. Aku menggelinjang kegelian. Dia cium makin turun. Aku cium kepala nya. Dan berbisik.
"Sayang, mandi dulu gih. Accemmm"....

BERSAMBUNG

Thursday, November 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA X

"Enak ya pak, rasanya kaya kenyal-kenyal gitu. Baru kali ini siska makan ini." Lanjutku.
"Syukurlah kalo enak. Ayo tambah lagi." Sahut pak prima.
" bapak menghina deh, baru aja suapan pertama pak. Masa udah nambah aja." Aku melirik ke pak prima. Aku berusaha mengeluarkan semua aura kecantikan yang kupunya. " bapak kok pinter masak sih. Belajar dari mana?" Lanjutku lagi.
"Sebelum kerja di sini saya merantau kemana-mana dan pernah kerja jadi koki." Jawab Pak prima kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya. "Siska bisa masak?"

Jeggeerrrrr,,, pertanyaan ini yang aku hindari dari tadi. Aku gak tahu mau jawab apa. Kalau jawab bisa nanti di test aku gak bisa apa-apa. Kalau di jawab gak bisa nanti dia jadi illfeel. Masa seorang perempuan gak bisa masak. Bilang aja deh bisa. Nanti kalau di test cari aja alasan. Batinku.

"Hmm.. Siska sih bisa pak masak." Tapi lidahku berat mau melanjutkanya. Di tambah lagi mata elang pak prima menatapku. Aku jadi makin salah tingkah.
"Masak apa? Masak air?" Timpal pak prima.

Aku cuma cengir aja. Ya mau gimana lagi, emang gitu kenyataanya.
"Gimana mau jadi ibu dari anak-anak ku, kalau gak bisa masak. Nanti anak kita mau di kasih makan apa?"

"Siska bakal belajar masak pak. Siska janji bakal belajar, ya meskipun awalnya nanti belum seenak masakan bapak. Siska janji bakal terus belajar." Jawaban spontan langsung meluncur dari lidah saya tanpa terkontrol.

"Hahahaha... Lucu kamu ya. Ya udah lanjutin makannya biar rada gede. Saya gak mau punya istri kerempeng."
Saya yakin dia mengucapkan kata-kata tadi itu bercanda saja. Tapi entah kenapa saya jadi baper. Bawa perasaan seolah-olah kami memang pasangan kekasih. Hatiku berbunga-bunga. Aku lanjutkan makan dan berimajinasi bahwa yang sedang makan di depanku sekarang memang suamiku.

" makan kok sambil senyum-senyum sendiri. Kamu menghayal yang jorok-jorok ya?"
Aku kaget dan langsung menundukkan kepala ke piring. Pak prima masih tertawa saja dari tadi. Tawa yang khas. Yang tidak akan pernah terlupakan.
.....

Semenjak hari itu kedekatankan dengan pak Prima makin intens. Aku semakin sering main kerumahnya. Kadang bantu2 dia menyelesaikan tugas kampus. Terkadang juga bantu dia beresin rumah ketika dia sibuk dengan pekerjaannya. Pak prima selain bertugas sebagai dosen di kampusku juga berprofesi sebagai arsitek dan ketika itu sedang menangani proyek besar. Pembuatan apartemen. Rumahnya terkadang tak terurus. Jadi aku lah memposisikan diri sebagai istrinya. Hehe

Di kampus sudah beredar gosip tentang kedekatan kami. Aku bukannya risih dengan gosip itu malah makin senang. Pak prima juga sepertinya tidak keberatan dengan gosip itu. Dia juga santai setiap ke kampus dan berkomunikasi dengan ku. Tidak ada yang berubah. Tidak lebih tidak kurang.

Sore itu, selesai kuliah pak prima menghampiriku minta bantuan lagi. Aku senang aja. Bahkan hari itu aku cepat pulang ke kost, mandi, dan langsunh mengenakan baju yang menurutku bisa membuat aku tampil cantik di matanya.
Aku mengenakan celana pendek setengah paha, baju kaos oblong yang lehernya udah melar. Plus rambut aku kucir tinggi. Leher jenjang dan bulu bulu halus leherku terpampang jelas. Aku berniat mau menggoda pak prima. Jam 4 sore aku udah sampai di kost beliau.

'Bapak mau kemana?' ketika aku sampai ke kostnya, mungkin lebih tepat disebut kapal pecah. Kertas berserakan di mana-mana. Baju dan piring kotor di lantai. Handuk basah di atas sofa. Tapi sekarang dia sudah rapi. Menjinjing tas. Sudah mau pergi.

'Saya ada presentasi sore ini. Bantu beresin rumah ini ya?' jawabnya sambil cengir kuda. 'Jam 7 saya pulang. Nanti kamu saya beliin hadiah?'

Sambil melangkah dia mengucek-ngucek rambutku. Entah kenapa yang di kucek rambut yang kacau malah hati. ^_^
Tidak perlu kau belikan aku hadiahpun akan kubereskan rumah ini pak. Asal kau selalu mengizinkan aku di dekatmu. Batinku.

Aku memulai pekerjaan beres-beres dengan hati sumringah. Pekerjaan berqt sekalipun kalau di kerjakan dengan cinta bakal terasa indah.

Aku membersihkan sofa, dan sebuah kaos dalam terselip di celah sofa. Aku coba tarik. Berat sekali. Aku mencoba memasukkan tangan kedalam celah sofa tersebut. Ada benda logam, keras dan dingin. Aku coba tarik keluar, susah sekali. Benda ini lumayan berat. Butuh perjuangan mengeluarkannya. Ketika benda itu keluar. Aku terhenyak mundur.

'Astagaaaaaa, kenapa dia memiliki ini?"

BERSAMBUNG

Sunday, April 24, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IX



Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa, kami sama-sama tidak ada yang membahas tentang ‘pergesekan’ yang terjadi selama di pondok. Meski aku sering memergoki reno yang semakin sering curi-curi pandang kearah dada atau pahaku. Hanya sebatas itu, meskipun terkadang kalau berpapasan denganya, dia pasti menyenggol pantatku, seolah-olah tidak sengaja.
Part II. Kesalahan fatal
Aku masih guling-guling di sofa ruang tamu. Membaca status-status teman-teman Fb ku. Ada yang galau, ada yang lucu ada yang pamer, Macam-macam. Aku kemudian melihat akun Reno, dia mengupdate status dan fotonya 2 hari yang lalu. Dia duduk jongkok diantara segerombolan anak-anak SD di acara Pocil. Polisi kecil. Mereka tertawa girang, reno juga tersenyum sambil memeluk 2 orang anak cowok di kiri dan kanannya. Reno memang penyayang. Hmm... aku jadi kembali teringat kisah lalu.
Tidak terasa aku sudah tamat SMA dan merantau kepulau jawa untuk kuliah. Aku memilih Masuk ke ITB. Kami punya saudara dari pihak Mama di bogor. Semester 1-2 aku tinggal dengan mereka.  Ketika semester 3 aku lebih memilih kost. Asalanku dengan mama dan papa adalah capet bolak-balik bandung bogor untuk kuliah. Lebih baik mencari kost di sekitar kampung. Lebih efisien waktu dan tenaga. Padalah aku lebih memilih kost karena aku bisa lebih bebas. Bisa pergi dengan teman-teman hingga malam atau mengundang orang-orang yang ku kenal untuk berkunjung ke kost ku dengan leluasa. Tanpa harus merasa tidak enak dengan bibi.
Dua tahun tinggal dibandung sudah menjadikanku seperti gadis bandung kebanyakan, modis dan fashionable. Wajahku memang sudah cantik, di usia 21 tahun kegadisannku sempurna. Aku digandrungi banyak cowok, dan menjadi idola di kampus. Bukan hanya di fakultasku, tapi di seluruh kampus. Dari adik tingkat hingga senior, bahkan dosen-dosen muda juga banyak yang menyukaiku. Tawaran untuk jalan atau pacaran terlalu sering kuterima. Kawan-kawan ku banyak yang jadi tukang pos. Mengantarkan pesan dan salam dari para penggemar. Lucu-lucu, ada yang pake surat kaya zaman dulu, ada yang nekat berdiri di tengah lapangan kampus dan membuat tulisan ‘ I Love U sisca’. Tapi dari sekian banyak orang yang mendekatiku, aku menaruh harapan kepada salah seorang asisten dosen baru. Pak Prima, Kebetulan dia mengajar ilmu topografi. Pelajaran yang paling aku gak mengerti. Dia masih muda, mungkin sekitar 26 atau 27 tahun, tinggi, keren, terkesan dingin dan cuek. Ketika sudah dekat denganya ternyata orangnya ramah dan santun. Badannya gak kurus, gak juga gemuk. Tapi full otot. Kulitnya putih, tapi mungkin karena sering berjemur jadi sedikit kecoklatan. Meskipun cuek, dia supel dalam pergaulan dengan mahasiswa, gak jaim. Sering nongkrong bareng mereka di kantin. Pak Prima juga Smart, cara dia mengajar sangat mudah dipahami, bahasanya juga membumi. Dengan kata lain dia hampir sempurna.
Dalam waktu singkat Pak Prima sudah menjadi idola di antara mahasiswi. Kalau pak prima lewat, mahasiswi rata-rata jadi kecentilan mendadak. Akupun juga ikut mengidolakannya.
Hari itu kami belajar dengan beliau, aku pandangi dia dan memang wajahnya manis dan mempesona. Satu jam lebih dia mengajar, aku tidak memperhatikan ucapannya sedikitpun, dan ku rasa setiap mahasiswi di lokalku juga begitu. Entah sial atau malah beruntung, diakhir pelajaran pak prima memberikan pertanyaan evaluasi dan aku yang disuruh menjawab. Aku jadi gelagapan, menoleh kiri dan kanan mengharapkan bantuan dari teman-teman. Tapi mereka juga langsung menunduk dan terkesan menjauh. Berharap tidak mendapatkan beban yang sama yang aku hadapi. Aku jadi ikut menunduk. Idak tahu harus menjawab apa.
“ gimana siska?” tegur pak Prima mengingatkan. Aku mendongak, dan pak prima sudah berdiri setengah meter dari kursi ku. Aku Cuma bisa cengir kuda. Dan berusaha mengeluarkan seluruh pesona yang aku punya. Dia juga tersenyum dan melangkah mendekat. Diambilnya binder yang ada di tanganku, aku mau menahannya tapi tenaga beliau lebih kuat. Aku berusaha merebutnya kembali tapi terlambat. Dia membolak-balikan binderku, kemudia membaca sebentar.
Oh tuhannnn, di binderitu ada kutulis Prima I love U, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu.
Dan di bawah tulisan itu ada gambar orang, dua besar, dua kecil seolah-olah itu keluarga kami. Aku berharap dia tidak membacakannya keras-keras di kelas.
“ siska, sudah hampir 2 bulan kita belajar tapi isi bindermu Cuma ada judul mata kuliah doang, di ajar oleh saya. Gimana kamu mau bisa?” tanyanya.
Aku diam saja.
“ sebagai hukumannya, kamu harus resum buku ini.” Dia menyerahkan buku. Dan isinya sudah banyak yang digaris menggunakan stabilo. “ resum yang sudah saya garis-garis saja. Dan harus menggunakan tulisan tangan. Dari halaman 7 sampai halaman 32. Dikerjakan hari ini. Jam 5 serahkan dengan saya.” Perintah beliau.
Ketika pelajaran berakhir, teman-teman sudah pada bubar hanya menyisakan segelintir di dalam kelas. Pak prima mendekatiku lagi dan menyerahkan buku tadi.
“nih bukunya, ingat serahkan ke saya jam lima di kantor. Kamu masih ada mata kuliah?” tanya beliau.
“ Cuma nyampe jam 2 pak.” Jawabku.
“ Nah kalau begitu kamu punya waktu untuk membuatnya.” Pak prima mendekat, dan mengucek pelan kepalaku. “mau jadi apa kamu kalau malas dan ngammbar doang”. Ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan aku yang melongok. Aku terdiam. Jantungku bergemuruh, dan dadaku terasa sesak.
Pak prima memengan kepalaku, ohhh tuhannnn. Bahagianya...
Aku senyum-senyum sendiri, dan tatapan iri sebagian teman mahasiswi yang melihat kejadian tadi memicu semangatku untuk menulis resumenya.
.....
Hari sudah sore, jam 3. Aku masih menulis resum nya sendirian di kelas. Teman-teman yang lain sudah pulang. Aku awalnya mau pulang dan menulis di kost. Tap aku urungkan kalau sudah di kostan pasti bawaanya mau tidur dan akhirnya tidak di kerjakan. Jadi aku bertekat untuk menyelesaikannya di kampus. Menyelesaikannya tepat waktu dan membuatnya terkesan.
Kringgg....kringgg....kringg....
Hp ku berdering, panggilan dari nomor baru.
“haloo” jawabku
“ halo, ini siska?” tanya suara di ujung telepon.
“ iya saya siska, ini siapa ya?” jawabku mulai ketus, ini kayaknya para penggemar deh. Dari mana juga dapat nomor ku. Padahal nomorku tidak aku publikasikan.
“ saya Prima, kamu dimana sekarang, bisa anterin buku tadi gak, saya butuh buku itu sekarang?”
Oh tuhannnn, laki-laki idaman yang sejak tadi di hayalkan menelponku, aku jadi sumringah sendiri.
“ oh iya pak, nanti siska antar, sekarang siska lagi ngerjain tugas dari bapak tadi.” Aku ubah nada suaraku semerdu yang aku bisa.
“ pending aja dulu, saya butuh sekarang. Kamu lagi sama siapa?” tanya nya.
“ sendiri pak.”
“ tolong kamu anterin kerumah saya ya, nanti saya kasih alamatnya. Gak jauh dari kampus. Kamu ada motor?”  tanya beliau lagi.
“ ada pak. Iya siska antar bukunya sekarang. Smsin aja alamatnya.” Sambungku. Ini salah satu kesempatan bisa kerumah pak Prima. Aku jadi kegirangan. Dalam waktu lima menit aku sudah keluar kampus dan mengarah kerumahnya.
Alamatnya mengarah kedaerah belakang kampus. Tidak begitu jauh dari kostku, mungkin sekitar 500 meter paling jauh. Ia tinggal di sebuah rumah bergaya kuno, pagar besi warna hijau. Ada halaman yang lumayan luas di sebelah kanan rumah. Sebuah pohon alpukat yang rindang tumbuh disana, dengan ayunan terbuat dari ban mobil tergantung di salah satu dahannya. Aku dorong pagarnya, tidak terkunci. Aku melangkah kedalam, dan meninggalkan motor terparkir diluar pagar. Dari depan pintu aku mencium aroma masakan yang sangat harum. Aku jadi lapar. Dan memang aku belum makan sudah sarapan. Aku ketuk pintunya.
Tok..tok..tok... Assalamualaikum....
Waalaikum salam...
 Ada sahutan dari dalam, suara pak Prima.
Berselang sepuluh detik gagang pintu bergerak, kepala pak Prima nongol. tidak ada suara langkah kaki yang terdengar ketika dia melangkah untuk membuka pintu tadi.
“ eh siska, ayo masuk”
Dia kembali kebelakang, meninggalkan ku sendiri diruang tamu. Dia mengenakan jeans biru gelap dengan atasan hanya singlet berwarna putih. Lekukuan otot-otot lengannya terlihat jelas. Ada garis jelas melingkar di lengan atasnya, garis yang membagi kulitnya menjadi putih dan coklat. Garis yang timbul karena sengatan matahari yang dibatasi oleh baju lengan pendek. Samar-samar ditutupi oleh singletnya ada bekas luka yang membentang dari pundak kiri bawah leher sampai ke lengan kiri atas tidak jauh dari lengan atas. Luka seperti bekas sayatan benda tajam.
Aku duduk di ruang tamu, aroma harum masakan itu semakin jelas, aroma itu berasal dari dapur pak prima. Kalau seandaikan suatu masakan hanya dinilai dari aromanya, mungkin masakan ini nilainya sembilan puluh sembilan. Atau aku hanya terlalu lapar, jadi masakan ini tercium sangat enak. Aku baru tahu kalau pak prima sudah punya istri. Istri yang pandai memasak.
“ maaf ya saya meminta kamu antar bukunya. Saya baru ingat kalau saya ada pekerjaan yang belum selesai.” Seru pak Prima dari belakang. Antar aku dan dia terhalang oleh lemari tua yang tinggi.
“ kamu pasti belum makan kan? Kebetulan saya lagi masak. Kita makan bersama aja.” Kepala pak Prima muncul dari balik dinding.
“ Bapak sedang masak?” aku bertanya, antara bertanya antara penegasan. Aku juga bingung.
“ iya saya sedang masak. Ini sudah hampir selesai, sini aja. Duduk di ruang tengah”
Aku bangkit, dan langsung masuk kedalam, enath apa yang ada dibenakku yang jelas aku masuk saj, tidak ada perasaan takut atau cemas. Tidak ada perasaan aneh bagi seorang gadis yang masuk kedalam rumah seorang laki-laki. Aku juga mau melihat istrinya.
Ruang tengahnya lumayan besar, ada sofa butut berwarna abu-bau kecoklatan dengan meja ditangahnya, menghadap sebuah TV cembung model lama berukuran lebih kurang 32 inci. Dari ruangan ini juga ada sebuah pintu keluar, mengarah kehalaman samping rumah. Aku melihat sekeliling, tidak ada foto atau pajangan, hanya ada sebuah jam dinding yang tidak lagi berfungsi. Jarum detik nya tidak lagi bergerak. Di samping sofa ada rak buku yang tidak terlalu besar. Penuh dengan buku-buku, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang seperti majalah. Di atas meja koran berbahasa Inggris, BBC News.
Aku duduk di sofa itu, memandang kearah pak prima. Dia sendirian, tidak ada istrinya disana. Antara ruang tengan dan dapur hanya dibatasi oleh dinding pembatas setinggi dada orang dewasa. Jadi aku bisa melihat dengan jelas dia yang bolak balik di dapur.
“ istri Bapak mana?” tanya ku sambil mencoba meraih koran yang tergeletak diatas meja.
Pak prima menoleh sebentar, kemudian tertawa.
“ ha.ha.ha, mana ada saya istri, saya belum laku.”
“jadi bapak sendiri yang masak?” lanjutku lagi
“ iya lah, emang sisca bisa liat dari tadi ada orang yang membantu saya masak?” pak prima mengambil beberapa piring kemudian kembali kearah kompor. Kemudian menghidangkannya diatas dinding pembatas, dinding itu ternyata juga berfungsi sebagi meja makan.
“ ayo kita makan dulu, kamu pasti belum makan.” Sambung pak Prima.
Aku belum beranjak dari sofa, aku bingung harus bagaimana, satu sis aku memang udah lapar, satu sisi aku juga malu kalau harus makan berdua dengannya, baru kenal, dia juga dosenku.
“ ayolah, masakan saya enak loh. Nyesal loh kalau kamu tidak makan.” Sambungnya lagi. Dia melangkah ke kamarnya, tidak lama dia keluar lagi. Sekarang sudah pakai baju kaos oblong.
Aku bangkit dari sofa dan bergerak kearah meja makan. Ada tiga buah kursi tinggi tanpa sandaran. Aku duduk di tengah, kursi yang berwarna biru muda. Dinding pembatas ini lumayan lebar, mungkin satu meter lebarnya. Sangat pas menjadi meja makan. Lokasinya juga tepat. Di atas meja ini ada Ayam yang dibaluri sambal berwarna merah, sup dengan sayuran dan sesuatu berwarna putih. Aku tidak tahu apa.
“ ayo makan, gak usah malu-malu.” Ujar pak prima yang sekarang sudah duduk di seberang meja. Menghadap kearahku.
Suapan pertama membuat ku kaget, ini masakan enak sekali, lebih enak dari masakan ibuku atau rumah makan manapun yang pernah ku coba. Pedasnya pas, aroma nya juga luar biasa. Aku coba supnya, enak dan yang putih-putih ini bikinku penasaran.
“ ini apa pak?” tanya ku sambil mengangkat benda itu di atas sendok.
“ itu namanya kulit tahu, kamu belum pernah makan itu ya?” jawab pak Prima sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. senyuman nya juga membuat kewanitaanku jadi basah. ada yang mengalir dari dalam tanpa di perintah...
BERSAMBUNG.....

Monday, April 18, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VIII



Tanpa sadar aku mendesah perlahan. Jempol tangan kanan reno nyaris menyentuh puting payudara kiriku. Tangan kirinya makin menekan kedalam, menekan pinggangku semakin menempel dengannya. Ganjalan penisnya yang menegang makin terasa jelas menggesek-gesek naik turun.
Ini tidak bisa di biarkan
Suara yang muncul dari dalam batinku membuat tanganku menarik tangan reno lepas dari kegiatannya yang terus berusaha menembus semakin tinggi. Aku tarik tangannya dan ku turunkan. Tidak ada rasa perlawanan dari reno. tangan kanannya kembali memeluk perutku. Tangan kirinya masih berada di bawah.
“ Rambut kakak wangi ya?” ucap reno pelan dan sangat dekat dengan telinga kananku. Hembusan nafasnya terasa hangat menerpa leher. Bulu-bulu halus yang ada di leher terasa berdiri. Geli sekali.
Cup..
Aku merasakan ada benda hangat dan lembab yang menempel antara bahu kanan dan leherku. Reno mengecupkan bibirnya ke leherku. Oh,,, aku merasa makin lunglai. Aku makin terangsang dengan perbuatannya. Tanpa sadar aku menggerakkan kepala mencondong ke kiri dan membuka ruang makin luas bagi reno untuk menyerang. Tapi aku tidak berusaha menghentikan serangannya.
Tindakan ini sepertinya di tangkap reno sebagai angin sejuk. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati leherku dari pundak hingga kebelakang leher. Uugghhhhh. Aku kembali mendesah. Dan desahan kali ini makin kuat.
“ Adeekkkkk, jangan gitu ah, kakak geli” Ujarku pelan. Tanpa sadar tangan kananku bergerak dan meremas tangan kanannya yang sedari tadi memeluk perutku.
Perlahan tangan kanan reno kembali naik, pergerakannya cepat, jauh lebih cepat dari tadi. Hanya dalam hitungan detik jempolnya sudah kembali menelusup kedalam BH ku. Hampir mengena putingku meskipun masih di batasi oleh baju.
Ughhh....
Aku kembali mendesah, jempol reno sudah menyentuh putingku. Putingku mengeras dengan sangat cepat. Ada gelombang aneh yang kurasakan dari putingku menyebar hingga keseluruh tubuhku. Gelombang ini membuatku makin tidak kuat untuk berdiri. Sekarang aku makin menyandarkan tubuhku ke tubuh reno. jempol tangan kanan reno berputar-puar di sekitar aerola payudara kananku, dan dalam ritme tertentu menyentuh putingnya. Tidak ada lagi kepura-puraan atau seolah-olah ketidak sengajaan yang dilakukan oleh reno. gerakannya sudah semakin jelas. Gerakan pinggulnya mengesek kepantatku pun makin terasa dan makin lama makin cepat.
Telunjuk tangan kanannya sekarang menelusup kedalam, melalui celah diantara dua kancing seragam sekolah yang ku kenakan. Aku mengenakan tanktop di dalam, jadi jari telinjuk nya masih tidak bersentuhan langsung ke kulit payudara ku. Dan dalam waktu singkat jari telunjuknya sudah menyentuh puting kiri. Jempol kanan memainkan pting kanan, telunjukknya memainkan puting kiri. Tangan kiri reno makin turun kebawah, dan sekarang tepat mengelus vaginaku dari luar.
Aaghhh.....
Aku kembali mendesah perlahan, tidak ada lagi obrlan yang keluar dari mulut kami, kami sudah sibuk berenang dalam birahi masing-masing. Birahi yang sangat tidak etis. Hujan mulai reda dan hanya berupa rintik-rintik hujan, tapi masing-masing dari kami masih bersikap seolah-olah tidak mau tahu dan tidak mau mengakhiri kegiatan erotis yang sedang berlangsung.
Reno sekarang sudah tidak malu-malu lagi menggesekan penisnya ke pantatku, dan bahkan sedikit mendorong. Beberapa kali aku harus melangkah pijakan kedepan untuk bertahan dari dorongannya. Sampai tangan kananku sekarang harus memegang kusen pintu ponok untuk bertahan. Tangan kiri reno yang awalnya hanya mengelus pelan vaginaku dari luar rok dengan satu jari, sekrang sudah mengelus ke kiri dan kekanan dengan keempat jarinya. Kata mengusap mungkin lebih tepat. Sensasi ini makin membuat ku melayang. Ingin rasanya kau mendesah sekuatnya.
HEI.. NGAPAIN KALIAN !!!
Kami berdua kaget dan langsung melepaskan diri. Tangan reno juga langsung melepaskan pelukannya. Selang 5 meter di depan kami ada mamang pedagang siomai lewat dari arah belakang pondok. Berjalan kearah depan jalan. Dia menoleh kepada kami dengan tatapan garang.
“ kami berteduh kehujanan pak” jawab Reno. nada suaranya tenang, tidak ada nada kecemasan dalam suaranya. Sedangkan aku sudah gemetar ketakutan. Suaraku serasa tertahan di tenggorokan.
“ alah, dasar kalian mau pacaran aja di pondok sana. Ni hujan udah berenti, pulang sono. Ganti seragamnya. Pamit sama orang tua dulu kalau mau pergi pacaran.” Lanjut mamang siomai
Reno mengambil serangamnya yang tadi tergantung di pintu pondok. Mengibas-mingabskan sebentar dan mengenakan nya kembali.
“ ayo pulang” ajak reno, wajahnya dingin, dia mengatakan itu tanpa menoleh kearahku, dan langsung aja berjalan kearah motor yang terparkir di pinggir jalan. Aku pun mengikutinya. Mamang siomai juga mulai kembali bergerak. Tidak lama reno menyalakan motornya dan aku sudah berada di boncengan. Mamang siomai sudah mendekati kami lagi.
“ kalian kalau tidak ketahuan saya pasti mau berbuat mesum di pondok tadi kan?” tanya mamang siomai sambil berusaha mendorong gerobaknya melewati pembatas trotoar jalan.
Aku menoleh kebelakang, suaraku kembali.
“ dia adik saya mang, bukan pacar” jawabku sambil senyum kuda.
Reno mengegas motornya, dan meninggalkan mamang siomai yang mentap kami dengan mulut terganga...

Friday, February 19, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VII



DUARRRRRRR
Suara petir besar sangat memekakkan telinga. Spontan aku langsung memeluk tubuh Reno. aku paling takut dengan petir. Aku benamkan kepala ku ke dada Reno, aku mampu mendengar detak jantungnya. Hangat kurasakan ketika pipiku menempel ke dadanya. Aku makin mengeratkan pelukanku ketika petir susulan berbunyi. Reno juga memelukku sekarang. Pelukannya hangat dan erat. Aku benar-benar merasa terlindungi. Kehangatan tubuh reno serasa mengalir ke seluruh tubuhku dan entah mengapa kewaitaanku terasa basah. Ada yang mengalir dari dalam tanpa diperintah. Aku merasakan pipiku memerah. Dan aku juga baru menyadari kalau ada sesuatu yang makin lama makin mengeras terasa dan benda itu menempel sedikit diatas kewaniataanku. Makin lama makin terasa, posisinya menekuk kebawah. Aku tertawa dalam hati, penis reno bangun di pelukanku. Dan karena tinggi kami tidak begitu beda. Aku 160 dan reno paling hanya beberapa centi di atasku. Posisiny penisnya bersentuhan dengan kewanitaanku. Aku melihat kebawah, tapi tidak jelas karena posisiku yang masih menempel erat ke reno. aku tidak berani bergerak, karena takut reno sadar kalau aku merasakan penisnya yang maikn menegang dan dia menjadi malu. Aku juga penasaran sampai mana jauhnya Penis reno bisa membesar. Terasa juga di punggungku kalau tangan reno mulai mengelus-elus punggungku, tangan kirinya memeluk pinggangku dan tangan kanannya mengelus-elus naik turun. Dari bawah leher sampai pinggang. Kemudian naik lagi. Penisnya kurasakan bernenyut-denyut. Tapi denyutannya aneh, tidak seperti denyut jantung. Denyutan nya berubah-ubah, seperti denyutan yang di sengaja. Aku jadi berfikir kalau reno sengaja menggerakkan atau lebih tepatnya mengontrol denyutan kemaluannya yang makin lama makin keras.
Aku melepaskan pelukanku ke reno, reno juga melepaskan pelukannya. Aku sempatkan melirik kebawah, terlihat sedikit tonjolan di celana reno, meski tidak terlalu jelas. Celana reno yang basah membuat warna celananya makin gelap di tambah suasanya yang juga tidak terang bahkan hampir gelap di dalam pondok. Aku berbalik dan membelakangi reno. sekarang posisi kami sedikit berenggang. Hujan masih turun dengan sangat deras. Aku usap-usap lenganku untuk mengatasi tusukan udara dingin yang muali menyerang.
“ kakak dingin ya?” tanya reno. tanpa komando kedua tangan reno mengusap-usap lenganku dari pangkal lengan hingga ke penggelangan tangan. Kiri dan kanan. Aku jadi berhenti mengusap-usap lenganku dan membiarkan reno yang mengambil alih. Kedua tanganku bersedekap diperut, tangan kiri di atas tangan kanan. Reno masih terus mengusap-usap kedua lenganku, posisi ini menarikku untuk kembali ke pelukan reno dengan posisi tetap membelakanginya. Aku kembali merasakan penis reno menempel padaku, sekarang pada pantat ku. Posisi ini membuat tubuhku dan tubuh reno berbagi kehangatan. Entah kenapa aku merasakan sebuah perasaan yang sangat nyaman bukan takut karena sedang dipeluk oleh remaja laki-laki yang sedang tidak mengenakan baju dan berada di tempat sepi. Di tambah dengan penis nya yang tegang. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah Reno akan memperkosaku di pondok ini. Apakah adik kandungku akan melakukan sesuatu yang tabu terhadap tubuh kakak perempuannya.
Reno masih mengusap tanganku, satu tangannya menyibak rambutku dan memindahkannya kedepan. Leher bagian kanan belakangku lebih bebas dan terbuka. Aku bisa merasakan desir hangat hembusan nafas reno yang menerpa leherku. Geli, geli sekali. Dan perasaaan geli ini mengalir keseluruh tubuh dengan cepat. Ada sesuatu yang mengalir dari selangkanganku.
“ kalau hujannya gak berenti juga gimana nih dek?” aku berusaha membuka obrolan dan mengalih kan pikiranku dan meredam rasa geli di selangkangan.
“ Ya kita nginep di sini? Kan tu ada tempat tidurnya.” Reno masih bisa bercanda dengan jawabannya.
“ yeee, nggak mau lah. Tar kakak di gigit nyamuk tidur disini.”  Aku menolehkan wajah kesamping kanan, berusaha melihat matanya. Waja kami sangat dekat. Hanya berkisar dua centimeter. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku.
“ kakak tenang aja, tar aku yang jaga. Jangankan nyamuk, macan sekalipun gak bakal berani gangguin kakak ku yang cantik ini?”
“ Ih gombal kamu”
Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku, entah kenapa aku merasa tersanjung di gombali oleh adik sendiri, mungkin jika suasana terang, rona merah dipipi ku bakal terlihat dengan jelas. Aku memegang tangan reno yang sedang melingkar diperutku. Tangan kanan reno perlahan tidak hanya memeluk diam, tapi mulai mengusap-usap perutku. Dari kiri kekanan. Sesekali terasa dia memainkan jarinya di lubang pusarku. Aku jadi merinding dan merasa hilang kuasa untuk mencegahnya.
“ ini namanya udel...” Kata reno pelan. Intonasinya lucu. Seperti sedang mengajarkan hal itu kepada anak kecil.
Aku melihat kesamping, dan hanya tersenyum. Dan entah kenapa aku sendiri merasakan kalau senyumku terkesan genit.
Tangan Kanan reno makin naik keatas dan sudah berada tepat dibawah payudaraku. Aku bisa merasakan kalau jempolnya berusaha menggesek bagian bawah payudaraku yang tidak tertutup utuh oleh BH yang ku kenakan. Tangan kirinya mengusap makin kebawah dan hampir menyentuh area pubis. Aku tidak mencegahnya dan memulai obrolan lagi. Yang aku sendiri tidak begitu jelas dengan apa yang aku obrolkan. Aku hanya berusaha menunjukkan seolah-olah aku tidak merasakan apa yang sedang reno lakukan. Reno juga sesekali menimpali ucapan-ucapanku. Aku bercerita tentang sekolah, dia hanya menjawab he’eh atau oooo. Aku merasakan bahwa perlahan reno menggesekkan penisnya ke pantatku. Gerakannya perlahan. Bahkan hampir tidak kentara. Gerakan nya naik turun dan tepat di antara dua bongkahan pantatku. Aku jadi gelisah. Tapi tangan kiri reno masih menekan kuat tubuhku untuk terus menepel di badannya. Jempol tangan kanannya terasa berusaha menelusup kedalam BH ku. Makin lama makin tinggi dan hampir menyentuh putingku. Paling hanya satu senti dari putingku.
                Ughhhh........