ini blog yang berisikan kisah-kisah seks sedarah. bagi agan-agan yang tidak berminat dengan konten ini silahkan di minati. wkwkwkw

Showing posts with label cerita seks nyata. Show all posts
Showing posts with label cerita seks nyata. Show all posts

Friday, February 19, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA VII



DUARRRRRRR
Suara petir besar sangat memekakkan telinga. Spontan aku langsung memeluk tubuh Reno. aku paling takut dengan petir. Aku benamkan kepala ku ke dada Reno, aku mampu mendengar detak jantungnya. Hangat kurasakan ketika pipiku menempel ke dadanya. Aku makin mengeratkan pelukanku ketika petir susulan berbunyi. Reno juga memelukku sekarang. Pelukannya hangat dan erat. Aku benar-benar merasa terlindungi. Kehangatan tubuh reno serasa mengalir ke seluruh tubuhku dan entah mengapa kewaitaanku terasa basah. Ada yang mengalir dari dalam tanpa diperintah. Aku merasakan pipiku memerah. Dan aku juga baru menyadari kalau ada sesuatu yang makin lama makin mengeras terasa dan benda itu menempel sedikit diatas kewaniataanku. Makin lama makin terasa, posisinya menekuk kebawah. Aku tertawa dalam hati, penis reno bangun di pelukanku. Dan karena tinggi kami tidak begitu beda. Aku 160 dan reno paling hanya beberapa centi di atasku. Posisiny penisnya bersentuhan dengan kewanitaanku. Aku melihat kebawah, tapi tidak jelas karena posisiku yang masih menempel erat ke reno. aku tidak berani bergerak, karena takut reno sadar kalau aku merasakan penisnya yang maikn menegang dan dia menjadi malu. Aku juga penasaran sampai mana jauhnya Penis reno bisa membesar. Terasa juga di punggungku kalau tangan reno mulai mengelus-elus punggungku, tangan kirinya memeluk pinggangku dan tangan kanannya mengelus-elus naik turun. Dari bawah leher sampai pinggang. Kemudian naik lagi. Penisnya kurasakan bernenyut-denyut. Tapi denyutannya aneh, tidak seperti denyut jantung. Denyutan nya berubah-ubah, seperti denyutan yang di sengaja. Aku jadi berfikir kalau reno sengaja menggerakkan atau lebih tepatnya mengontrol denyutan kemaluannya yang makin lama makin keras.
Aku melepaskan pelukanku ke reno, reno juga melepaskan pelukannya. Aku sempatkan melirik kebawah, terlihat sedikit tonjolan di celana reno, meski tidak terlalu jelas. Celana reno yang basah membuat warna celananya makin gelap di tambah suasanya yang juga tidak terang bahkan hampir gelap di dalam pondok. Aku berbalik dan membelakangi reno. sekarang posisi kami sedikit berenggang. Hujan masih turun dengan sangat deras. Aku usap-usap lenganku untuk mengatasi tusukan udara dingin yang muali menyerang.
“ kakak dingin ya?” tanya reno. tanpa komando kedua tangan reno mengusap-usap lenganku dari pangkal lengan hingga ke penggelangan tangan. Kiri dan kanan. Aku jadi berhenti mengusap-usap lenganku dan membiarkan reno yang mengambil alih. Kedua tanganku bersedekap diperut, tangan kiri di atas tangan kanan. Reno masih terus mengusap-usap kedua lenganku, posisi ini menarikku untuk kembali ke pelukan reno dengan posisi tetap membelakanginya. Aku kembali merasakan penis reno menempel padaku, sekarang pada pantat ku. Posisi ini membuat tubuhku dan tubuh reno berbagi kehangatan. Entah kenapa aku merasakan sebuah perasaan yang sangat nyaman bukan takut karena sedang dipeluk oleh remaja laki-laki yang sedang tidak mengenakan baju dan berada di tempat sepi. Di tambah dengan penis nya yang tegang. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah Reno akan memperkosaku di pondok ini. Apakah adik kandungku akan melakukan sesuatu yang tabu terhadap tubuh kakak perempuannya.
Reno masih mengusap tanganku, satu tangannya menyibak rambutku dan memindahkannya kedepan. Leher bagian kanan belakangku lebih bebas dan terbuka. Aku bisa merasakan desir hangat hembusan nafas reno yang menerpa leherku. Geli, geli sekali. Dan perasaaan geli ini mengalir keseluruh tubuh dengan cepat. Ada sesuatu yang mengalir dari selangkanganku.
“ kalau hujannya gak berenti juga gimana nih dek?” aku berusaha membuka obrolan dan mengalih kan pikiranku dan meredam rasa geli di selangkangan.
“ Ya kita nginep di sini? Kan tu ada tempat tidurnya.” Reno masih bisa bercanda dengan jawabannya.
“ yeee, nggak mau lah. Tar kakak di gigit nyamuk tidur disini.”  Aku menolehkan wajah kesamping kanan, berusaha melihat matanya. Waja kami sangat dekat. Hanya berkisar dua centimeter. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku.
“ kakak tenang aja, tar aku yang jaga. Jangankan nyamuk, macan sekalipun gak bakal berani gangguin kakak ku yang cantik ini?”
“ Ih gombal kamu”
Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku, entah kenapa aku merasa tersanjung di gombali oleh adik sendiri, mungkin jika suasana terang, rona merah dipipi ku bakal terlihat dengan jelas. Aku memegang tangan reno yang sedang melingkar diperutku. Tangan kanan reno perlahan tidak hanya memeluk diam, tapi mulai mengusap-usap perutku. Dari kiri kekanan. Sesekali terasa dia memainkan jarinya di lubang pusarku. Aku jadi merinding dan merasa hilang kuasa untuk mencegahnya.
“ ini namanya udel...” Kata reno pelan. Intonasinya lucu. Seperti sedang mengajarkan hal itu kepada anak kecil.
Aku melihat kesamping, dan hanya tersenyum. Dan entah kenapa aku sendiri merasakan kalau senyumku terkesan genit.
Tangan Kanan reno makin naik keatas dan sudah berada tepat dibawah payudaraku. Aku bisa merasakan kalau jempolnya berusaha menggesek bagian bawah payudaraku yang tidak tertutup utuh oleh BH yang ku kenakan. Tangan kirinya mengusap makin kebawah dan hampir menyentuh area pubis. Aku tidak mencegahnya dan memulai obrolan lagi. Yang aku sendiri tidak begitu jelas dengan apa yang aku obrolkan. Aku hanya berusaha menunjukkan seolah-olah aku tidak merasakan apa yang sedang reno lakukan. Reno juga sesekali menimpali ucapan-ucapanku. Aku bercerita tentang sekolah, dia hanya menjawab he’eh atau oooo. Aku merasakan bahwa perlahan reno menggesekkan penisnya ke pantatku. Gerakannya perlahan. Bahkan hampir tidak kentara. Gerakan nya naik turun dan tepat di antara dua bongkahan pantatku. Aku jadi gelisah. Tapi tangan kiri reno masih menekan kuat tubuhku untuk terus menepel di badannya. Jempol tangan kanannya terasa berusaha menelusup kedalam BH ku. Makin lama makin tinggi dan hampir menyentuh putingku. Paling hanya satu senti dari putingku.
                Ughhhh........     

Wednesday, February 3, 2016

DILEMA CINTA SIMALAKAMA IV



Bel berbunyi, dua jam pelajaran pertama, pelajaran bahasa inggris sudah selesai. Saatnya belajar fisika. Teman-temanku mulai heboh, cemas dan ketakutan. Aura mencekam langsung menyelimuti kelas. Kami langsung mengeluarkan buku PR. Berusaha membahas jawabannya. Aku dan geng ku, Iren, Lita dan zi membuka pr kami. Lita sebagai yang paling pintar di antara kami berusaha mengoreksi jawaban PR kami. Berusaha membantu semampunya. Dia kaget ketika membuka PR ku. Dan melihat punya nya.
“ panjang amat jawaban loe sis, gimana cara kamu ngerjainya?” tanya Lita
Aku Cuma cengir-cengir kuda dengan pertanyaan lita, aku juga bingung mau jawab apa.
“ aku gak kepikiran loh untuk mengerjakan seperti ini. Kamu dapat ilham dari mana?” kejar Lita lagi. Kedua teman ku yang lain juga memandangiku dengan penuh selidik. Penuh tanda tanya
“ hehe, yang ngerjainnya Reno. Itu kan bukan tulisanku. Itu tulisan Reno. Aku ketiduran malam tadi pas minta tolong dia bantu ngerjain PR.” Jawab ku sambil cengengesan.
Mereka menatap ku dengan pandangan aneh. Mungkin aneh seorang kakak minta bantu menyelesaikan PR kepada adiknya.
“ sepertinya jawaban loe benar deh sis.” Sambung lita lagi. Dia amati setiap jawaban PR ku, dan di samakan dengan Prnya.
Mendengar perkataan Lita, aku bukannya senang malahan cemas, karena kebiasaan pak Lubis, siswa yang bisa menjawab dengan benar akan di suruh mengerjakan di papan tulis, menjelaskan ke seluruh teman kelas. Mungkin mimpi ku malam tadi akan terjadi. Jika memang jawaban ini benar, aku bisa saja menyalinnya ke papan tulis, tapi bagaimana cara menjelaskannya. Awalnya saja aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Kecemasan ku makin menjadi ketika pak Lubis sudah melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Seluruh kelas mendadak hening. Aura mencekam makin kuat terasa di seluruh penjuru kelas. Anak-anak berandal yang duduk di belakang ku biasanya super ribut juga hening. Suasana kelas lebih mencekam daripada kuburan.
“ kumpulkan PR kalian ke depan barisan masing-masing dan tukarkan seperti biasa” perintah pak lubis dengan aksen batak nya yang kental. Cara pak lubis mengoreksi hasil nya memang selalu seperti itu, setiap buku PR kami akan di kumpulkan di meja paling depan. Kemudian di tukarkan ke barisan berkelang satu dari barisan kami. Kami ada 4 baris, aku di barisan ke empat, berarti akan di tukar ke barisan ke dua. Barisan satu di tukar kebarisan ketiga. Begitu juga sebalikkanya.
Buku sudah di bagikan, kami sudah tidak lagi memegang buku kami masing-masing. Tidak ada yang tahu siapa yang mengoreksinya.. Semoga saja jawabanku tidak terlalu mencolok. Cukuplah nilainya Rata-rata di antra semuanya. Agar tidak di suruh maju ke depan. Biasanya iklimah, Diah dan Harun yang selalu benar. Trio juara kelas kami. Pasti salah satu di antara mereka yang maju menjelaskan. aku memegang buku Iklimah dan jawabannya tidak sepanjang jawaban di PR ku. Aku makin cemas. Dalam hati aku berharap, semoga jawaban Iklimah yang benar, bukan jawaban Reno.
Pak lubis menuliskan angka satu, dua dan tiga. Dan menuliskan hasil akhir dari ketiga PR kami. Hanya jawabannya saja. Tidak dengan penguraian nya.
“ ini jawaban atas PR kalian minggu lalu, angkat tangan siapa di antara kaliah yang  mengoreksi jawaban yang benar. Sebut kan nama temanmu itu?” suara berat pak lubis mulai mengudara.
Satu orang mengangkat tangan. Septi.
“ Punya diah pak, benar satu jawaban nomor 3. Yang lain salah”
Aku lihat jawaban iklimah yang aku koreksi. Nomor 3 benar, nomor 2 salah nomor satu salah. Aku lihat liza  mengangkat tangan.
“ Harun Benar satu pak, nomor 3.”
aku mengangkat tangan
“Iklimah juga benar satu pak. Nomor 3.”
Ya memang mereka yang selalu mengudara namanya, meskipun hanya benar satu tapi tetap lebih unggul dari yang lain. Dan mereka hanya benar nomor 3. Tidak dengan nomor  lain. Ada satu tangan lagi yang terangkat. Karim.
“ Wah yang ini benar semua pak.” Ucap Karim setengah berteriak kaget. Seisi kelas juga kaget dan langsung memandang ke arah Karim.
“ ini punya........” sambung karim lagi tapi kalimatnya masih menggantung, dia membalikkan buku yang dia pegang. Mau melihat nama siapa yang tertera di depan. Nama empu sang buku kebenaran. Mata karim langsung membelalak ketika membaca namanya, dia melihat kearah pak Lubis dengan tatapan nanar seolah tidak percaya. Seisi kelas juga tegang menunggu karim menyebutkan nama anak jenius baru yang mampu menyelesaikan PR fisika pak lubis. Nafasku jadi sesak, siapa dia, batinku.
“punya siapa karim?” Tanya pak Lubis
“ ini punya Siska pak!”
HAH....... seluruh kelas kompak mengatakan kata yang sama, kemudian memandangku. Beribu pertanyaan seolah terpancar dari tatapan mereka. Siska, seorang anak yang hanya bisa bersolek sekarang mendadak menjadi jenius sains. Selama ini hanya berada di peringkat biasa-biasa saja menjadi yang terdepan. Biasanya kalau semua salah ikut salah, semua sedang ikut sedang, semua benar baru ikut benar. Tidak pernah mencolok.  Teman ku sendiri juga memandangku dengan kaget. Tapi mereka tahu bahwa itu bukan hasilku, dan aku sekarang dalam masalah besar. Keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori kulitku. Tangan dan lututku gemetar, seolah mengahadapi putusan eksekusi mati. Wajah ku pucat pasi.
“ siapa lagi yang benar?” tanya pak lubis. Dan seluruh kelas hening. Keheningan yang menobatkan ku sebagai pemenang pertama.
“ siska, maju kedapan, tulis jawaban mu dan jelas kan ke teman-teman?” perintah pak lubis.
Aku bingung luar biasa, kaki ku terasa berat sekali untuk melangkah. Serasa ada beban 1 ton menggantung di kaki. Ruangan kelas terasa mengecil, aku berharap ada pahlawan yang menahanku dan menyelamatkan ku dari masalah ini. Tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan pahlawan tersebut, dengan terpaksa aku bangkit. Aku berjalan ke arah karim mengambil buku ku. Diringi oleh tatapan kecurigaan dari seluruh kelas. Curiga bagaimana aku bisa berubah mendadak pintar. Aku berjalan kepapan tulis dan mengambil spidol yang ada di meja pak lubis. Sekarang Aku sudah menghadap papan tulis dengan spidol di tangan tanpa tahu apa yang harus di lakukan. Oh tuhan, Aku berharap mimpi malam tadi menjadi kenyataan. Tanganku bergerak dengan sendirinya. Tapi tanganku tetap tidak bergerak. Tidak bertindak sendiri. Dinding-dinding kelas yang berwarna orange serasa menjadi gelap. Suasana sangat hening. Hanya terdengar suara detik jarum jam yang bergerak, detik jam dinding menempel di belakang kelas.
Aku buka buku PR ku dan mulai menyalin tulisan Reno di buku PR ke papan tulis. Aku berusaha menyalinnya sama persis. Jarak, spasi, huruf dan tanda baca. Aku berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan. Rumus-rumus dan keterangan. Jawaban soal pertama sudah aku salin tanpa hambatan yang berarti, meskipun keringat dingin terus menucur di dahi. Sekarang aku mulai menuliskan jawaban untuk soal kedua.
“ berhenti dulu siska, coba kamu jelaskan ke teman mu bagaimana cara penyelesaian nya?”
Aku memutar badanku dan menatap pak lubis, tidak ada tatapan penuh kekaguman di wajahnya seperti mimpi malam tadi.  Yang ada hanya tatapan penuh selidik, tatapan yang sama dengan tatapan seluruh teman-teman yang lain. Aku terdiam, aku tundukkan wajah dan menatap buku PR di tangan. Aku tidak berani mengangkat wajah dan menatap mereka. Lidah ku kelu dan kaku. Aku lupa caranya berbicara.
Oh tuhan, bimbing lidahku seperti mimpi malam tadi. Apa yang harus aku jelaskan ke mereka. Batinku menjerit, aku merasa takut, aku juga merasa kesal kenapa otak ini begitu bodoh. Tidak mudah menangkap pelajaran yang di berikan. Kenapa otak encer itu hanya di turunkan ke Reno, tidak kepadaku juga. Bukankah kami satu genetik, satu kandungan dan berasal dari benih yang sama.
“ Ayo siska, jelaskan kepada teman-temanmu?” Perintah pak lubis
“e.....” aku hanya berguman singkat, kemudian hening, bingung mau berkata apa. Aku tidak tahu dari mana harus memulai.
“ayo jelaskan, jawaban yang kau tuliskan itu benar. Sekarang saya mau dengar bagaimana kau bisa menyelesaikan soal itu. Dari empat kelas yang saya berikan tiga soal itu. Hanya kau yang benar semua.” Jelas Pak lubis. Fakta bahwa aku sendiri yang benar membuat nyaliku makin ciut.
“ Ayo siska, mungkin kau adalah anak jenius yang selama ini menyembunyikan kemampuan?” Pak Lubis mulai meledek. Dan terdengar tawa dari seisi kelas.
Aku makin bingung harus menjawab apa, ledekan pak lubis barusan membuatku serasa ingin menangis.
“ saya jadi curiga jangan-jangan bukan kau yang mengerjakan PR itu, iya kan?” selidik Pak Lubis lagi setangah membentak. Suaranya berat. Aksen bataknya makin kentara
“ coba saya lihat Buku PR mu?” pak lubis melangkah mendekat dan mengambil buku dari tanganku. Lebih tepatnya merampas. Aku masih tertunduk tidak berani menatapnya.
“ benarkan, ini bukan tulisan mu, tulisan tangan ini berbeda dengan tulisan tangan di lembar-lembar sebelumnya.” Gumam pak lubis sambil membolak-balikkan halam per halaman. Menyocokkan tulisan tangan yang ada disana.
Hancurlah aku, aku akan menjadi bahan ejekan seumur hidup lagi. Terasa air mataku mulai berlinang, aku makin tidak berani mengangkat kepala.
“ siapa yang mengerjakan ini?” Tanya pak lubis
Aku masih diam seribu bahasa, tidak tahu harus menjawab apa. Jujur salah berbohong salah.
“ saya kenal tulisan itu pak!” terdengar sahutan dari tengah kelas, Itu suara karim. Yang mengoreksi PR ku tadi
“ itu tulisannya Reno, adik siska.” 
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)

Saturday, December 19, 2015

Kusetubuhi ibuku dalam tidurnya V



Sore itu aku baru saja pulang kerja, kuparkirkan motor diteras lalu aku letakkan tas ku dikamar. Di meja sudah ada segelas kopi buatan ibuku, setiap pulang kerja ibu pasti sudah siapkan kopi untukku. Aku duduk diteras sambil merokok dan menikmati segelas kopi. Lalu lalang tetangga yang lewat depan rumahku, sudah jadi kebiasaan saling bertegur sapa karena beginilah kehidupan di rumah gang sempit.
Ibuku berbicara dari dalam ruang tamu mengatakan bahwa kakakku akan datang sabtu ini. Aku menanggapi biasa saja, kakakku memang kalo sudah dirumah sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengobrol dengan ibu. Oh ya..aku belum menceritakan tentang kakakku ini yang sekarang sedang merantau ke jakarta.
Aku dan kakakku 2 bersaudara, sama-sama belum menikah. Umur kakakku 27 tahun, kulitnya putih rambut lurus sebahu dan menggunakan kaca mata. Namanya Dian ariani sulistiawati, biasa aku panggil mbak dian saja. Kakakku secara fisik bisa dibilang biasa saja tidak ada yang istimewa menurutku. Meskipun mbak dian lebih tua dariku tapi posturnya lebih pendek dariku.
Singkat cerita sabtu itu kakakku datang, biasa lah ibuku paling heboh kalo kakak pulang, aku sih cuma basa basi saja sambil liat oleh-oleh yang dibawa mbak dian. Mereka lebih asik ngobrol berdua sampe malam. Aku lebih memilih nongkrong di tempat tetangga kalo malam minggu begini, sebelumnya aku sudah persiapan bawa kunci rumah karena aku pasti pulang jam 12 malam.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kamar berniat untuk tidur. Mungkin karena terlalu banyak minum kopi tadi sudah hampir sejam mataku tak kunjung terpejam. Akhirnya aku mengambil hp dan membuka situs facebook. Tak sengaja akun mbak dian muncul di timelineku, wah..rupanya dia baru update foto profil. Aku lihat dia sedang selfie di ruang tamu rumahku. Ada yang menggelitik pandanganku, mbak dian selfie dari atas wajah, sekilas wajahnya mirip memang dengan ibu (mbak dian juga mengenakan jilbab jika keluar), Disini aku malah jadi ingat ibuku. Aku juga jadi ingat bagaimana aku memperlakukan ibuku dengan perbuatan mesumku.
Aku buka kembali foto-foto ibu yang telah aku pindahkan ke hp ku. Berbagai foto yang aku lihat memang membuatku penisku tegang. Teringat lagi bagaimana sentuhan penis dan vagina ibuku mampu memberikan efek orgasme yang dahsyat. Aku jadi berpikir kalau besentuhan saja sudah seperti itu bagaimana kalo penisku sampai tembus ke liang rahimnya. Pasti sensasinya akan lebih nikmat apalagi kalau sampai aku mengeluarkan sperma didalam rahim ibuku. Bayangan-bayangan seperti itulah yang memacu diriku untuk bangun dan bergerak ke kamar ibu.
Tapi aku ingat juga mbak dian saat ini tidur di sebelah ibuku, lagi pula malam ini aku tidak menggunakan obat tidur seperti sebelumnya. Sedikit sentuhan gerakan atau suara saja sangat mungkin untuk membangunkan mereka berdua. Aku berjalan ke kamar ibu dan melihat dibalik tirai, mbak dian tidur disebelah tembok dengan posisi miring menghadap tembok, sementara ibuku tidur terlentang disebelahnya. Dalam situasi seperti ini aku ragu. Berbeda jika ibu tidur sendiri, nah sekarang ada mbak dian disebelahnya.
Seperti yang sudah-sudah, meskipun keraguanku sangat besar tetap saja aku tidak bisa menolak dorongan nafsu. Kali ini aku mulai agak nekat, apabila aksiku sampai kepergok ibu aku akan beri penjelasan, sekuat tenaga aku kumpulkan nyali untuk melakukannya. Aku teringat kala aku pertama kali melumat bibir ibuku waktu itu, ibu tidak terbangun sama sekali. Aku ingin mengulangi lagi, merasakan lagi sensasi kehangatan cumbuan pada bibir dan lidah ibuku. Akhirnya aku masuk juga ke kamar ibu dan berlutut disisi ranjang ibuku.
Aku sentuh dagu ibu dengan telunjukku dan kutarik kebawah supaya kedua bibirnya terbuka. Aku sudah melihat barisan gigi depannya, aku tarik lebih jauh lagi kebawah, makin lebar terbuka mulutnya sampai gigi depannya ikut membuka. Kembali aku julurkan lidahku untuk menerobos rongga mulut ibuku. Rasanya hangat ketika aku jelajahi rongga mulut ibuku dengan lidahku. Entah kenapa aku mulai mengabaikan resiko ibu terbangun jadi aku tetap melanjutkan aksiku. Lagi pula ibuku tidak menunjukkan anda akan terbangun jadi aku makin semangat.
Ketika sedang asik mencumbu ibuku, mbak dian bergerak menelentangkan badannya, seketika itu juga aku bergerak mundur dan tiarap disebelah ranjang. Disini aku jadi sadar, malam ini akan sangat beresiko jika aku meneruskan, aku memutuskan tidak melanjutkan aksiku barusan walaupun sedang enak-enaknya. Akhirnya aku tuntaskan di kamar mandi dengan cara onani. Aku harus sabar menunggu sampai mbak dian pulang lagi ke jakarta.
Esoknya mbak dian sudah pulang lagi, aku memang sudah menunggu dia pulang lagi, dengan begitu aku bisa kembali meneruskan aksi bejatku pada ibu. Aku kembali berencana memasukkan obat tidur kedalam rebusan jamu yang biasa ibu buat. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, aku sudah hafal betul dengan rutinitas ibu setiap harinya. Aku masukkan obat tidur kedalam panci rebusan jamu tanpa sepengtahuan ibuku. Aku sudah berniat aku ingin menyetubuhinya malam ini. Aku harus bisa menembus vaginanya dengan penisku.
Selang 2 jam kemudian aku kembali memastikan keadaan sebelum memulai aksiku. Aku lihat ibu tidur dengan lilitan sarung dan kaos. Kali ini aku lebih mengabaikan ‘standar keamanan’ dalam menjalankan aksiku, mungkin aku berpikir tanpa obat tidur saja ibu tidak merasakan mulutnya digumuli olehku apalagi jika menggunakan obat tidur. Nah..pemikiran ini yang memicu diriku berniat untuk menyetubuhinya malam ini bukan lagi hanya sekedar dengan sentuhan-sentuhan.
Setelah aku menciumi bibir ibuku aku langsung menaikkan sarung ibuku keatas, nampak kedua pahanya yang gempal berisi, putih mulus sampai ujung pangkalnya. Kali ini aku menurunkan CD ibuku perlahan, pelan sekali aku turunkan hingga terlepas. Aku tidak mau terburu-buru, semua gerakan aku nikmati dengan penuh penghayatan. Vagina ibu terlihat jelas dimataku meski kamar itu hanya mengandalkan cahaya dari ruang tv. Aku mulai menyentuhnya dari bawa ke atas dengan jariku, turun lagi ke bawah. Yang kurasakan saat itu jemariku merasa hangat dan agak lembab juga sedikit licin. Yang aku tau vagina selalu ada cairan agak lengket.
Dengan posisiku dibawah selangkangan ibu aku tetap sesekali memperhatikan wajah ibu, jaga-jaga saja bila ibu terbangun. Setelah ujung jariku basah dan lembab aku mulai dorong sedikit-demi sedikit, yang semula hanya ujung telunjukku saja yang menyentuh vagina ibu kini sudah masuk seukuran kuku. Aku gerakkan melingkar serta keatas dan kebawah dengan tujuan supaya bibir vagina ibu lebih menyeruak membuka. Tanpa disadari pula karena sentuhanku itu vagina ibu secara otomatis menjadi lebih basah dan ini memudahkanku untuk memasukkan jariku lebih dalam.
Tidak terasa sudah setengah jariku masuk, disamping vagina ibu yang memang sudah pernah mengeluarkan 2 orang anak gerakan jariku juga turut membantu proses ini. Tak tahan melihat vagina ibu yang makin basah, aku julurkan lidahku sambil kedua tanganku membuka bibir vagina ibu kesamping kanan kiri. Ada rasa asin getir yang kurasa dilidahku, semakin dalam dan akhirnya bibirku bersentuhan langsung dengan bibir vagina ibu. Aku diamkan sejenak sambil melihat ke arah wajah ibu, setelah dirasa aman aku teruskan gerakan lidahku didalam vagina ibu.
Produksi cairan vagina ibu makin meningkat, karena sudah bercampur juga dengan liurku. Otomatis liang vaginanya lebih lebar membuka. Aku tusuk-tusuk vagina ibu dengan lidahku dan kadang aku hisap dalam-dalam dengan suara seperti mengecap. Dalam kondisi seperti ini, aku sudah dikuasai sepenuhnya oleh hawa nafsu, aku sudah tidak peduli lagi dengan resiko apapun nanti. Aku sudah siap menyetubuhi ibuku, sudah siap untuk membenamkan penisku di vagina ibu, sudah siap untuk mengeluarkan benih spermaku didalam rahim ibu kandungku sendiri. Ibuku erni sulistiawati harus aku setubuhi malam ini juga, apapun yang terjadi aku tidak peduli. Tujuanku hanya satu aku tuntaskan obsesiku malam ini, menyatukan tubuhku dan tubuh ibuku kembali dengan cara dan situasi yang berbeda dengan yang terjadi 22 tahun lalu.
Aku merasa belum puas juga dengan aktifitas oralku pada vagina ibu, meski sebagian wajahku sudah belepotan cairan aku malah semakin bernafsu. Sebenarnya aku masih ingin mencumbu vagina ibu tapi aku ingin mencoba hal baru lainnya. Dari balik selangkangan ibu aku menatap bibir tebalnya, aku ingin merasakan penisku masuk kedalam mulutnya. Aku bangkit dan mengelap wajahku yang penuh dengan campuran cairan vagina dan liurku. Aku buka celana dan bajuku, aku benar-benar telanjang dihadapan ibuku saat ini.
Aku berbaring disebelah kanan ibu lalu aku lingkarkan tanganku dipinggangnya. Selangkangan ibuku masih terbuka bekas aku oral tadi dan aku biarkan saja seperti itu. Aku menatap wajah ibuku dari samping memperhatikan matanya yang terpejam, bibirnya yang menggoda dan alunan nafas dalam tidurnya yang teratur. Pada saat itu aku merasa nyaman dan bahagia sekali. Aku yang tak menyangka, perbuatanku akan sejauh ini, aku sudah berhasil menggumuli bibir dan vagina ibuku. Semakin menyadari wanita tersebut adalah ibu semakin nafsuku bangkit.
Aku memang ingin menyetubuhinya sebagai ibuku, bukan sebagai kekasih atau istri. Pikiranku sebagai anak kandung yang ingin menyetubuhi ibuku malah jadi energi tambahan betapa aneh dan gila sensasi yang kurasakan saat ini. Dahulu aku juga pernah berorientasi seksual terhadap teman sebayaku atau rekan kerja, atau bahkan puluhan bintang porno yang pernah aku tonton, tapi tidak sekuat gairahnya ketika aku memendam nafsu pada ibuku.
Ibu adalah wanita yang seharusnya kita hormati sayangi dan muliakan. Kenyataannya tidak berlaku bagiku, aku benar-benar sudah bukan manusia normal lagi, dengan kata lain cuma binatang yang menyetubuhi ibu kandungnya, tapi nyatanya didunia ini bukan sekali dua kali seorang anak menyetubuhi ibu kandungnya sendiri, yang jelas aku tidak sendiri, beberapa sudah pernah melakukannya atau mungkin baru berniat saja untuk melakukan.
Tapi meskipun aku menyadari bahwa perbuatanku ini salah aku juga ingin mengungkapkan sisi perasaanku yang lain terhadap ibu. Sebelum aku memulai kembali perbuatan bejatku aku berucap pada ibu disisi telinganya. Meski aku tau ibu tidak mungkin menangkap suara yang kuucapkan. Aku masih memeluknya dari sisi kanan, dengan begini aku merasa lebih intim dan dekat dengan ibuku.
“Bu..aku minta maaf sama ibu sebelumnya, selama ini ibu tidak tau kalo aku sudah pernah mencium ibu, bukan saja di pipi tapi seluruh bibir ibu dan kita juga sudah saling merasakan sentuhan lidah”. Aku terdiam sejenak sambil sesekali aku kecup kening dan telinga ibuku.
“Maafkan aku bu, kalo aku jadi anak yang kurang ajar, anak yang bernafsu pada ibunya sendiri, aku tidak sanggup menahan semua godaan ini bu”.
“Aku minta maaf sebelumnya pada ibu… malam ini aku menyetubuhi ibu, malam ini aku dan ibu tidak saja terikat pertalian darah, tapi juga terikat dalam indahnya persenggamaan yang mempertemukan penisku dan vagina ibu, dan memasukkan benih spermaku kedalam rahim ibu”.
“Aku sayang ibu…tapi aku juga ingin…menyetubuhimu….ibu……”.
Lambat sekali aku mengucapkan kata-kata tersebut disamping telinga ibuku, aku menganggap seolah-olah ibuku mendengar dan mengiyakan seluruh ucapanku itu. Aku sengaja bermain kata-kata untuk lebih mendorong nafsuku pada ibu. Dengan begini aku memang sadar dan menyadari bahwa aku memang ingin menyetubuhi wanita yang sedang aku peluk dengan kondisi setengah telanjang yang tiada lain ibu kandungku sendiri. Setelah itu aku kecup pelan pipi ibuku, sampai disini ibuku masih tertidur pulas karena efek obat tidur yang kuberikan tadi.
Aku bangun dan mengambil posisi diatas tubuh ibuku. Aku sandarkan tubuhku diatas tubuh ibuku, kedua lenganku kuletakkan disamping kanan dan kiri kepala ibuku. Penisku yang dari tadi sudah menegang aku lipat dan letakkan diantara perut dan vagina ibu. Kubelai-belai rambutnya, alisnya dan kusentuh pipinya lalu kukecup dahinya. Aku tetap ingin menunjukkan rasa hormat dan sayang kepada ibuku. Aku letakkan kedua telapak tanganku dipipi ibu dan dengan sedikit memiringkan wajahku aku kecup bibir ibuku. Aku memang sangat menyukai berciuman dengan ibuku, menyenangkan rasanya bisa mencium ibu dibibir bahkan bisa merasakan memilin lidahnya didalam. Mungkin kebanyakan orang lain hanya mencium tangan pipi atau dahi ibunya tapi aku sudah bisa merasakan jauh lebih dari itu.
Sudah hampir seluruh rongga mulut ibu aku jelajahi dengan lidahku. Kadang aku menghisap dan mengecap-ngecap permukaan bibir dan gigi depan serta lidahnya yang tersembunyi. Hingga rasanya tidak ada lagi ruang rongga mulut ibuku yang belum tersentuh oleh lidahku. Makin lama tubuhku makin panas dan berkeringat. Kembali aku bangun dan menempatkan selangkanganku tepat dihadapan wajah ibuku. Aku ingin mencoba merasakan seperti apa penisku jika masuk kedalam mulut ibuku. Kutarik sedikit dagunya supaya mulutnya agak terbuka dan tangan kananku menuntun penisku keujung bibirnya. Pertama kali penisku menyentuh bibirnya ada rasa licin dan hangat yang kurasakan. Aku diam sejenak sambil menahan rasa nikmat yang terasa diujung penisku.
Kugerakkan penisku dicelah bibir ibuku membelah dan menyentuh permukaan giginya yang masih agak rapat sementara tangan kiriku memegang dagunya berusaha membuka celah bibirnya agar lebih terbuka. Aku merasakan ujung penisku geli dan agak basah sampai-sampai aku merinding keenakan saking kuatnya rangsangan yang kurasa. Kudorong kedalam pelan-pelan sambil membuka celah bibirnya lebih lebar, sedikit demi sedikit kepala penisku masuk kedalam mulut ibuku.
Ada rasa geli, ngilu, hangat dan nikmat campur jadi satu ditambah dengan efek visual pandangan mataku yang melihat penisku didalam mulut ibuku. Aku coba benamkan lebih dalam lagi hingga menyentuh permukaan lidah ibuku. Kuhentikan sejenak pada fase ini. Aku ingin menikmati dahulu sensasi seperti ini, sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya melebihi ekspektasiku selama ini yang mengira oral seks sama rasanya dengan onani. Maklum aku memang belum pernah merasakan oral seks jadi aku benar-benar berusaha keras menahan agar tidak orgasme didalam mulut ibuku. Bukan apa-apa, aku belum merasakan liang vagina ibuku, aku tidak mau misiku belum tuntas tapi sudah orgasme duluan.
Setelah setengah penisku masuk kedalam mulut ibu kedua tanganku memegang kepala bagian belakang ibuku yang aku gunakan sebagai tumpuan. Pelan sekali aku mulai menggerakkan penisku naik turun searah dengan mulut ibuku. Gesekan antara bibir lidah dan rongga mulut ibu pada penisku menciptakan sensasi dahsyat disekujur tubuhku. Makin lama gerakanku kupercepat, penisku juga terbantu oleh cairan dari mulu ibuku ada bunyi seperti Clepp..clep…clepp..ketika aku melakukan gerakan tersebut.
Segera aku tarik penisku dari dalam mulut ibu, hampir saja aku muncratkan didalam tadi. Aku langsung berdiri, mengatur nafas dan berusaha melepas konsentrasiku pada tubuh ibuku supaya aku tidak kecolongan orgasme duluan. Kulihat sekitar mulut ibu basah belepotan cairan. Meski kondisi ruangan tidak terang tapi aku bisa melihat jelas wajah ibuku.
Tiba saatnya kini aku memulai misi puncak dari segala obsesiku terhadap ibu selama ini. Menyatukan tubuhku dan tubuh ibu, menyatukan kelaminku dengan kelamin ibuku dan menyatukan cairanku dengan sel indung telur ibuku. Aku mundur agak kebelakang berjongkok diantara selangkangan ibu yang masih terbuka lebar bekas aku oral tadi. Aku sentuh lipatan bibir vaginanya, membuka dan menyentuh liang dalamnya. Aku bisa mencium aroma vagina ibu dari jarak seperti ini dan secara otomatis pula memancing penisku berdiri lebih tegang.
Aku mengambil posisi seperti push-up dengan tanganku menopang disisi kiri dan kanan leher ibuku. Disaat bersamaan aku tempelkan penisku di vagina ibuku. Masih ada tersisa cairan dipermukaan vaginanya. Setelah kurasa pas, aku dorong penisku pelan-pelan kedalam vagina ibuku. Aku merasa penisku seperti tertahan dan tidak serta merta masuk dengan mudah. Kembali aku dorong perlahan lalu aku tarik lagi, aku dorong lagi dan kutarik lagi. Tangan kiriku kini memegang penisku dan membantu menggesek lubang vagina ibuku, dengan bantuan tangan kiriku aku gerakkan penisku sedikit memutar naik dan turun agak cepat ditambah dengan sedikit dorongan pada pinggulku.
Tidak terasa kepala penisku sudah terbenam, aku sudah merasa kepalang tanggung. Minimal penisku harus masuk seutuhnya kedalam vagina ibuku. Dengan gerakan yang sama seperti tadi kini dorongan pinggulku lebih mantap membantu penisku yang sedang berjuang membuka tabir vagina ibu. Makin dalam dan kini sudah setengah penisku masuk. Kini kedua tanganku aku jadikan tumpuan kembali disisi leher ibu, kini sebagai motor penggeraknya adalah pinggulku.
Gerakkanku makin lama makin bertenaga dan konstan. Cairan pada kelamin kami makin banyak yang turut membantu melicinkan gerakan penisku didalam vagina ibuku aku sambil perhatikan raut wajah ibuku. Wajahnya tenang sekali dalam kondisi tertidur seperti ini. Ada keanggunan dan wajah keibuan pada ibuku. Wanita yang telah mengandung dan melahirkanku, telah membesarkanku dengan kasih sayang seorang ibu. Wanita yang selalu mengayomi anak-anaknya termasuk diriku dari kecil sampai dewasa. Kini wanita itu malah aku setubuhi, aku nikmati tubuhnya, aku hisap kelaminnya dan aku nikmati bibir dan kemaluannya sebagai lelaki.
Sejenak aku merasakan perasaan aneh, antara menyesal dan nafsu. Perasaan bersalah seorang anak yang telah menodai kesucian seorang ibu, seorang anak yang memutus pembatas hubungan ibu dan anak dengan cara yang amat tidak wajar. Dalam situasi seperti ini, ego dan nafsuku berbalik menguasaiku. Aku rebahkan tubuhku dan menopang dengan kedua lenganku. Sekuat tenaga aku dorong maju mundurkan penisku didalam vaginanya. Makin lama makin cepat dan bertenaga. Sampai aku merasakan kepala penisku seperti menyeruak membelah sesuatu yang jadi penahan didalam vagina ibuku, seperti ada semacam daging yang mengganjal ujung penisku. Makin lama makin kudorong pada akhirnya, seluruh penisku sudah masuki kedalam vagina ibuku.
Aku terdiam sejenak, wajahku kini rapat sekali dengan wajah ibuku. Ada rasa hangat licin dan nikmat menjalar disekujur penisku. Pada akhirnya aku masuk dalam frame dimana seorang anak bisa menyetubuhi ibunya secara utuh, menyatukan kembali dua tubuh dengan cara yang tabu. Aku mencium bibir ibuku dan melumatnya sejenak. Aku pandangi lagi wajahnya, ingin rasanya aku bilang saat itu…ibu…maafkan anakmu…yang telah menyetubuhimu….
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan  pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)
Cerita lain
Screeshoot percakapan sex kakak cantik dan adiknya
KEMBALI
Bersambung

kakakku penikmat seks II

Setelah mendekatkan mukanya, ia langsung mengulum penisku, naik turun dengan cepat membuatku hanya bisa menceracau tak karuan. Sambil ia mengulum penisku kedua tangannya membuka kait rok abuabunya.
ahhhsppp suara kakakku ketika memuntahkan kontolku dari mulutnya. Ia langsung berdiri sehingga roknya yang sudah kendor lepas dengan sendirinya , nampak pahanya yang putih mulus tanpa bulu dengan cd warna krem yang sedang ia buka. Setelah ia membuka cdnya ia menidurkan tubuhnya diatas tubuhku yang bersandar pada sofa, lantas menggesekkan kepala penisku ke bibir memeknya.Sensanyi luar biasa, basah empuk jadi satu. Mmhhh nikmat banget membuatku semakin ngaceng.
Tak tinggal diam aku ikut meremas kedua toket kakakku yang masih terbungkus seragam dan jilbabnya. Aku meremas halus sampai kasar, berusaha membuka kancingnya namu sselalu dicegah kakakku.
mmmghhh kakkkk toketmu gede banget ujarku sambil menjilat pipinya mmhh kontolmu juga oke banget dek.. ujar kakakku yang lantas membalikkan tubuhnya. Kami berhadapan sejenak hingga akhirnya ia mencium bibirku, aku yang kaget langsung merespon jilatan lidahnya yang mengetuk bibirku. Aku balas menjulurkan lidahku memainkannya dimulut kami berdua yang sedang menyatu.
Suara desahan memenuhi ruangan ini.
gila first kissku dari kakakku sendiri.what! tapi enak sih.. jago lagi kakakkumhhh uajrku dalam hati.
Lewat semenit kakakku membalikkan badannya lantas berdiri lalu menunduk dihadapanku. Pantatnya yang bulat tepat didepan kontolku yang ngaceng berat..
Kakakku menggapai kontolku, lantas mengarahkannya ke memeknya, sedikit kesusahan kepalaku ayng besar untuk masuk ke bibir memeknya yang masih sempit. Hingga 3 gesekan akhirnya kepala kontolku masuk ke memeknya.
ahhh.. sempit banget kakk. Ujarku kakku hanya tersenyum lantas menggerakkan bokongnya kedepan dan belakang dengan perlahan. Membuat penisku makin menyodok kedalam memeknya. Hingga akhirnya aku tak tahan dan langsung ikut berdiri memegang pantat kakakku dan langsung ku genjot dengan cepat.
ahhh ahhhdeekkkk..shhhhhaohhh.mmhhhsss. penuhhh banget memekku .. shhh ujar kakakku yang terus mendesah sepanjang genjotanku yang semakin brutal tiap detiknya. ooooohhhhshhhh.kencengggg lagi.ahhhhhh ahhhhterussss. Lanjutnya membuatku lupa daratan dan terus mengentotnya.
Aku selngi dengan menepuk nepuk pantatnya, ahhh rasain nih,.. hmmmm hhhh shhhh ujarku yandi balas desahan kenikmatan oleh kakakku aahhhh dekkkk akum au keluarrrrrrrr.shhhhh AHHHHHHHHHHHHHHHHH ujar kakakku yang mendapat orgasme pertamanya. Aku yang masih segar lantas mencabut kontolku yang basah oleh cairan memeknya. Lantas menidurkan kakakku dengan posisi menyamping. Aku ikut rebahan dibelakangnya, sambil memasukkan kontolku aku juga meremas remas payudara kakakku dari belakang.
Ketika kontolku sudha masuk sepenuhnya aku mulai menggenjot kakakku dengan gigi 4, langsung cepat sambil terus meremas toket kakakku sampai seragamnya kucel kubuat. ahhh ahhh.. dekkkk.. fuuuuckckkkkk yeeahhhh.. enak bangettt..shhh.mhhhh.. ujar kakakku yang kenikmatan aku genjot. Aku terus menggoyang goyangkan kontolku didalam memeknya sambil terus aku keluar masukkan dengan kecepatan maksimum. Kontolku serasa dijepit dan dipijat oleh memeknyayang terus berkedut kedut dan sempit untuk kontol jumboku ini. deeeeekkakumaukeluarrrr.. ujarnya yang baru 3 menitan aku genjot. AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH.. lenguh kakakku saat mendapat orgasme kedua.
dekkk.. enak banget ujar kakakku iya memekkakak rapet nih aku dah mau keluar ujarku saat merasakan gatal ketika masih menggenjot kakakku dengan posisi ini.. mhhhhsshhh diluar aja dekkk ujar kakakku. Aku mengangguk aku tak ingin beresiko menghamili kakakku sendiri.
Aku mencabut penis ku, aku ngangkang diatas dada kakakku, kakkku menggapai kontolku dan mengocoknya sambil memasang wajah penuh nafsu menunggu pejuhku keluar.
ayoooo dekkkk keluarinnn semuaa.a pejuhiinnn muka kak tutut lagii. Mhhh shhhh ahahhh ooooo ujar kakakku yang langsung membuka mulutnya lebar lebar. Aku mulai merasakan gatal yang luar. Biasa. akaaakk kakkk ahhhh ahhhh AHHHHHHHHH. Lenguhku saat 5 semprotan pejuh berwarna putih dan bening keluar membasahi mukanya, ada yang masuk ke mulutnya da nada yang tercecer ke jilbabnya.
Kakakku masih semangat mengocok penisku mengeluarkan sisa sisa pejuh. Hingga akhirnya ia mengulum penisku, membersihkannya dari sisa pejuh. Lantas ia menelan pejuhku.
mmmhh enak dek. ujar kakku. Yang langsung tersenyum. Aku mengangguk lantas duduk di sofa, kontolku sekarang sudah melemas seperti biasanya.
eh aku menyadari sesuatu kok nggak ada darah ya saat aku ngentot kakakku tadi, padahal udah ak genjot penuh sampai kontolku yang 18cm ini masuk semua
kak udah ga perawan!? tanyaku sambil memasang wajah keheranan kakakku mengangguk sambil tersenyum nakal. Lantas melanjutkan aktifitasnya membersihkan sisa pejuhku dengan jilbabnya.
SIAPA YANG NGAMBIL!? tanyaku keheranan. Kakakku hanya tersenyum, lantas berjalan kearahku, membisikkan sebuah nama kekuping kananku.
HAH WHAT! Aku terkejut saat mendegar namanya dan kakku hanya tertawa saat selesai mebisikiku
ANDI anaknya TANTE MILA AA.. ADIKNYA KAK LARAS! ucapku terkejut.
Kakakku tersenyum sambil mengangguk lantas pergi menuju kamar mandi.
Aku lemas mendengar fakta itu. lihat videonya di sini
 
DILEMA CINTA DAN SEKS SEDARAH
merasakan lubang kenikmatan mama