Sore itu aku baru saja pulang kerja, kuparkirkan motor diteras lalu aku
letakkan tas ku dikamar. Di meja sudah ada segelas kopi buatan ibuku, setiap
pulang kerja ibu pasti sudah siapkan kopi untukku. Aku duduk diteras sambil
merokok dan menikmati segelas kopi. Lalu lalang tetangga yang lewat depan
rumahku, sudah jadi kebiasaan saling bertegur sapa karena beginilah kehidupan
di rumah gang sempit.
Ibuku berbicara dari dalam ruang tamu mengatakan bahwa kakakku akan datang
sabtu ini. Aku menanggapi biasa saja, kakakku memang kalo sudah dirumah
sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengobrol dengan ibu. Oh ya..aku belum
menceritakan tentang kakakku ini yang sekarang sedang merantau ke jakarta.
Aku dan kakakku 2 bersaudara, sama-sama belum menikah. Umur kakakku 27
tahun, kulitnya putih rambut lurus sebahu dan menggunakan kaca mata. Namanya
Dian ariani sulistiawati, biasa aku panggil mbak dian saja. Kakakku secara
fisik bisa dibilang biasa saja tidak ada yang istimewa menurutku. Meskipun mbak
dian lebih tua dariku tapi posturnya lebih pendek dariku.
Singkat cerita sabtu itu kakakku datang, biasa lah ibuku paling heboh kalo
kakak pulang, aku sih cuma basa basi saja sambil liat oleh-oleh yang dibawa
mbak dian. Mereka lebih asik ngobrol berdua sampe malam. Aku lebih memilih
nongkrong di tempat tetangga kalo malam minggu begini, sebelumnya aku sudah
persiapan bawa kunci rumah karena aku pasti pulang jam 12 malam.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kamar berniat untuk tidur. Mungkin
karena terlalu banyak minum kopi tadi sudah hampir sejam mataku tak kunjung
terpejam. Akhirnya aku mengambil hp dan membuka situs facebook. Tak sengaja
akun mbak dian muncul di timelineku, wah..rupanya dia baru update foto profil.
Aku lihat dia sedang selfie di ruang tamu rumahku. Ada yang menggelitik
pandanganku, mbak dian selfie dari atas wajah, sekilas wajahnya mirip memang
dengan ibu (mbak dian juga mengenakan jilbab jika keluar), Disini aku malah
jadi ingat ibuku. Aku juga jadi ingat bagaimana aku memperlakukan ibuku dengan
perbuatan mesumku.
Aku buka kembali foto-foto ibu yang telah aku pindahkan ke hp ku. Berbagai
foto yang aku lihat memang membuatku penisku tegang. Teringat lagi bagaimana
sentuhan penis dan vagina ibuku mampu memberikan efek orgasme yang dahsyat. Aku
jadi berpikir kalau besentuhan saja sudah seperti itu bagaimana kalo penisku
sampai tembus ke liang rahimnya. Pasti sensasinya akan lebih nikmat apalagi
kalau sampai aku mengeluarkan sperma didalam rahim ibuku. Bayangan-bayangan
seperti itulah yang memacu diriku untuk bangun dan bergerak ke kamar ibu.
Tapi aku ingat juga mbak dian saat ini tidur di sebelah ibuku, lagi pula
malam ini aku tidak menggunakan obat tidur seperti sebelumnya. Sedikit sentuhan
gerakan atau suara saja sangat mungkin untuk membangunkan mereka berdua. Aku
berjalan ke kamar ibu dan melihat dibalik tirai, mbak dian tidur disebelah
tembok dengan posisi miring menghadap tembok, sementara ibuku tidur terlentang
disebelahnya. Dalam situasi seperti ini aku ragu. Berbeda jika ibu tidur
sendiri, nah sekarang ada mbak dian disebelahnya.
Seperti yang sudah-sudah, meskipun keraguanku sangat besar tetap saja aku
tidak bisa menolak dorongan nafsu. Kali ini aku mulai agak nekat, apabila
aksiku sampai kepergok ibu aku akan beri penjelasan, sekuat tenaga aku
kumpulkan nyali untuk melakukannya. Aku teringat kala aku pertama kali melumat
bibir ibuku waktu itu, ibu tidak terbangun sama sekali. Aku ingin mengulangi
lagi, merasakan lagi sensasi kehangatan cumbuan pada bibir dan lidah ibuku.
Akhirnya aku masuk juga ke kamar ibu dan berlutut disisi ranjang ibuku.
Aku sentuh dagu ibu dengan telunjukku dan kutarik kebawah supaya kedua bibirnya
terbuka. Aku sudah melihat barisan gigi depannya, aku tarik lebih jauh lagi
kebawah, makin lebar terbuka mulutnya sampai gigi depannya ikut membuka.
Kembali aku julurkan lidahku untuk menerobos rongga mulut ibuku. Rasanya hangat
ketika aku jelajahi rongga mulut ibuku dengan lidahku. Entah kenapa aku mulai
mengabaikan resiko ibu terbangun jadi aku tetap melanjutkan aksiku. Lagi pula
ibuku tidak menunjukkan anda akan terbangun jadi aku makin semangat.
Ketika sedang asik mencumbu ibuku, mbak dian bergerak menelentangkan
badannya, seketika itu juga aku bergerak mundur dan tiarap disebelah ranjang.
Disini aku jadi sadar, malam ini akan sangat beresiko jika aku meneruskan, aku
memutuskan tidak melanjutkan aksiku barusan walaupun sedang enak-enaknya. Akhirnya
aku tuntaskan di kamar mandi dengan cara onani. Aku harus sabar menunggu sampai
mbak dian pulang lagi ke jakarta.
Esoknya mbak dian sudah pulang lagi, aku memang sudah menunggu dia pulang
lagi, dengan begitu aku bisa kembali meneruskan aksi bejatku pada ibu. Aku
kembali berencana memasukkan obat tidur kedalam rebusan jamu yang biasa ibu
buat. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, aku sudah hafal betul dengan rutinitas
ibu setiap harinya. Aku masukkan obat tidur kedalam panci rebusan jamu tanpa
sepengtahuan ibuku. Aku sudah berniat aku ingin menyetubuhinya malam ini. Aku
harus bisa menembus vaginanya dengan penisku.
Selang 2 jam kemudian aku kembali memastikan keadaan sebelum memulai aksiku.
Aku lihat ibu tidur dengan lilitan sarung dan kaos. Kali ini aku lebih
mengabaikan ‘standar keamanan’ dalam menjalankan aksiku, mungkin aku berpikir
tanpa obat tidur saja ibu tidak merasakan mulutnya digumuli olehku apalagi jika
menggunakan obat tidur. Nah..pemikiran ini yang memicu diriku berniat untuk
menyetubuhinya malam ini bukan lagi hanya sekedar dengan sentuhan-sentuhan.
Setelah aku menciumi bibir ibuku aku langsung menaikkan sarung ibuku keatas,
nampak kedua pahanya yang gempal berisi, putih mulus sampai ujung pangkalnya.
Kali ini aku menurunkan CD ibuku perlahan, pelan sekali aku turunkan hingga
terlepas. Aku tidak mau terburu-buru, semua gerakan aku nikmati dengan penuh
penghayatan. Vagina ibu terlihat jelas dimataku meski kamar itu hanya
mengandalkan cahaya dari ruang tv. Aku mulai menyentuhnya dari bawa ke atas dengan
jariku, turun lagi ke bawah. Yang kurasakan saat itu jemariku merasa hangat dan
agak lembab juga sedikit licin. Yang aku tau vagina selalu ada cairan agak
lengket.
Dengan posisiku dibawah selangkangan ibu aku tetap sesekali memperhatikan
wajah ibu, jaga-jaga saja bila ibu terbangun. Setelah ujung jariku basah dan
lembab aku mulai dorong sedikit-demi sedikit, yang semula hanya ujung
telunjukku saja yang menyentuh vagina ibu kini sudah masuk seukuran kuku. Aku
gerakkan melingkar serta keatas dan kebawah dengan tujuan supaya bibir vagina
ibu lebih menyeruak membuka. Tanpa disadari pula karena sentuhanku itu vagina
ibu secara otomatis menjadi lebih basah dan ini memudahkanku untuk memasukkan
jariku lebih dalam.
Tidak terasa sudah setengah jariku masuk, disamping vagina ibu yang memang
sudah pernah mengeluarkan 2 orang anak gerakan jariku juga turut membantu
proses ini. Tak tahan melihat vagina ibu yang makin basah, aku julurkan lidahku
sambil kedua tanganku membuka bibir vagina ibu kesamping kanan kiri. Ada rasa
asin getir yang kurasa dilidahku, semakin dalam dan akhirnya bibirku
bersentuhan langsung dengan bibir vagina ibu. Aku diamkan sejenak sambil
melihat ke arah wajah ibu, setelah dirasa aman aku teruskan gerakan lidahku
didalam vagina ibu.
Produksi cairan vagina ibu makin meningkat, karena sudah bercampur juga
dengan liurku. Otomatis liang vaginanya lebih lebar membuka. Aku tusuk-tusuk
vagina ibu dengan lidahku dan kadang aku hisap dalam-dalam dengan suara seperti
mengecap. Dalam kondisi seperti ini, aku sudah dikuasai sepenuhnya oleh hawa
nafsu, aku sudah tidak peduli lagi dengan resiko apapun nanti. Aku sudah siap
menyetubuhi ibuku, sudah siap untuk membenamkan penisku di vagina ibu, sudah
siap untuk mengeluarkan benih spermaku didalam rahim ibu kandungku sendiri.
Ibuku erni sulistiawati harus aku setubuhi malam ini juga, apapun yang terjadi
aku tidak peduli. Tujuanku hanya satu aku tuntaskan obsesiku malam ini,
menyatukan tubuhku dan tubuh ibuku kembali dengan cara dan situasi yang berbeda
dengan yang terjadi 22 tahun lalu.
Aku merasa belum puas juga dengan aktifitas oralku pada vagina ibu, meski
sebagian wajahku sudah belepotan cairan aku malah semakin bernafsu. Sebenarnya
aku masih ingin mencumbu vagina ibu tapi aku ingin mencoba hal baru lainnya.
Dari balik selangkangan ibu aku menatap bibir tebalnya, aku ingin merasakan
penisku masuk kedalam mulutnya. Aku bangkit dan mengelap wajahku yang penuh
dengan campuran cairan vagina dan liurku. Aku buka celana dan bajuku, aku
benar-benar telanjang dihadapan ibuku saat ini.
Aku berbaring disebelah kanan ibu lalu aku lingkarkan tanganku
dipinggangnya. Selangkangan ibuku masih terbuka bekas aku oral tadi dan aku
biarkan saja seperti itu. Aku menatap wajah ibuku dari samping memperhatikan
matanya yang terpejam, bibirnya yang menggoda dan alunan nafas dalam tidurnya
yang teratur. Pada saat itu aku merasa nyaman dan bahagia sekali. Aku yang tak
menyangka, perbuatanku akan sejauh ini, aku sudah berhasil menggumuli bibir dan
vagina ibuku. Semakin menyadari wanita tersebut adalah ibu semakin nafsuku
bangkit.
Aku memang ingin menyetubuhinya sebagai ibuku, bukan sebagai kekasih atau
istri. Pikiranku sebagai anak kandung yang ingin menyetubuhi ibuku malah jadi
energi tambahan betapa aneh dan gila sensasi yang kurasakan saat ini. Dahulu
aku juga pernah berorientasi seksual terhadap teman sebayaku atau rekan kerja,
atau bahkan puluhan bintang porno yang pernah aku tonton, tapi tidak sekuat
gairahnya ketika aku memendam nafsu pada ibuku.
Ibu adalah wanita yang seharusnya kita hormati sayangi dan muliakan.
Kenyataannya tidak berlaku bagiku, aku benar-benar sudah bukan manusia normal
lagi, dengan kata lain cuma binatang yang menyetubuhi ibu kandungnya, tapi
nyatanya didunia ini bukan sekali dua kali seorang anak menyetubuhi ibu kandungnya
sendiri, yang jelas aku tidak sendiri, beberapa sudah pernah melakukannya atau
mungkin baru berniat saja untuk melakukan.
Tapi meskipun aku menyadari bahwa perbuatanku ini salah aku juga ingin
mengungkapkan sisi perasaanku yang lain terhadap ibu. Sebelum aku memulai
kembali perbuatan bejatku aku berucap pada ibu disisi telinganya. Meski aku tau
ibu tidak mungkin menangkap suara yang kuucapkan. Aku masih memeluknya dari
sisi kanan, dengan begini aku merasa lebih intim dan dekat dengan ibuku.
“Bu..aku minta maaf sama ibu sebelumnya, selama ini ibu tidak tau kalo aku
sudah pernah mencium ibu, bukan saja di pipi tapi seluruh bibir ibu dan kita
juga sudah saling merasakan sentuhan lidah”. Aku terdiam sejenak sambil
sesekali aku kecup kening dan telinga ibuku.
“Maafkan aku bu, kalo aku jadi anak yang kurang ajar, anak yang bernafsu
pada ibunya sendiri, aku tidak sanggup menahan semua godaan ini bu”.
“Aku minta maaf sebelumnya pada ibu… malam ini aku menyetubuhi ibu, malam
ini aku dan ibu tidak saja terikat pertalian darah, tapi juga terikat dalam
indahnya persenggamaan yang mempertemukan penisku dan vagina ibu, dan
memasukkan benih spermaku kedalam rahim ibu”.
“Aku sayang ibu…tapi aku juga ingin…menyetubuhimu….ibu……”.
Lambat sekali aku mengucapkan kata-kata tersebut disamping telinga ibuku,
aku menganggap seolah-olah ibuku mendengar dan mengiyakan seluruh ucapanku itu.
Aku sengaja bermain kata-kata untuk lebih mendorong nafsuku pada ibu. Dengan
begini aku memang sadar dan menyadari bahwa aku memang ingin menyetubuhi wanita
yang sedang aku peluk dengan kondisi setengah telanjang yang tiada lain ibu
kandungku sendiri. Setelah itu aku kecup pelan pipi ibuku, sampai disini ibuku
masih tertidur pulas karena efek obat tidur yang kuberikan tadi.
Aku bangun dan mengambil posisi diatas tubuh ibuku. Aku sandarkan tubuhku
diatas tubuh ibuku, kedua lenganku kuletakkan disamping kanan dan kiri kepala
ibuku. Penisku yang dari tadi sudah menegang aku lipat dan letakkan diantara
perut dan vagina ibu. Kubelai-belai rambutnya, alisnya dan kusentuh pipinya
lalu kukecup dahinya. Aku tetap ingin menunjukkan rasa hormat dan sayang kepada
ibuku. Aku letakkan kedua telapak tanganku dipipi ibu dan dengan sedikit
memiringkan wajahku aku kecup bibir ibuku. Aku memang sangat menyukai berciuman
dengan ibuku, menyenangkan rasanya bisa mencium ibu dibibir bahkan bisa
merasakan memilin lidahnya didalam. Mungkin kebanyakan orang lain hanya mencium
tangan pipi atau dahi ibunya tapi aku sudah bisa merasakan jauh lebih dari itu.
Sudah hampir seluruh rongga mulut ibu aku jelajahi dengan lidahku. Kadang
aku menghisap dan mengecap-ngecap permukaan bibir dan gigi depan serta lidahnya
yang tersembunyi. Hingga rasanya tidak ada lagi ruang rongga mulut ibuku yang
belum tersentuh oleh lidahku. Makin lama tubuhku makin panas dan berkeringat.
Kembali aku bangun dan menempatkan selangkanganku tepat dihadapan wajah ibuku.
Aku ingin mencoba merasakan seperti apa penisku jika masuk kedalam mulut ibuku.
Kutarik sedikit dagunya supaya mulutnya agak terbuka dan tangan kananku
menuntun penisku keujung bibirnya. Pertama kali penisku menyentuh bibirnya ada
rasa licin dan hangat yang kurasakan. Aku diam sejenak sambil menahan rasa
nikmat yang terasa diujung penisku.
Kugerakkan penisku dicelah bibir ibuku membelah dan menyentuh permukaan
giginya yang masih agak rapat sementara tangan kiriku memegang dagunya berusaha
membuka celah bibirnya agar lebih terbuka. Aku merasakan ujung penisku geli dan
agak basah sampai-sampai aku merinding keenakan saking kuatnya rangsangan yang
kurasa. Kudorong kedalam pelan-pelan sambil membuka celah bibirnya lebih lebar,
sedikit demi sedikit kepala penisku masuk kedalam mulut ibuku.
Ada rasa geli, ngilu, hangat dan nikmat campur jadi satu ditambah dengan
efek visual pandangan mataku yang melihat penisku didalam mulut ibuku. Aku coba
benamkan lebih dalam lagi hingga menyentuh permukaan lidah ibuku. Kuhentikan
sejenak pada fase ini. Aku ingin menikmati dahulu sensasi seperti ini, sensasi
yang belum pernah aku rasakan sebelumnya melebihi ekspektasiku selama ini yang
mengira oral seks sama rasanya dengan onani. Maklum aku memang belum pernah
merasakan oral seks jadi aku benar-benar berusaha keras menahan agar tidak
orgasme didalam mulut ibuku. Bukan apa-apa, aku belum merasakan liang vagina
ibuku, aku tidak mau misiku belum tuntas tapi sudah orgasme duluan.
Setelah setengah penisku masuk kedalam mulut ibu kedua tanganku memegang
kepala bagian belakang ibuku yang aku gunakan sebagai tumpuan. Pelan sekali aku
mulai menggerakkan penisku naik turun searah dengan mulut ibuku. Gesekan antara
bibir lidah dan rongga mulut ibu pada penisku menciptakan sensasi dahsyat
disekujur tubuhku. Makin lama gerakanku kupercepat, penisku juga terbantu oleh
cairan dari mulu ibuku ada bunyi seperti Clepp..clep…clepp..ketika aku
melakukan gerakan tersebut.
Segera aku tarik penisku dari dalam mulut ibu, hampir saja aku muncratkan
didalam tadi. Aku langsung berdiri, mengatur nafas dan berusaha melepas
konsentrasiku pada tubuh ibuku supaya aku tidak kecolongan orgasme duluan. Kulihat
sekitar mulut ibu basah belepotan cairan. Meski kondisi ruangan tidak terang
tapi aku bisa melihat jelas wajah ibuku.
Tiba saatnya kini aku memulai misi puncak dari segala obsesiku terhadap ibu
selama ini. Menyatukan tubuhku dan tubuh ibu, menyatukan kelaminku dengan
kelamin ibuku dan menyatukan cairanku dengan sel indung telur ibuku. Aku mundur
agak kebelakang berjongkok diantara selangkangan ibu yang masih terbuka lebar
bekas aku oral tadi. Aku sentuh lipatan bibir vaginanya, membuka dan menyentuh
liang dalamnya. Aku bisa mencium aroma vagina ibu dari jarak seperti ini dan
secara otomatis pula memancing penisku berdiri lebih tegang.
Aku mengambil posisi seperti push-up dengan tanganku menopang disisi kiri
dan kanan leher ibuku. Disaat bersamaan aku tempelkan penisku di vagina ibuku.
Masih ada tersisa cairan dipermukaan vaginanya. Setelah kurasa pas, aku dorong
penisku pelan-pelan kedalam vagina ibuku. Aku merasa penisku seperti tertahan
dan tidak serta merta masuk dengan mudah. Kembali aku dorong perlahan lalu aku
tarik lagi, aku dorong lagi dan kutarik lagi. Tangan kiriku kini memegang
penisku dan membantu menggesek lubang vagina ibuku, dengan bantuan tangan
kiriku aku gerakkan penisku sedikit memutar naik dan turun agak cepat ditambah
dengan sedikit dorongan pada pinggulku.
Tidak terasa kepala penisku sudah terbenam, aku sudah merasa kepalang
tanggung. Minimal penisku harus masuk seutuhnya kedalam vagina ibuku. Dengan
gerakan yang sama seperti tadi kini dorongan pinggulku lebih mantap membantu
penisku yang sedang berjuang membuka tabir vagina ibu. Makin dalam dan kini
sudah setengah penisku masuk. Kini kedua tanganku aku jadikan tumpuan kembali
disisi leher ibu, kini sebagai motor penggeraknya adalah pinggulku.
Gerakkanku makin lama makin bertenaga dan konstan. Cairan pada kelamin kami
makin banyak yang turut membantu melicinkan gerakan penisku didalam vagina
ibuku aku sambil perhatikan raut wajah ibuku. Wajahnya tenang sekali dalam
kondisi tertidur seperti ini. Ada keanggunan dan wajah keibuan pada ibuku.
Wanita yang telah mengandung dan melahirkanku, telah membesarkanku dengan kasih
sayang seorang ibu. Wanita yang selalu mengayomi anak-anaknya termasuk diriku
dari kecil sampai dewasa. Kini wanita itu malah aku setubuhi, aku nikmati
tubuhnya, aku hisap kelaminnya dan aku nikmati bibir dan kemaluannya sebagai
lelaki.
Sejenak aku merasakan perasaan aneh, antara menyesal dan nafsu. Perasaan
bersalah seorang anak yang telah menodai kesucian seorang ibu, seorang anak
yang memutus pembatas hubungan ibu dan anak dengan cara yang amat tidak wajar.
Dalam situasi seperti ini, ego dan nafsuku berbalik menguasaiku. Aku rebahkan
tubuhku dan menopang dengan kedua lenganku. Sekuat tenaga aku dorong maju
mundurkan penisku didalam vaginanya. Makin lama makin cepat dan bertenaga.
Sampai aku merasakan kepala penisku seperti menyeruak membelah sesuatu yang
jadi penahan didalam vagina ibuku, seperti ada semacam daging yang mengganjal
ujung penisku. Makin lama makin kudorong pada akhirnya, seluruh penisku sudah
masuki kedalam vagina ibuku.
Aku terdiam sejenak, wajahku kini rapat sekali dengan wajah ibuku. Ada rasa
hangat licin dan nikmat menjalar disekujur penisku. Pada akhirnya aku masuk
dalam frame dimana seorang anak bisa menyetubuhi ibunya secara utuh, menyatukan
kembali dua tubuh dengan cara yang tabu. Aku mencium bibir ibuku dan melumatnya
sejenak. Aku pandangi lagi wajahnya, ingin rasanya aku bilang saat
itu…ibu…maafkan anakmu…yang telah menyetubuhimu….
(demi keberlangsungan blog ini, kami mengharapkan kesediaan pembaca untuk meng-klik iklan-iklan yang ada di blog ini sebagai donasi kepada para penulis. terima kasih)
Cerita lain
Screeshoot percakapan sex kakak cantik dan adiknya
KEMBALI
Bersambung